Venya menangkap pertanyaan yang diajukan oleh Gemma padanya adalah pertanyaan yang sangat bo*doh. Bagaimana dia bisa bertanya begitu? Venya ini baru dari luar. Dan di luar sana banyak orang yang bertemu dengan Venya. Termasuk si penjaga toko dan juga abang ojek yang sudah mengantarnya ke sana dna kembali lagi ke sini. Gemma tidak sebodooh itu bukan? Pikir Venya dalam otaknya.
"Jelaslah, gue ketemu banyak orang di luar sana, Gem." Kata Venya kemudian dia mengambil handuknya yang di gantung di dekat dapur yang cahayanya masuk ke dalam kamar karena menggunakan atap transparan yang bisa melanjutkan cahaya matahari sampai ke kamarnya. "Lo mau nunggu di sini pas gue lagi mandi?" tanya Venya balik.
Gemma diam.
"Maaf, Gem. Tapi gue ga semurrahan selingkuhan lo." Tambah Venya lalu masuk ke kamar mandinya.
Entah apa yang ada di pikiran Venya saat itu. Namun, yang pasti dia hanya mengungkapkan isi hatinya. Tidak cemburu namun setidaknya Gemma harus sadar diri bahwa Venya memang tidak semurrahan itu untuk ditungguinya mandi. Venya berharap Gemma sudah tidak ada ketika Venya keluar dari kamar mandi nanti. Jikalau ada, mungkin Venya akan habis - habisan memarahi Gemma atas kejadian itu. Kejadian dimana Venya memang tidak memamerkan tubuhnya. Baik itu untuk Gemma atau untuk siapapun yang ingin melihatnya. Venya tidak segampangan itu. Dia mahal.
Sedangkan Gemma.
Dia merasa hatinya teriris ketika Vwnya mengatakan hal seperti itu. Dia bahkan sudah mulai akan berubah untuk Venya. Tapi Venya dengan mulut manisnya bisa mengeluarkan perkataan yang lebih pedas dari seratus cabe untuk Gemma. Bahkan Gemma juga tidak menyangka Venya akan bisa dan sanggup mengatakan hal itu kepadanya padahal yang dari Gemma tau, jika Venya itu adalah orang yang sering kali memikirkan perkataannya sebelum keluar dari mulutnya. Venya tipe orang yang memikirkan dulu sebelum mengutarakan. Dia berpikiran dan memikirkan perasaan orang lain dulu. Perasaan lawan bicaranya ia pikirkan sebelum berucap.
Di mata Gemma Venya memanglah seperti itu. Seperti biasa. Namun, di dalam hati Venya, Gemma tidak tahu bahwa banyak sekali mungkin perkataan lebih pedas yang pantas untuk Gemma dapatkan. Gemma bahkan menyadari jika Venya berlaku seprtti itu karena Venya benar - benar tersakiti olehmya. Dimana Venya yang asalnya manis menjadi sinis, di awal baik menjadi toksik untuk Gemma sendiri. Bahkan Gemma sendiri menyadari hal itu, tapi rasanya sulit menerima Venya yang berkelakuan seperti ini. Seperti bukan Venya yang ia kenal. Benar - benar berubah cukup signifikan.
Gemma meninggalkan kamar Venya dengan perasaan tersakiti. Gemma bahkan bertanya dalam hati miliknya sendiri, apakah Venya sesakit ini ketika Gemma mengakui kalau dia berselingkuh? Dan lebih dari hubungan biasanya, Gemma memilih berselingkuh untuk memenuhi hasrat yang tidak tersalurkan untuk Venya. Bahkan ketika Gemma sedang behubungan dengan Selly, selingkuhannya itu, Gemma sellau memikirkan Venya. Memikirkan bahwa dia sedang berhubungan dengan Venya bukan dengan seorang Selly.
Selly hanya alat yang digunakan Gemma untuk masalah berhubungan sekksual. Bahkan Gemma tidak pernah memikirkan bahwa ia berhubungan dengan Selly saja. Dia hanya berrhubungan dengan Venya. Itu yang Gemma tahu dan akui.
"Mungkin Venya lebih sakit hati daripada ini kala itu." Kata Gemma pelan untuk dirinya sendiri ketika ia memasuki kamarnya dan membayangkan kembali wajah Venya saat itu yang berubah ketika Gemma menyebutkan bahwa dia berselingkuh. Dan tentu saja Venya mungkinn sudah tahu apa yang dilakukan Gemma kepada sleingkuhannya, makannya, dia tidak terlalu terkejut ketika melihat foto yang ia perlihatkan kepada Gemma kala itu. Setidaknya, Venya berlatih untuk sakit hati dulu sebelum menerima pengakuan dari Gemma. "Mungkin Venya sudah sakit hati sedari dulu tapi bisa ia tahan sampai sekarang." Kata Gemma lagi.
Gemma bahkan menyesali perbuatannya sekarang.
Setidaknya, Gemma mengakui dan dia merasa bersalah.
Tapi apakah Gemma sudah meminta maaf?
Tentu saja, belum.
*** *** ***
Venya keluar dari kamar mandinya dengan hati - hati. Dia menengok ke kanan dan ke kiri seperti mau menyeberang jalan dan memperhatikan sekirar kamarnya. Kemungkinan Gemma memmang sudah pergi dari kamarnya dan Venya tidak perduli kepada Gemmaa yang pergi ke mana. Namun, perasaan was - was milik Venya kini adalah yang terbaik. Dia bahkan sadar dia menuju lemaria dan mengganti bajunya di kamar mandi. Bahkan Venya memasang dalaaman untuk dirinya sendiri di kamar mandi.
Biasanya Venya mengganti baju di kamarnya. Namun, sejak kejadian dalam drama korea yang ia tonton banyak CCTV kecil yang bisa di sebunyikan di beberpaa tempat di sudut kamarnya, Venya bahkan ingin lebih berhatti - hati sekarang. Setidaknya, Venya merasa kamar mandi lebbih aman dari pada di dalam kamarnya sendiri. Oleh karena itu, Venya mengganti kebiasannya dsei yang asalnya berganti baju di kamar tidurnya, kini ia selalu menggunakan kamar mandi. Membuka baju atau bahkan emmasnag pakaiannya.
Bukan terlalu oercaya diri. Hanya saja Venya ingin berjaga - jaga. Semua orang tidak tahu apa yang akan di lakukan tetangganya yang bahkan di kenal sebagai orang yang pendiam. Venya mungki memang penulis yang mempunyai imajinasi berlebihan tapi dia bahkan memikirkan semua hal yang ia lihat dan ia bisa simpulkan sendiri bahwa ada yang lebih menakutkan daripada set*an atau hantuu di dunia ini.
Yang lebih menyeramkan adalah manusia.
Jika hantu hanya menakut - nakuti manusia dengan wujudnya yang menyeramkan tanpa bisa menyebabkan nyawa melayang, tapi manusia justru sebaliknya. Mereka menampulkan image yang positif dan tidak menyeramkan tapi perilakunya menyeramkan. Bahkan manusia bisa menyebabkan nyawa melayang dan sering menganggap bahwa manusia lain yang bernyawa bisa dnegan mudahnya di hilangkan nyawanya tanpa harus membayar.
Tinggak tidur di penjara dalam waktu tertentu. Diberi makan dan juga di beri tepat tinggal mungkin terlalu baik untuk mereka yang membunuuuh atau bahkan menghilangkan nyawa manusia lainnya.
"Ngeri bener dah." Kata Venya untuk did dnegarnya sendiri setelah menyelesaikan ritual di kamar mandinya itu. Bahkan Venya merasa bahwa dirinya merinding sekarang, "memang, manusia memaksakan segalanya yang mereka mau tanpa memikirkan akibat dan juga slaahnya di mana. Mereka mungkin akan berpikir setelah apa hang mereka perbuat bukan memikirkan terlebih dahulu dampak janga panjanganya." Kata Venya. "Beda orang tentu saja beda prinsip." Lanjutnya lagi.
Benar adanya.
Kebanyakan orang bebricara dulu, berlaku dulu dan emlakukan sesuatu duku tanpa memikirkan jangka oanjang tentang apa yang mereka lakukan hari ini. Seharusnya, didikan orangbtua dan sekolah yang mengajarkan ini. Lingkungan mungkin menjadi tempat and terbesar dalam kehiduoan bersosial. Tapi peran orang tua di rumah dan di sekolah juga sama besarnya. Setidkanya, mereka paham dan berlaku di dunia nyata tanpa sekolah dan rumah mereka bisa membedakan apa yang sudah mereka pelajari di dua tempat tadi.
Harusnya seperti itu. Namun sekarang sudah berbeda. Jarang dan sulit ditemukan.
Langka.