.
Author PoV
Malam itu masih saja sama. Sama seperti malam-malam biasanya. Malam yang selalu dilalui Bara dalam kesendirian. Malam yang selalu membuatnya ingin merasakan panas dinginnya dunia. Yaitu hal yang tak pernah lepas dari aktivitasnya.
Seorang Lembara kusuma. Dimana wibawanya disegani semua karyawan yang berada di bawah kepemimpinannya.
Wajah angkuh, datar dan dinginnya itu seolah olah sudah mampu mengintimidasi siapa saja yang memandangnya. Pandangannya akan membuat mereka menunduk tak berdaya
Kekuasaan yang ada di tangannya. Serta wujudnya yang terlahir hampir sempurna. Membuat hampir seluruh wanita tergila gila padanya. Bukan hanya itu, para wanita itu bahkan rela melemparkan tubuhnya begitu saja di bawah kungkungan seorang Lembara.
Namun Lembara tetap manusia biasa. Yang setiap kelebihannya memiliki kekurangan yang tak terlihat. Dan di balik angkuhnya tersimpan masa lalu yang kelam. Masa lalu yang kini menghadirkan kehidupan baru yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia bukan malaikat namun wajahnya begitu rupawan bak malaikat. Kayak Author pernah lihat malaikat aja deh.
Hanya saja kebiasaan buruk yang ia lakukan, sangat disayangkan. Apalagi saat ia telah menjadi seorang ayah. Namun Bara adalah Bara, dengan semua yang ia miliki membuatnya mampu melakukan apapun, sekalipun ia tak akan sanggup menghapus ingatan masa lalunya.
Belasan tahun silam, saat dirinya tak sengaja menghamili kakak kelasnya, sebenarnya bukan tak sengaja, ia bahkan sudah lama berpacaran dan hampir sering melakukannya.
Saat itu, ia bahkan tak berpikir kalau dirinya akan berakhir seperti sekarang. Apalagi memikirkan kalau ia akan memiliki putri yang akan di tinggalkan begitu saja oleh ibunya.
Airyn kakak kelas sewaktu SMA sekaligus mantan pacarnya itu, lebih memilih pergi melanjutkan kuliah ke luar negri dari pada menikah dan membesarkan anaknya bersamanya. Dan waktu itu, tak ada pilihan lain selain memberi nama keluarganya pada anak itu. Membuatnya memiliki data keluarga sebagai adiknya. Apalagi saat umurnya yang masih sangat muda.
Kini, Lembara mengusap kasar rambut nya. Ia masih teringat dengan kata kata gadis remaja yang sekarang tinggal seatap dengannya. Kata-kata yang lebih berupa sebuah permintaan untuknya. Antara permintaan dan Pernyataan yang sampai sekarang tak pernah luput dari pemikiran otaknya.
19 tahun yang lalu dia memang tidak memutuskan untuk menikah. Dan sesuai kesepakatan, wanita yang telah melahirkan darah dagingnya itu pergi. Pergi dan tak pernah kembali sampai sekarang.
Itulah mengapa ia tak pernah ingin melarang kepergian Airyn bahkan tak ingin mencarinya. Karena kesepakatan itu di bentuk agar Airyn tidak menggugurkan kandungannya.
Dan di usianya yang masih 16 tahun di saat dia lebih pantas punya adik dari pada punya anak, ia akan berpikir lagi untuk menikah dan mencari ibu pengganti. Itu sebabnya Malika menganggapnya kakak. Karena memang dia lebih pantas di panggil kakak oleh anaknya itu. Sehingga Malika tetap di besarkan oleh keluarga lengkap dan penuh kasih sayang dari kedua orang tua Bara. Sampai saat dimana obrolan Lembara dan sang mama didengar oleh Malika. Bahwa Malika adalah anak kandungnya. Anak dari hasil kebodohannya di masa lalu.
Namun, entah mengapa saat itu, Malika mengira ibu kandungnya telah tiada. Padahal baik dia maupun Mamanya tak ada yang tahu kemana rimba nya wanita itu. Dan tak ada niatan sedikitpun dari dirinya untuk mencari wanita yang pernah melahirkan anak gadisnya itu. Bahkan ia berharap kalau wanita itu tak pernah kembali mengusik hidupnya.
Bukan hanya itu. Selama ini pun, dirinya juga tak pernah menginginkan pernikahan terjadi dalam hidupnya. Tak sekalipun berfikir maupun menginginkannya. Sampai ucapan Malika kemarin membuatnya berfikir. Lalu apa dirinya musti menikah? Lembara bahakan sudah merasa sangat nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Apalagi yang ia cari? Kekuasaan? Kekayaan? Keturunan? Ia sudah memiliki semuanya. Kecuali Cinta. Perasaan yang bahkan tak pernah ia percayai. Karena yang ada dalam kamusnya, menyukai wanita hanya untuk bersenang senang, tidak lebih.
⚘⚘⚘
Malam baru menunjukkan pukul dua puluh waktu Indonesia barat. Di belahan kota bagian barat pulau Jawa ini, seorang Bara bahkan sudah hampir mendapatkan kepuasannya. Sebagai pria dewasa, ia sendiri sadar akan kebutuhannya yang satu ini. Dan malah merasa beruntung dengan kemudahan yang ia dapat dengan kekuasaan dan wajah tampan yang ia miliki.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Bara tak juga ingin menikah. Bara bisa kapan saja b******a dengan wanita-wanita seksi untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Bertindak sesuka hati dengan semua kekuasaan dan kekayaanya.
Bahkan ia tak ada alasan untuk menikah.
Bara merapikan pakaiannya hendak pergi dari ruangan yang hanya terdapat sepasang manusia itu.
"Lo mau kemana sih Bara?"
"Gue ada urusan Va,"
"Lo tega banget ninggalin gue setelah puas."
"Ya kalau lo keberatan, gue bisa bayar lo sekarang. Lo lupa siapa yang ngajakin ke sini?" Jawab Bara acuh. Ia bahkan tak peduli dengan wajah wanita tadi yang di tekuk masam.
"Ck," hanya decakan sebal yang keluar dari wanita itu.
Dan Bara tetap melangkah pergi dari tempat tersebut. Ia harus pulang karena di apartemennya ada Malika yang sendirian.
Ya, Malika Wiraadmaja yang merupakan keturunan tunggal dari Lembara kusuma Wiraadmaja. Itu adalah alasan utama yang di berikan pada ibunya agar tak menuntutnya menikah. Tentu saja karena ia sudah memberikan cucu yang merupakan darah dagingnya sendiri. Oleh karena itu, Bara tak mengizinkan orang tuanya untuk memanjakan anak gadisnya itu. Malika adalah perempuan yang harus dibuatnya menjadi perempuan tangguh dan kuat. Tidak mengandalkan kekuasaan maupun harta yang dimiliki orang tuanya. Tapi apalah daya jika kenakalan dirinya saat remaja bisa saja menjadi sifat anak gadisnya itu. Membuat Malika menjadi gadis yang seenaknya sendiri dan jarang menunjukkan sifat anggun sebagai seorang Keturunan dari keluarga Wiraadmaja. Meski begitu, Bara sangat menyayanginya.
Namun yang tidak ada dalam prediksinya saat ini adalah, saat Malika membicarakan tentang Mama atau Mama tiri yang akan menjadi ibunya. Ia pikir dengan membuat Malika menjadi sosok yang kuat, ia tak akan butuh sosok seorang ibu. Karena Bara yakin, bahwa orang tuanya telah cukup memberikan kasih sayang itu.
Ck. Bara tak habis pikir. Anak yang setahunya adalah gadis manis yang pendiam itu ternyata suka seenaknya sendiri kalau bicara.
Bara terkekeh dengan kelakuan anak gadisnya. Entah mengapa baru kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda saat gadis itu memanggilnya papa.
Bara begitu saja keluar hotel tanpa sedikitpun merasa malu atau apalah itu. Ia berjalan tegas. Bahkan para resepsionis saja memandangnya dengan wajah kepingin. Entah kepingin apa.
Mobil sport kebanggaannya melaju kencang melewati jalanan kota yang semakin ramai. Sepertinya mulai sekarang ia memang harus sering pulang. Tak seperti biasanya yang membuatnya lebih sering menghabiskan malamnya di hotel bersama wanita yang selalu berbeda. Tentu saja bukan wanita sembarangan yang asal comot. Ia akan memastikan wanita itu jelas tak akan merugikan dirinya nanti.