Pov. 1
⚘⚘⚘
Oh planet bumi tempat gue berpijak. Tak bisakah lo biarkan daku menikmati tidur siang yang indah ini? Eh ? Gue rasa mustinya tadi gue gak sebut tidur siang sih. Lebih tepatnya tidur sore deh.
Gue benar-benar masih ngantuk. Kelopak mata gue rasanya dilem pake alteko atau mungkin lem kayu gue gak tau. Pokonya ini berat banget mau dibuka aja susah. Dan rasanya tuh kepala gue sulit banget buat diangkat.
Sejak jam tiga sore tadi, gue langsung tepar saat pulang dari kampus. Masih dengan hati dongkol karena si Dosen yang sialnya ganteng itu ingkar janji buat traktir gue makan siang. Awas aja nanti. Kalau diingat tuh bikin hayati sesek nafas tau gak. Dibilang mau ditraktir seminggu eh taunya omong kosong doang. Siapa yang gak kesel coba?
Ditambah lagi dengan suara Bel pintu apartemen yang dari tadi gak berhenti berbunyi. Mengganggu gue yang lagi bobok cantik. Gue bener-bener murka mendengarkan bel yang terus berbunyi tanpa henti. Rasanya tuh da-da gue dag dig dug gak jelas terus tubuh gue jadi gemetar kalau dibangunin secara tiba-tiba.
Gue melirik jam di atas meja kamar gue. Sudah menunjukkan pukul lima sore rupanya. Lalu, dengan kasar gue menyibak selimut di kaki gue. Tanpa peduli dengan penampilan yang mungkin udah kayak mak lampir. Gue membuka kasar pintu kamar gue dan berjalan menuju pintu utama dengan keadaan masih setengah mengantuk dan setengahnya lagi menahan kesal. Jadi udah genap 100 persen gue lagi gak dalam kondisi baik untuk menerima tamu.
"Siapa?" Itu bukan suara gue, itu merupakan suara seksi dari my hot daddy yang udah senderan aja di ambang pintu. Tangan kanannya di masukkan di dalam saku celana pendeknya. Dan dengan gaya sok kerenya, ia bersikap santai dengan tamu di depannya. Oke, bokap gue emang keren, bukan sok keren. Udah gitu cuma pakai kaos tanpa lengan yang jelas jelas mampu mencetak bentuk tubuhnya.
"Siapa ya?" Ulang bokap gue, yang gak gue tahu siapa tamunya. Gue masih memperhatikan bokap gue dengan singlet yang mempertontonkan lengan kekar serta otot otot bisepnya. Sepertinya sedang mengintrogasi pengganggu di depan sana.
Merasa tak mendengar jawaban dari si tamu pengganggu rese itu, gue berjalan mendekat. Bikin penasaran pastinya. Hingga papa Bara yang tau kedatangan nona Wiraadmaja ini langsung melebarkan daun pintu. Dan memberikan celah untuk anaknya yang cantik ini melihat siapa gerangan tamu yang berani beraninya mengganggu tidur sang putri yang lagi nyenyak nyenyaknya ini.
"Yassalaaaaam..." Seru gue keras, saat melihat wajah Niken dengan tatapannya yang bikin perut gue tiba-tiba mules. "Mingkem woy!" seruku lagi saat sudah ada di samping papa kece gue yang masih berdiri di pinggiran pintu.
Melihat Niken dengan mulut menganga dengan wajah tololnya membuat gue pengen masukin sendal ke mulutnya. Yang benar saja anak ini. Kayak orang kesurupan sumpah.
"Kamu kenal?" Tanya bokap gue memandang wajah lusuh gue untuk meminta jawaban.
Belum juga gue jawab, si Niken udah nyerocos dulu. "Kenalin, saya sahabatnya kedelai hitam ini Bang."
Bangsaiton emang mulut si Niken ini. Beneran pengen disumpel pake sandal rupanya. Seenak jidatnya aja ngatain nama orang. Udah gitu apa tadi dia bilang? 'bang'?
"Oh," Hanya itu yang keluar dari bibir seksi bokap gue. Sebelum dia berbalik dan melenggang masuk ke dalam apartemen. Tanpa mau menanggapi uluran tangan Niken yang sudah siap menerima sambutan di depannya.
'Rasain lo di cuekin' gue tertawa se-tan dalam hati saat melihat ekspresi kesal Niken. Lama gak ketemu eh udah ganjen aja itu anak. Belajar dari mana coba?
"Ngapain lo? Kayak sapi ompong?" Sergah gue dan sukses membuat Niken sadar pada pikiran warasnya.
"Aduh Mal, do'i siapa? Ganteng banget." Ucap Niken sambil menyatukan genggaman tangannya di bawah dagu.
"Dasar lu, di tanya malah balik nanya. Masuk. Dia bokap gue." Ujar ku setengah dongkol.
"What? Bokap lo? Kok masih kinclong?" Gue cuma memutar bola mata gue jengah mendengar kalimat Niken.
"Kam-pret, lo pikir bokap gue porselen apa?" Gila ni anak. Datang datang bikin gue kesel aja. "Lo udah gue ceritain kan tentang abang gue itu, jadi gak usah nyinyir, oke!" Tunjuk gue pada Niken untuk memberinya peringatan keras
Gue melirik bokap gue yang baru keluar kamar dengan pakaian rapi. Celana jeans dan kaos yang di lapisi jaket di luarnya.
"Mal, papa keluar dulu ya?" Ucap bokap yang udah wangi tapi mencurigakan itu.
"Papa mau kemana?" Tanya gue yang jelas penasaran. Nih ya, kalau gue pergi sama dia sekarang, gak bakalan ada yang percaya kalau gue ini anaknya. Bukan karena muka gue gak mirip. Tapi karena penampilan bokap gue yang memang tampak lebih muda dari umurnya. Dan Wanginya itu di jamin bikin cewek satu kampus gue bakalan klepek-klepek. Kayak Niken contohnya.
Yang benar saja, si dingin yang biasanya pakai setelan jas kini berubah menjadi cowok hot dan cool di waktu yang bersamaan. Buset jadi meriang dong kalau hot dicampur sama cool. Kebangetan lo mal.
"Ada urusan di luar. Saya udah siapin makan malam. Kayaknya saya bakal pulang terlambat jadi kamu jangan tidur terlalu malam!" Ucapnya memberi petuah yang sebenarnya udah gue denger beberapa kali dalam seminggu ini.emang sih, bokap gue ini gaya bicaranya suka berubah ubah. Kayak blungkon aja.
Dan, Niken yang sebenernya udah tahu kalau gue gak punya nyokap, dia cuma senyum-senyum genit yang bikin gue pengen nyemplungin dia ke sss. Dulu, dia gak pernah kenal sama abang gue. Sekarang sekali lihat muka abang yang udah jadi bokap gue malah bikin dia udah mirip kayak cacing ditaburi garam. Emang kalau cacing ditaburi garam bakal ngapain ya?
⚘⚘⚘
"Eh Mal, kalau gue aja yang jadi mama tiri lo gimana?" Hah? Gue masih cukup waras utuk menganggap serius perkataan se-tan yang sialnya adalah sahabat gue ini. Jadi sesama se-tan, gue cukup diem aja sambil meneruskan aktifitas gue untuk bersiap siap pergi ke tempat yang kata Niken asik.
"Ih Mal, beneran deh gue gak nyangka lo punya bokap yang hawt bingit." Gue melirik Niken yang kayaknya masih terkontaminasi sosok bokap gue. Dan gue gak heran jika Niken bertingkah seperti cabe alay. Dan bahasanya yaawoh serius bikin gue pengen ngelus-elus. Elus elus sesuatu yang gak boleh disebutin di sini. Pamali takut kena bintang nantinya.
"Gue gak akan mempertaruhkan kebahagiaan gue buat punya mak tiri macem lo ya." kata gue terang-terangan. Ya jelas gak banget lah, enak aja punya emak kayak Niken. Lagian bokap mana mau.
"Buset sa-dis banget lo?" Serang si Niken sambil memajukan bibirnya yang udah berlapis warna merah. Palingan lipstik punya kakaknya itu
"Eh cabe, gue gak mau mati kelaparan gara-gara punya mak tiri yang gak bisa masak." Jawab gue sekenanya. Paling tahu deh gue kalau kekurangan si Niken ini.
"Haish lagak lo kayak bisa masak aja. Sesama cabe gak boleh saling hina." Dan sontak gue tertawa dengan penuturan Niken.
"Lagian lo kan sukanya sama cowok imut bermata sipit, bukan cowok panas bermata hazel kayak bokap gue."
Dan kini niken yang malah terbahak. Padahal gue gak ngelawak. "Udah ayo cap cus!"
"Kita mau kemana sih?" Gue masih heran dong ya, secara Niken milihin baju yang bakal gue pake. Rok pendek dan juga blus tanpa lengan.
"Udah ayo ikut aja." Dan gue gak bakal menolak dengan apa yang sudah di rencanakan sama anak cabe ini.
⚘⚘⚘
Gue masih fokus sama jalanan yang mulai tampak ramai. Dan, saat taksi yang gue sama Niken tumpangi berhenti, gue agak terkejut. Bukan karena ada ban bocor atau mogok. Tapi karena tempat di mana si supir taksi memberhentikan mobilnya.
Sontoloyo emang si Niken. Apa maksudnya coba ajakin gue ke tempat tabu kayak gini.
Woles woles
"Lo beneran ngajakin gue ke sini?" Tanya gue memastikan prasangka yang gak jelas ini.
"Yup, lo gak pernah kan main ke klab?" Katanya dengan antusias pasti.
"Wah, wah sa-rap lo, kalau bokap gue tau bisa digorok gue." Seru gue meninggi. Gila ni anak ngajak gue cari masalah deh.
"Udah, gak bakalan. Gue juga baru pertama kali kok. Bentar aja yuk. Kita pulang sebelum bokap lo pulang." Ajak Niken pasti sambil menarik narik tangan gue.
Dengan langkah ragu gue masuk setelah memperlihatkan KTP gue pada dua manusia botak yang tubuhnya tinggi besar.
Gue yang emang dasarnya gak pernah sekalipun ijekin lantai klab berasa kepo alias penasaran juga dengan yang kata orang namanya dunia malam ini.
Setelah masuk, gue lihat Niken melambaikan tangannya pada seorang pria yang kayaknya gue pernah lihat. Kalau gak salah sih Mas Shakti senior di kampus. Tapi kok Niken kenal ya?. Gue masa bodoh dengan itu. Gue udah berasa kayak anak si Niken yang buntuti ibunya dari belakang. Idih jangan sampai dia beneran jadi emak gue.
Gue udah duduk dengan canggung di antara beberapa anak yang sepertinya kenal dengan Niken. Ya beberapa adalah perempuan. Tentu saja gue juga berkenalan dengan mereka sebelum duduk. Gila aja kalau gue langsung duduk seolah-olah sok kenal.
Tapi, sumpah gue canggung banget duduk di sini. Si sontoloyo Niken malah asik bicara sama Mas Shakti dan gue dianggurkan. Awas lo Ken, bawa gue ke sini cuma buat anterin lo doang.
"Hai!"
Gue melirik seorang laki laki yang tadi mengaku bernama Adrian dari atas sampai ke bawah. Dari bawah sampai ke atas. Males gue, gak sesuai dengan selera hayati.
"Hai juga," Balasku masih dalam suasana canggung. Tapi sebenarnya gue pingin pergi dari tempat ini. Namun apalah daya diriku yang tak tahu arah jalan pulang.
"Baru pertama kali kesini ya?"
"Eh? Kelihatan ya?" Jawab gue agak gugup. Oke fix gue kelihatan kayak orang kampung yang baru pertama kali masuk ke tempat remang remang kayak gini. Meski sebenarnya bukan kayaknya lagi. Itu kenyataan. Gue benar benar udah tersesat.
"Banget." Ucap si Adri yang sok akrab. "Eh lo gak gabung sama cewek cewek yang lain?" Eh? Pertanyaan si cowok blonde di depan gue sukses membuat gue langsung menoleh kanan kiri kayak orang mau nyebrang jalan. Lalu celingukan seperti entahlah.
Dan oh sia-lan. Cewek-cewek yang juga termasuk si Niken ternyata sudah gak ada di posisi semula.
Si Adri yang menyadari kegelisahan gue, akhirnya menunjuk dengan dagunya ke sebuah sudut dimana ada Niken di sana yang udah nari-nari gak jelas.
Gue yang udah canggung, duduk di antara para lelaki yang belom satu jam gue kenal, akhirnya melangkah dengan terpaksa untuk menuju ke TKP, dimana banyak siluman ular yang sedang unjuk kebolehan.
Gue melirik seorang wanita dengan pakaian minimnya yang udah meliuk-liukkan tubuhnya kayak uler. Lebih tepatnya siluman ular yang lagi dimainin seruling. Ngeri euy.
Gue bener-bener kayak orang ilang sebelum Niken datang mendekat.
"Udah lo nikmatin aja musiknya. Lepasin ekspresi lo, gak bakal ada yang peduli kalau lo malu." katanya setengah menjerit karena memang dentuman musiknya sangat keras.
Gue pikir kayaknya gue emang udah gak waras. s**l kenapa juga gue malah ikut-ikutan gila kayak Niken dan temen-temennya.
Tapi beneran ini menyenangkan. Saat gue gak perduli dengan yang lainya selain menikmati musik yang berdentum keras. Serius ini bakalan manjur buat orang orang yang ingin sejenak melupakan hutang.
Dan gue akui. Sedikit bisa mengurangi beban dengan melakukan kegiatan yang kalau mamah gue tahu, gue bakalan di ceramahi panjang kali lebar. Tapi mamah gue kan di Jogja sana, jadi woles lah. Let's enjoy the time.
Gue bener bener larut dalam dentuman musik bite yang terdengar asyik di telinga gue. Mata gue terpejam menikmati setiap dentuman musiknya. Bahkan suara Niken yang meminta gue berhenti pun gak gue hiraukan. Sampai pada saat gue marasa sesuatu meremas pan-tat gue. Holly S-h-i-t.
"SI-A-LAN. BR-ENG-SEK . LO CARI MAT-" mati gue, modyar aku!. Ump*tan gue gak mampu gue lanjut . Saat gue melihat tatapan mata seseorang yang barusan meremas bok-ong gue. Bahkan tanganya baru saja menjauh dari pan-tat gue yang tertutup rok bunga-bunga yang mengembang sampai lutut.
Gue gak mampu lagi berkata-kata. Bahkan saat tangan itu menarik dengan kasar tangan mulus gue.
"Pa- pa? Ko-kok bi-bisa ada di sini?" Ucap gue terbata setengah mampus. Tatapan bokap gue bikin gue pengen nyemplung empang aja.
Empang mana empang?
Gue ke gab bokap gue lagi ajep-ajep di Club.
Amsyong , gue tercyduk