Venya dan Ari sudah sampai di Bogor. Mereka memang menuju ke sana dari tadi. Berhubung dengan hari sabtu dan mereka berangkat siang hari menuju sore hari, jadilah mereka terjebak macet. Tapi, hikmah dari macet tersebut untum Venya adalah kecanggungan di antara dan juga Ari tidak terjadi. Untung saja keduanya cukup akrab. Keduanya bisa saling mencairkan suasana.
Untung saja di antara keduanya bisa dengan cepat akrab dan tidak ada kecanggungan yang mungkin jika ada kecanggungan, Venya dan Ari akan melakukan perjalanan yang membosankan. Dimana mereka harus duduk diam selama kemacetan. Untung saja, untung lagi, Venya bisa menulis beberapa bab ketika macetnya benar - benwr mengkhawatirkan. Dimana dia dan Ari sudah kehabisan toppik namun sesekali ada saja ide di otak mereka untuk dibicarakan. Mereka juga tidsk saling mencuekkan selama kemacetan. Venya menulis dan Ari membaca bacaan yang entah apa.
Lagi - lagi, Venya tidak mau mengurusi masalah pribadi. Setidaknya Ari cukup terbuka ekpada Venya sehingga Venya tidak perlu ebrtanya ini dan itu. Meski begitu, Venya jugabtidak bertanya tanpa alasan tentang apapun kepada Ri. Dia hanya menunggu Ari mengatakan semuanya. Tidak smeuanya juga. Maksudnya, menunggu Aei mengatakan apa yang dia infin katakan dan Vwnya menangkap itu kemudian memproses dan mengingatnya.
"Bentar lagi sampe, ga jauh kok daei puncak bogor." Kata Ari yang membuat Venya mengangguk dalam diamnya.
Venya masih mengetikkan beberapa tulisan yang akan di uploadnya di plat form menulis berbayar harinini. Setidaknya, Venya menjadikan perjalanan ini lebih produktif daeipada harus duduk termenung apalagi saat macet. Namun, ketika pemikiran Venya stuck dengan idenya. Dia selalu mencari masalah dnegan Ari. Dimana Ari yang selalu memberikannya ide walaupun secara tidak langsung. Venya memahami sifat Ari dan menjadikannya tokoh lain di ceritanyabyang sedang ia kerjakan.
"Masih jauh?" Tanya Venya kemudian membuka pembicaraannya sambil menutup laptop di pahanya karena ia sudah selesai dengan tulisannya. Venya sedang mencari inspirasi lain. Dimana Venya sedang mencari inspirasi untuk ceirta barunya. Karena tidak lama lagi cerita yang sedang tulis sekarang akan tamat. Perkiraannya akhir bulan ini. Dimana Venya akan menamatkannya dan mengajukan kontrak baru untuk ceritanya yang baru.
Tidak lama setelah itu Ari meminggirkan mobilnya.
"Kenapa? Udah sampe?" Tanya Venya kepada Ari yang dengan tiba - riba berhenti di tempar yang cukup sepi.
Di kala itu, Venya banyak pikiran menghampirinya. Takut atau bahkan dia setidaknya sudah memegang ponselnya dan bersiap menekan nomor polisi jika terjadi apa - apa. Venya juga masih berpikiran positif. Dimana Venya masih berpikir jika Ari hanya kelelahan karena menyetir sampai ke sini. Namun, kebanyakan pikrian positif yang dimiliki Venya kini terkubur habis melihat Ari yang diam saja. Pikiran positif itu terkubur karena Venya merasa jika Ari kini menjadi sosok yang berbeda.
Sorot mata Ari tidak sedang bercanda. Dia bahkan menatap Venya dengan tatapan yang sulit untuk di baca apa artinya. Venya seakan maati tenggelam di tatapnya. Venya membeku tidak bisa berbuat apa - apa. Kemudian nafas Vwnya tercekat ketika Ari mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Venya rasanya ingin maati seketika itu juga.
"Kebelet pipis gue, terus dari sini gue lupa mau kemana. Nanti gue telepon dulu om sama tante gue. Kesana dulu gue." Kata Ari.
Venya seakan memeiliki bisul di dakam tubuhnya kemudian pecah begitu mendengar ucapan dari Ari. Dia hanya bercanda mengenai tatapan yang dibuatnya. Bahkan Venya merasa jika Ari bisa saja menjadi aktor yang mengalahkan Jefri Nickol karena dia seganteng itu orangnya.
'lo beneran penuh kejutan, Ri." Gumam Venya ketika melihat Ari sudah turun dan menyebrang jalan. Bahkan Venya tidak melihat sekitar. Ada WC umum di sana dan Venha tidak menyadarinya. Pikiran positif Venya mengarah pada hal yanh sangat tidak masuk akal. Dimana Venya seksrang berpikiran bagaimana cara dirinya mengunci pintu dari dalam. Karena oikiran Venya menuju ke arah dimana Ari sedang memanggil kawan - kawannya untuk memperlakukan 'hal istimewa' bersama Venya.
Ari yang sudah beejalan ke arahnya lagi kini membuat Venya terkekeh kecil, "pikiran jahat gue kok selalu ada aja buat Ari. Padahak dia mungkin baik banget sampe sekarang " kata Venya untuk dirinya sendiri. "Boddoh " umpatnya dalam hati.
"Bentar ya gue telepon tante gue dulu." Kata Ari setelah masuk ke dalam.mobil dan duduk dk bangkus stir.
** *** ****
Venya memang sejarang itu keluar dari rumah. Dia bahkan pernah hanya sekali kenpuncaknbogor bersama anak - anak panti lainnya menggunakan travel dan juga menggunakan mobik dengan kapasitas terbatas namun full kursi duduk oleh anak - anak panti. Venya juga tidak separah ini dalam mengenal jalanan. Namun, yang ia lihat kali ini benar - benar sangat menakjubkan.
"Lo belum pernah ke puncak?" Tanya Ari pada Venya yang sedang melihat ke arah luar jendela dan tersenyum sendiri begigu melihat pemandangan yang luar biasa indahnya.
Venya kini menatap Ari ketika ingin menjawab pertanyaan ari, "pernah sekali. Tapi seingeg gue, gue ga lewat sini." Kata Venya lagi.
"Lo pergi kemana dulu puncaknya?" Tanya Ari lagi setelah mendengarkan peenyataan dari Venya yang bahkan seharusnya Venyabtahu kemana mereka akan pergi, "soalnya ini bentar lagi kita nyampe. Di vila om sama tante gue." Kata Ari lagi.
"Luoa gue kemana. Udah lama banget soalnya." Kata Venya, "lagian dulu banget. Pas gue Sekolah Dasar gitu. Lupa." Kata Venya lagi.
Ari terkekeh, "coba buka deh jendelanya." Kata Ari kemudian tangannya menekan tombol untuk menurunkan jendela otomatis di sebelah Venya, "udaranya udah sejuk sama seger banget sekarang." Kata Ari lagi.
Venha kemudian emmejamkan matanya menghadap ke luar jendela. Benar - benar segar dan sejuk. Sore itu indah di selingin benerapa ide yang masuk ke dalam otak Venya. Rasanya, Venya tidak memeelukan lagi riset di mbah gugel jika begini rasanya. Meamng ya, riset yang paling enak dan paling nyata itu kalo kita pergi, ngerasain sendiri apa yang mau kita tambahkan ke dalam cerita. Setidaknya, feel yang di tukisnya akan dapat banget. Dimana oenulis menuliskan kalimat untuk menggambarkan suasananya dan mengajak para oembaca untum menyesuaikan dan juga merasakan bagaimana yang dirasakan sang penulis jika ia menuliskan riset dengan hal yang seperri ini. Dimana risetnya dibuat senyata itu dan juga memang Venya sedang menmerlukan udara seperti ini.
Jika bisa, Venya akan berterima kasih kepada Ari yang sudah memberikannya kesemlatan langka ini. Jika bersama.Gemma, dia sering berjalan - jalan di tengah hiruk pikiknya kendaraan jakarta. Sekarang, dia bisa beesantai dengan udara segar dan juga udara yang ebnar - benar membuat Venya merasa bahwa dirinya tidak akan memiliki kesempatan seprri ini lagi.
"Sudah sampai." Kata Ari kemudian memasuki pekarangan vila yang disebugkan sedari tadi.
Venya sontak menatap apa yang segera membuat matanya terbelalak.
Vila yang dikunjungi Venya benwr - benar indah. Di depannya langsung mengarah ke arah perkotaan yang mungkin annti malam lampu - lampu di sana akan menyala. Tempat berada di mana Venya membayangkan untum tinggal. Dan tentu saja sesuai dengan eksppetasi apa yang Venya bayangkan.
"Gimana?" Tanya Ari, "lo mau tinggal berapa hari di sini?" Tanyanya.
Venya terkekeh, "kalo bisa, gue ga mau balik ke jakarta lagi." Katanya.