Berpakaian rapi dengan seragam yang membalut tubuhnya. Elenio turun dari tangga seraya menyampirkan ransel-nya di sebelah bahu. Dia berjalan ke arah meja makan. Satu tangannya menarik kursi lalu duduk di sana.
"Apa, Papa ingat sesuatu tentang hari ini?" tanya Elenio menatap lekat Bagas yang tengah meminum kopi. Berharap jika Ayahnya ini tidak akan pernah melupakan hal penting itu
Bagas menautkan kedua alisnya, tampak berfikir. Mencoba mencerna maksud dari Elenio.
"Papa gak ingat El, memang ada apa?" tanya Bagas dia benar-benar merasa tidak memiliki janji apapun dengan Elenio.
Seketika raut wajah Elenio berubah. "Gak ada apa-apa," ucapnya terdengar dingin.
Devinka yang baru saja duduk setelah meletakan buah pisang di meja. Lantas menatap Bagas dengan wajah tampak berseri-seri.
"Mas, nanti jadi, kan? Pulangnya jangan malam-malam ya," peringat Devinka tersenyum manis ke arah Bagas.
"Iya jadi, 'kan sudah janji," kata Bagas membalas senyum Devinka.
Bagas berdiri. "Papa berangkat, udah siang. Kamu yang rajin belajarnya," pesan Bagas menepuk pundak Elenio.
'Giliran tentang kebahagiaan Papa. Papa selalu ingat, Papa memang egois!' batin Elenio memegang gelas s**u itu kuat seakan ingin meremukkannya.
Elenio lantas menggeser kursinya beranjak pergi, pikirannya kalut perasaanya tidak karuan. Bisa-bisanya Bagas melupakannya begitu saja. Benar, mungkin rasa itu telah lama lenyap seiring dengan berjalannya waktu. Bagas benar-benar telah melupakan seluruh kenangan lamanya.
"El, kamu belum sarapan," peringat Devinka namun Elenio malah menampilkan ekspresi tidak ramah. Sorot mata itu menyiratkan amarah juga kekecewaan. Sebenarnya apa yang membuat Elenio seperti ini.
"El kenapa, ya? Gak biasanya dia bersikap begitu?" tanya Devinka heran namun dia lebih memilih diam dan membiarkan Elenio berlalu.
***
Allana dan Tania, baru saja akan kembali dari Perpustakaan setelah Allana mengembalikan beberapa buku yang dia pinjam beberapa hari yang lalu. Saat keduanya saling bercengkrama dan tertawa. Sasha bersama Nita berdiri menghadang langkah mereka.
Tania berdecak malas. "Minggir Sa!" perintah Tania penuh penekanan. Tania tahu Sasha pasti akan berulah lagi.
"Tunggu, gue mau nanya sama Allana," kata Sasha membuat
Allana terus menatapnya.
"Biasa aja kali natapnya serius amat!" Nita mencibir.
"Lo itu sebenarnya anak kandung, apa anak pungut sih?! Bisa-bisanya keluarga lo sendiri gak ngakuin lo!" seru Sasha tertawa saat teringat Allana yang terjatuh di Pesta semalam. Gadis itu terlihat lemah di depan banyak orang. Allana seolah membeku, diam tak berkutik.
"Allana yang malang," imbuh Nita tersenyum culas.
"Jangan ikut campur urusan orang!" balas Tania yang berada di sisi kanan Allana.
"Gue gak ikut campur, gue cuma komentar. Lagian tadi malam gue juga liat, Allana jadi ditatap aneh sama orang-orang karena kecerobohannya," ujar Sasha ingin membuat Allan merasa malu seketika.
"Dan yang paling miris, kedua orang tuanya itu cuma sayang sama Rama anak laki-laki yang digadang-gadang sebagai penerus dan pewaris perusahaan Kusuma," lanjut Sasha menyudutkan Allana.
"Wajarlah, mereka bersikap begitu. Mereka jelas malu, punya anak kayak Allana, pinter aja nggak, apanya yang mau dibanggain?" sindir Sasha memukul telak batin Allana.
Tubuh Allana memanas dia
menghela napas panjang.
"Cukup Sa, tolong hargai privasi aku. Hidup aku biar aku yang jalani, urus hidup kamu sendiri!" seru Allana.
"Jadi gitu ya? Dengar Allana lo itu memang gak pantas buat bahagia! lo itu lebih cocok menderita. Udah, terima aja takdir lo," balas Sasha mendorong bahu Allana dengan telunjuknya.
Allana memandang Sasha dengan emosi yang tertahan. "Kita gak pernah tau hidup kita akan berakhir seperti apa, tapi sebisa mungkin aku akan menjalani hidup aku dengan baik," pungkas Allana dengan sorot mata keyakinan.
"Oh, jadi gitu," balas Sasha mengibaskan rambutnya yang terkesan angkuh.
"Kita lihat aja, apa kebahagiaan itu akan berpihak sama lo!" seru Sasha menatap tajam Allana.
Sementara Tania sedari tadi sangat ingin membalas. Tapi Tania berusaha tenang karena Allana memegang sebelah tangannya.
"Kita pergi Nit," ajak Sasha lalu melenggang pergi.
"Pergi sana! Dasar suka nyinyir! Lama-lama aku jahit mulut kalian berdua!" geram Tania jengkel mati-matian Tania menahan luapan amarahnya.
Tania menghembuskan napasnya panjang. "Jangan didengerin Al, dan jangan dimasukin hati," pinta Tania lembut.
"Iya Ta," jawab Allana apa adanya.
"Aku itu heran, kenapa di dunia ini itu ada tipikal manusia kayak dia," kesal Tania.
"Ya, karena sifat dan watak manusia itu beragam Ta, mereka ada mungkin sebagai alat pembelajaran sekaligus menguji seberapa bisa kita mengatasi semuanya,"
"Aku salut sama kamu Al, kamu bener-bener sabar dan rendah hati," puji Tania.
Allana tersenyum. "Aku banyak belajar dari Razella dia selalu ingetin aku untuk kuat dan jangan pernah menaruh benci sama orang lain," kata Allana tulus. Tania memeluk Allana. Dia beruntung bisa bertemu sekaligus berteman dengan manusia sebaik Allana. Mungkin kini, giliran Tania yang harus banyak belajar dari Allana.
**
Allana tidak bisa duduk tenang di bangkunya, dia kian dilanda
rasa gelisah. Menengok ke arah jam dinding yang sebentar lagi menujukkan pukul 07:00 pagi, itu artinya bel masuk sekolah akan segera berbunyi namun, Elenio tak kunjung hadir. Perasaan Allana diliputi cemas, takut jika terjadi sesuatu pada Elenio.
"El, kok belum datang ya Ta?" tanya Allana terus memandang ke arah pintu.
Tania yang sibuk menulis beberapa catatan terhenti. "Gak tau, biasanya juga udah sampai," balas Tania.
"Apa jangan-jangan dia kenapa-napa?" Allana semakin khawatir, dia menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kamu tenang aja, El aman kok," jawab Tania tenang.
"Kamu tau darimana?" tanya Allana ragu.
"Perasaan aku bilang gitu," balas Tania.
'Semoga apa yang dibilang Tania benar, tapi kamu kemana El.'
***
Hatinya benar-benar hancur. Dia butuh pelampiasan, Elenio butuh tempat untuk menyalurkan segala emosinya. Mengendarai motornya diatas rata-rata sembari menyalip satu per satu kendaraan. Membuatnya terus diklakson berkali-kali oleh pengendara jalan lainnya. Belum lagi kata-kata umpatan yang tertuju padanya, namun Elenio seolah menulikan indra pendengarannya.
Laju kuda besi milik Elenio terhenti, dia melepas helm fullface-nya. Tubuhnya masih terbalut seragam, tanpa pikir panjang. Dia lantas masuk ke tempat Gym. Ini pertama kalinya Elenio bolos dari sekolah, sulit baginya untuk menyerap pelajaran dalam kondisi hati juga pikiran yang tak beraturan. Ya, hari ini bukanlah hari yang baik untuknya.
Memakai sarung tangan tinju berwarna merah. Elenio telah berdiri di depan samsak. Satu pukulan dia daratkan di sana.
"ANJING! DASAR EGOIS! EGOIS!" rutuk Elenio. Emosi negatif itu telah menggerogoti hatinya. Dia terus meninju samsak di depannya. Berpuluh-puluh kali hingga seluruh tubuhnya dibanjiri oleh peluh keringat. Elenio ingin menghabiskan seluruh energinya agar beban pikiran itu bisa sedikit menyingkir pergi.
Setelah benar-benar lelah, Elenio membaringkan tubuhnya di atas matras. Tergolek lemas dengan bulir keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam dalam kesepian. Hatinya terasa hampa dalam kerinduan.
***
Elenio merasa amarahnya mulai mereda. Selepas dari tempat Gym dia menuju toko bunga. Berbagai warna-warni bunga menyambut kedatangannya. Semerbak wangi bunga juga turut menyeruak masuk ke indra penciuman Elenio. Dia berjalan memilih bunga yang akan dibelinya. Pilihannya jatuh pada bunga mawar putih yang sangat bersih. Elenio mengambil bunga itu mendekatkan bunga itu di bawah hidungnya seraya Menghirup aroma wangi bunga yang menenangkan.
Bunga ini bunga kesukaan Amara. Dulu, Amara sangat gemar menanam berbagai jenis bunga di halaman rumah, namun bunga mawar putih lah yang paling mendominasi.
Semenjak Amara meninggal, Elenio sudah berusaha menjaga dan merawat bunga peninggalan Amara tapi entah kenapa bunga itu layu dan akhirnya semua mati.
"Saya beli dua buket bunga Mawar putih," pinta Elenio dibalas anggukan oleh sang penjual.
"Ini uangnya."Elenio menyodorkan selembar uang merah.
"Ini kembaliannya," kata penjual itu.
"Gak usah, ambil aja Pak," ujar Elenio mengulas senyum
"Terima kasih," balas penjual itu.
"Iya," jawab Elenio memasukkan bunga itu di ranselnya, dia lantas
kembali menaiki motornya.
***
Wajahnya tampak sendu diiringi tatapan mata yang meredup, Elenio melangkah mendekati makam Amara. Sudah ada satu buket bunga mawar putih dengan pita berwarna hitam.
"Siapa yang taruh ini?" tanya Elenio melihat sekeliling. Tidak ada orang. Elenio memilih duduk berjongkok kemudian Elenio mengusap batu nisan itu lalu menciumnya. Rasa rindu itu menguar. Dia merindukan sosok perempuan yang selalu memberinya kasih sayang.
"Ini El, Bun, semoga Mama tenang ya di sana, Bunda adalah ibu terbaik bagi El. Walaupun Bunda sekarang udah pergi, tapi hari ini hari lahirnya Bunda, El sayang Bunda. El, selalu berdoa, semoga Bunda bahagia di sana, di sisi yang maha kuasa," Elenio menaruh bunga mawar putih itu.
"Bunga itu gak mungkin dari Papa. Papa keterlaluan Nda, Papa bahkan lupa sama tanggal istimewa Bunda."
***
Seolah menjadi agenda wajib bagi Hanna setiap seminggu sekali, dia tidak pernah absen untuk mengikuti kegiatan arisan yang diadakan oleh kalangan Ibu-Ibu sosialita.
"Hai, apa kabar," sapa Rani yang datang lantas duduk diantara perkumpulan itu. Rani merupakan ibu dari Sasha.
Hanna hanya meliriknya sekilas lalu memalingkan wajahnya. Hubungan Hanna dan Rani memang tidak terjalin dengan baik akibat persaingan siapa diantara mereka yang mempunyai anak paling berprestasi.
Rani menatap wajah Hanna yang terlihat masam. Rani membuka galeri ponselnya.
"Anak saya, Sasha itu cantik banget, liat deh fotonya," kata Rani menunjukkan layar ponselnya.
"Eh iya cantik banget, ya," puji mereka.
"Percuma cantik kalau otaknya kosong," sindir Hanna.
Rani merasa tersinggung dengan ucapan Hanna. "Memangnya anak kamu sepintar apa? Kalau Rama sih, saya sudah tau tapi, kalau yang perempuan kok saya gak pernah denger dia punya prestasi atau jangan-jangan otaknya dia kosong?!" balas Rani membuat Hanna naik darah. Kalimat yang seharusnya menyerang Rani malah berbalik mengenai dirinya.
"Hanna kamu punya anak perempuan?" tanya Anggun.
Hanna bergeming, kedua tangannya terkepal erat.
Rani kembali bersuara untuk menjelaskan.
"Lho, kalian semua gak tau, ya, itu namanya Allana kakaknya Rama," terang Rani.
"Kenapa gak pernah cerita?" tanya Anggung menatap Hanna.
"Hanna malu kali, punya anak yang gak berprestasi," sahut Rani.
"Walaupun Sasha ini, nilai akademiknya masih rata-rata. Tapi, anak saya ini sangat berbakat dia jadi ketua cheersleaders di sekolah. Dia anaknya supel. Gak heran kalau Sasha itu populer di SMA Cakrawala," papar Rani sangat senang.
"Wah, hebat ya Sasha udah cantik, berbakat lagi."
"Iya bangga banget saya," balas Rani senyumnya mengembang.
Sementara Hanna terbakar api amarah di dadanya, dia tidak tahan mendengarkan celotehan tidak berguna dari mulut Rani. Lantas, tanpa berucap sepatah kata pun Hanna memilih pergi.
"Mau kemana Hanna?" tanya Anggun.
"Dia marah," sahut yang lainnya.
"Gitu aja kok marah sih."
"Udah-udah, biarin aja, kita lanjutin aja ngobrolnya," ajak Rani kembali melanjutkan topik pembicaraannya.
***
Di dalam mobil, setelah Hanna menjemput Rama dari les belajarnya. Hanna tidak berhenti mengomel, dia terus-menerus menggerutu membuat telinga Rama panas mendengarnya.
"Dia pikir anak dia paling hebat apa. Kayak gitu aja dibanggain," sungut Hanna.
"Udah dong, Ma, kan ada Rama," sahut Rama terganggu dengan suara cempreng milik Mamanya.
"Kita mampir ke rumah Allana. Mama mau labrak dia," pungkas Hanna.
"Terserah Mama," kata Rama asik memainkan ponsel dalam genggamannya.
Allana yang baru saja pulang dari sekolah. Dikejutkan dengan Hanna dan Rama yang duduk di teras depan.
'Tumben mereka datang kemari,' batin Allana.
"Ini semua gara-gara kamu Allana!" seru Hanna ekspresi kemarahan tercetak nyata di wajahnya.
Kedua alis Allana saling bertaut.
Apa lagi ini? tanya Allana dalam hati.
"Kapan sih Allana kamu bisa peringkat satu?! Kapan kamu pintarnya?" tegur Hanna.
"Allana juga usaha, Ma," jawab Allana.
"Halah, itu cuma alasan kamu! Kamu pasti gak serius belajarnya iya kan," tuduh Hanna.
"Ma, cukup, Allana ini manusia. Allana juga berupaya tapi semuanya butuh proses, Ma," papar Allana lelah. Lelah berada di kondisi selalu disalahkan.
"Terus, maksud kamu apa, datang diacara besar Perusahaan? Kamu mau bikin malu Keluarga iya?!" cecar Hanna.
Allana menggeleng, tidak pernah terbesit di benaknya untuk mengacaukan acara itu.
"Allana kan diundang sama Mama," ungkap Allana.
"Saya?!" tunjuk Hanna pada dirinya. "Mana buktinya?" pinta Hanna.
"Sebentar, Allana ambil ponsel," ujar Allana merogoh ponsel di sakunya.
"Awas kalau kamu berbohong!" peringat Hanna.
"Yah lowbet, ponsel Allana mati. Allana charger dulu ya, Ma," ucap Allana hendak berjalan masuk mengambil charger namun lengannya dicekal oleh Hanna.
"Kamu itu ngaco ya, buat apa saya ngundang kamu?!" tegas Hanna semakin muak menatap Allana.
"Tapi chat itu benar-benar dari Mama," tegas Allana.
Hanna lantas menujukkan riwayat pesan di ponselnya.
"Buktinya kosong! Saya gak pernah chat kamu, apalagi sampai mengundang kamu!"
"Terus siapa?" tanya Allana menatap curiga pada Rama.
"Kamu kan, yang sengaja kirim chat pakai ponsel Mama dan seolah-olah kamu adalah Mama," tuduh Allana.
"Kenapa kamu nuduh aku? Aku sibuk buat persiapan acara. Mana ada waktu aku isengin kamu." Rama mengelak.
"Berhenti salahin Rama! Apa yang dikatakan Rama benar," bela Hanna langsung memasang badan.
"Apapun yang berkaitan sama Rama pasti benar. Mama gak pernah sekalipun menyalahkan Rama jika dia benar-benar salah. Mama tidak pernah menegur Rama tapi malah sebalilnya Mama malah bersikap memanjakan Rama. Aku yakin ini pasti kamu kan Ram? Ngaku kamu Ram! Memangnya siapa yang berani menyentuh ponsel dan tau kata sandi Mama selain Mama dan mungkin kamu," jelas Allana, dia yakin, seribu yakin semua ini ulah Rama.
"Sebenarnya kamu iri kan sama aku?" tanya Rama sombong menaikkan sebelah alisnya.
"Aku gak iri sama kamu, aku hanya ingin Mama sama Papa bisa berlaku adil untuk kita," tuntut Allana.
"Hentikan tuduhan kamu itu!Jangan menyudutkan Rama!" gertak Hanna, suaranya meninggi.
"Lihat sendiri kan, Mama selalu membela kamu dan mereka selalu memojokkan aku," kata Allana.
"Wajar saya bersikap begini, karena Rama adalah aset berharga keluarga ini," balas Hanna kembali menggoreskan luka perih di hati Allana.
"Allana capek, mau istirahat," ujar Allana berjalan masuk.
"Dasar tidak sopan!" seru Hanna membuat Allana berbalik badan.
"Bukannya urusannya udah selesai, toh kalaupun memang benar Rama yang melakukan, dia tidak akan Mama maki. Jadi, untuk apa Allana tetap berdiri jika ujungnya Mama hanya terus membandingkan Allana dan Rama," pungkas Allana terlanjur sangat kecewa.