Author POV
Masih sama seperti malam malam biasanya. Namun kali ini wajah Bara tampak semakin bercahaya. Tak ia pungkiri bahwa kehadiran sosok Malika di dekatnya membuat ia merasa lebih fresh. Ya setidaknya anaknya itu membuat hidupnya tidak terlalu flat dan merasa memiliki hal baru dalam hidupnya.
Malam ini, Bara melangkahkan kakinya di sebuah ruangan remang-remang yang sudah menjadi tempat langganannya setiap malam. Selain untuk bertemu dengan teman-temanya, di sini ia akan mendapatkan seorang wanita, yang akan memberinya kepuasan plus-plus, yang tak mungkin dan tak akan pernah mungkin didapat dari Malika.
Dan untuk hal ini memang sepertinya tidak bisa ditinggalkan. Ia bahkan meninggalkan anaknya sendirian di apartemen dan datang ke tempat ini.
Di sudut ruangan private room, sudah duduk ketiga teman-temanya yang tak khayal lagi, dua di antaranya tengah bermain dengan wanitanya. Dan yang satu lagi hanya duduk menikmati minuman bersoda yang selalu jadi andalannya.
Bara menatap seorang temanya yang sudah tiga tahun ini menjadi partner kerjanya. Hanya satu temanya ini yang anti 'main' perempuan. Dan selalu saja memesan minuman bersoda tanpa Alkohol dengan alsan dia adalah seorang guru yang harus memberi contoh para mahasiswanya. Dengan kata lain, ia tak ingin kepergok muridnya lagi teler di Klab malam.
"Lo ngapain lihatin gue kayak gitu? Naksir?" Ucap pria di depan Bara yang umurnya memang lebih muda dari Bara itu.
Bara terkekeh pelan. "Gue masih suka donat, gak suka coklat batangan." Jawabnya masih dengan senyumnya yang khas.
Pria tadi mendengus dan tak lagi memperdulikan Bara yang sudah duduk di dekatnya. Lalu kembali menikmati segelas cairan bersoda di depannya.
"Lo masih marah sama gue?" Ucap Bara yang mulai tampak serius. Ia menatap lawan bicaranya yangs sepertinya tampak acuh padanya.
"Kenapa gue musti marah?" Elak si lelaki berkacamata itu.
"Soal Vanessa." Jawab Bara menyebutkan sebuah nama untuk mempertegas masalah mereka.
"Gue gak marah sama Lo, dan gue juga udah gak ada hubungan apa-apa dengan jalang itu." Jawabnya kesal.
"Ck, ayolah Wa, gue gak ada hubungan apa-apa sama dia." Ucap Bara membela diri. Seolah mengatakan kalau dirinya tidaklah bersalah.
"Gak ada hubungan apa-apa tapi lo 'tidur' dengannya?" Jawab pria yang dipanggil 'Wa' oleh Bara tadi. Terlihat acuh nun masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bara.
"Ck, dia yang datangin gue, dan lo tau gimana gue. Kalau saat itu gue tau kalau Vanessa adalah tunangan lo, gue juga gak bakalan 'main' sama tunangan teman sendiri." Jelas Bara masih merasa kalau dirinya tak bersalah.
"Gue udah putus sama dia. Lagian gue gak mau dapet sisa." Balas pria tadi sambil mengendikan bahu dan memasang smirk manisnya.
"Halah gaya lo Wa, lo pikir waktu gue main sama dia, dia masih segel apa? Dia udah dijebol kali." Kekeh Bara yang mulai membuat suasana mencair.
"Makanya gue putus sama dia, enak aja gue aja masih perjaka masak gue dapet seken." Jawab lelaki tadi, yang sepertinya tak ada raut menyesal karena tunangannya itu ketahuan selingkuh dengan temannya sendiri
"Jadi lo?" Ucap Bara menggantung seolah ingin memastikan sebuah kebenaran.
"Iya, gue udah tahu dan awalnya gue pengen putusin dia. Dan untungnya gue punya bukti waktu dia lagi main kuda-kudaan sama lo." Jawab temannya yang jelas bikin Bara mengeluarkan kekesalannya. Tahu gitu, ngapain dia susah susah menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Ah, Dasar lo." Kesal Bara tak terima. Namun terkekeh pada akhirnya.
Sejenak Bara mengedarkan pandanganya. Dan smirk anehnya tiba-tiba muncul saat melihat seorang wanita seksi berjalan mendekat ke arahnya.
Bara menoleh ke arah teman pria nya yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Dewa, gue duluan ya." Ucap Bara pada akhirnya. Ia pun melenggang bersama seorang wanita seksi.
Dan ya, Dewa pria yang merupakan teman yang bisa dibilang sahabatnya Bara itu, sudah tahu. Dan jelas kemana Bara akan pergi. Tentu saja menyewa hotel yang tak jauh dari tempat ia berpijak. Hah klise. Laki-laki macam Bara yang dia kenal beberapa tahun belakangan ini, adalah pria dengan segala kekuasaannya yang akan dengan mudah mendapatkan wanita untuk di jadikan pemuas nafsunya. Apalagi dengan statusnya yang tak jelas. Bahkan kabar yang menyatakan dirinya memiliki anak juga hanya di iyakan tanpa menjelaskan kebenarannya.
⚘⚘⚘
Selepas kepergian Bara, Dewa kembali berkutat dengan i-phone nya.
"Dewa Sayang?" Suara menggoda itu membuat Dewa mendongak. Ia mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan yang tak asing lagi di telinganya.
"Ck, ngapain lo kesini?" Jawab Dewa kesal, sambil mendengus pelan.
"ih, Dewa kok gitu sih, aku kesini kan mau ketemu kamu." Jawab wanita cantik tadi. Dengan suara mendayu-dayu yang membuat telinga Dewa semakin gatal saja.
"Udah lah Nes, gue gak mau ada urusan lagi sama lo, jadi, jauh-jauh dari gue!" Sahut Dewa ketus tanpa semangat sedikitpun meladeni wanita di depanya itu.
"Jahat banget sih, aku kan cuma mau ngasih info penting sama kamu." Sambung wanita tadi tak ingin menyerah.
"Udah deh, lo gak usah ngomong apa-apa. Lo itu gak bisa dipercaya." Sergah Dewa tak peduli dengan wanita itu.
"Ck, ini itu tentang pacar baru kamu." katanya dengan penuh semangat sambil memasang senyum menyeringai.
"Udah lah Vanessa, lo gak usah urusin urusan gue." Ucap Dewa yang terlihat makin kesal dan frustasi.
"Tadi gue ke apartment Bara."
Dewa mendengus pelan. "Lo bilang lo udah gak ada hubungan sama Bara, tapi lo masih aja datengin apartemennya?" Potong Dewa masih dengan nada ketus.
"Udah deh Sayang, kamu gak usah cemburu lagi sama Bara. Aku tadi ada urusan sedikit sama dia. Tapi itu gak penting. Yang terpenting itu kamu harus tau siapa yang tadi bukain pintu apartemen Bara buat aku." Ucap Vanessa penuh semangat.
"Yang pasti bukan Bara, soalnya dia baru aja keluar dari sini sama wanitanya." Jawab Dewa tak peduli
Meski agak kesel dengan jawaban Dewa tentang Bara, Vanesa tetap melanjutkan ucapannya.
"Yupz. Emang bukan Bara, tapi cewek yang tempo hari kamu kenalin ke aku sebagai pacar baru kamu. Aku yakin, dia pasti cewek gak bener yang di sewa sama Bara." Lanjut Vanessa dengan semangat seolah mengipasi bara api yang sedang membakar daging barbeque.
"Udah ngomongnya?" Sela Dewa masih dengan nada kesalnya.
"Eh, aku serius lho Wa." Ucap Vanesa mencoba meyakinkan lelaki di sampingnya.
"Hmm, terserah." Jawab Dewa yang langsung beranjak pergi meninggalkan mantan tunangannya yang kini tengah dirundung kekesalan. Bahkan sedikitpun Dewa tak ingin mencari tahu bahkan mempercayai orang yang sudah jelas jelas mengkhianatinya.
⚘⚘⚘