Sebelum memulai aksinya, Allana lebih dulu membekali diri dengan memakai pakaian serba hitam dilengkapi penutup wajah.
Tujuannya agar menjaga identitas Allana supaya tidak diketahui orang, mengantisipasi jika ada orang yang tiba-tiba memergokinya. Allana tidak perlu khawatir karena orang itu pasti sulit mengidentifikasi siapa dirinya.
Allana berdiri di depan cermin menatap pantulan dirinya sendiri. Persis seperti seorang agen rahasia yang menyamar, menurut Allana ini tidak berlebihan. Mengingat keamanan adalah bagian utama.
"Ini waktunya," ucap Allana meyakinkan diri.
Memutuskan pergi pada saat tengah malam. Allana tidak pernah senekat ini. Menyingkirkan rasa takutnya akan kegelapan, Allana bertekad memecahkan persoalan ini sendiri.
Allana membuka jendela kamar berbentuk persegi panjang itu lalu mengeluarkan satu kaki disusul kaki satunya. Dia kembali menutup jendela kamarnya. Pelan, sangat pelan.
Berjalan mengendap dan tetap waspada menghadapi situasi. Kepala Allana melingak was-was dengan keadaan sekitar.
Langkah demi langkah Allana terus berjalan melewati jalan sempit antar komplek.
"Huh. Aman," lirih Allana bernapas lega. Keringat di dahinya menetes ke pipi. Juga telapak tangannya yang basah akibat rasa takut bercampur degup jantung yang berdebar-debar.
Allana kini telah berada di pintu belakang rumah. Hanya di tempat ini harapan terakhir Allana. Satu tangannnya memegang gagang pintu. Tanpa lama-lama Allana segera masuk. Dia lantas menghidupkan senter ponsel untuk menerangi penglihatan.
Sungguh, badan Allana sedikit gemetar. Bahkan untuk meneguk ludahnya sendiri Allana tampak kesulitan akibat rasa takut yang kian menggeluti.
Bukan karena takut ada hantu, tapi atmosfer disini terasa mencekam. Jantung Allana kembali berpacu kencang. Saat jejak kakinya melewati tempat dimana Razella terkapar ditemukan tak bernyawa.
"Ra-razella," lirih Allana serak tenggorokannya terasa tercekat.
Wajah Allana terlihat pucat pasi. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Allana Berdiri mematung disana. Seolah-olah mata Allana melihat tubuh Razella tergolek lemas di lantai berlumuran darah.
Setetes cairan bening turun dari pelupuk mata Allana. Dia tak kuasa membendungnya. Kala mengingat sebuah kejadian emosional yang mempora-porandakan hati dan hidupnya.
Allana lantas menggelengkan kepalanya cepat untuk mengambil alih kesadaran.
"Ingat tujuan kamu kesini Allana," peringat Allana berdialog sendiri. Dia terus mencoba meneguhkan hati.
Allana memasuki area kamar Razella. Sebenarnya Allana takut setengah mati. Tapi dia harus melawan ketakutan itu jika ingin mendapatkan bukti. Dengan hati-hati, Allana menyisir segala barang dan benda yang ada di sana. Dari mulai membuka laci, lemari, dan memeriksa area bawah tempat tidur.
Allana sudah mencarinya di mana-mana. Tapi nihil Allana tidak menemukan apa-apa.
"Kenapa kamu gak ninggalin petunjuk lagi Ra?" gumam Allana mulai kehilangan asa.
"ASTAGA! Apa itu?" Rasanya jantung Allana akan keluar dari tempatnya. Terkejut, akibat
sesuatu terjatuh dari atas lemari.
Allana mengarahkan cahaya senter itu untuk memeriksa. Napas Allana berembus tenang.
"Cuma kardus," ujar Allana.
Karena penasaran Allana mengambil kotak kardus sepatu itu lalu membukanya. Kotak itu berisi dua pasang sepatu milik Razella yang masih baru. Allana merogohkan tangannya ke dalam.
Ternyata setelah meneliti lebih dalam lagi, Allana menjumpai secarik kertas yang dimasukkan ke area dalam sepatu.
"Umur kita sekarang, berkaitan dengan kematian seseorang," bunyi kalimat yang tertera di kertas putih itu.
Lagi-lagi petunjuk ini adalah teka-teki. Entahlah, Allana juga dibuat kebingungan menafsirkan maksud dari Razella. Apa Razella memang sudah mengira jika ia akan dibunuh? Pertanyaannya, kenapa Polisi cepat sekali menyimpulkan motif kematian Razella karena bunuh diri hanya dengan satu bukti kertas berisi surat terakhir. Menurut Allana bukti itu tidak terlalu kuat untuk menguak alasan sebenarnya.
"Ada yang gak beres," duga Allana pikirannya diselimuti berbagai asumsi.
Razella tipe orang yang sangat terbuka pada Allana, dia selalu berbagi cerita dengan Allana. Tapi mungkin, ada sesuatu hal yang Razella sembunyikan. Dan itu yang menjadi misteri hingga kini.
Di kepala Allana sekarang muncul spekulasi-spekulasi tentang rahasia besar yang mungkin Razella ketahui. Jadi, untuk mencegah Razella membongkarnya orang yang bersangkutan lebih memilih melenyapkan Razella demi terjaganya keutuhan rahasia.
Kurang lebih begitulah yang bisa Allana tangkap dari arti kalimat itu.
Sadar akan posisi dimana Allana berada sekarang. Dia memilih pulang dan melanjutkan pemikirannya nanti.
Allana keluar dari rumah Razella, semua berjalan sesuai rencana.
Berjalan menyusuri jalan yang diiringi lampu remang-remang serta disambut dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Allana merasa gelisah, seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Dia melangkah gusar, Allana lantas semakin mempercepat laju langkahnya. Allana benar-benar takut, sepertinya orang itu juga ikut mempercepat langkah kakinya.
Allana berlari secepat kilat menuju rumahnya. Allana bersyukur akhirnya dia sampai di depan jendela kamarnya. Buru-buru Allana masuk dan mengunci rapat jendelanya lalu menutup gorden yang masih menganga.
Napas Allana memburu, dadanya naik turun mengatur ritme pernapasan yang berantakan.
Allana melepas penutup wajahnya. Setelah merasa aman dan tenang Allana kembali membaca kalimat yang kertasnya tidak sengaja dia remas saat berlari tadi.
"Umur kita berkaitan dengan kematian seseorang?"
"Delapan belas?" tanya Allana meresapi kalimat itu.
"Almarhum Ibu dan Ayah Razella meninggal tanggal 21," gumam Allana memetakan kembali pemikirannya. "Berarti bukan itu,"
Allana membelalakan mata. Terkejut. "Tanggal ini ... tanggal kematian Ibunya El," ujarnya yakin.
Setelah berpikir panjang Allana baru mengerti. Ini berhubungan juga dengan kematian Amara Ibu Elenio.
"Jadi untuk menuntaskan kasus kematian Razella. Aku harus terlebih dahulu mencari kebenaran atas penyebab kematian Ibunda El," kata Allana mencermati.
"Tapi itu kan udah dua tahun yang lalu," keluh Allana.
Setahu Allana, waktu itu Amara mengalami kecelakaan akibat rem mobilnya blong, sehingga mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang. Saat ditemukam Amara masih dalam kondisi bernyawa. Namun denyut nadi dan kondisinya kian melemah. Akibat luka di kepala yang cukup serius.
Amara dibawa ke ruang UGD dalam keadaan kritis. Dan keesokan harinya dinyatakan meninggal. Padahal beberapa jam sebelumnya kondisi Amara mulai membaik.
"Hidup dan mati memang rahasia dan kuasa Tuhan," kata Allana tapi dari situ dia merasa ada kejanggalan.
"Mungkin ada semacam sabotase di dalamnya," tebak Allana menerka.
Semuanya masih terlihat abu-abu dan Allana harus mencari titik temu. Allana harus kembali merekam jejak, tapi pada siapa dia akan bertanya? Pada Elenio itu tidak mungkin, laki-laki itu pasti akan semakin mencurigai. Bertanya pada Devinka bukanlah pilihan yang tepat, walaupun Devinka ibu sambung Elenio tampaknya Devinka tidak tahu menahu tentang hal itu karena dia hanyalah sosok baru di kehidupan mereka. Allana merasa ragu untuk menanyakan. Atau mungkin pada Bagas? Allana berfikir dua kali, dia tidak ingin membuka kenangan lama dan menghadirkan luka kehilangan yang berusaha disembuhkan.
Sesaat, setelah melewati skema pemikiran panjang. Allana merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia memutuskan untuk tidur, kepalanya terasa berat. Pusing sekarang yang Allana rasakan akibat efek sering begadang membuat Allana dilanda overthinking. Seperti manusia umumnya Allana juga butuh ketenangan pikiran.
"Ada satu lagi, orang yang juga tau tentang ibunya El, dia mungkin bisa bantu aku," kata Allana teringat.
***
Hari ini adalah hari libur, hari yang pas untuk Allana kembali menggali informasi. Masih dalam mode penyamaran yaitu memakai topi hitam dan masker hitam. Allana menaiki taksi mendatangi Kantor Polisi. Guna menanyakan informasi lebih lanjut tentang penyebab meninggalnya Ibunda Elenio.
Sekian menit berlalu Allana sampai di tempat yang dia tuju. Allana membuka topi hitamnya.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Polisi begitu melihat Allana duduk.
Allana menghembuskan napasnya.
"Jadi begini Pak, kedatangan saya kemari ingin menanyakan penyebab kematian seorang wanita yang bernama Amara. Kalau tidak salah beliau meninggal karena kecelakaan apa benar?" tanya Allana.
Kening Polisi itu mengerut dalam.
"Kalau boleh tau anda ini punya hubungan apa dengan korban?" tanya Polisi dengan pandangan menyelidik.
"Saya sahabat anaknya korban," jawab Allana tegas agar Polisi itu yakin. Padahal sesungguhnya Allana merasa grogi.
"Baik sebentar," balas Polisi itu lalu membuka data melalui komputer.
Detik berlalu, Allana yang cemas terus mengetukan jemari pada pahanya.
"Menurut data kami Almarhum ibu Amara meninggal karena ada kerusakan pada mesin rem. Juga diakibatkan kecepatan mobil berada diatas rata-rata kabel rem terputus sehingga mobil hilang kendali dan terperosok ke jurang," jelas Polisi itu.
"Apa kasus ini tidak diselidiki lebih lanjut lagi?" tanya Allana ingin agar kasus ini bisa diusut tuntas.
"Dari keluarga korban sudah memutuskan untuk tidak lagi melakukan penelusuran. Mereka bilang sudah mengiklaskan dan percaya ini memang sudah takdir," jawab Polisi itu lugas.
"Pak, saya mohon tolong selesaikan kasus ini," mohon Allana, dia merasa ada keanehan.
"Kejadian ini sudah dua tahun yang lalu dan untuk menemukan barang bukti, kemungkinan cukup sulit. Penyelidikan ini juga harus atas persetujuan keluarga Almarhum, apa anda sudah mengantongi izin dari keluarga Almarhum?" tanya Polisi.
"Ini inisiatif saya sendiri Pak, kalau memang tidak bisa tidak apa-apa," jawab Allana.
'Sebenarnya aku masih curiga tentang rem yang tiba-tiba blong itu. Setahu aku keluarga El selalu rajin untuk memeriksa kendaraan secara berkala, tetapi kenapa insiden itu bisa terjadi?' tanya Allana dalam benak.
Mungkinkah ada sabotase di dalamnya? Sungguh, kepala Alllana dihujani banyak pertanyaan.
"Kalau begitu terima kasih atas informasi dari Bapak. Permisi Pak," balas Allana sopan.
"Sama-sama. Baik silahkan," balas Polisi itu.
Allana menghela napasnya kasar. Jawaban itu bukanlah yang Allana cari. Kasus ini masih diselimuti kabut tebal yang menghalagi pandangan Allana.
"Sabar Allana, semuanya butuh proses," ujar Allana mengingatkan dirinya.
Dia kembali masuk ke dalam taksi.
"Pak, kita ke rumah sakit sekarang," ucapnya diangguki oleh sopir taksi online tersebut.
Saat taksi itu melintas melewati jalan menuju Danau. Allana melihat motor Elenio terparkir di pinggir jalan.
"Pak, berhenti sebentar," perintah Allana.
"Saya keluar sebentar, Bapak tunggu saya, ya," pamit Allana
"Baik, dek," jawab Pak Sopir.
Allana menyeberang jalan. Kedua kakinya menapaki jalan yang penuh dengan rumput hijau juga pepohonan rindang yang tumbuh disekitar area Danau.
Pemandangan di sekitar Danau tidak pernah menjemukan apabila kita terus menatapnya, malah sebaliknya, kita akan terpesona dengan air Danau yang terlihat bersih dan bening.
Tepat dugaan, di sana Allana menemukan Elenio yang duduk sendiri di naungan pohon yang menyejukkan.
"Kenangan di sini selalu punya cerita tersendiri, tempat ini yang menjadi tempat di mana kita bertiga dulu bertukar cerita dan saling memberi dukungan. Tempat kita menangis dan juga tertawa," tangis Allana kembali pecah melihat Elenio yang terus melempar batu kecil ke danau. Kebiasaannya dari dulu tidak pernah hilang.
Jika bisa, Allana ingin memutar waktu dan mencegah agar tragedi itu tidak terjadi. Tapi Allana sadar dia tidak memiliki kekuasaan itu, dia hanya manusia, seorang manusia yang berusaha menjalani dan menerima takdirnya.
Allana percaya, selagi apa yang dia lakukan adalah hal baik maka hal itu pasti akan kembali padanya dalam waktu yang tepat menurut semesta.
"Aku janji, aku akan mengungkap semua hal yang masih menjadi misteri," tekan Allana fokus pada tujuan.