Dari yang ditangkap oleh Venya, sosok Ari adalah sosok yang royal akan hal apapun. Dia bahkan bisa dengan mudahnya memberitahu jika dia dappat sogokan dengan kartu kredit ibunya itu. Bahkan Venya sendiri baru mengenalnya hari ini. Dan Ari sepertinya begitu baik kepada setiap orang yang ditemuinya pertama kali. Dia bahkan tidak segan - segan bercerita tentang keluarganya dan aset kekayaan orang tuanya.
Venya mendesah pelan, dia bahkan memimpikan hal itu berulang kali. Memimpikan dimana Venya memiliki keluarga dengan harta berlimpah dan begini juga begitu tidak kesulitan atau bahkan tidak harus memikirkan dua kali untuk membeli sesuatu. Dia tinggal langsung tunjuk dan memberikan kartu kreditnya.
Tawaan dalam hati milik Venya kini menyadarkan Venya jika hidupnyab tidak seperti itu. Hidupnya terlalu perih jika harus di ceritakan. Hidupnya terlalu berat untuk dipikul. Mungkin, jika Ari ada di posisi Venya kali ini, dia akan mengeluh setiap saat. Seperti Venya yang terkadang mengeluh akan hal yang menurutnya dengan pikirannya yang jernih tidak berguna sama sekali. Bahkan, ketika Venya menyadari hal apa yang ia keluhkan, dia tertawa. Ternyata hidupnya yang kurang bersyukur.
Dia bisa membeli appaun yang ia inginkan dengan uang hasil kerja kerasnya. Dengan uang hasil dari menulis. Dengan uang yang cukup banyak. Tapi, Venya sering kali mengeluh. Bahkan ketika ada seseorang yang mencacinya dengan perkataan 'nulis doang mah gampang. Ketik - ketik selesai' Venya selalu berpikir sehinna apa ia untuk menulis.
Sampai - sampai orang itu mengatakan bahwa Venya menulis dengan gampangnya dan juga 'hanya menulis' kerjaannya. Bahkan orang lain tidak tahu perjalanan seperti apa yang sudah Venya lewati. Perih, susah dan terkadang ia mengeluh akan ide yang tidak keluar dari otaknya. Bahkan otaknya seperti berhenti dan tidak bisa berpikir apa - apa.
Sama seperti sekarang.
"Jadi, lo mau, ga?" Tanya Ari lagi kepadanya yang sudah sadar akan lamunannya.
Venya meneguk ludahnya, "lo adar ga sih gue siapa?" Tanya Venya kemudian.
Venya sepertinya ingin mengajarkan sesuatu kepada adik kelasnya ini. Cih. Adik kelas. Venya tertawa dalam hati. Dia bahkan tidak mengenal Ari di sekolahnya tapi menyebutnya sebagai adik kelas. Ya, gambaran itu tidak penting. Yang terpenting, jika dilihat darinumur, Ari lebih muda setahun daripada dirinya.
"Ya Venya, yang nolongin gue cari ponsel di danau." Kata Ari menajwab dengan polosnya.
Dengan jawaban yang dijawab barusan oleh Ari, Venya memberikan gelengan kepalanya, "gue ini orang asing yang bahkan bida aja jahat sama lo." Kata Venya.
"Tapi lo enggak kan?" Tanya Ari ketika Venya memberikan kalimat yang bahkan seharusnya Ari cerna terlebih dahulu.
"Ya emang engga." Kata Venya sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi. "Emang lo selalu sebaik dan seterbuka ini sama orang asing yang baru hari ini lo kenal?" Tanya Venya kemduian.
Kini Ari menggeleng, "engga kok, cuman sama lo doang." Kata Ari dengan polosnya.
Venya memberemgut. Lalu ia menarik kepalanya kebelakang seakan dia bertanya, untuk apa Ari melakukan ini hanya kepadanya? Tapi hal itu tidak keluar dari tenggorokannya. Hanya sampai di tenggorokannya lantas Venya menelannya lagi secara bulat - bulat. Untung saja Venya tidak sedang memakan pisang coklat yang masih panas dan tersedia di mejamya. Kalau ia sedang makan mungkin ia akan tersedak dalam waktu satu detik setelah Ari emngatakan hal itu. omong kosong macam apa yang Ari sedang bicarakan?
"Kalo lo bertanya kenapa, jawabannya, karena gue tertarik sama lo dari pas gue sama lo ketemu dan duduk abremg di kafe waktu itu." Kata Ari dia bahkan tidak ditanya. Tapi, dia seakan membaca pikirannya. Dan apa katanya tadi? Tertarik kepada Venya? Omong kosong macam apa lagi itu?
*** *** ***
Setelah menyetujui Venya akan ikut ke tempat Ari nanti, Venya pulang dengan perasaan yang tidak menentu. Bahkan Ari bisa membuatnya segemetar itu. Bahkan Ari bisa membuat Venya merasa bahwa ada harapan baru lagi yang muncul untuk menjalani sesuatu yang mungkin harusnya Veny jalani. Tuhan sedang memberikannya kebahagiaan dan tentu daja Venya harus mensyukuri itu.
Di balik penatnya dia dalam menulis dan juga hubungan tidak jelasnya dengan Gemma, ada sosok Ari yang emndadak muncul juga bahkan membuatnya merasa lebih berarti. Venya merasa bahwa Ari adalah harapan barunya. Tapi, Venya juga harus waspada. Siapa tahu Ari membawanya ke tempat yang tidak jjelas nanti. Setidaknya, Venya akan memasang GPS dan menyambungkannya kepda Gemma. Karena Gemma adalah salah satunya yang bisa menolong Venya dalam keadaan apapun. Setidaknya, jika Gemma mau dan mengijinkan.
Eh tapi, Venya sudah tidak perlu ijin dari Gemma bukan? Dia single dari waktu itu. Makanya, Venya merasa bahwa tidak bersalah jika Venya dekat atau bahkan mulai dekat dnegan laki - laki lain selain Gemma.
Walaupun Gemma adalah sosok yang menurut Venya adalah sosok impiannya. Menerima apa adanya. Tapi, Venya tidak bisa lagi dengan Gemma. Selingkuh adalah hal yang harus di hidnari. Dan selingkuh dengan mode Gemma adalah selingkuh yang sangat fatal. Sampai bermaiiin di atas ranjaang. Bukankah itu sudah keterlaluan?
Tapi, Venya merasa bahwa dirinya mungkin bisa memaafkan Gemma walaupun dia terluka saat itu. Setidaknya, memaafkan dan mencoba mengikhlaskan. Venya tidak ingin hubungannya menjadi buruk dengan Gemma. Bagaimanapun juga Gemma terikat kontrak dengan Venya dan Gemma juga tidak bisa mengingkarin anjinya untuk berubah demi Venya.
"Abis dari mana, Ven?" Tanya Gemma begitu Venya menyelesaikan anak tangganya yang menuju ke arah kamarnya.
Venya terkesiap karena dengan polosnya, Gemma berdiri di atas ujung tangga dan bertanya dengan anda rendah, "lo mau bikin gue mati kena serangan jantung?" Omel Venya lalubia berjalan melwati Gemma dan memasukkan kunci ke lubang kunci kamarnya, "dari toko buku sama nongkrong bentar buat edit naskah." Kata Venya menjawab pertanyaan dari gemma di awal tadi.
"Kenapa ga di kamar lo aja ngedit naskahnya?"" Tanya Gemma lagi ketika ia ikut masuk ke kamar Venya. "Lo belum makan?" Tanya Gemma lagi setelah melihat kantong kereseknya yang diberikannya tadi pagi masih utuh tidak tersentuh. Venya hanya memindahkannya dari pintu ke meja saha.
"Gue butuh udara segar. Penat kalo kudu di dalam kamar terus." Kata Venya menjawab pertanyaan Gemma yang pertama, "gue udah makan. Gue baru sadar ada makanan di pintu pas gue mau berangkat. Jadi gue cuman mindahin tu makanan ke meja aja tadi. Supaya ga di gondol kucing." Kata Venya.
Pengalaman mengajarkan Venya segalanya. Dia bahkan pernah memaki kucing ketika makanannya di ambil dari pintu yang sengaja Gemma simpan di sana.
"Lo ketemu orang lain?"