"Look" Ck, bahasa bapak bapak jaman now mah gini. Sok inggris.
Tapi gue cuma diem mendengar ucapan bapak gue yang seolah meminta perhatian gue. Menatap penuh minat di bawah kewibawaan seorang Lembara kusuma yang sialnya darahnya tengah mengalir dalam tubuh gue ini. Itu artinya, tak boleh ada bantahan dari gue kalau gak mau jadi anak durhaka.
"Kamu mau minta uang saku berapa per bulan?" Katanya tepat di depan gue. Tentu saja gue makin berminat mendengarnya.
Eh serius nih gue di tawarin minta uang saku berapa?
"50 Juta per bulan" Gila ya, jelas gue gak akan menyia-nyiakan lah kesempatan ini.
"Kamu mau bikin Papamu ini bangkrut?" Selanya cepat. Namun tak ada gurat terkejut maupun curiga dari tatapan wajahnya.
"Lha? Tadi papa yang nawarin. Gimana sih?" Sanggah gue membela diri. Gak salah gue dong.
"Kamu pinter banget ya ambil kesempatan?" Ucapan bokap emang tepat banget pokoknya. Anak siapa dulu, batin gue.
"Lagian papa kan orang kaya." Tambah gue menawar ucapannya.
"Tau dari mana kamu saya orang kaya?" Selanya seolah meminta bukti.
"Ya tau aja." Jawab gue antara yakin dan gak yakin. Ya jelas lah gue tahu. Mobil aja mewah, apartemen juga mewah apalagi isinya mewah semua. Meskipun hidup gue di jogja tuh kayak pas pasan, gue tahu uang nenek gue banyak. Terbukti dari barang barang gue yang dibelikan oleh beliau bermerk semua.
Eh, si bokap malah terkekeh sambil merogoh kantong jas nya. Oh yes, gue bakalan dapat uang saku berlipat lipat dari biasanya nih. Memasang senyum yang tak pudar, gue menunggu apa yang akan di keluarkan bokap dari kantong jas yang dikenakannya.
"Nih!" Ucapnya sambil menyodorkan sebuah ATM. "Tadinya saya mau kasih kamu ini." Katanya lagi sambil menggoyangkan sebuah kartu platinum di depan muka gue, sumpah bikin gue ngiler. "Tapi karena nenek kamu bilang jangan kasih kamu kartu ini dan meminta saya supaya menjatah kamu uang bulanan, jadi kamu saya kasih ATM ini." Lanjutnya seketika bikin gue down. Sungguh terlalu.
"Ah dasar Mamah gak sayang sama Malika" Seru gue menatap kecewa pada kartu yang sekarang ada di tangan gue. Gue terlalu terbiasa untuk manggil nenek gue dengan sebutan Mamah. Jadi maklum lah.
"Dan sesuai permintaan Mama, saya akan mentransfer 2 juta rupiah setiap bulanya." Lanjut bokap gue ngebuat gue jadi tambah ngenes deh. Hello, Ini jakarta mamen. Dua juta dalam sebulan mana bisa gue jajan enak. Sehari aja gak ada seratus ribu.
"Enggak emak enggak anak sama pelitnya." Lirih gue yang mungkin cuma gue sendiri yang bisa denger.
"Dan ini." gue memandang heran saat bokap gue merogoh sakunya lagi. Dan tatapan gue langsung berbinar saat melihat benda yang digantung di depan muka gue. "Kata Mama ini motor kesayangan kamu. Jadi di kirim kesini." Dan hal tersebut sukses membuat gue melupakan uang saku yang sebenernya udah banyak tapi kurang banyak itu.
"Nooky." Teriak gue girang setelah merampas benda tersebut. Nooky adalah motor matic yang selalu gue pakai waktu sekolah SMA di jogja.
"Siapa nooky?" Katanya mengerutkan dahi.
"Dimana nooky?" Tanya gue penasaran tanpa mau menjawab pertanyaannya tadi. Dan bokap gue malah tambah bingung.
"Motor kamu namanya nooky?" Tebaknya yang 100% benar.
Dan gue mengangguk membenarkan.
"Dia ada di parkiran bawah." Jawabnya santai.
"Oh iya, uang dalam ATM itu gunain buat kamu jajan saja. Uang kuliah saya yang urus." Tambahnya lagi. Membuat gue kembali berhitung dan berpikir gak ada salahnya dengan jumlah yang akan gue terima.
"Iya," jawab gue masih dalam mode bahagia.
"Ya sudah. Kamu sekarang ganti baju. Kita belanja keperluan dapur." Katanya membuat gue males aja. "Dan keperluan bulanan kamu juga." Eh apa tadi? Gue gak salah denger kan? Belanja keperluan gue kan ya?
"Ok, siap bos." Seru gue girang. Dan pastinya gue langsung melejit menuju kamar. Ini artinya gue bakalan shoping kan?
Iya lah cewek mana yang gak suka belanja. Apalagi di bayarin. Alias gratisan. Itu kan gue banget.
Gue mendesah keras. Udah kayak babu aja gue, jalan di belakang majikan. Udah gitu bokap jalanya lebar-lebar lagi. Gimana bisa jejeran coba?
Gue yang gak mau tampak seperti majikan dan babu, mau tak mau harus berlari. Dan secepat kilat gue gandeng tangan bokap yang baru gue tau banyak di tumbuhi bulu bulu tipis.
"Malika jangan di tinggal dong Pa, nanti hilang."
Dan dia terkekeh lalu merangkul gue. "Iya, kalau kamu ilang, mama bakalan maksa papa buat nikah supaya ngasih cucu lagi." Kata katanya enteng yang gak tau kenapa gak enak banget di dengar sama telinga gue. Namun gue mencoba Acuh dengan ucapannya. Gue udah senang dengan kemajuan hubungan antara ayah dan anak ini. Setidaknya gue gak dibuang atau ditinggalkan meskipun lahir di luar pernikahan.
Setelah sampai di supermarket, bokap gue mengambil troli dan mendorongnya. Mengikuti gue yang sudah siap siaga berburu snack snack buat gue ngemil di apartemen.
"Mal, jangan kebanyakan makan itu, banyak MSGnya, Gak sehat!" Ucap bokap gue yang malah mengembalikan semua snack yang udah gue lempar ke dalam troli. b*****h emang. Terus yang di maksud belanja keperluan gue apa dong?
"Ih jangan di balikin semua dong papa." Rengek gue sambil menghalangi tangannya yang akan mengembalikan tiga bungkus snack yang masih teronggok dalam troli.
"Ok, tapi habis ini, cari cemilan yang sehat." Katanya sambil mengambil snack seperti biskuit atau sejenis makanan yang kelihatanya bukan produksi negara tercinta ini. Halah terserah. Bikin gue kesel ngelihatnya.
Gue pun langsung berburu semua perlengkapan gue. Mulai dari sabun, shampo, facial foam, sampai pembalut dan panty linear. Setelah itu bokap ajakin gue ke keperluan dapur. Gue lihat dengan cepatnya bokap memasukkan banyak sayuran dalam troli. Kayak mau kasih makan kambing aja. Semua yang warna ijo pasti masuk troli.
Gue juga gak mau kalah. Gue masukin beberapa sosis dan ayam potong siap goreng. Lalu mie goreng instan.
"Mal, kamu jangan kebanyakan makan makanan yang ada pengawetnya. Gak sehat." Sergah bokap gue lagi lagi bikin sebel. Aish si papa kok cerewet sih. Kayak emak-emak aja.
"Ini kan buat persediaan pa, gak di makan sering sering juga kali." Balas gue ngeles. Untungnya dia gak balikin semua makanan itu. Gue kan kalau malem-malem suka lapar dan gak bisa tidur sebelum makan. Soalnya gue punya semboyan. Pantang tidur sebelum kenyang.
Setelah troli penuh, bokap langsung mendorongnya menuju kasir. Lalu gue dengan beberapa batang coklat mengikutinya dari belakang.
"Ini sekalian ya mbak." Ucapku saat si kasir menghitung belanjaan bokap.
Gue lihat kasir itu memandang bokap gue seolah meminta persetujuan. Dan bokap gue mengangguk sambil tersenyum. Eh tunggu tunggu. Ini perasaan gue aja atau emang gue yang kurang peka ya?. Kenapa kok kelihatanya semua pasang mata ngelihatin bokap gue. Apalagi si kasir ini. Tatapannya sulit gue artikan. Kelihatan banget kayak orang ileran.
"Woy. Mbak jangan bengong aja. Cepetan dong. Pegel gue nunggunya." sentak gue menggebrak meja kasir. Membuat wanita di depan gue gelagapan. Perlu di kerjain juga nih kasir.
"Mal!"
Gue memberangus saat bokap gue memperingatkan supaya gue diem.
Dan membuat si kasir terkekeh menang. Dasar kasir bed*bah. Gue timpuk pakai kaos kaki tau rasa lo. Gue tersenyum semanis mungkin dan mendekat ke arah bokap gue.
"Sayang, buruan dong, ayo kita pulang. Kasian anak kamu di rumah sendirian." Yuh ..., Rasanya gue pengen muntah saat mengucapkannya. Namun gue bahagia saat mendapati wajah pasi dari kasir tersebut. skak mat lo . Kata-kata gue berhasil membuat kasir itu melongo alias terkejut setengah mati. Enak aja lirik-lirik bokap gue. Ih ora sudi gue punya mak tiri macam cabe giling kayak lo.
Dan untunglah bokap cuma terkekeh dengan aksi gue. Ia segera mengajak gue pulang. Dan tentu saja semua belanjaan di tangannya. Sekarang gue yang jadi majikan dan bokap gue pembantunya. Gue melenggang bebas di depannya. Dasar anak laknat.
Gue gak menyia-nyiakan kesempatan dong, masa lewat toko baju bokap diem aja.
"Pa?" Tunjuk gue pada sebuah toko pakaian wanita.
Bokap gue tanpa berkata apapun langsung menggiring gue masuk ke dalam. Dan membiarkan gue memilih pakaian sesuka hati gue. Dan tentu saja gue bisa berlenggang keluar dengan puas setelah bokap membayar semua belanjaan gue.