Ketikan yang dibuat oleh Venya kini sudah tersusun rapi menjadi beberapa kalimat dengan sangat indah. Bab per- bab sudah di selesaikan Venya. Bahkan dia masih belum mengantuk padahal jam dinding di atas meja kerjanya sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Tadi, setelah berpamitan dengan bunda Kori tanpa menyapa anak - anak yang sudah mencapai jam tidur mereka yakni jam sembilan malam, Venya langsung pulang dan sampai di kamarnya sekitar pukul setengah sebelas. Karena tadi sore sebelum keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama Gemma dia sudah mandi, Venya merasa bahwa dirinya tidak perlu mandi lagi. Dia hanya menggosok giginya dan mencuci tangan juga kakinya saja sebelum duduk di kursi kerjanya.
Venya sendiri memang berniat menulis beberapa bab dan setelah itu dia mulai mengedit beberapa bab yang akan mulai di setorkan kepada editor yang menangani bukunya bulan depan. Venya juga sudah mengedit beberapa bab yang kemungkinan editornya akan meneditnya juga atau bahkan menyuruh Venya mengeditnya lagi. Setidaknya, Venya akan meringankan tugas editor dan juga tugasnya nanti setelah buku itu di setorkan kepada editornya.
Atau bahkan Venya akan menumpuk pekerjaannya, dimana editornya tidak menyukai cerita yang sedang Venya edit. Entah, namun yang pasti, Venya ingin mengeditnya dulu karena banyak sekali kalimat simpang siur dan juga banyak sekali kalimat yang bahkan tidak pada tempatnya. Banyak typo dan juga banyak tanda baca yang salah.
Sebenarnya, Venya masih dalam tahap belajar mengenai menulis seperti ini. Dia bahkan masih belajar dan terkadang masih membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau yang sekarang dikenal sebagai PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Dimana PUEBI ini bisa di akses di internet. Dia juga ada di tahap itu walaupun sering menulis dan bukunya beberapa sudah ada yang naik cetak dan di pajang di beberapa etalase best seller di toko buku tersebut.
Menurut Venya sendiri, belajar adalah perilaku yang entah siapapun orangnya, entah umur berapapun, entah kapanpun, belajar adalah hal yang wajar untuk mereka yang memiliki kemauan. Belajar adalah salah satu hal yang bisa membuatnya lebih baik untuk ke depannya. Walaupun setelah belajar masih ada kesalahan yang bahkan tidak di sengaja ataupun di sengaja, itu adalah hal yang wajar.
Venya jadi ingat dengan istilah dimana kegagalan akan mengajarkan kita untuk berbuat lebih baik lagi dan tidak mengulangi langkah yang sama di kemudian hari.
Dan tentu saja kalimat itu mengandung banyak sekali makna yang tersirat. Di dunia ini menang kita mungkin banyak melakukan kesalahan mau yang di sengaja ataupun yang tidak di sengaja. Dimana kita bisa belajar dari kesalahan yang sudah dilakukan sebelumnya agar di kemudian hari tidak menyesal dan tidak melakukan kejadian atau kesalahan yang sama.
Venya belajar dari sana.
Mungkkin masih ada saja kesalahan - kesalahan dalam hal menulis untuknya. Namun, Venya sedang belajar untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Venya sendiri masih perlu diingatkan dan perlu dibimbing lagi. Makannya, Venya masih memerlukan editor atau jasa editor yang bahkan bisa membuatnya lebih belajar lagi apa kesalahan yang sedang dia perbuat atau bahkan kesalahan dimana yang harus Venya perbaiki. Setidaknya, menjelaskan alasan lebih baik daripada menyalahkan namun tidak menjelaskan apa kesalahannya.
Venya meregangkan jari jemari tangannya sampai berbunyi, dia bahkan sudah membunyikan sendi di lehernya beberapa kali sebelum ini. Venya mulai pegal dan pinggangnya mulai panas. Namun, Venya belum mau tidur. Dia beralih ke note yang sudah di belinya beberapa waktu lalu untuk merangkum atau membuat outline cerita yang baru saja akan ia garap di media online kepenulisan ini.
Dia membukanya dan teringat akan pria yang mengajaknya ke tempat bagus.
"Belum kenal udah ngajak begitu aja. Gimana kalo udah kenal." Kata Venya bergumam tidak jelas.
Venya benar - benar berpikir jika orang atau pria asing itu bisa saja menjahatinya jika Venya terbujuk rayuannya kala itu. Dimana Venya memang sedang membutuhkan tempat baru untuk mencari inspirasi atau sekedar duduk melamun dan memikirkan hiduppnya untuk ke depannya.
Tapi, jika menlelaah lagi. Venya salah jika berpikiran bahwa pria itu adalah orang jahat yang akan menjahatinya jika ia ikut dengan pria itu. Dimana Venya masih dilibatkan dengan pemikiran dimana Venya melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria asing yang dianggap oleh Venya jahat itu menyelamatkan anak kecil yang bahkan hampir matti tenggelam. Bahkan Venya mungkin bisa saja mendapatkan inspirasi dari kejadian itu.
"Bener, bisa di masukkin nih ke cerita gue yang ini." Kata Venya kemudian membuka lembaran note itu dan mengambil pulpen dengan warna terang. "Kenapa bisa pas gitu sih ceritanya?" tanyanya pada diri sendiri.
Venya menelaha lagi outline yang sedang ia bikin. Benar - benar sinkron. Dimana dia sedang mencari konflik untuk ceritanya. Dimana di dalam cerita itu Venya sedang kebingungan bagaimana caranya dia mempertemukan tokoh perempuan dengan tokoh laki - laki yang nantinya akan ia pasangkan di cerita itu. Dan cerita anak tercebur dan anak tenggelam itu bisa dimasukkan ke dalam cerita yang sednag Venya bikin.
Dia tersenyum, "nanti si cewek bakal terpesona karena rambut bassah si cowok." Kata Venya, "terus nanti mereka kenalan, jalan akhrinya jadian." Kata Venya kesenangan mendapatkan inspirasi itu. "Tapi, tidak semudah itu fergussso." Ucap Venya kemudian sesaat dia melihat tulisannya sendiri, "masa tiba - tiba dia minta kenalan gitu? Ga mungkin juga. Si cowok kan karakternya kayak es batu." Kata Venya mengomel sendiri.
Lantas, yang terjadi berikutnya adalah Venya mencoret runtutan kejadian yang sudah ia tuliskan tadi, "gimana kalo si cewek sama si cowok ketemu lagi di kafe terus seolah -olah mereka kebetulan ketemu padahal si cewek yang jadi stalkernya si cowok?" tanyanya pada diri sendiri lagi.
Salah satu kebiasaan enya yang lainnya adalah ini. Dia memikirkan outline dengan car abertanya pada diri sendiri, berpikir kemudian menjawabnya dengan sendirinya dari mulutnya sendiri juga. Jadi, untuk apa dia tadi bertanya?
Venya sendiri memang punya kebiasaan yang bahkan kurang bagus. Dia sering bergumam sendiri dan kadang - kadang Gemma yang mendengar itu menjadi terkekeh karena lucunya gumaman Venya. Apalagi ketika Venya marah atau kesal. Dia akna mengomel sendiri dalam oktaf yang super kecil sehingga hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri atau bahkan paling jauh oleh orang yang ada di dekatnya. Setidaknya, tidak sampai ke orang yang sedang Venya kesali itu.
"Selesai, kan si cewek emang ceritanya ganjen." Kata Venya lagi. "Tidur dulu deh."
*** *** ***
Venya bangun dengan keringat bercucuran di peliis dan juga punggungnya.
Mimpi buruk.
Mimpi yang sama yang terkadang Venya di buat ksal karenanya. Venya sudah lelah dengan dunia nyata, kini harus di bat lelah dengan mimpi yang membuatnya harus berlari dari serangan monster yang terkuttuk itu. DImana Venya yang harus terus berlari dari orang yang mengejarnya dan akan melec*ehkan dirinya. Bahkan Venya sendiri merasa bahwa larinya tidak sekencang itu di dalam mimpi.
Terkadang jika berlari di mimpinya seakan dirinya terus menerus ada di titik itu dan tidak pernah bisa meghindari orang yang mengejarnya. Dia seakan berlari di tempat dan terus menerus melihat ke belakang yang mana orangnya semakin cepat Venya berlari malah semakin dekat kepadanya.
"Siaallan, mimpi itu lagi." Dumel Venya untuk dirinya sendiri.
Venya bangun dari tidurnya kemudian dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia bahkan tidak melihat jam dindingnya. Padahal, hari itu masih pukul tujuh. Dia baru tidur beberapa jam saja. Venya bahkan tidak menyadari jika hari itu masih ada di pagi hari yang mana dia benar - benar belum tidur dengan cukup hari itu. Setidaknya, Venya tidur saja sudah beruntung. Kadang - kadang Venya bisa tidak tidur karena kejar jam tayang untuk ceritanya yang bahkan sudah terbit dimana - mana. Seolah Venya benar - benar penulis yang bahkan bisa menulis sambil tidur.
Bahkan jika bisa di katakan Venya adalah penulis dalam bayangan. Dimana Venya dengan nama Flora yang pembaca hanya mengenal Flora bukan Venya. Penulis bayangan? Atau bahkan ghost writer? Dia bahkan pantas untuk disebut seperti itu untuk dirinya sendiri. Karena memang seperti itu keadannya.
Jika tidak seperti itu, Venya bahkan harus menyebutnya apa? Bahkan para penjual toko buku saja tidak mengenalinya saat dia berkunjung dan melihat buku dirinya sendiri yang terpajang di etalase best seller toko mereka.
Itu karena Venya menolak untuk fans sign. Dimana dia sendiri yang selalu menolak untuk melakukan tandatangan bukunya secara langsung di depan penggemarnya. Venya merasa jika Flora belum seterkenal itu sehingga dia harus mendapakan kegiatan yang layaknya penulis besar. Lagi pula, Venya merasa dia tidak percaya diri untuk hadir di acara yang mengumpulkan banyak orang dan tentu saja banyak psag mata yang memperhatikan dia dari ujung kaki sampai ujung rambut dan begitupun sebaliknya.
Venya merasa dia benar - benar menjadi ghost writer yang mana dia tidak biasa untuk memperkenalkan dirinya dengan nama Venya yang mana menrut bunda Kori itu adalah nama yang dititipkan ibunya untuk Venya.
"Ibu, matamu." Dumel Venya ketika menggosok gigi dan berhadapan dengan dirinya sendiri di cermin kamar mandi. Dia sampai memberhentikan acara gosok giginya hanya dengan dua kalimat yang membuatnya muak seketika.
Dia benar - benar membenci nama itu. Setelah ini, dia akan berusaha mencari tahu bagaimana caranya agar dia bisa mengganti namanya untuk ke sekian kalinya. Bahkan waktu sebelum mempunyai kartu identitas diri dari pemerintah Venya sempat mengajukan dan mencari tahu bagaimana caranya mengganti nama. Dia tidak menyukainya karena setiap kali dia memperkenalkan dirinya dengan nama Venya, dia selalu teringat bahwa dia adalah anak buangan.
Anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya samapai- sampai dia harus di buang ke panti asuhan dan menjalani hidup dengan nama yang sudah di berikan kepadanya dari orang tuanya pada saat itu.
"Buat apa ngasih nama kalo mereka sendiri membuang bayi yang jelas belum dan tidak mengerti apa - apa itu?" tanya Venya untuk dirinya sendiri.
Selain mendumel dan mengumpaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya yang bahkan Venya sendiri tidak pernah berharap untuk bertemu dengan orang tuanya itu, Venya juga benar - benar membenci namanya yang sudah ia pakai dari kecil sampai sekarang.
Balik lagi dengan masalah nama. Venya sudah memiliki kartu identitas diri dari pemerintahan Indonesia yang mana dirinya sudah dianggap dewasa dan mengerti masalah apa yang ada di kehidupannya ini. Tapi, masih saja ganti nama yang ia miliki di persulit. Dimana buruknya adalah Venya harus mengurus hal lain selain mengganti namanya di kartu identitas dirinya itu.
Dia diberitahu untuk kedepannya setelah dia mengganti nama. Dia harus mengurus akta kelahiran, kartu keluarga panti dan juga ijazah - ijazah yang sudah ia terima dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas yang baru saja ia lulus beberapa bulan yang lalu. Venya juga di beritahu jika mengurus hal - hal yang tadi mereka sebutkan itu bukanlah perkara yang mudah dan juga murah. Belum juga lamanya pengerjaan proses penggantian nama itu yang membuat Venya kini merasa terpuruk.
"Kenapa juga bunda Kori harus benar - benar ngasih nama yang diinginkan orang tuanya yang bahkan tidak menginginkan dirinya?" Gumam Venya lagi setelah dia berkumur dan bertanya pada dirinya sendiri di dalam cermin.
Siaalnya, Venya sudah mendapat jawaban yang nyata dari pertanyaan yang satu itu. Dia pernah bertanya pada bunda Kori perihal nama yang bahkan Venya sendiri tidak sukai itu. Dan jawaban Bunda Kori adalah, "mungkin orang tuamu nanti akan menjemput kamu dan itu akan mempermudah mengenali kamu walau hanya lewat nama."
Setelah itu, Venya berharap ada yang menjemputnya dengan menyebutkan namanya. Tapi, sampai sekarang. Sampai Venya sudah memisahkan diri dari panti asuhan dan memulai kehidupannya sendiri di lingkungan yang bahkan bisa saja jahat kepadanya, Venya masih belum mendapat kabar jika ada orang yang mencari anak dengan nama Venya. Entah itu di panti atau di jalanan.
Bisa saja Venya dengan munafi*knya mengatakan bahwa Venya tidak menunggu moment dimana ada orang yang mencariya terutama orang tua. Bahkan Venya bisa mengatakan dengan mulut manisnya jika Venya tidak peduli terhadap orang tuanya. Namun, dalam sepi hatinya, dia masih mengaharapkan akan ada orang yangmencarinya dan mengatakan bahwa merkea mencari Veny dan menyesali perbuatannya teerlbih dahulu dan meminta Venya untuk kembali ke pelkan mereka atau bahkan salah satu dari orang tuanya.
Venya mungkin akan menanyakan alasannya nanti. Alasan kenapa Venya di buang dan di terlantarkan seperti ini. Untung saja Venya bisa bertahan dan tidak membangkang juga tidak mengeluh dengan apa yang sudah ia jalani sampai hari ini. Coba jika dirinya bukan Venya yang seperti itu. Bagaimana jika Venya adalah sosok yang membangkang dan pemarah? DIa mungkin akan marah setiap kali mendengar nama Venya disebut. Mungkin saja Venya akan marah ketika ada orang tua yang menemuinya dan menyebutkan bahwa mereka adalah orang tua yang menyesal karena sudah membuang Venya.
Tapi, untuk sekarang. Venya sednag menikmati hidupanya dan tidak memerlukan mereka yang akan mencarinya dan berusaha meminta maaf jika memang mereka menyesali semua perbuatannya kepada Venya.
Untuk sekarang, biarlah seperti ini dulu.