"Lo sejatuh cinta itu sama pemandangan di sini?" Tanya Ari begitu melihat Venya yang masih duduk di bangku yang ada di depan Vila milim om dan tante Ari.
Venya tersenyum kemudian mengangguk, "iya." Kata Venya singkat, "gue selalu ngebayangin gimana rasanya duduk di sini, di depan pemandangan yang luar biasa indahnya. Apalagi seksrang menuju moment dimana matahari akan genggelam." Kata Venya, "selama ibi gue bjsa merasakannya dan tentu saja hanya membayangkannya ketika membaca novel - novel yang di tulis oleh para penulis luar biasa yang mencetak bukunya dan gue beli juga pada akhirnya." Kata Venya menambahkan.
Ari ikut duduk di samping Venya sambil membawakan coklat panas untuk Venya. Udara di sana cukup dingin dan itu membuat Arin khawatir kepada Venya yang bahkan memilih duduk dulu di sini daripada masuk ke dalam vila mewah milik om dan tantenya Ari. Sekali lagi, Venya membuat Ari kagum akan pendiriannya yang sederhana.
Jika pada saat itu Ari membawa teman - teman perempuan dan juga laki - laki untuk menginap di sini beberapa hari saja dan melihat kebanyakan dari mereka langsung masuk ke dalam vila. Tidak ada yang seserius seperti yang Venya lakukan hari ini. Dimana dia benar - benar mengagumi pemandnagannya bukan vila dan isi dari vila yang memang di tonjolkan di sini. Ari bahkan bisa dengan mudahnha memperlihatkan kekayaan yang dia punya. Dimana Vila mewahnya ini mengandung beberapa komponen yang memang mahal. Dimana designnya juga bukan design abal - abal dan bukan tukang yang biasa - biasa saja untuk membangunnya.
Ari bisa dengan mudahnya menyombong kepada Venya masalah vila mewahnyang di design oleh designer interior dan eksterior yang berbeda negara. Dan juga para tukangnya yang pro dalam melakukan pekerjaannya. Tentu saja bisa. Hanya saja, sepertinya Venya tidak tertarik dengan hal itu. Venya mungkin lebih banyak tertarik dengan pemandangannya. Bukan Vilanya. Bahkan tas laptopnya saja masih ia selendang dengan cantik di bahunya.
"Belum mau masuk ke dalem? Udara makin dingin, bisa - bisa lo masuk angin bukan nulis tapi numpang nginep doang."kata Ari emmecah keheningan diantara mereka. Bahkan Venya yang mendnegar itu seakan tidak perduli dengan dirinya, "nanti malem, gue bikinin lo api unggun di depan," ucap Ari, "biar lo bisa nulis di sini dan ga kedinginan. Sekarang masuk dulu. Ganti baju terus makan." Kata Ari lagi.
Selanjutnya hang dilakukan Venya adalah beranjak dari sana, "makan apa?" Tanya Venya sembari menuju ke mpb Ari dan membuka pintu penumoang di belakang, "loh, kok, mana tas punya gue?" Tanya Venya kepada Ari.
Ari berdiri dari duduknya kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku, "udah di masukin. Hayu masuk." Kata Ari kemudian dia sedikit berlari masuk ke dalam Vila.
Venya mengikuti Ari di belakang. "Om sama tante lo ada?" Tanya Venya, "guenkeasyikan liatin pemandangan." Kata Venya lagi.
Ari mengangguk, "iya sih lo emang sekagun itu?" Tanya Ari yang langsung diangguki Venya dengan cepat dan hak itu membuat Ari terkekeh, "ada di atas. Kita makan dulu aja." Ucap Ari.
Sekarang Venya diam, "ga ngajak mereka sekalian? Lagian ga enak juga mas atamu makan duluan." Kata Venya.
Sebenarnya, Venya ingin bertanya pada Ari. Dimana attitude milik Ari yang wajtu di kafe kala itu berada, Ari sangat sipan dan lebih mementingkan orang laind aripada dirinya sendiri waktu itu. Kenapa juga sekarang malah Arinyang seperti kekurangan attitude?
"Hehehe, iya deh. Gue panggil mereka dulu." Kata Ari yang berbalik ke arah tangga.
Lalu, tidak ada lima detik, Ari membalikkan badannya, Venya mendengar suara sahutan, "ga usah. Kami sudah turun." Kata seorang perempuan yang mendekat ke arah meja makan.
Kemudian Venya tersenyum kecil dengan sopannya menyimpan kedua tangan di depan badannya di bagian paling bawah yang bisa tangannya gapai. Menautkan jari jemarinya dan menunduk sebentar memberikan salam tanpa suara.
Perempuan dan laki - laki di sampingnya kini tersenyum, "sore, Venya." Sapa laki - laki di depannya. Venya yang mendnegarnya mengerutkan keningnya dan itu di sadari laki - lakinyang menyapanya tadi, "Ari sudsh membicarakan kamu dari tadi kalian sampe." Lanjutnya.
Venya tersenyum kecil dan canggung, "iya om, tante. Saya Venya. Temennya Ari." Kata Venya sedikit membungkuk.
"Duduk, Ven, duduk." Kata si perempuan.
Selanjutnya, mereka duduk dengan Venya yang ada di sebelah tantenya Ari dan Ari ada di depan tantenya, kemudian omnya seperti kepala keluarga yang memimpin emreka berada di paling ujung meja makan.
"Saya Fany, ini suami saya, Guntur." Kata tante Fany memperkenalkan dirinya, "santai aja di sini, saya sama suami senang sekali kalo Ari bawa temen - temennya ke sini." Kata tante Fany lagi.
Venya mengangguk dan tersenyum, "iya tante." Kata Venya seadanya.
"Ven, tante gue ibi sebenernya aslinya sama kayak gue. Cuman dia jaga image aja di depan tamu." Kata Ari.
Venya teekejut dengan fakta itu. Yang disadari Venya pertama kali adalah tante Fany ini masih sangat muda. Dan om Guntur sedikit agak lebih tua daripada tante Fany. Selebihnya mereka kelihatan normal dan berwibawa. Tante Fany lebih terdengar seperti Ari waktu di kafe kala itu. Mendengar kata baku yang dikeluarkan dari mukutnya, kadang - kadang Venya merasa bahwa dia sedang ada di meja bundar yang igunakan rapat untuk kalangan oeang oenting di dunia sastra. Maka dari itu, Venya juga menjaga sikapnya. Dia tidak ingin mengacau atau bahkan membuat canggung di meja makan tersenut.
"Sebelas lima belas sih, Ven." Kata tante Venya, "saya jauh lebih baik daripada Ari." Lanjutnya.
Kemudian kalimat yang dikatakan oleh Tamte Fany membuat Ari beedecih, "apanya yang lebih baik? Nasipnya?" Tanya Ari lagi.
Tante Fany terkekeh, "ya kali ada nasip jauh lebih baik dari lo." Kata Tante Fany.
Tentu saja perkataan itu lagi - lagi membuat Venya terkejut. Lasalnya, yang dikatakan tante Fany kepada Ari bukan lagi kata - kata baku yang biasanya dan dari tadi keluar dari mulut tante Fany. Bahasa non baku kini malah keluar seiring berjalannya wkatu.
"Liat kan Ven. Sama aja sama gue." Kata Ari lagi, "lama - lama bahasa gaulnya keluar semua. Lebih luas daripada nahasa gaul punya gue." Kata Ari lagi.
Kemudian Venya terkekeh, "jadi tante sama Ari kembar di otaknya?" Tanya Venya yang membuat orang - orang di meja itu terkekeh.
"Something like that - lah, Ven." Kata om Guntur. "Saya sampe pusing kalo ada mereka berdua di rumah berantem terus." Kata Om guntur lagi, "yuk dimakan yuk."