Pintu gerbang SMA Cakrawala terbuka lebar menyambut kedatangan suporter dari SMA Mentari yang turut meramaikan jalannya pertandingan. Meski hanya pertandingan persahabatan yang diadakan setiap tahunnya, tetapi tetap saja kemenangan dalam laga itu sangat penting bagi kedua belah pihak. Apalagi bagi SMA Mentari yang notabene belum bisa mengalahkan Tim basketball SMA Cakrawala pasti akan sangat berambisi untuk bisa memenangkan pertandingan.
Allana baru saja mengambil buku dari lokernya. Dia melangkah keluar dari sana tapi seseorang tiba-tiba menabrak sisi tubuhnya cukup kuat. Allana yang tidak siap sedikit terhuyung ke samping.
"Kalau jalan pakai mata!" geram Elenio. Nada tinggi pada kalimat itu membuat Allana tersentak.
"Ma-maaf El, aku gak sengaja," ucap Allana terbata. Wajahnya tampak pias.
"Liat-liat kalau jalan!" maki Elenio lagi, sengaja agar Allana merasa takut.
"Iya, El," jawab Allana pelan membuat Elenio kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu," Elenio berhenti sepersekian detik.
"Semangat El," ujar Allana ramah namun Elenio tidak peduli, lelaki itu kembali berjalan dengan sifat arogannya.
Allana menatap punggung Elenio semakin lama semakin menjauh.
Seandainya Elenio tahu, Allana sangat rapuh sekarang.
"Gak pa-pa kamu bentak aku El, aku yakin, suatu saat nanti waktu akan menyadarkan kamu," gumam Allana percaya.
***
Sementara di sudut ruang ganti, dua orang yang memiliki ukuran tinggi badan yang sama itu saling melempar tatapan intens, berdiri saling berhadapan.
Elenio bersuara."Masalah kita, jangan dibawa ke pertandingan nanti. Gue minta lo bisa bersikap profesional. Kemenangan ini penting, penting untuk sekolah, bukan cuma buat gue pribadi," tandas Elenio lugas dengan ekspresi wajah tegasnya.
"Gue akan berusaha sebaik mungkin buat pertandingan ini." Devan menarik napasnya panjang.
Sesuai dengan perintah Allana Devan benar-benar memperbaiki hubungannya dengan Elenio.
"Soal kejadian kemarin, gue minta maaf, gue kebawa emosi," jelas Devan membuat Elenio memalingkan wajahnya saat teringat bagaimana Devan rela membela Allana habis-habisan.
Matanya kembali menatap Devan.
"Gue juga lepas kendali kemarin, sorry, " balas Elenio mengakui kesalahannya.
Keduanya saling berjabat tangan seraya mengulas senyum di bibirnya. Hal itu membuat hati keduanya menghangat mencairkan kebekuan yang sempat membelenggu.
***
Duduk tenang di Perpustakaan yang bernuansa biru langit, dikelilingi rak berisi jejeran buku yang tersusun rapi. Gadis yang memakai bandana berwarna navy dengan surai tergerai lurus, tengah membuka halaman buku.
Rasanya damai dan tenang. Aroma khas yang menguar dari buku membuat Allana betah berlama-lama di tempat ini.
Allana memilih menyendiri, mengabaikan suara hiruk-pikuk Siswa-Siswi yang berlari antusias menuju lapangan Indoor demi menyaksikan turnamen Basket yang akan digelar dalam hitungan menit.
"A-alla-na akhirnya aku ketemu kamu," ucap Tania dengan suara rendah. Napasnya tersenggal Tania membungkuk memegangi kedua lututnya.
"Asal kamu tau, aku udah cari kamu kemana-mana. Eh, taunya kamu di sini," omel Tania.
"Maaf, Ta aku gak bilang ke kamu. Kamu ada perlu apa nyariin aku?" tanya Allana lembut.
"Jangan pura-pura lupa ya Al, hari ini kan ada pertandingan Basket. Ayo kita nonton," ajak Tania menggebu menarik-narik lengan Allana.
"Kamu aja Ta, aku mau di sini aja," tolak Allana halus.
Tania mengerutkan keningnya.
"Kok gitu, kamu gak mau dukung mereka?" tanya Tania.
"Aku takut, kehadiran aku malah membuat El emosi, aku takut dia terganggu Ta," balas Allana mengingat peristiwa tadi pagi.
Betapa Elenio sangat marah padanya karena ketidaksengajaan Allana.
"Aku ngerti perasaan kamu. Padahal kamu pengen banget kan dukung El?" tanya Tania mengerti.
"Iya Ta, tapi ya gitu, tau sendiri kan? El masih benci sama aku. Aku doain mereka aja dari sini," kata Allana.
Tania memegang pergelangan tangan Allana matanya memandang Allana penuh harap.
"Al, di sana kan banyak banget yang nonton. Kemungkinan, El gak akan sadar kok kalau kamu ada di sana," kata Tania.
"Hm," Allana tampak berfikir. Apa yang dikatakan Tania memang terdengar logis, tapi apa iya Elenio nanti tidak akan mengenalinya.
"Gimana? Mau ya? Tenang aja semua akan baik-baik aja," bujuk Tania.
"Iya, aku mau," jawab Allana meski dia sendiri ragu.
"Akhirnya," Tania melompat gembira.
"Sstt, jangan keras-keras, nanti kena marah Ta," peringat Allana. Pandangannya tertuju pada Penjaga Perpustakaan.
"Eh iya lupa, kita kan ada di Perpustakaan," balas Tania.
"Ya, udah ayo, gak sabar aku nih," ajak Tania bersemangat.
Allana tahu Tania memang gemar menonton acara olahraga, entah sepak bola, Basket atau apapun itu yang penting berbau tentang Olahraga Tania sangat menyukainya.
"Iya-iya lagian acaranya belum dimulai kok," balas Allana mengimbangi langkah Tania yang berjarak dua langkah di depannya.
Tania menoleh. "Buruan Al! Aku takut tribunnya penuh Allana, ayo," ajak Tania tidak sabaran.
Setibanya Allana dan Tania mereka menatap takjub melihat area tribun yang hampir terisi penuh.
"Tuh kan, apa kata aku," ujar Tania.
Allana mengedarkan pandangan mencari celah untuk tempat duduk.
"Di sana Ta," tunjuk Allana.
Keduanya duduk di Tribun paling atas. Allana duduk di pojok menyisakan satu bangku di sisi kanannya.
Acara dibuka dengan penampilan Cheers dari SMA Cakrawala yang diketuai oleh Sasha. Gerakan mereka terkordinasi dengan apik mengikuti melodi musik. Terakhir, tubuh Sasha diangkat ke atas dengan posisi berdiri. Penampilan mereka sungguh memukau puluhan pasang mata yang melihatnya.
"WOW."
Disusul dengan tepuk tangan meriah dari penonton.
"Muka kamu kenapa Ta? Cemberut gitu?" tanya Allana pasalnya saat pertunjukan Cheers dimulai. Wajah Tania terlihat kesal.
"Kenapa harus ada cheers segala sih, kenapa gak langsung dimulai aja," keluh Tania melipat tangannya di d**a.
"Dari dulu basket sama Cheers kan paket komplit Ta," jelas Allana mengingatkan.
Keduanya saling beradu pandang.
"Masalahnya bukan di Cheers sih tapi dua orang itu yang ngeselin," tunjuk Tania merasa jengkel pada Sasha lalu beralih pada Nita.
"Maafin mereka, Ta, namanya juga manusia," pungkas Allana.
Suara tepukan serta sorak-sorai riuh terdengar memenuhi area lapangan Indoor SMA Cakrawala menyambut kedua Tim Basketball yang memasuki area lapangan.
Banyak Siswi berteriak histeris kala Elenio memasuki lapangan, lelaki itu mengenakan ikat kepala berwarna biru bertulis EL.
"Itu yang namanya El?" tanya Siswi yang berasal dari SMA Mentari.
"Iya itu," kata temannya menyahut.
"Kok ganteng banget sih!"
"Jadi gini rasanya jatuh cinta sama pandangan pertama?"
"Duh, jantung gue gak aman nih!"
Para perempuan seolah terhipnotis dengan paras tampan Elenio. Remaja yang memiliki proporsi tubuh atletis, parasnya terlihat cool, ditambah garis rahang tegas membuat Elenio sangat kharismatik. Aura yang dimiliki Elenio benar-benar kuat membuat siapa saja langsung terpikat.
Kedua Tim saling menatap penuh ancaman satu sama lain. Sarat permusuhan akan segera terjadi. Tim Basketball Elenio mengenakan kostum tanpa lengan berwarna biru kombinasi putih sementara lawannya memakai kostum kuning kombinasi hitam.
Wasit kini telah meniup peluit pertanda pertandingan dimulai. Tepuk tangan dukungan itu terus mengalir menyoraki kedua Tim.
"SEMANGAT! SEMANGAT! AYO EL!" teriak Sasha sangat heboh bahkan mengalahkan suara teriakan dari Supporter lawan.
Elenio yang didapuk sebagai Kapten mulai mendrible bola basket, dengan lincah Elenio melewati beberapa musuh yang menghadangnya. Laki-laki itu melompat kemudian memasukan bola ke dalam ring. Membuat Allana yang melihatnya bertepuk tangan kecil. Senang.
"Yuhu, ayo El!" teriak Sasha dan Tim Cheersnya antusias.
Elenio kembali memegang bola, kali ini dia lebih memilih mengoper pada Devan. Tak butuh waktu lama Devan langsung men-shoot bola ke ring dan sukses masuk ke sana.
"Kerja bagus!" puji Elenio
melakukan tos pada Devan. Sebagai bentuk keberhasilan dari kerja sama.
Suara nyaring peluit terdengar yang berarti pertandingan pada babak pertama telah usai. Tim Basketball SMA Cakrawala unggul dengan poin 20-11.
"Pertahankan kekompakan kalian! Kita pasti bisa menang!" Pak Heri memberi dukungan.
Waktu istirahat telah berakhir. Pertandingan babak kedua kembali dilanjutkan. Semua berjalan lancar Elenio berhasil mendulang poin. Dia kembali dinobatkan sebagai mesin angka bagi SMA Cakrawala. Elenio sangat cerdik dalam membaca gerakan lawan. Gerakannya juga gesit ketika berlari menghindari musuh, dan yang tak kalah penting tembakan yang dia lakukan selalu tepat sasaran.
Namun, fokus Elenio terbelah kala tidak sengaja menatap Allana di bangku penonton.
"Razella?" gumam Elenio seperti ada sosok Razella yang tersenyum menyemangatinya duduk di sebelah Allana.
"Gak! Ini gak mungkin," Elenio mengucek kedua matanya. Bayangan itu hilang dari peredaran.
"Fokus El! Jangan melamun!" seru Devan mencoba merebut bola dari lawan. Tapi upayanya gagal karena pemain itu akhirnya mampu melewati Devan dan sukses mencetak poin.
Waktu terus berjalan dan Elenio masih berjibaku dengan pikirannya. Tadi itu Razella atau ada yang salah dengan penglihatannya?
"Yah," terdengar desahan kecewa dari para penonton.
"Poin kita sama," keluh Devan lelah.
"Sorry, gue gak fokus tadi," jawab Elenio merasa bersalah.
"Kamu ini bagaimana El, jangan berfikir yang aneh-aneh. Fokus dengan pertandingan fokus dengan lapangan!" tegur Pak Heri.
"Baik Pak, saya akan perbaiki kesalahan saya,"
"Ta kamu sadar gak sih?"
"Apa?"
"Tadi El liat ke arah aku, dan tiba-tiba permainan mereka berantakan. Sepertinya ini karena ada aku, harusnya aku gak kesini tadi." Allana meremas jemarinya. Gelisah.
"Al, jangan merasa begitu. Kamu tenang aja, Tim Basket sekolah kita pasti menang," kata Tania optimis memegang tangan Allana lalu mengaitkan di sela jemariya dengan milik Allana. Tujuannya agar Allana berhenti menyalahkan diri sendiri juga agar Allana lebih merasa aman.
Babak keempat adalah babak penentuan, dimana skor mereka sekarang adalah 82-80 sangat tipis. Di penghujung waktu terakhir Elenio melakukan shooting dari jarak jauh. Sehingga menambah keunggulan menjadi 85-80.
"Kita menang!" teriak Devan mengangkat tangan ke atas.
Lagi-lagi Tim Basketball SMA Mentari harus menelan kekalahan dan mengakui ketangguhan Tim Basketball SMA Cakrawala.
Tubuh Elenio diangkat ke atas. Mereka merayakan kemenangan penuh dengan suka cita. Elenio tertawa lepas. Allana yang melihatnya turut mengumbar senyum.
"Akhirnya menang juga, aku udah deg-deg an nih Al," kata Tania tersenyum lebar.
"Sama Ta aku juga tegang," balas
Allana menghela napas lega.
Para Siswa-Siswi pun segera turun dari Tribun. Kebanyakan para Siswi datang mengerubungi Elenio.
"El minta foto dong!" pinta Siswi yang memegang ponsel.
"Boleh," kata Elenio.
Awalnya hanya beberapa orang yang berfoto dengan Elenio. namun jumlahnya kian makin banyak membuat Elenio kewalahan.
"Gitu amat ya punya tampang ganteng, si El udah kayak artis!"
"Nasib orang ganteng mah gitu, gak perlu banyak usaha buat nyari cewek. Tuh liat semua ciwi-ciwi langsung merapat,"
celetuk teman-teman Elenio yang melihatnya.
"Permisi-permisi," kata Sasha menepiskan tangannya membuka jalan di tengah kerumunan.
"Sesi foto-fotonya udah ya! Kasihan, El capek! Kalian bubar sana!" usir Sasha judes.
Mereka akhirnya bubar dengan raut wajah kecewa.
"Selamat ya El, atas kemenangannya," ujar Sasha penuh binar kegembiraan di matanya.
"Makasih, Sa," balas Elenio tersenyum tipis.
"Kamu keren banget tadi El," puji Nita mengacungkan jempol ke arah Elenio.
"Makasih Nit."
Sasha menggigit bibir bawahnya. "Oh iya. Aku mau kasih ini buat kamu." Sasha menyodorkan tas kecil pada Elenio. Sasha menginggit bibir bawahnya.
"Apa ini?" tanya Elenio.
"Itu sebagai tanda ucapan selamat buat kamu El," kata Sasha.
"Tapi Sa, aku gak bisa terima," tolak Elenio mengembalikan benda itu ke tangan Sasha.
"El, aku mohon jangan di tolak, kamu simpen aja. Liat kamu menerima pemberiaan aku itu rasanya seneng banget, masa kamu mau rusak kebahagiaan aku?" tanya Sasha sedikit mencebikan bibirnya.
"Oke-oke aku terima. Tapi lain kali jangan kasih barang ke aku lagi Sa," peringat Elenio.
"Iya El. Kalau gitu aku balik duluan, ya, El," ujar Sasha lalu berjalan pergi bersama Nita.
Elenio kembali menatap tempat yang di duduki Allana. Nihil, bayangan itu tidak muncul kembali. Elenio berasumsi jika dirinya mungkin sedang berhalusinasi, karena saking rindunya, sampai-sampai Elenio berkhayal jika Razella masih ada mendukungnya.
Devan menepuk bahu Elenio. "Lagi banyak pikiran?" tanya Devan mengamati gerak-gerik Elenio.
"Iya," jawab Elenio membuat Devan langsung mengerti saat netra Elenio terus menatap pada bangku penonton. Sudah jelas Elenio pasti sedang memikirkan Razella.