Sebenarnya Venya bisa saja menjadikan alasan Gemma sebagai tolakan untuk ajakan Gemma yang dimana dirinya meminta hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Banyak sekali alasan dimana Venya bisa menolak Gemma dengan sangat indah atau mulus dan juga ada alasan lain yang bisa menolak Gemma dengan alasan yang cukup kejam atau bahkan sadis.
Jika Venya akan menolak Gemma dengan sapaan yang baik dan mulus, Venya akan membuat alasan dimana sikap Gemma selama ini membuanya seperti tidak memiliki hubunganserius di dalamnya. Seperti Venya tidak memiliki sosok pacar dalam hidupnya karena sehari - harinya dia lakukan sendiri kecuali jika Gemma mengajaknya aua bahkan menghubunginya duluan. Selama ini, Venya yang selalu meminta Gemma untuk datang dan menjemputnya. Kadang Gemma bisa menyanggupi itu dan lebih sering Gemma menolak atau bahkan sama sekali tidak bisa dihubungi. Gemma memiliki dua alasan untuk menolak Venya saat itu yang ada dipikiran Venya.
Yang pertama karena dia sibuk kuliah atau kasarnya, sibuk dengan seligkuhannya. Dan yang kedua adalah Venya bukanlah prioritas sang laki - laki itu.
Entah yang mana yang sudah dipilih oleh Gemma, yang terpenting itu akan menjadikan alasan lemah dan juga alasan yang cukup baik untuk menolak Gemma saat ini. Dimana Venya bisa mengatakannya dengan nada yang cukup halus dan cukup membawa suasana menjadi lebih baik.
Mungkin akan berbeda ketika Venya mengeluarkan alasan menolak kepada Gemma dengan alasan yang cukup keras dan sadis menurut Venya sendiri. Dimana Venya akan mengeluarkan statment yang cukup keras. Dengan omongan yang cukup kasar dan mungkin akan banyak penekanan di beberapa kalimat yang nantinya akan keluar dari mulut Venya, Gemma mungkin akan merasa tersakiti.
Venya akan melakukan penolakan dengan alasan bahwa dia tidak menginginkan laki - laki yang sudah tidak perjaaka atau bahkan dia tidak mau lagi berhubungan dengan laki - laki yang sudah merussaak orang lain dan juga merusak dirinya sendiri. Kalian bisa tahu langsung arti kata 'merusaaak' yang Venya maksud. Dan merusaakk diri sendiri ini, mungkin Gemma sudah mualai berhenti merokook dan juga meminum alkohol. Tidak berhenti sepenuhnya memang, namun, dia sudah berusaha untuk menepati janjinya untuk berhenti dengan perlahan karena memang yang namanya 'kecandduaan' itu sulit untuk dihilangkan apalagi di suruh berhenti secara tiba - tiba.
Dia juga akan mengeluarkan alasan untuk menolak Gemma dengan perkataan bahwa dirinya tidak menyukai laki - laki dengan sikap seperti Gemma. Dimana sikapnya akan berubah secara drastis ketika sedang kesulitan. Ketika sedang punya keinginan dan mungkin punya maksud tertentu. Yang mana maksud dari Gemma yang berubah adalah demi hubungannya yang ingin diperbaiki atau di ulangi secara bertahap ke arah yang lebih baik.
Tentu saja Venya bisa mengeluarkan hal itu dengan mudahnya tanpa adanya pantangan. Dia bahkan sudah memedam semuanya sendiri dan juga sudah terluka sejak saat lama dan baru di sadari baru - baru ini. Venya juga sudah terluka sejak lama akibat perlakuan dari Gemma yang bahkan sudah berulang kali membuatnya menanggungnya sendiri sehingga Venya sudah tidak bisa merasakan sakit yang sama ketika Gemma tidak bisa dihubungi atau bahkan ketika Gemma sulit untuk di temui. Rasa peka terhadap rasa sakit yang seperti itu rasanya sudah menghilang dari hati Venya karena Gemma juga.
Dan sekarang, Venya merasa sakit dengan luar biasa karena luka yang ditorehkan oleh Gemma padanya dengan pengakuan yang seperti itu membuat luka lamanya yang ada di dalam, terkubur jauh di dalam hatinya muncul ke permukaan dan menjadikannya lebih sakit karena luka itu muncul secara bersamaan.
"Masalah itu, kita bisa omongin nanti deh, Gem." Kata Venya setelah dia dan Gemma berdiam diri cukup lama dan juga tidak bersuara karena suara - suara yang mungkin saja di keluarkan oleh Venya tersangkut sampai di tenggorokannya saja, sehingga yang muncul adalah kalimat yang barusan. "Kita makan dulu deh, gue laper." Kata Venya ketika melihat warung di pinggir jalan sudah mulai ramai.
"Janji sama gue satu hal, Ven." Kata Gemma saat Venya sednag memegang knop pintu mobil untuk keluar dari sana.
Venya diam ketika Gemma berbicara. Dia tidak menolehkan pandangannya, dia hanya berhenti melakukan gerakannya dan dia diam di tempat. Dia berniat untuk diam karena berharap Gemma akan melanjutkan perkataannya barusan yang Venya tebak belum selesai ia keluarkan. Maka dari itu, selagi badannya diam, dia menajamkan telinganya untuk emndengarkan apa yang aakan dikatakan oleh Gemma setelah kalimat yang membuatnya diam itu.
Dia di buat gugup oleh Gemma kala itu. Dia juga tidak bisa berjanji apa - apa jika Gemma menuntutnya untuk berjanji. Lagi pula dirinya sudah tidak punya urusan apa - apa lagi dengan Gemma selain kontrak bisnis sebagai penulis dan manager yang akan di mulai bulan depan. Mengingat hal itu, Venya juga merasa bahwa dirinya belum siap untuk menjadi penulis yang sekarang mungkin akan lebih terkenal dari pada sebelumnya. Bukan dia terlalu percaya diri, hanya saja di penerbit itu, para penerbit selalu memberikan yang terbaik untuk penulisnya. Dengan hal promosi yang bahkan sering sekali dilakukan dalam hal besar, penerbit menentukan bagaimana jenjang karir dari penulis yang menerbitkan bukunya di sana. Maka dari itu, masuk ke sana dan menjalani kontrak juga tidak akan mudah. Venya termasuk salah satu yang beruntung di antara penulis lain yang banyak mengirimkan naskah ke sana seperti yang dilakukan Venya kemarin - kemarin.
Mungkin para marketing dan editor juga pembaca naskah sekilas dari email kewalahan setiap harinya. Mungkin itu juga yang membua penerbit itu bergaji besar karena tidak smebarangan orang yang bisa masuk dan bekerja di sana. Pekerjaan yang sering kali di tekan untuk membuat penulis abal - abal menjadi terkenal adalah salah satu hal yang cukup sulit apalagi untuk mendapatkan penulis yang baik dan juga tidak banyak berkomentar.
Editor di sana adalah hal yang terpenting. Selain menjadi editor mereka juga biasanya menjadi manager dadakan ketika manager yang dibawa oleh penulis sulit atau bahkan tidak bisa di hubungi. Dan para editor pula yang memegang semua kendali atas cerita dari penulis.S Setidaknya secara kasarnya seperti itu. Dimana Venya yang sekarnag mungkin sedang dalam masa penilaian untuk ceritanya. Bahkan tulisanya tidak begitu rapi. Namun, yang membuat editor tertarik akan Venya atau Flora sebagai nama pena dari Venya adalah ceritanya yang semakin ke sini semakin membuat pembaca penasaran. Dimana Venya dan Flora sering kali menggantung ceirtanya di bab yang paling bawah dan paling akhir. Sehingga para pembaca kian penasaran dengan cerita apa yang selanjutnya akan diceritakan oleh Flora di dalam ceritanya itu.
"Janji sama gue kalo lo bakal jawab pertanyaan gue secepetnya." Kata Gemma setelah melihat Venya yang diam saja di tempatnya seperti membeku dan terpaku begitu saja.
Venya menelan ludahnya kemudian mengangguk, "gue akan jawab pas gue udah siap. Ga papa 'kan, Gem?" tanya Venya sekarang melihat abyangan Gemma di jendela yang sedang di tatapnya.
Gemma mengangguk dalam bayangan yang sedang Venya lihat itu kemudian Venya meneruskan kegiatannya dengan mmebuka pintunya dan turun lalu sedikit berjalan cepat menuju warung makan. Lebih tepatnya seperti cafe namun tampilannya seperti warteg dimana makanannya tersedia ketika Venya masuk ke dalam sana.
Selanjutnya, yang dilakukan Venya adalah dia mengantri di belakang orang tinggi besar. Dia bahkan melihat - lihat apa yang akan dimakannya. Karena makanannya sudah di sajikan begitu saja seperti parasmanan masa pernikahan, Venya dengan bebas bisa melihatnya.
"Gem, lo tau gue suka yang kayak ginian?" tanya Venya kepada Gemma yang ada di belakangnya.
Gemma mengangguk, "pilih apa yang lo mau, di sini harganya terjangkau semua." Kata Gemma pelan ikut mengantri juga.
*** *** *** *** ***
Mereka - Venya dan Gemma - duduk bersebrangan. Dimana mereka dihadapkan dengan makanan yang banyak sekali di mejanya. Bahkan meja yang diperkirakan kurang lebih berukuran satu meter kali satu meter itu kini penuh.
"Mungkin makanan lainnya setelah ini habis ya kak, saya nanti antarkan ketika kakak siap untuk makanan selanjutnya." Kata sang pelayan yang menyimpan makanan - makanan yang tadi diambil oleh Venya.
Makanan yang diambil oleh Venya semuanya mentah, jadi harus diproses terlebih dahulu. Kemudian setelah diproses itu, makanannya di antar dan juga ditambahkan nasi putih. Free. Atau gratis nasi putih. Venya juga mengambil banyak makanan karena dia benar - benar kalap ketika melihat makanan di depannya.
Setelah pindah ke kosan itu, Venya menjadi sangat suka makan. Entah karena apa yang pasti, Venya benar - benar hampir selalu kalap jika urusannya adalah makanan. Venya juga kadang - kadang sehari makan sampai lima kali. Jika dia benar - benar lapar. Mungkin karena di panti asuhan makanan itu terbatas jadi setiap orang di batasi untuk makan, dan sekarang Venya merasa bebas dan juga merasa bahwa uangnya juga bisa membeli makanan apapun yang Venya inginkan, dan dengan bebasnya, Venya makan apa yang dia inginkan. Venya tidak perlu memikirkan orang lain akan kebagian atau tidak, yang terpenting sekarang adalah makanannya akan memanjakan lidahnya sendiri. Bahkan Venya bisa memakan banyak sekali makanan dalam satu hari. Venya merasa dirinya bebas melakukan apapun di sini. Tidak ada batasan jika itu masih baik menurut Venya. Dan juga tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan seperti hal yang sering kali Venya rasakan di panti asuhannya.
Venya mengangguki ucapan dari pelan itu, dia bahkan menyetujui hal yang sudah disarankan oleh sang pelayan. Istilahnya, makanan yang sekarang sedang ada di hadapan Venya adalah ronde satu sedangkan nanti ada ronde dua untuk kegiatannya berikutnya. Dimana Venya membuat Gemma menggeleng kemudian terkekeh.
"Lo yakin bakal ngabisin semuanya?" Tanya Gemma heran dengan apa yang sedang dilakukan Venya.
Rasanya, Venya tidak seperti ini sebelumnya. Venya selalu menjaga pola makannya. Dia bahkan hidup sehat karena Gemma tahu jika Venya mendaftar untuk mendonorkan organ yang ada di dalam tubuhnya jika ia sudah mati atau meninggal. Maka dari itu, ada motivasi untuk hidup sehat dan bahagia. Dia benar - benar harus hidup sehat agar organ dalamnya aman dan juga sehat ketika dia mendonorkannya nanti. Namun, malam ini Venya menepis semuanya. Dia bahkan banyak makan dan memilih makanan dengan kandungan lemak yang cukup tinggi menurut Gemma. Dan itu merupakan hal yang tidak sehat jika dia benar - benar akan mendonorkan organnya ketika mati nanti.
Venya mengangguk, "kalopun ga abis, kita bisa mampir ke panti dan biungkusin mereka ini. Makannya yang rapi aja jangan di acak - acak," kata Venya, "ini bisa dibungkus kan kalo ga abis?" tanya Venya sekarang dengan nada pelan seperti berbisik kepada Gemma.
Gemma terkekeh kemudian mengangguk, "bisa." Jawab Gemma pelan kemudian dia melihat Venya yang tersenyum cerah.
"Selamat makan." Kata Venya kemudian dia berdoa dan makan dengan rakusnya lama itu.
*** *** ***
"Kenyang gilla sih gue." Kata Venya setelah duduk di bangku penumpang mobil milik Gemma.
Setelah mengatakan itu, Venya menurunkan sedikit sandaran kursi itu untuk memajukan sedikit perutnya. Perutnya benar - benar terisi penuh saat itu. Venya bahkan mengusap - ngusap perutnya seperti sedang hamil.
Venya terkekeh, "lo bilang harganya terjangkau, Gem." Kata Venya menatap Gemma yang sedang memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya sendiri, "ga worth it dengan harga segitu." kata Venya lagi.
Gemma terkekeh, "ya kali. enam ratus ribu rupiah dengan makanan seabregan gitu mah worth it lah, Ven." kata Gemma membela diri, "bukan dua ronde lagi tapi sampe tiga ronde makan, lo sadar ga itu?" tanya Gemma kepada Venya yang kini sudah tertawa pelan.
"Iya juga." Kata Venya kemudian dia tertawa,"jadi kita mampir dulu ke panti ya, Gem? Sayang makanan yang bahkan ada yang ga ke sentuh. Kalau di besokkin takutnya malah basi." Kata Venya lagi membawa kabar baik untuk anak - anak panti asuhan.
Gemma mengangguk, "ini masih jam malam lo." Kata Gemma ketika sudah melihat jam tangan yang melingka di pergelangan tangannya senditri, "ga akan jadi masalah 'kan?" Tanya Gemma lagi.
Venya jadi ikut melihat jam di tangan kanannya kemudian mengangguk, "ga papa. Dari sini deket 'kan ke panti asuhan?" tanya Venya kepada Gemma yang sudah siap menjalankan mobilnya,.
Lagi, Gemma mengangguk, "dua puluh menit doang." Kata Gemma yang membuat Venya mengangguk lega karena dia bisa dengan bahagia mengantarkan walalupn makanannya isa dari dia yang makna.
Walaupun sisa, tapi mereka -makanannya- masih sangat bagus untuk di konsumsi. Dimana Venya dan Gemma sengaja makan dari pinggir piring karena tidak mau mengacak - ngacak makanan yang naninya akan mereka bungkus dan berikan kepada orang - orang yang bahkan sudah kenal dekat dengan Gemma dan apalagi dengan Venya.
"Lo mau tidur dulu juga boleh, Ven." Kata Gemma.
Venya dengan cepat menggeleng, "ga boleh." katanya cepat, "abis makan terus tidur akan terjadi penumpukan lemak yang bahkan bisa saja berbahaya," kata Venya lagi.
Gemma terkekeh, "tapi mata lo kayak orang ngantuk." Kata Gemma lagi.
Venya mengangguk sekarang, "iya padahal biasanya juga gue begadang kan." kata Venya pelan.
"Gue nanti bangunin lo kalo udah sampe panti."