"Mana Venya?" tanya Bunda Kori begitu Gemma turun dari mobilnya dan mengambil beberapa keresek di bangku belakang mobilnya.
Bunda Kori kebetulan sekali ada di bangku depan sedang menjahit baju anak panti yang lain yang sobek karena terkait paku yang ada di taman belakang panti. Entah kenapa, melihat Gemma seakan melihat sesuatu yang berbahaya bagi Venya. Maka dari itu, hal yang ditanyakan pertama kali kepada Gemma yang menyapanya terlebih dahulu adalah keberadaan Venya.
"Tidur bun, di depan." Jawab Gemma untuk pertanyaan bunda Kori.
Bunda Kori hanya khawatir kepada Venya dimana dirinya sudah pernah melihat Gemma yang setengah sadar mengantarkannya pulang dan dia khawatir kepada Venya yang mana Gema bisa saja mabuk dan emlkaukan hal yang tidak diinginkan kepada Venya. Bunda Kori sendiri adlaha orang yang paling mengkhawatirkan Venya dimanapun Venya berada.
Hanya saja, Bunda Kori terlalu gengsi untuk mengakuinya. BUkan untuk mengakui saja, bahkan menunjukkannya saja bunda Kori selalu ragu. DImana dirinya ingin mengiriman pesan, menelepn atau bahkan melakukan panggila video dengan Venya rasanya susah. Ketika ingin menekan tombol call di ponselnya ketika nmaa Venya yang ada di layarnya, bunda Kori selalu ragu dan tidak bisa menekannya. Bunda KOri selalu menerima kabar dari Venya ketika Venya menghubunginya terlebih dahulu. Jika Venya tidak menghubunginya, bunda Kori khwatir namun tidak bisa menghubunginya terlebih dahulu kaerna masalah gengsi tadi.
Tapi, jika dalam dua hai sampai tiga hari Venya tanpa kabar, bunda KOri selalu menenggelamkan rasa gengsinya sedalam - dalamnya ke dalam lubuk hatinya dan mulai menghubungi Venya terlebih dahulu dan duluan. Venya sendiri sering sekali mereseponnya dengan lata 'tumben' pada bunda Kori. Pasalnya, memang bunda kori tidak akan menghubungi Venya jika Venya terus menghubunginya. Memberithaukan keadannya dan bahkan memberitahukan kapan dia makan terakhir kali tanpa ditanya oleh bunda Kori.
"Venya minta dibangunin pas sampe panti bun. Mau saya yang bangunin?" tanya Gemma pada bunda Kori yang masih menatap Venya yang berada di dalam mobil Gemma.
Bunda Kori mengangguk, "ya sudah, bangunkan." Kata bunda Kori kemudian.
bunda kori berjalan agak menjauh dari mobil Gemma ketika Gemma dengan lembut dan pelan membangunkan Venya yang masih ada di dalam mobilnya. Dia juga meraba kepala Venya dan mengusapnya di sana dengan lembut dan juga penuh perasaan. Perlakuan kecil itu tak luput dari pandangan bunda Kori yang masih memperhatikannya.
"Ven, kita udah sampe." Kata Gemma pelan, "mau nyapa bunda Kori dulu ga?" tanya Gemma lebih pelan.
Venya bergerak kemudian menggeliat kecil, "mau lah.." Kata Venya menjawab pertanyaan terakhir dari Gemma. Kemudian matanya terbuka dan ia melempakan wajahnya ke arah bunda Kori yang menatapnya lembut, "selamat malam ibundaku sayang." kata Venya kemudian dia turun dari mobil Gemma dan berjalan ke arah bunda Kori yang sudah menyambutnya.
Venya memeluk bunda Kori dengan eratnya, "kangen, bund." Kata Venya setelah ada di dalam pelukan bunda Kori.
Setidaknya, ini sedikit menenangkannya dari pikirannya yang kacau. Mulai dari hubungannya dengan Gemma dan juga jawaban yang setidaknya harus benar - benar dipikirkan untuk menjawab pertanyaan dari Gemma yang memintanya kembali dan menjalani hubungan mereka lagi seperti biasa setelah Gemma melakukan kesalahan yang bahkan sulit untuk Venya terima kembali.
Venya juga merasa bahwa pelukan bunda sedikitnya mengobati luka di hati Venya tanpa harus Venya jelaskan apapun kesakitan yang ia alami itu. Venya juga merasa bahwa dia sudah menemukan rumahnya ketika ada di pelukan sang bunda.
"Mau nginep di sini?" Tanya bunda setelah Venya mengurai pelukannya.
Sebenarnya, Venya ingin menginap sehari saja di sini dan tidak meikirkan apapun. DIa hanya akna berfokus pada pemulihan hatinya. Dia tidak ingin melakukan apapun selain bersama bunda dan bermain ebrsama anak - anak panti lainnya. Namun, sayangnya, Venya harus mengejar target menulisnya. Dia tidak membawa laptopnya dan jika ia memaksakan menulis di ponselnya, mungkin Venya tidak akan fokus pada hla menulis. Mungkin Venya akan terus scroll instag**ram dan juga media sosial lainnya tanpa menulis. Dan tentu saja itu sangat mengangguk pikiran Venya.
Venya kemudian menggeleng, "masih ada kerjaan, bun." Kata Venya.
"Libur dulu aja sehari. Udah lama kamu ga nginep di sini." Kata bunda Kori yang membujuknya dengan keras.
Lagi, Venya menggeleng. "Nanti deh. Sebelum bulan depan, aku nginep di sini." kata Venya, "masih ada nasah yang harus di edit dan dl nya seminggu lagi." kata Venya.
benar.
dia harus mengedit beberapa bab di cerita Detective A yang bahkan harus di masukkan ke penerbit maksimal seminggu lagi. Dimana aish banyak bab yang harus diperbaiki. Sebenarnya, editornya di penerbit ebsar itu tidak mengharapkan pengeditan apapun yang dilakukan Venya tehadap ceritanya. Namun, tetap saja, Venya merasa malu dan insecure ketika melihat tulisannya yang acak - acakan dan juga tidak pantas untuk di baca banyak orang. Padahal, Venya sudah seterkenal itu tapi tetap saja tulisannya masih standar. bahkan bisa dikatakan di bawah standar.
Venya sendiri mempunyai beberapa bagian dari detective A yang belum di masukkan ke dalma ceritanya. Maka dari itu, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukkan Venya saat kembali ke kosan nantinya. Belum lagi dengan apa yang sudah ia kerjakan sebelumnya. Venya yang sudah menulis bebreapa kalimat untuk di update di beberapa platform mungkin saja harus di upload hari ini juga ntuk mendapatkan koin yang lumayan. Maka dari itu, Venya harus segera kembali sebelum malam sekali.
"Ini tadi, aku makan di warung makan yang enak banget, nyisanya juga banyak. Ga di acak - acak kok makanannya, jadi masih halal untuk bisa dimakan." Kata Venya setelah bunda Kori meng- iyakan tawaran yang ia tawarkan dengan menginap sebelum bulan depan itu, "bahkan banyak yang masih baru yang belum di sentuh sama sekali." Kata Venya menambahkan.
"Bunda udah sering bilang, kalo makan ya seadanya aja. Jangan di sia - sia in. Banyak orang diluar sana yang masih butuh makan." Kata bunda Kori.
Venya mengangguk, "iya. Tadi di bayarin Gemma kok. Aku makan dengan enol rupiah." Kata Venya lagi menambahkan, "Bunda nanti sama anak - anak aku ajak ke sana deh. Makan sepuasnya. Murah tau bun makan di snaa." Kata Venya. "Kalo uangnya udah ngumpul, kita makan di sana bareng ya bun. Sekalian sama anak - anak." Kata Venya lagi.
Bunda Kori terkekeh kemudian mengangguk, "kalo murah ya ayok lah." Kata bunda Kori, "semoga rizkinya ngalir terus ya, Ven." Kata bunda Kori.