Jika bisa dikatakan dengan kata - kata, rasanya Venya ingin meluapkan segala perasaannya. Dimana dia sedang tidak baik - baik saja. Mimpinya yang tadi pagi membangunkannya dengan serentak sontak membuat Venya menjadi berantakan. Kantuk yang ia rasa juga mungkin sedikit menganggunya. Dia kehilangan inspirasi yang akan ia tulis hari ini. Mungkinkah Venya harus keluar lagi hari ini dan mencari tempat yang tepat untuk menjalani harinya dan juga menulis novelnya?
Baik jika begitu, Venya akan mencari tempat yang lain lagi selain tempat - tempat yang kemarin ia kunjungi. Selepas itu, ia menutup laptopnya, memasukkannya ke dalam tas dan pergi ke kamar mandi untuk setidaknya membersihkan diri dan mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Tadinya, Venya merasa layu bagaikan bunga. Namun, setelah mandi dan membersihkan diri, dia yakin untuk pergi dengan badannya yang cukup segar walaupun rasa kantuk bisa saja datang lagi di detik selanjutnya kehidupan yang Venya miliki. Dia bahkan sednag tidak peduli dengan tubuhnya. Dia memakai pakaian kaos dan celana jeans seperti biasa kemudian dia memesan ojek online dan berencana untuk menunggu ojek itu di pos satpam di depan kosannya.
Ketika dia memasangkan jam tangan di pergelangan tangan kanannya, dia melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia memang lebih segar keluar pada jam segitu. Jika pagi hari tadi, kemungkinan Venya akan kedinginan karena dingin pagi hari itu, jika terlalu siang, mungkin dia akan kepanasan. Dan menurutnya, dia keluar di jam sembilan adalah hal yang paling tepat untuknya. Diamana udaranya tidak terlalu panas untuk di jalan.
Lalu, ia membuka pintu dan menemukan kantung keresek di knop pintu. Mungkin itu adalah Gemma yang memberikannya sarapan. Padahal dia sedang tidak ingin makan. Rasanya perutnya mual jika dimasuki makanan. Dia mungkin mmebutuhkan hal lain selain makanan untuk perutnya. Junk food misalnya.
Venya memasukkan kantong keresek itu ke dalam kamarnya. Menyimpannya di meja kecil di sebelah pintu masuk ke kamarnya dan pergi meninggalkan kamarnya karena ojek online yang di pesannya sudah menunggu di pos satpam. Mungkin, ojek online tersebut sedang berada di sekitaran kosan Venya jadi, dia lebih cepat sampai dari pada Venya yang berencana menunggu ojek online itu di pos satpam.
Langkah kaki Venya berhenti di kantor pos dan menghampiri satu ojek online dengan jaket hijaunya bertengger di motornya dan sedang mencari seseorang.
"Mas Firman ya?" Kata Venya ketika melihat plat nomor di motor si ojek online tersebut sama dengan plat nomor yang ada di aplikasi ojek online tersebut.
Ojek online itu tersenyum kecil. "Iya, mbak." Balasnya untuk pertanyaan Venya tadi, "silahkan mbak di pakai helmnya." Katanya lagi kemudian memberikannya helm yang menurut Venya lebih wangi daripada biasanya.
Mungkinkah gara - gara masih pagi dan belum banyak penumpang yang naik motor si abang ojek online ini menjadikan helmnya seprti baru dan tetap wangi? Atau bahkan si abang ojek online ini selalu menyemprotkan parfum ke dalam helm yang siap di pakai oleh penumpang di belakagnya? Entah, kenapa juga Venya sampai berpikiran ke sana?
*** ***
Venya sampai di toko buku.
Bedanya, toko buku ini berbeda dari toko buku dua kali sebelumnya. Venya sengaja memilih toko buku yang berbeda. Karena dia ingin merasakan suasana baru yang bahkan sama saja menurut sebagian orang. Toko buku hanyalah toko yang kebanyakan menjual buku. Dan kebanyakan juga udara di sana terbatas hanya bau kertas baru atau bahkan hanya buku yang terlihat.
Tapi, untuk Venya, suasana beberapa toko buku bisa menjadikan inspirasi di otaknya. Dia bahkan tidak ragu untuk menuliskan beberapa bagian dari toko buku. Menjelaskan suasana toko buku satu dengan toko buku lainnya. Setidaknya, dia sudah mengetahui toko buku mana saja yang menurutnya nyaman untuk di kunjungi.
Venya juga terkadang mengunjungi toko buku hanya untuk menuliskan outline atau bahkan menuliskan bab seperti apa yang nantinya akan ia gambarkan di ceritanya. Suasana di toko buku kebanyakan sepi karena jaman sekarang mungkin tidak banyak yang memerlukan buku atau bahkan tidak banyak yang memerlukan buku seperti Venya.
Walaupun Venya bisa disebut sebagai penulis, dia juga masih memerlukan buku untuk referensi dia dalam menulis cerita. Dia juga kebanyakan mencari inspirasi di dalam buku milik orang lain. Walaupun tidak menjiplak suasana yang ada di dalam buku orang lain secara plek - plek sama persis, setidaknya, Venya bisa merasakan apa yang di rasakan si tokoh di dalam cerita tersebut.
Mohon maaf, dia hanya terinspirasi bukan menjiplak hasil karya orang. Dimana Venya bisa saja menjiplak karya orang yang sedang ia baca bukunya dan menjadikannya milik dirinya. Namun, itu bukan penulis. Itu adalah penipu yang sedang menyerang para penulis di dunia kepenulisan. Dimana mereka hanya bisa mencetak dan menjiplak tanpa bisa menulis apapun yang ada di pikiran mereka. Mereka juga tidak bisa disebut penulis.
Mungkin memang ada alasan kenapa mereka menjiplak karya orang lain. Tapi, itu tetap saja salah. Dan Venya tidak ingin menjadi salah satunya, maka dari itu, Venya mencari aman dan tidak mau mencemari nama Flora yang sudah cukup besar dan di kenal oleh orang lain.
"Anda tidak membawa ponsel?" Kata orang secara tiba - tiba di samping Venya dan mengatakan hal yang bahkan Venya dibuatnya bingung.
Sebelum bingung, Venya terperanjat ketika mendengar suaranya saja.
"Maaf, saya sudah membuat anda terkejut ya?" tanyanya lagi.
Venya menatap orang di sampingnya.
Orang itu adalah orang yang Venya anggap jahat. Dia bahkan ada di sini. Apakah mungkin dia stalker?
"Tentu saja." Kata Venya dengan bahasa baku menyesuaikan dengan orang yang sekarang ada di depannya.
Untung saja Venya tidak menjerit karena kaget. Jika itu terjadi kemungkinan pak satpam yang ada di luar sana menjaga toko buku ini mungkin akan menghampiri mereka berdua dan bertanya kenapa Venya berteriak.
"Maaf. Saya tidak bermaksud membuat mbaknya terkejut." Kata orang itu lagi.
Venya mengangguk, "saya mengerti." Katanya kemudian dia memikirkan lagi kalimat awal yang sudah orang asing itu katakan kepadanya yang membuat Venya kaget tadi, "dan apa yang anda maksud dengan saya tidak membawa ponsel?" kata Venya. Pasalnya dia membawa ponselnya. Dia bahkan tadi memberikan bintang lima kepada abang ojek online yang mengantarnya ke sini dan juga memberikan ulasan yang positif untuk abangnya tadi.
"Saya menghubungi mbak tadi sebelum menghampiri mbaknya." Kata orang itu lagi.
Lalu, Venya menggeledah tasnya kemudian menemukan ponselnya dengan keadaan di silent. "Maaf, ponsel saya dalam mode silent." KAta Venya, "kebetulan sekali ada di sini juga. ya?" tanya Venya curiga.
Venya sendiri bahkan sudah ketakutan jika benar orang ini adalah stalkernya. Venya juga sedikit mundur dan menekan angka 119 untuk keadaan darurat yang tidak ingin Venya alami. Tapi, itu untuk penjagaan saja.
Orang itu mengangguk, "kampus saya di sebelah." Kata orang itu menunjuk ke arah sebelah toko buku itu. "Mbaknya sering ke sini?" Tanya orang itu lagi.
Venya mengangguk untuk menjawab pernyataan pertama dari orang itu, "tidak ini baru pertama kalinya." Kata Venya pelan.
Lagi, orang itu mengangguk. "Kita belum sempat kenalan." Katanya, "saya Ari Wiguna." Ucapnya lagi.
Venya menatap uluran tangan orang dengan nama Ari Wiguna itu, kemudian dia tersenyum kecil dan membalas uluran tangan Ari, "Venya." Kata Venya.
Dia bahkan sudah pernah membahasnya sebelumnya bukan? Dia sangat malas ketika dia memperkenalkan diri sebagai Venya. Namun, Venya juga tidak bisa memperkenalkan diri sebagai Flora. Dia bahkan tidak ingin diketahui orang lain yang mana dia adalah Flora yang itu. Yang bukunya sekarang terpampang di etalase best seller nomor satu.
Iya. Nomor satu, buku yang baru tayang selama enam bulan dan sudah terpajang di etalase best seller nomor satu di toko ini. Venya juga baru menyadarinya. Padahal tadi ia melewati etalase itu namun dia tidak menyadari bahwa dia ada di urutan pertama di toko ini. Apakah gara - gara toko ini ada di sebelah kampus yang mana banyak mahasiswa yang sering atau bahkan banyak yang membeli bukunya? Entah, tapi dia sangat bahagia melihatnya.
"Tunggu sebentar." Kata Venya kepada Ari yang masih menatapnya.
Venya berjalan ke arah etalase itu lalu memotret etalase tersebut dengan ponselnya.
"Salah satu penggemar Flora juga?" tanya Ari kepada Venya yang sudah ada di sebelahnya.
Venya sendiri merasa bingung, apa yang terjadi di antar dia dan juga Ari? Kenapa Ari seperti mengenalnya lebih baik.
"Mbak hanya memotret bagian best seller nomor satu di etalase itu." Ucap Ari lagi.
Venya terkekeh, "tidak kok." Kata Venya, "saya hanya senang melihat etalase - etalase yang ada di beberapa toko buku." Kata Venya lagi, "bahkan saya sering memotret. Mau lihat?" Tanya Venya.
Entah kenapa, Venya merasa akan lebih terbuka pada orang ini. DIa bahkan berani menunjukkan foto - foto yang bahkan janrang sekali ia perlihatkan kepada siapapun termasuk Gemma. Dia bhakan memang pergi ke toko buku hanya untuk melihat etalase -etalase yang ada di sana. Benar saja, ketika Venya menunjukkan beberapa foto etalase - etalase di toko buku kepada Ari, Ari hanya terkekeh.
"Mbak benar - benar penggemar Flora sejati." Kata Ari setelah melihat - lihat foto - foto etalase yang sudah diambil oleh Venya di beberapa kesempatan.
"Kenapa?" Tanya Venya pelan lalu meliat lebih lama foto - foto yang di ambilnya. Memang benar , banyak sekali foto etalase yang isinya adalah karya Flora, "ah ini." Kata Venya kemudian terkekeh, "iya, deh. Di akui, saya salah satu penggemar Flora." Ucap Venya pada akhirnya.
*** *** ***
Ternyata obrolan mereka sudah sampai di titik ini. Dimana keduanya sudah mengobrol dengan bahasa santai dan juga bahasa yang sering digunakan untuk anak seusia mereka. Bahkan bisa dikatakan mereka sudah saling berkenalan lebih jauh.
"Jadi, lo juga mau kuliah sastra?" tanya Ari kepada Venya yang sedang meneguk minuman dinginnya.
Mereka sedang ada di kantin di dekat kampus. Tidak masuk kampus tapi masih ada di lingkungan kampus yang mana kampus itu adalah kampus yang cukup terkenal akan kebiajakannya dalam memilih siswa. Kenapa Venya meneguk minuman dinginnya padahal di sediakan sedotan plastik untuk menyedot minumannya agar lebih mudah? Karena Venya memang sedang mengurangi penggunaan plastik. Dimana itu juga disadari oleh Ari ketika ada di toko buku.
Venya membayar bukunya namun tidka dengan kantong plastik yang di tawarkannya. Venya lebih memilih memasukkan apa yang di belinya langsung ke tas gendong yang sedang ia pakai. Tas yang isinya juga laptop yang bahkan belum di bukanya karena keasyikan bicara dengan teman baru Venya.
Venya mengangguk sebelum menjawab pertanyaan dari Ari yang mulai lebih santai dengan bahasa lo - gue yang mereka sama - sama pakai dengan kesepakatan mereka berdua. "Iya, tapi gue belum ada niat buat kuliah," kata Venya pelan, "lagi ke asyikan main nih gue." Ucapnya ngasal sambil terkekeh.
Ari tersenyum kecil, "gue juga sebenernya belum lulus sekolah menengah atas." Kata Ari sambil terkekeh.
Venya yang mendengarnya sedikit terkejut dimana dia yang awalnya mengira bahwa Ari adalah satu angkatan dengannya karena dia menyebutkan kalo kampusnya ada di sebelah toko buku tadi. Bukannya itu berarti Ari bersekolah atau menuntut ilmu di sini? Di kampus ini? Yang sedang Venya lihat?
"Iya, gue lagi daftar, tapi belom lulus." Ucapnya lagi semakin membuat Venya bingung, "nyokap gue professor di sini, jadi gue daftar dulu karena gue taun depan udah lulus sekolah menengah atas." Katanya lagi.
Venya memang paham dengan yang dikatakannya bahwa ibunya adalah professor di sini, namun, tetap saja kenapa dia harus mendaftar duluan?
"Masalah gue daftar duluan karena nyokap gue emang nyuruh gue kuliah di sini tapi gue ga mau karena gue males di sebut sebagai anak professor." katanya lagi menjelaskan apa yang sudah menjadi pertanyaan dari Venya tadi. "Gue di sogook nyokap buat dafar duluan." Ucapnya lagi.
Lalu, kini Venya bertanya, "di sogok apaan lo sampai jadi mau kuliah di sini?" tanya Venya penasaran.
Ari tersenyum, "ini." Katanya menunjukkan kartu kredit yang bahkan sudah berwarna platinum. "Karena gue suka koleksi buku komik, novel sama terjemahan, jadi gue di sogok gini dengan limit lima puluh juta perbulan." Ucapnya menambahkan.
Tentu saja limit yang disebutkan tadi membuat Venya tercengang. "Buat apa lo limit lima puluh juta? Bisa beli mobil dalam dua atau empat bulan ke depan." Kata Venya lagi.
Ari mengangguk, "bukan itu kemauan gue." Kata Ari, "gue udah punya mobil yang sering gue pake kemana - mana, gue cuman mau beli toko buku." Kata Ari.
Permintaan dan ucapan Ari itu adalah salah satu kejutan lagi untuk Venya. Dimana semua hal yang di ciptakan atau bahkan diberikan oleh Ari hari ini membuat Venya tercengang beberapa kali. Ini baru hari ini loh ketemu Ari, bagaimana sebulan lagi? Dua bulan lagi? Atau satu tahun lagi?
"Jadi, gue mau ajak lo ke tempat bagus yang waktu itu gue janjiin." Katanya kemudian saat Venya hanya diam, "lo mau ikut atau engga?"