Malika POV.
" Ih, udah di bilangin berkali kali, panggilnya jangan mamak lagi! "
Gue mendengus pelan saat mendengar rengekan dari ujung ponsel gue. Itu nenek nenek maunya apa sih. Duh Gusti perasaan selama ini aman aman aja deh gue manggil dia mamak. Orang yang udah merawat daku dari orok.
"Terus Malika musti manggil apa? Kakak?" Jawab gue masih menempelkan benda pipih itu di telinga kanan gue. Entah kenapa, mamak gue akhir akhir ini terasa lebih genit dari sebelumnya. Mungkin saja lagi masa puber ke dua kali ya? Atau puber ke tiga? Empat? Ah gak tau ah, pusing juga mikirin itu.
"Grand Mother, iya panggil itu aja kedengarannya bagus Mal." seru suara girang dari sebrang sana bikin gue cuma bisa memutar bola mata dengan jengah. Kalau ketahuan sama Mamak gue itu, pasti udah dapat bonus sendal melayang gue.
"Aduh mama belajar dari mana sih kata-kata itu? Orang ndeso mah gak usah aneh-aneh. Lagian panggilan itu terlalu panjang buat Malika ucapin." Protes gue sebal. Mamak gue emang bener bener deh ya.
"Udah pokoknya kamu panggil nenek kamu ini Grand mother, titik gak pake koma." Haduh ini nenek-nenek abis nyungsep di mana sih kok ngelantur jauh. Untung Sayang.
"Mamak abis makan apa sih?" Heran deh yang begini bisa dapat bibit unggul kayak bokap gue.
"Kamu tuh ya, kalau di bilangin gak pernah nurut." Dan omelan berlanjut panjang kali lebar kali tinggi. Pinter banget mamak gue kalau ngitung rumus volume.
"Panggil Oma aja ya? Gak ada penawaran kalau gak mau Malika tetep panggil Mamak aja. Udah terbiasa kan Mak, meskipun sebenernya Mamak ini nenek Malika, kan yang merawat Malika dari orok sampai segede tiang ini Mamak. Bukan ibu kandung Malika." Ucap gue. Jengkel gue lama-lama sama wanita di seberang sana, yang nyatanya adalah wanita luar biasa yang selama ini merawat gue, dengan kasih sayang yang gak pernah gue dapetin dari nyokap gue. Wanita tangguh yang selalu ada di saat gue butuh sosok seorang ibu. Dan hanya dia satu satunya wanita yang berhasil mendapatkan posisi sebagai seorang ibu terbaik di hati gue meskipun kadang ngeselin. Makanya gue lebih seneng manggil Mamak dari pada ibu atau Mama atau bunda. Karena entah kenapa gue ngerasa panggilan sayang itu yang lebih pas di hati gue.
"Aduh kok gitu sih Mal? Tapi ya udah deh itu lebih mendingan. Masa iya kamu panggil Bara Papa dan masih manggil mamak sama nenek kamu sih? Kan gak elit." Nah kan? Bisa bisanya mamak gue ini. Gue juga masih mendengar cekikikan kecil dari ujung sana. Oma alias mantan mama gue emang bener deh.
"Astaga Mamak, eh Oma, Oma kesambet ya? Jadi nelpon Malika cuma mau bilang gitu?" Ucap gue mulai kesal. Apalagi saat mendengar suara cekikikan oma yang gak berhenti-berhenti.
"Ya enggak dong Sayang, Oma mau kasih kabar gembira buat kalian berdua." Tuh kan, udah lancar aja beliau panggil dirinya Oma.
"Eh kabar apaan?" Gue begitu antusias menunggu ucapan nenek gue. Kali aja kabar gembiranya menguntungkan buat gue. Uang jajan gue mau ditambah mungkin? Ah yes banget kalau itu mah.
Sambil membuka pintu Apartemen, gue masih setia saat mendengar suara di sebrang sana seperti helaan nafas. Ini nenek-nenek kayak mau nyatakan cinta aja pake menghela nafas segala.
"Oma mau nikah lagi sama duda bule. Dia masih gagah lho Mal." Dan suara di ujung ponsel butut gue tiba tiba seperti petir menggelegar. Mata gue langsung membulat sempurna.
"APA...?" Teriak gue lantang tak percaya. Bokap gue yang tadinya di sofa sambil menonton televisi saja langsung berjingkrak dan berdiri sambil menatap gue penasaran. Duh Gusti ini Oma gue lupa umur apa?
"Ada apa sih Mal? Datang datang bukanya salam, malah teriak-teriak." seru Bokap gue masih dalam posisi berdirinya. Dan yang jelas si Tuan Bara sedang menatap gue dengan rasa penasarannya. Jelas terlihat dari kerutan manja di jidatnya.
Gue berjalan mendekati bokap gue sambil geleng-geleng menatap layar ponsel gue yang masih tertera nama 'Mamak bahenol'.
"Nih papa dengerin sendiri aja!" Ucap gue masih sok saat menyerahkan ponsel gue ke tangan besar bokap gue.
Berbeda dengan gue yang terguncang karena serangan tiba-tiba dari kenyataan bahwa gue mau dapet Opa baru. Eh bokap gue cuma memutar bola matanya jengah dan bersikap santai seolah tak terjadi sesuatu yang mengejutkan. "Bara kan udah bilang, biar Bara aja yang kasih tahu ke Malika. Mama gak sabaran banget sih?" Seru bokap gue yang lantas mematikan sambungan ponsel gue.
Ck, padahal gue kan maunya mama baru. Bukan opa baru. Mending kalau Opa-opa bisa gue pamerin ke Niken. Lha ini Opa duda. Haduh.
"Papa kok tenang-tenang aja sih?" Tanya gue malah mendapat pandangan aneh dari bokap. Ia mengangkat alisnya heran, seolah mengatakan, memang apa yang salah?
"Papa mau punya papa tiri?" Tanya gue lagi. Itu sebuah kesalahan yang sebenarnya bukan masalah. Bener gak sih gue ngomong?
"Selama mama bahagia, saya sih enggak masalah. Beliau mau menikah sama Mr. Daniel, pengusaha asal Singapura. Saya kenal kok. Dia pernah jadi partner bisnis saya. Jadi biarkan mama punya teman di masa tuanya." Jelas bokap gue yang sepertinya masih enggan untuk gue terima. Yah, Gue gak bisa bikin organisasi TOML dong? (Tolak Oma Menikah Lagi). Orang bokap gue setuju ini.
"Ck, terus kapan Malika dapat mama baru?" Celetuk gue asal yang ternyata bikin muka bokap gue berubah aneh.
"Kamu maunya kapan?" Jawab bokap yang malah balik bertanya seolah sedang menawarkan sesuatu yang mudah buat gue. Gue pikir pasti do'i udah ada calon deh.
"Ya secepatnya." Jawab gue menatap bokap gue dengan mata berbinar. "Tapi mamanya harus sayang sama Malika juga ya, jangan yang sayang sama papa dan harta papa aja." Lanjut gue memberi syarat.
"Ya udah." Jawabnya yang tiba tiba acuh. Sejurus bikin gue bengong dong.
"Hah?" Gue menatap bokap dengan pandangan penuh tanya saat mendengar jawaban dari bokap gue.
"Kamu cari sendiri mama buat kamu!" Lhah? Jawaban macam apa itu wahai Bara?
"Lha? Yang mau nikah kan bukan Malika. Masa malika yang cari. Papa gak ada pacar emangnya? Papa udah tua lho." Jawab gue makin dibikin kesel. Sekaligus mengingatkan umur bapak bapak di depan gue ini. 35 tahun menuju 36 tahun sih sebenernya gak tua tua banget. Tapi untuk ukuran menikah, kayaknya udah sedikit telat deh.
"Iya, kamu yang cari, saya tinggal nikah sama mengawini aja." Jawab bokap gue yang bikin gue shock total. Jelas mulut gue terbuka membentuk huruf O dengan pandangan membulat sempurna, memandang bokap dengan pandangan tak percaya.
Dan dia cuma terkekeh. Lalu mengatakan kalau ia bercanda. Lalu kembali duduk dan meneruskan kegiatan sebelumnya. Berkutat dengan kertas kertas dan juga laptopnya.
Gak emak gak anak semua sama anehnya. Bikin kue kesel setengah mati aja. Gue cuma geleng-geleng kepala melihat bokap gue dan melenggang ke kamar. Meninggalkan bokap yang sudah mulai fokus dengan pekerjaannya.
Sebenernya gue capek dan pengen langsung segera tidur sampai pagi sih, berhubung besok adalah hari libur, kayaknya gue harus nyempetin diri gue buat begadang deh. Alhasil, setelah mandi, gue pergi ke dapur untuk menyiapkan berbagai snack dan mie instan. Lalu ingin membuat es teh namun gue urungkan saat tiba tiba gue melihat beberapa minuman bersoda yang berjejer rapi di rak pintu kulkas. Gue tersenyum bahagia dan mengambil dua botol. Membawa semua makanan tersebut ke dalam kamar. Semangkuk mie di tangan kanan, tan tangan kiri gue memeluk beberapa Chiki dan minuman yang gue jepit di dalamnya.
"Ngapain kamu?" Sontak saja gue ingin melonjak saat suara bokap gue tiba tiba datang dan mengagetkan gue.
Gue menatap bokap dengan pandangan kesal, lantas melenggang begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Yang ada pasti gue bakal kena ceramah yang panjangnya ngalahin khotbah di hari jum'at.
"Kamu kalau makan, bisa gak, enggak di dalam kamar? Kebiasaan buruk itu. Gak kasian sama mbak mbak yang bersihin apartemen papa? Kamar yang harusnya cuma dirapikan, jadi mbaknya harus kerja ekstra buat mungutin remahan makanan kamu." Benar kan? Baru aja gue mau nutup pintu, gue keluarkan lagi kepala gue dan memberi jawaban pada bokap gue yang perfeksionis itu dengan jawaban terpendek gue.
"Nggak bisa." Jawab gue lalu gue menutup pintu, berasa jadi anak durhaka. "Nanti Malika bersihin sendiri." Teriak gue dari dalam kamar supaya tidak mendapatkan les tambahan dari Mr. Bara.
Gue tahu pasti di depan sana bokap lagi geleng geleng kepala dan pergi secepatnya. Begitulah gue. Dan semua sisa makanan yang gue bawa bakal gue bawa ke dapur besok pagi setelah bangun itu aja kalau gue gak kesiangan bangunnya sih.
⚘⚘⚘
Masih dengan rambut yang setengah basah gue udah melenggang keluar dari sarang gue. Selesai mandi yang membuat gue merasa kalau partikel-partikel pembentuk semangat di pagi hari itu mulai menyatu dalam diri gue. Bahasa gue emang bener.
Penampakan pertama yang gue lihat adalah, pemandangan hot daddy yang lagi shirt less di meja makan sambil minum kopi yang masih mengepul. Berikut koran Dan roti bakar yang selalu setia menemaninya.
"Pa?" Sapa gue sambil mencomot roti bakar di depan bokap gue. Gue tahu bokap gue merhatiin gelagat kurang a-j-a-r gue. Dan hanya memperhatikan apa yang gue lakukan.
"Hmm." Dan hanya itu yang keluar. Bahkan bokap enggan membuka bibirnya. Lalu pandanganya beralih pada tumpukan kertas koran di samping ia meletakkan kopi.
"Malika minta uang dong pa?" Ucap gue sambil harap-harap cemas saat bokap gue malah mandang muka gue dengan intens.
"Uang jajan kamu udah abis?" Tanyanya dengan nada curiga.
"Ini kan hari libur pa, masa Malika musti narik uang jajan yang udah pas pake banget?" Gerutu gue dengan nada merengek sok manja. Ih tapi gak apa-apa dong manja sama bokap sendiri ini.
"Kamu mau kemana? Kuliah kamu libur kan?" Tanya bokap gue penuh selidik. Ya ampun ini orang kayak interogasi penjahat aja.
"Mau main ke rumah Niken." Jawab gue asal tanpa kebohongan.
"Terus buat apa minta uang?" Tanyanya masih santai memandang koran di depannya.
"Lhah, Papa perhitungan banget sama anak sendiri, pelit banget sih?" Seru gue masih dalam mode baik-baikin si empunya uang ini.
"Kamu mau pergi ke mana sama temen kamu itu?" Nah kan? Gue beneran di interogasi deh.
"Ya Allah , Papa gak percaya banget sih, Malika gak bakalan aneh-aneh. Cuma di rumah Niken aja ngerjain tugas. Serius!" Ucap gue sambil mengacungkan salam dua jari di depan muka ganteng bokap gue. Gue udah kapok kok pergi ke Klab malam dan harus mengorbankan uang saku gue.
Gue mengamati bokap gue yang meletakkan kotan yang ia baca, lantas berdiri dari kursinya.
Buset,
Gue menyadari banyak hal. Itu badan bokap gue yang kekar dan otot-otot yang terbentuk sempurna. Ok gue akuin kalau bokap gue ini seksi dalam artian cowok keren. Lengkap dengan bulu-bulu di dadanya bikin gue makin yakin kalau bokap gue itu cowok yang perfek nyaris sempurna. Tapi kenapa gak ada satupun cewek yang kecantol sih? Melihat celana jeans abu-abu yang menggantung di pinggangnya memperlihatkan betapa kerenya tubuh bokap yang dilengkapi roti sobek di perutnya. Harusnya sih pemandangan seperti ini bisa dengan mudah menggaet wanita wanita di luaran sana. Batin gue masih mengamati.
"Nih!" Seru bokap gue membuyarkan lamunan tentang tubuh bokap gue yang emang keren abis. Gue musti cari cowok yang begini ini nih, biar cowok gue gak minder lah ya kalah sama calon mertua. Aish, gue jadi ngelantur sih.
Dan mata gue langsung ijo entah ijo beneran apa enggak, intinya gue langsung berbinar saat menatap sepuluh lembar uang kertas berwarna biru. Seolah partikel partikel semangat itu bertambah memenuhi segala sendi di tubuh gue.
Gue rasanya pengen loncat-loncat kegirangan. Gue di kasih uang lima ratus ribu buat hari libur ini. Gue langsung menghampiri bokap gue dan mendaratkan satu ciuman manis di pipinya. Saking senengnya diriku.
"Ah," Desis gue sambil mengelus bibir gue yang terkena brewok-brewok tipis yang bikin bokap gue tambah eksotis.
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Kayak nyium landak, papa gak cukuran ya?" Protes gue masih mengusap bibir seksi gue.
"Belum sempet, itu uang sekalian buat beli isi kulkas." Serunya yang seketika membuat gue down maksimal. Aelah, ujung-ujungnya gue juga yang kena.
"Masa Malika yang belanja? Terus kunci si Nooky mana? Katanya mau diserahin?" Jawab gue sambil memanyunkan bibir dan memasang muka cemberut ala-ala Malika yang meskipun cemberut tetap tampak imut. Yah, itu gue banget.
Bokap gue terkekeh pelan sambil mengacak-acak rambut gue yang udah mulai mengering.
"Kuncinya ketinggalan di kantor, papa hari ini mau survei rumah kita, terus ada urusan di kantor. Kamu mau ikut? Nanti biar gak lupa bawa kunci si Nooky."
"Hari minggu masih ke kantor?" Tanya gue kok ya bokap ini sibuk apa sok sibuk sih?"
"Iya, ada klien papa yang nanti mau balik ke negaranya. Jadi musti bahas proyek hari ini juga." Jawab bokap yang kalau sudah bahas kerjaan sikapnya berubah berwibawa gini.
"Oh,"
"Jadi ikut papa?"
"Gak mau, nanti Malika nyusul aja. Papa kasih alamat kantor biar Malika naik taksi. Terus ntar sekalian kita belanja bareng. Malika gak mau belanja sendiri." Jawab gue yang sebenernya memang udah janji mau datang ke rumah Niken.
"Kenapa gak mau belanja sendiri?" Tanya bokap.
"Kan kelihatan banget jomblonya."