"El, Mama, beliin sepatu buat kamu," panggil Devinka, wajahnya terlihat sumringah dengan kedua tangan membawa tas berisi barang-barang yang telah dibelinya.
Devinka dan Bagas berjalan masuk ke dalam rumah.
"Gimana kamu senang?" tanya Bagas.
"Iya senang, jarang-jarang Mas Bagas, punya waktu buat temenin aku belanja," jawab Devinka.
Bunyi dentingan antara sendok dan piring terdengar keras di telinga Bagas dan Devinka, mereka lantas menghampiri Elenio yang sedang makan malam. Elenio sengaja membanting kuat sendoknya setelah mendengar obrolan Bagas dan Devinka. Hawa panas akibat amarah tiba-tiba menyambangi diri Elenio. Ego-nya terluka melihat kebahagiaan yang terasa sangat menyakitkan baginya.
"Kamu ini apa-apa'an El?!" tegur Bagas suaranya meninggi.
"Mungkin, El, gak sengaja Mas," ujar Devinka menenangkan Bagas. Padahal Devinka juga merasa, jika ada yang aneh dengan Elenio hari ini.
Devinka melangkah menghampiri Elenio lalu menyodorkan satu tas berisi sepasang sepatu untuk Elenio berlatih basket.
"Gak perlu, sepatu, El, masih bagus," tolak Elenio kasar membuat Devinka terkejut dengan responnya berbeda.
"El, kenapa kamu jawab begitu?!" seru Bagas tersulut emosi. Menurutnya itu sangatlah tidak sopan.
"Udah Mas, jangan dimarahin," bela Devinka.
'Pasti ada alasan kenapa Elenio bersikap begini.' batin Devinka.
"Kalau gitu, Mama simpan aja dulu. Nanti kalau, El mau pakai, bilang aja sama, Mama," kata Devinka sangat pengertian, dia memaklumi Elenio adalah seorang remaja, sehingga cara dalam mengelola emosinya masih terbilang labil.
"Tadi, Mama dapat telfon dari Wali Kelas kamu, katanya kamu gak masuk sekolah, terus kamu kemana El?"
"Bolos!" seru Elenio dengan nada marah.
"Apa? Kamu bolos?" tanya Bagas melotot, pasalnya Elenio adalah tipikal pribadi yang teratur dan patuh akan aturan.
Elenio memasang ekspresi dingin. "El, punya alasan, dan itu karena Papa," kesal Elenio melihat Bagas tampak belum menyadari.
"Papa punya salah apa sama kamu?!" tanya Bagas.
Gemuruh amarah itu kian membuncah, aliran darah Elenio kian memanas. "Papa egois! Selama ini, El selalu menuruti apa kata Papa! Tapi, Papa bahkan gak pernah tau gimana perasaan El. Papa lebih mementingkan jalan-jalan daripada, Papa ziarah ke makam, Bunda," keluh Elenio.
Jantung Bagas berpacu kencang. Dia lupa, benar-benar lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun Amara. Seluruh tubuhnya melemas.
"El, Bunda kamu sudah tenang di sana," kata Bagas pelan niatnya meredam suasana malah menimbulkan reaksi tak terduga.
Kedua manik mata Elenio menatap tajam pada Bagas dari pancaran mata itu menyiratkan kemarahan. "Jadi, Papa senang kalau Bunda meninggal iya?"
"Jaga bicara kamu!" bentak Bagas, kini dia yang sulit mengendalikan emosi.
"Hari ini, hari kelahiran Bunda, dan Papa gak ingat itu. Apa segampang itu Papa melupakan Bunda?!" balas Elenio terlanjur kecewa.
Amarah Bagas berangsur-angsur menurun. Dia harus lebih tenang menghadapi sikap temperamen Elenio, persis seperti sifat dalam dirinya. "El, Papa gak bermaksud, Papa benar-benar gak ingat. Akhir-akhir ini kerjaan Papa banyak," jelas Bagas berharap Elenio mau mengerti.
"Dari dulu, Papa selalu ingin menang sendiri, Papa gak pernah memikirkan perasaan Bunda!" seru Elenio mengungkit kejadian masa lalu.
"Bunda kamu itu cemburuan El, Papa meeting sama klien perempuan dibilangnya selingkuh. Padahal itu murni karena urusan pekerjaan. Papa gak pernah berniat buat duain Bunda kamu," ungkap Bagas dia tidak manampik pernikahannya dengan Amara tidak pernah bahagia akibat rasa cemburu yang berlebihan. Menurut Bagas Amara terlampau mengekang dirinya.
"Itu karena, Bunda sayang sama, Papa. Bunda takut Papa akan berpaling, Bunda takut kehilangan Papa. Harusnya Papa bisa mengerti," jelas Elenio mengepalkan tangannya.
"Waktu itu, kamu cuma anak kecil El, kamu gak tau seberapa posesif- nya Bunda kamu sama Papa. Saya selalu dikekang diawasi oleh orang suruhan Bunda kamu, sampai-sampai saya gak tau lagi gimana cara mengatasi Bunda kamu," papar Bagas mengingat bagaimana Amara seolah mengontrol dan membatasi ruang geraknya.
"Apapun penjelasan Papa, semua itu gak akan mengembalikan keadaan lagi. El curiga ...." Elenio menggantung ucapannnya membuat Bagas sangat menunggu kalimat yang akan terucap.
"Jangan-jangan Papa yang sengaja mencelakai Bunda?" tuduh Elenio berkata spontan.
"KETERLALUAN!" Bagas terbakar emosi, dia menampar wajah Elenio. Keras hingga bunyi tamparan itu terdengar menyakitkan di telinga Devinka yang hanya diam memperhatikan perdebatan itu. Dia ingin menjadi penengah, namun saatnya belum tepat. Keduanya masih berselimut api amarah.
"Sejak kapan kamu berubah seperti ini. Kamu tega nuduh saya? Papa kamu sendiri?!" balas Bagas dadanya naik turun. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Elenio.
"Saya masih waras El! Walaupun saya hampir frustasi karena ulah Bunda kamu, tapi saya tetap bertahan demi siapa? Demi kamu! Kamu alasannya El!" Bagas menekan penuh setiap katanya.
"Papa fikir, El bahagia punya keluarga yang utuh tapi selalu bertengkar? El tertekan mendengar adu mulut Papa dan Bunda," jelas Elenio.
Sudah waktunya Devinka berbicara, jika dibiarkan terlalu lama hal ini akan menjadi bumerang bagi hubungan Bagas dan Elenio.
"Mas, lebih baik kamu minta maaf sama El," pinta Devinka memegang lengan Bagas lembut seraya menatapnya dengan sorot mata yang teduh.
"Kenapa saya?!" protes Bagas, namun usapan lembut di lengannya itu membuat hati Bagas melunak.
"El, Papa minta maaf soal kejadian ini," kata Bagas namun terdengar tidak tulus.
Elenio diam, sarat bahwa dia belum bisa memaafkan ayahnya. Kakinya melangkah cepat menaiki tangga lantas masuk ke dalam kamar guna meredam lonjakan emosi.
Elenio tidak percaya, apa yang telah dikatakan Bagas tadi, menurutnya itu hanyalah alibi dan omong kosong belaka. Elenio tahu, Amara melakukan itu semata-mata karena tulus dan rasa cintanya yang besar terhadap Bagas.
Tidak pernah harmonis adalah kata yang pas untuk menggambarkan keluarganya. Kedua orang tuanya hanya terlihat akur jika di hadapannya, namun saat Elenio sudah terlelap. Mereka kembali bertengkar. Pernah suatu malam Elenio sengaja berpura-pura tidur. Hanya untuk mendengar perdebatan di kamar dan benar kedua orang tuanya kembali bertengkar.
Elenio masih ingat jelas saat Amara masuk ke rumah dalam keadaan menangis lalu memeluknya dengan erat. Elenio yang berusia 9 tahun itu tidak mengerti apa yang terjadi.
"Bunda kenapa?" tanya Elenio kecil.
"Enggak, Bunda baik-baik aja," jawab Amara menyunggingkan senyumny..
"Bunda bohong! Terus kenapa ini nangis?" Telapak tangan mungil milik Elenio menyeka air mata yang ada di wajah Ibunya.
"Tadi kemasukan debu terus nangis," kata Amara sengaja berbohong agar Elenio tidak khawatir.
***
"Ini semua karena ke'egoisan Papa, dari dulu Bunda menderita!" sesal Elenio. Detik berikutnya Elenio menoleh setelah mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali.
"Buka pintunya El, Papa mau bicara," kata Bagas. Elenio meraih gagang pintu lalu membukanya.
"Apa?!" seru Elenio masih dipenuhi rasa kesal.
"Bisa kita bicara di luar?" ajak Bagas dia lantas berjalan diikuti Elenio dari belakang.
Bagas menghela napas lega.
Keduanya menaiki mobil, sesekali Bagas melirik ke arah Elenio yang bergeming sehingga menyisakan ruang hening di antara mereka. Tatapan Elenio lurus ke depan sama sekali tidak berniat menoleh pada Bagas sedikit saja. Mobil Bagas terhenti, dia menatap penuh pada Elenio.
"Saya akui saya salah, tapi kamu harus tau saya tidak pernah berniat melupakan hari ini, maafin Papa El," aku Bagas benar-benar merasa bersalah.
"Itu bukti, kalau cinta Papa gak sebesar cinta Bunda ke Papa," balas Elenio telak membuat
Bagas terdiam menunduk.
"Papa gak tau kan yang dialami Bunda?" tanya Elenio, lalu Bagas mengangkat pandangnya.
"Bunda terpaksa konsumsi obat-obatan buat kontrol emosinya," jelasnya tanpa menoleh pada Bagas.
Elenio yang masih menginjak umur 14 tahun tidak sengaja mendengar pecahan barang-barang yang bunyinya terdengar dari kamar Amara. Elenio sedikit membuka pintu, dia mengintip. Kedua mata Elenio membelalak lebar saat melihat betapa berantakannya barang di kamar Amara ditambah Amara yang menangis seraya memegang sebuah pigura berisi foto pernikahan.
Bi Asti yang melihat Elenio berdiri di depan pintu memegang pundak Elenio sontak membuat Elenio menoleh.
"Bi, apa, Bunda selalu seperti ini? Apa Bunda, selalu mengamuk seperti itu, Bi?" tanya Elenio hari ini dia pulang sekolah lebih awal karena diadakan rapat dadakan.
"Seperti yang Den El, lihat sekarang," jelas Asti.
"Tapi, kenapa Bunda selalu pura-pura kalau dia baik-baik aja, Bi? Kenapa Bunda selalu bersikap baik di depan El," cecar Elenio banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya.
Bi Asti mengajak Elenio kembali mengintip dari balik pintu, kali ini Amara terduduk di tepi ranjang. Dia membuka laci, lantas mengambil pil obat dari sana.
"Bi, Bunda minum apa? Mama gak sakit kan Bi?" lirih Elenio.
"Janji sama Bibi, kalau Bibi kasih tau, jangan bilang ke siapa-siapa ya," ujar Asti.
Elenio mengangguk cepat.
"El janji," jawabnya yakin.
Elenio menatap Amara yang kini tampak tenang dan sudah mulai terlelap di tempat tidur. Elenio semakin bingung sebenarnya apa obat yang dikonsumsi Ibunya, kenapa reaksinya cepat sekali?
"Jadi yang diminum sama Nyonya Amara itu obat penenang," jelas Asti.
"Tapi nanti Bunda bangun lagi kan Bi?" tanya Elenio takut jika
"Iya Den El, jangan khawatir efeknya hanya sekitar satu jam," jelas Asti.
"Suami macam apa saya ini! Sampai-sampai saya tidak mengetahui tentang hal ini" rutuk Bagas memukul kepalanya dengan kepalan tangan, namun Elenio enggan menoleh.
"Saya terlalu egois, waktu itu saya tertekan El. Bunda kamu selalu berburuk sangka sama Papa," lontar Bagas.
"Tolong, maafin Papa El. Saya janji gak akan mengecewakan kamu," sesal Bagas.
"Iya," jawab Elenio langsung disambut pelukan hangat dari Bagas. Elenio memilih menyudahi semua pertengkaran ini. Lagi pula semua sudah terlanjur. Menimbang jika penyesalan Bagas tidak akan bisa merubah masa lalu.
***
Setelah adanya pengumuman jika hari esok akan diadakan ulangan harian Matematika.Allana bertekad untuk belajar lebih giat lagi agar bisa menyelesaikan soal-soal dengan baik. Allana ingin menunjukan, jika dia bisa, Allana bukan orang malas. Memang, ucapan yang terlontar dari Hanna telah menorehkan luka di hatinya tapi Allana akan mengubahnya sebagai pacuan untuk belajar lebih keras lagi.
Allana mulai membuka buku paket, buku catatan juga buku LKS guna menghafal rumus-rumusnya dan memahami langkah-langkah penyelesaiannya dengan baik.
Allana akui dirinya memang tidak pandai dalam pelajaran ini. Allana berulang kali mengetukkan pensil ke arah pelipisnya. Bingung.
Waktu terus berputar menunjukkan pukul 01:11 malam, Allana masih terjaga mencoba menyelesaikan soal-soal yang ada di buku.
"Kamu pasti bisa!" Allana menghalau rasa lelah, menggantikannya dengan semangat pantang menyerah.
Allana harus gigih belajar, dia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya.
Walaupun ini hanya ulangan harian tapi nilai itu sangat penting baginya. Allana terus melawan rasa kantuknya walau matanya berkedip melawan sayu.
"Tinggal satu soal lagi," gumamnya semangat.
"Akhirnya selesai," Allana meregangkan tangannya ke atas.
Allana lantas beranjak menuju tempat tidur. Sesaat langkah tertunda akibat mendengar sebuah ketukan dari kaca jendela luar.
"Siapa?" tanya Allana, merasa tubuhnya meremang. Meski ragu-ragu Allana tetap melangkah mendekat, tangannya meraih tirai jendela lalu menggesernya ke kanan.
Hampir saja, Allana berteriak, namun dia langsung membekap mulutnya sendiri.
'Tetap waspada, pembunuh itu ada di sekitarmu!'
Allana tertegun membacanya. Dia lantas segera menutup tirainya kembali. Berusaha menormalkan debaran jantungnya. Allana memejamkan matanya.
Saat Allana akan memastikan tulisan itu lagi. Kertas itu telah lenyap, tidak lagi tertempel di jendela.
Allana menggeleng pelan
"Gak mungkin kalau kertas itu terbang," ujarnya melihat ke luar. Kecurigaan Allana semakin mencuat. Muncul sebuah dugaan yang terlintas di kepala Allana.
"Berarti, selama ini ada yang mengetahui semuanya, tapi siapa dia?" tanya Allana.
"Kalimat peringatan ini, bukti kalau ada yang tau penyebab kematian Razella dan dia adalah jalan keluar dari permasalahan ini," ucap Allana yakin.
"Kenapa dia gak kasih tau langsung? Kenapa dia harus sembunyi?" tanya Allana frustasi.