Dalam balutan seragam SMA Allana berjalan menenteng kresek putih hasil belanjanya. Sepulang dari sekolah tadi, Allana datang ke Minimarket untuk membeli beberapa bahan kue. Allana berinisiatif membuat kue untuk Elenio sebagai tanda ucapan selamat. Dia turut gembira Tim basketball SMA Cakrawala kembali memetik kemenangan.
Apalagi saat Allana melihat senyum yang terbit di wajah Elenio. Senyum itu juga menular padanya.
Dulu, senyum itu selalu merekah, senyum itu selalu hadir di tengah-tengah kebersamaan mereka bertiga. Namun, tragedi itu telah merenggutnya paksa.
Allana tidak pernah lagi melihat Elenio tersenyum barang sekilas lelaki itu cenderung terlihat murung. Terkadang Allana juga sering memergoki Elenio melamun.
Allana sampai di dapur rumahnya, dia menaruh kantong plastik itu di meja.
"Non Allana mau buat apa? Kayaknya seneng banget," tanya Bi Ratih yang sedang mencuci piring.
"Ini, Bi, Allana mau buat kue," jawab Allana tersenyum kecil.
"Bibi bantu ya, Non," tawar Bi Ratih.
"Jangan Bi. Biar Allana aja, Bibi pasti capek, Bibi istirahat aja ya," perintah Allana.
"Yaudah kalau begitu, panggil Bibi kalau butuh bantuan ya Non," kata Bi Ratih pergi setelah pekerjaannya selesai.
"Siap." Allana mengangkat tangannya seperti saat hormat. Dia menuju kamar berganti baju lalu kembali ke dapur lagi.
Allana dengan telaten menakar satu per satu bahan untuk membuat adonan. Tangannya sangat terampil menguleni adonan. Gadis itu terus mengulas senyum di wajahnya.
Allana menuangkan adonan itu pada cetakan berbentuk persegi panjang. Dia lantas memasukannya ke dalam oven.
"Sekarang tinggal nunggu kue- nya matang," ujar Allana. Dia segera menyiapkan bahan-bahan untuk menghias tampilan kue agar terlihat cantik.
Dengan memakai sarung tangan plastik bening Allana mengeluarkan kue yang sudah matang ke meja.
"Hm, aromanya enak," gumam Allana menghirup aroma bolu coklat buatannya. Khas dengan wangi coklat yang legit.
Allana memotong kue itu menjadi bentuk kotak menyesuaikan bungkus yang dia beli tadi.
Pelan tapi pasti, Allana mengoles butter krim putih hingga menutupi seluruh bagian kue. Di sisi kue Allana menghiasnya dengan lelehan coklat hitam. Sedangkan bagian atas kue, akan Allana beri tulisan begini, 'Selamat El.'
"Ayo Allana, kamu pasti bisa," kata Allana sedikit kesulitan membuat tulisan itu.
Peluh keringat membasahi wajah Allana. Dia sangat berhati-hati dan serius menghias kue untuk Elenio.
"Buat apaan Al?" tanya Devan tiba-tiba berada di hadapan Allana.
"Astaga!" Allana terkejut dengan kehadiran Devan.
"Gitu amat kagetnya," ledek Devan menatap wajah Allana.
"Jelas kaget orang kamu tiba-tiba ada di sini," balas Allana fokus menata kue.
"Lagian kamu serius banget. Aku coba ya," ujar Devan hendak mencolek butter krim itu dengan jarinya.
Allana dengan cepat mencegahnya. Dia memegang tangan Devan. "Eh, jangan dong Van," pinta Allana.
"Memangnya buat siapa Al? " tanya Devan penasaran.
"Hmm, rahasia," balas Allana membuat sebelah alis Devan berjengit ke atas.
"Bikin penasaran aja," cetus Devan dibalas senyum kecil oleh Allana.
"Tumben kesini, ada perlu apa?" tanya Allana mengusap clemek yang terkena tepung.
"Aku mau kasih ini, martabak buat kamu, kebetulan tadi lewat sini yaudah sekalian mampir dulu." Devan menyodorkan itu pada Allana.
Allana dengan senang hati menerimanya.
"Makasih Van."
"Aku pamit Al."
"Lho kok langsung mau pulang Van. Aku buatin minum dulu ya,"
tawar Allana.
"Gak usah, Al ngrepotin kamu, lagian aku harus pergi ada urusan," terang Devan.
"Gitu ya, hati-hati Van," Allana melambaikan tangannya.
***
Devinka baru saja keluar dari kamarnya, memakai pakaian rapi dan berdandan cantik. Dia melangkah menyapa Elenio.
"Gimana pertandingan basket kamu El?" tanya Devinka.
"Lancar Ma," jawab Elenio tenang yang duduk di kursi meja makan.
"Tim El berhasil menang," lanjut Elenio.
"Ini baru anak Papa, jagoannya Papa," puji Bagas yang memakai jas rapi merangkul pundak Elenio.
Elenio tersenyum kilat.
"Kamu memang berbakat El, selamat karena kerja keras kamu membuahkan hasil," puji Devinka penuh rasa bangga.
"Makasih Ma," jawab Elenio.
Mungkin semuanya akan ikut bangga dan bahagia. Namun jauh di hati kecil Elenio sebuah kemenangan ini terasa hambar.
"El, Mama sama Papa ada acara di luar, kamu gak pa-pa kan di rumah sendirian?" izin Devinka mengusap bahu Elenio.
"Iya," jawab Elenio seadanya.
Bagas dan Devinka yang saling bergandeng tangan itu pun melangkah keluar.
Elenio menghentikan kegiatan makannya. Dia menaruh sendok di sisi piring. Entah kenapa selera makannya tiba-tiba menghilang.
"Selama ini El selalu ngertiin Papa, El selalu mengalah, tapi Papa bahkan gak paham gimana keadaan El sekarang. Papa asik dengan dunia Papa sendiri," keluh Elenio.
Elenio berjalan menuju teras depan. Sekedar ingin merasakan sapuan lembut dari dinginnya angin malam. Elenio yang memakai baju hitam kini memejamkan mata.
Saat itu juga Elenio mendengar suara derap langkah mendekat. Kedua matanya terbuka mendapati seseorang tengah tersenyum manis seraya membawa kotak yang entah isinya apa.
Raut wajah Elenio berubah drastis dari yang semula tenang kini menjadi menyeramkan.
"PERGI!" titah Elenio menunjuk tangannya ke arah gerbang. Tatapannya menusuk manik mata Allana dalam-dalam.
Kedatangan Allana membuat Elenio murka.
"Aku kesini cuma kasih ini El," Allana mengulurkan kotak kue pada Elenio "selamat atas kemenangan kamu," ujar Allana.
"Aku gak butuh kue, ucapan atau apapun pemberian kamu! Yang aku mau kamu pergi dari hadapan aku," hardiknya keras.
"Tapi kamu terima ya," pinta Allana mencoba terus tersenyum.
Elenio menerima kue itu matanya menatap sebentar, kemudian dia membanting kue itu ke lantai. Membuat Allana melotot tidak percaya melihat perlakuan Elenio.
"Itu yang kamu mau kan?!" gertak Elenio.
Allana berusaha tegar.
"Apa kamu gak bisa menghargai kue itu?"
"Gak! Aku terlanjur benci sama kamu Al! Kamu gak punya hak mengatur aku apalagi memaksa aku buat terima pemberian kamu," balas Elenio.
"Satu lagi aku gak butuh kehadiran kamu! Adanya kamu cuma menjadi perusak kehidupan aku! Aku cuma butuh Razella di sini," ungkap Elenio terlanjur kesal.
"T-tapi dia udah gak ada El ... ka-kamu harus ikhlas," jawab Allana tenggorokannya tercekat. Lidahnya kelu karena menahan pilu.
"Terus, maksud kamu dengan Razella gak ada, kamu bisa gantiin posisi dia di hati aku? Itu yang kamu mau? Gak akan pernah!" seru Elenio berapi-api.
"Bukan itu, gak ada salahnya kita seperti dulu lagi supaya kita bisa sama-sama saling merangkul dan menguatkan," kata Allana mencoba sedikit meruntuhkan tembok ego dalam diri Elenio.
"GAK!" Elenio segara masuk ke dalam rumah. Membanting kasar pintu rumah seraya mengunci pintunya rapat.
Allana menggedor pintu.
"El aku mohon maafin aku, apa yang kamu lihat itu salah paham El, sedikit aja kamu ngertiin aku El," jelas Allana terisak. Air matanya mengalir deras.
Allana menangis, menatap nanar pada sekotak kue yang kini hancur berantakan. Gadis itu berjongkok mengambil bagian kue yang tercecer di lantai lalu memasukkannya kembali ke kotak dalam keadaan sudah tak berbentuk lagi. Susah payah Allana membuat semua ini. Susah payah dia menyusun hiasan kue itu, tapi Elenio dengan mudahnya merusak kue itu tanpa rasa simpati.
Sebenarnya hati Allana sudah mengatakan, mustahil jika Elenio mau menerima, apalagi memakannya. Dengan rasa optimisnya Allana menepis semua keraguan itu.
Allana mengusap kasar air matanya. "Kamu gak boleh menyerah Allana. Cepat atau lambat Elenio pasti akan luluh," lirih Allana menguatkan dirinya sendiri. Dengan berat hati Allana membuang kue itu ke tempat sampah.
Allana berjalan keluar dari rumah Elenio dengan wajah menunduk. Pergi bersama luka hati yang menganga.
Sementara Elenio yang mengintip dari jendela segera menutup tirai jendela itu cepat. Ego-nya telah menutupi kata hatinya. Kebencian itu berhasil membuatnya mengabaikan hati nuraninya.
Di seberang jalan, seseorang yang sedari tadi duduk di atas motor terus mengamati pertengkaran yang terjadi antara Elenio dan Allana.
Dia hanya bisa menggeram emosinya. "Dasar laki-laki gak punya hati!" Devan memukul tangki motornya. Devan sengaja mengikuti Allana. Dia penasaran untuk siapa kue itu dibuat.
"Seandainya kue itu, kamu kasih ke aku, aku pasti akan dengan senang hati menerimanya Al, tapi sayangnya itu buat El yang jelas-jelas masih menaruh benci sama kamu," ujar Devan menyayangkan.
Devan mulai berandai. "Coba aja, kalau rasa suka kamu itu buat aku, aku akan buat kamu bahagia Al," lanjutnya merengut layu.
Jika saja Allana tidak memintanya untuk menjaga hubungannya dengan Elenio, mungkin saat itu juga Devan akan datang membela, menghajar Elenio habis-habisan di depan Allana. Tidak peduli jika wajah Elenio akan babak belur nantinya.
***
Allana berlari menerobos masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat lusuh serta ada bekas noda coklat di kedua telapak tangannya.
"Gimana Non, usahanya berhasil?" tanya Bi Ratih menghampiri.
Allana menggeleng lemah dia segera pergi ke kamar.
"Astaga! Aku ini kok tanya gitu, sudah jelas tadi Non Allana nangis. Pasti usahanya belum berhasil, kasihan kamu Non," ujar Bi Ratih merasa miris saat melihat kehidupan Allana yang terus-menerus dipenuhi derai air mata.
***
Allana menulungkupkan wajahnya di bantal seraya memukul kasur kuat. Hanya di kamar Allana menumpahkan seluruh tangisanya. Hanya di kamar dia bisa menangis dengan bebas.
Allana mencurahkan isi hatinya.
"Apa semesta memang tidak mengizinkan aku untuk bahagia?"
"Apa aku harus terus-menerus menderita?" tanya Allana.
"Tolong bantu aku. Allana butuh pertolongan juga kekuatan darimu Tuhan," Allana memandang ke atas.
Hanya bukti yang bisa memperbaiki semua kondisi ini. Allana harus segera menemukan petunjuk lagi. Allana tidak boleh terpuruk seperti ini.
Allana menatap ke langit kamar. Mencoba mencari jalan untuk bisa memecahkan kasus ini.
Kuncinya, Allana harus mencari bukti yang signifikan bahwa dirinya memang tidak ada sangkut pautnya dengan meninggalnya Razella. Allana harus cepat menelusuri. Hanya satu tempat itu yang harus dikunjungi Allana.
"Satu-satunya harapan hanya itu.
Iya, mungkin di sana akan ada petunjuk," gumam Allana. Masih ada secercah harapan baginya.
Allana harus mulai menyelidiki. Walau tidak seratus persen yakin tapi mencoba memastikan adalah pilihan terbaik.