Gue melangkah dengan tergesa-gesa melewati lorong kampus yang sepertinya sudah sepi dari mahasiswa yang mengikuti kelas pertama.
Lagu lama emang, kalau gue telat bangun. Tapi gue pantang menyerah meskipun harus lari maraton tiap pagi., gue gak akan biarin kalau sampai gue telat masuk kuliah. Sebodoh amat. Sekalipun gue gak mandi. Yang penting gak telat.
Eh tapi tadi pagi gue mandi kok. Mandi bebek yang gak sampai 3 menit udah selesai. Yang penting nggak bau asem.
Mengingat ini hari pertama mata kuliah gue, jadi pantang gue telat. Dan gue bersyukur. Karena sepertinya dosen belom masuk.
Gue melenggang asal. Namun terasa aneh saat Niken melotot tajam ke arah gue. Matanya gerak gerak aneh. Julingan baru tau rasa dia.
"Eh k*****t!" Gue terlonjak saat seseorang menepuk pundak gue. Tanpa pikir panjang gue langsung berbalik.
"Anjir ganteng banget!" Antara sadar dan gak sadar dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut manis gue.
"Kamu terlambat!" Eh? Gue apa?
O'o gue baru tertampar kenyataan. Otak gue bergelayut manja saat mata gue ini sedang di manja sama pemandangan sebelas dua belas sama bokap gue. Cowok ganteng nan tampan.
"Karena ini hari pertama saya mengajar kalian, jadi saya dispensasi untuk keterlambatan hari ini. Selanjutnya jika kalian terlambat barang 5 menit saja. Kalian tidak akan saya izinkan masuk kelas saya. Mengerti?" tegasnya malah terlihat tampak hot di mata gue. Eh apa Hot?
Eh tunggu! Maksudnya? Gue telat? Terus cowok bermuka sebelas dua belas sama bokap gue ini adalan dosen gue? Oh my God ! Ini musibah apa anugrah sih?
Gue musti segera duduk nih, sebelum ketahuan kalau gue mupeng.
"Kebiasaan deh lo Mal" sergap Niken setelah gue mendaratkan b****g gue di kursi sebelahnya.
"Apaan?"
"Telat bangun pasti" tebaknya yang gak ada melesetnya sama sekali
"Dah tau nanya, Eh tapi lain kali gue jamin gue gak bakalan telat lagi" ucap gue yakin
"Kenapa seyakin itu?"
"Gila aja kalau gue lewatin pemandangan seindah ini , punya dosen ganteng masa disia-siakan"
"k*****t lo"
"Biarin"
"Kancrut"
"Kancrit"
"Tolong diam. Dan perhatikan saya berbicara. Karena saya tidak akan mengulang waktu saya membacakan peraturan saat saya mengajar" semua diam. Hening. Hanya suara Dosen tampan yang kini tengah memperkenalkan dirinya. Lalu menjelaskan peraturan peraturannya saat mengajar. Tidak boleh ini tidak boleh itu dan entah apalagi. Gue gak terlalu memperhatikan. Gimana mau perhatiin kata-katanya kalau muka dia aja udah menyita semua perhatian gue. Duh ealah lebay gue.
Namanya Sadewa Gunawan Praja. Umurnya berapa tadi ya? 31 tahun kalau gak salah. Kalau gue pikir pikir jarak umurnya sama gue 13 tahun. Kebanyakan gak ya selisihnya kalau buat jadi pacarnya. Eh? Plak otak gue, ya salam. Baru aja lihat orangnya udah ngimpi jadi pacar.
Usai pelajaran, Niken langsung berkomentar." Dasar lo Mal, muka lo kelihatan banget mupengnya." Nyinyir Niken di samping gue setelah keluar dari kelas pak Dewa.
"Ah bodoh." Jawab gue acuh. Niken ini sebelas dua belas sama gue kalau soal cogan. Tapi masalahnya kriteria cogan dia dan gue itu beda. Kalau gue lebih suka cowok hot macam Manu Rios atau Shawn Mendez, dia lebih suka cowok putih bermata sipit macam lee min ho atau kim bum. Atau siapa lah itu.
"Lo mau langsung pulang?"
"Iya lah, capek gue"
"Naik apa?"
"Nooky dong"
"Lo bawa si nooky kemari?"
"Yes" Jawab gue bahagia.
"Katanya bokap lo kaya, kenapa gak minta beliin yang baru?"
"Gue tuh udah sayang sama si Nooky Nik. Jadi di bawain Nooky kemari gue udah seneng banget" dan gue serius soal yang satu ini.
"Minta beliin mobil gitu?"
"Sekate-kate lo. Lo aje masih naik gober, suruh gue minta dibeliin mobil. Lagian kalau gue punya mobil siapa yang mau nyupirin? Gue aja gak bisa mengendarai mobil" jawab gue yang malah membuat Niken mendengus.
"Serah lo deh. Tapi besok lo musti ikut gue ke suatu tempat yang belom pernah lo jamah"
"Tempat apaan?"
"Udah lihat besok aja"
Ah,
Sial
Bedebah
Kampret
Berulang kali gue mengumpat, si nooky juga gak bakalan mau jalan. Mau gue cek berulang kali kalau gak gue kasih minum si Nooky juga bakalan tetep ngambek.
Apes pokoknya. Ini kenapa bokap gue gak kasih si Nooky minum coba? Paling gak kasih tahu kalau si Nooky haus. Sekarang dia dehidrasi. And then gue musti dorong dia di tengah panasnya jalan raya k*****t ini.
Pengen nangis tapi malu. Pengen teriak ntar di sangka orang gila.
Dan dengan keterpaksaan lahir batin gue menuntun si Nooky tercinta gue mencari penjual bensin eceran. Tapi eh,? Gue belom gesek kartu ajaib gue. Jadi sekarang kantong gue kering kerontang. S*alan.
Panas gila Njir, kulit putih nan mulus gue bisa retak kalau gini lama-lama.
Thet, thet, thet!
Suara klakson di belakang gue bikin tambah gedeg aja. Jadi gue biarin aja . Gue udah gak peduli kalau dia mau lewat ya tinggal lewat aja. Ngapain pakai klakson klakson segala.
Thet thet thet
Sebodoh amat woy,
Thet Thet thet
"Ish, Berisik Woy!" Habis kesabaran gue. Gue berhenti dan berkacak pinggang di depan mobil hitam yang juga berhenti di depan gue.
"Kenapa neng?"
"Woaaaah pak Dogan"
Wah, mimpi apa gue semalem, di samperin Dogan ganteng macam pak Dewa.
"Motornya kenapa?"
"Dehidrasi nih pak, kayaknya perlu asupan BBM" sahut gue tanpa mengalihkan pandangan gue ke wajah milik pak Dewa.
"Lha itu ada penjual bensin eceran" katanya sambil nunjuk ke arah belakang gue, dimana kios bensin eceran telah berdiri tegak dengan manisnya.
"Hehe, itu pak, si Nooky saya ini," kata gue sambil menepuk kepala Nooky. " gak suka yang eceran gitu. Maunya yang langsung dari pom" jawab gue nyengir. Bohong. Sebenernya gue gak ada uang buat beli tuh bensin. Makanya gue cari pom yang ada ATMnya sekalian. Tengsin dong kelihatan kerenya. Gue kan anak orang kaya cuy.
Dan you know what?. Halah gue ketularan bahasanya bokap gue yang sok Inggris. Tiba tiba si Dogan turun dari mobil kerenya dan berjalan menuju stand penjual bensin eceran.
"Nih, buka jog motor kamu"
Gue diem dan menuruti perintahnya. Dalam hati gue bersorak sorai. Menjerit bahagia. Oh thanks God. Pertolongan Tuhan emang gak kemana.
"Makasih ya pak!"
"Sebagai ucapan terimakasih kamu temani saya makan siang di cafe dekat sini mau?"
"Mau mau mau. Mau pake banget." Aelah mulut gue gak ada jaim-jaimnya. Pikiran dan hati gue sekarang sedang bersorak sorai. Mungkin kalau bisa jingkrak-jingkrak mereka bakalan loncat-loncat kayak kungkang.
"Oh ya nama kamu Mal Mal..." buset dia lupain nama cewek semanis dan seimut gue? Ya Lord
"Malika Pak."
"Wah , berarti kamu dirawat dengan sepenuh hati dong ya?"
"Gak lucu pak!" Ucap gue mendengar kekehan garing dari mulut seksinya. Eh?
Makan siang yang cukup menyenangkan harusnya. Tapi juga menjengkelkan.
Gue masih memandang sosok wanita ber dress mini yang melangkah menjauh menuju pintu utama sebuah cafe. Gelagatnya kayak orang memendam dendam.
Pake kaki dihentak-hentakkan ke lantai segala. Emang bumi bakalan gonjang ganjing apa kalau dia menghentakkan kaki begitu?. Udah mirip jurusnya ' Pangeran Angling Kusuma' aja.
Semprol emang. Gue udah kegirangan aja di ajak makan siang bareng.
Emang berapa sih harga satu liter bensin sama sepiring steak?
Rugi banyak gue kalau bayarannya gue musti dapet musuh baru.
Kampret emang. Untung ganteng lo dasar Dogan rese. Masa ya, gue di ajak makan siang bareng cuma buat manas-manasin mantan pacarnya. Aelah buset udah gak jaman kali, manas-manasin mantan. Norak.
Udah gitu mantannya sok melabrak lagi. Dasar mak lampir.
"Udah jangan ngambek gitu. Itung-itung bantuin Dosen biar dapet nilai plus." Eh?
"Bapak nyogok saya?" Sebal gue. Mending kalau udah lama kenal. Lha ini baru aja kenal belum genap 12 jam udah main nyogok aja.
"Enggak lah, kan menyogoknya tadi udah, bensin sama steak."
"Ah mending saya ngaku sama mantan bapak tadi, kalau saya cuma mahasiswi bapak dan gak ada hubungan apa-apa"
"Eh? Jangan!"
"Bodoh amat"
"Saya traktir kamu makan siang selama seminggu. gimana?"
"Deal." Gue langsung setuju tanpa pikir panjang. Traktiran seminggu bisa ngirit uang saku kan.
Lagian juga belum tentu gue ketemu lagi sama Mak lampir tadi kan?