Tania terheran, kala menatap ke arah lengan Allana, ada bekas garis lebam keungu-unguan dibeberapa titik tangannya dan yang sangat kentara itu ada di pergelangan tangannya. Hal itu baru Tania sadari sekarang. Dahi Tania mengerut dalam, apa yang terjadi dengan Allana? Allana sama sekali tidak bercerita apapun.
Tania ingin memastikan dengan langsung bertanya, namun niatnya itu dia urungkan mengingat masih dalam jam pelajaran. Tania memilih kembali mencatat materi yang tertera di papan. Sesekali Tania melirik ke arah Allana memperhatikan Allana yang selalu tampak baik-baik saja.
Bunyi bel menandai berakhirnya seluruh kegiatan belajar yang berlangsung. Begitu guru yang mengajar telah pergi meninggalkan ruangan, Tania segera menyampingkan tubuhnya menghadap Allana yang memasukan buku ke dalam tas.
"Al," panggil Tania pelan membuat Allana menoleh.
"Pulang bareng aku, Al," ajak Devan yang menyampirkan tasnya di sebelah bahu kanan.
"Bentar, Van, ada yang mau aku tanyain ke Allana," cegah Tania.
"Mau nanya apa, Ta?" tanya Allana menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir Tania.
Tania meraih tangan Allana membawanya mendekat ke tubuhnya memperhatikan luka itu secara seksama.
"Ini kenapa?" tanya Tania membuat Allana mendongak menatap Devan yang berdiri dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam kantong celana seragamnya.
"Jujur, Al, Van apa ada yang kalian sembunyiin?" tanya Tania penasaran.
Devan menghela napas panjang.
"Itu ulah Sasha," jelasnya membuat Tania melebarkan kedua matanya. Tali yang mengikat tubuh Allana sangat kuat hingga meninggalkan bekas memar di tangan Allana.
"Kamu diapain sama dia, Al?" tanya Tania terselip nada khawatir dalam ucapannya.
"Dia diculik, diikat terus wajahnya hampir dilukai sama Sasha," papar Devan mengambil intinya.
"APA?! INI GAK BISA DIBIARIN!" tegas Tania dengan wajah memerah padam.
"Tenang, Ta. kata Allana mengusap bahu Tania.
"Gimana aku bisa tenang, kamu dalam bahaya Allana beruntubg ada Devan yang nolong, coba kalau gak ada dia. Lain lagi ceritanya," tekan Tania. "Apa kamu punya buktinya Van?" Tania menatap lekat ke arah Devan.
"Aku sempat videoin aksi dia," jawab Devan.
"Mana? Coba kirim ke aku!" pinta Tania.
"Gak bisa, Ta," tolak Devan.
"Kenapa gak bisa sih Van? Biar aku sebar videonya atau aku jeblosin dia ke penjara atas dasar kekerasan!" balas Tania terlanjur muak dengan tingkah Sasha.
Allana melotot kaget pada Tania.
"Nggak, jangan, Ta, itu berlebihan," cegah Allana.
"Dia yang keterlaluan, buruan Van, kirim ke aku," pinta Tania menggebu.
"Aku udah buat kesepakatan sama Sasha," jawab Devan membuat kedua alis Tania saling bertaut.
"Jangan bilang kamu bakal simpan video itu supaya Allana gak diganggu lagi sama Sasha," tebak Tania tepat sasaran.
Devan mengangguk mengiyakan.
Tania menggelengkan kepalanya, kenapa bisa, Devan percaya semudah itu pada Sasha.
"Van, kamu jangan percaya gitu aja sama Sasha, dia itu licik," terang Tania.
"Tenang aja, Ta dia gak berani," balas Devan.
"Kamu bisa jamin?"
"Ya, kalau dia macam-macam tinggal kita sebar aja video ini gampang kan?" jelas Devan tenang dan kalem.
"Kalau dia nyuruh orang lain buat celakain Allana apa kamu bakal tau?" tanya Tania mengingatkan kemungkinan yang bisa terjadi.
Devan sempat terdiam lalu Devan kembali angkat bicara. "Gue yakin dia gak akan lakuin itu," ucapnya.
Tania tidak percaya sepenuhnya Sasha itu jauh lebih nekat dari apa yang terlihat.
"Aku gak setuju, Van, kamu nutupin kejahatannya Sasha. Kita harus kasih dia pelajaran biar dia sadar dan jera!" seru Tania dengan emosi yang tertahan.
Devan sempat menimbang-nimbang ucapan Tania. Ada benarnya, sekali-kali Sasha harus menangung akibat dari perbuatannya.
"Apa perlu aku jabarin semua perlakuan jahat dia, pertama, soal tulisan di meja sama sayuran busuk yang dilempar ke tubuh Allana, kedua tentang kuah bakso yang buat kulit Allana merah hampir melepuh dan ketiga, dia nyulik Allana!" urai Tania.
Devan sempat menimbang-nimbang ucapan Tania. Ada benarnya sekali-kali Sasha harus menanggung akibat dari perbuatannya.
"Sasha berbuat kayak gitu karena ada alasaanya, menurut aku kalau kita sebarin video itu Sasha akan semakin menjadi," Allana berpendapat.
"Benar, dia pasti bakal balas dendam," timpal Devan.
Sementara Tania diam diselimuti amarah yang terpendam.
***
Allana dan Tania tidak sengaja melihat Sasha berjalan melewati koridor beberapa meter dari titik mereka berdiri. Tanpa pikir panjang Tania melangkah lugas mengejar Sasha.
"Aduh, Tania mau ngapain," kata Allana cemas menggigit bibir bagian bawahnya.
Langkah Sasha berhasil terkejar oleh Tania. Tania memegang bahu Sasha lalu membalikkan tubuh Sasha kasar agar menghadapnya.
"Tania!" geram Sasha dengan mata memicing marah.
"Kasar banget sih lo!" seru Sasha mengusap bahunya yang diputar paksa oleh Tania.
Tania menatap malas ke arah Sasha. "Kamu ngatain aku, apa diri kamu sendiri? Sadar diri dong!" balas Tania membungkam rapat mulut Sasha.
Sasha hanya mengepalkan kedua tangannya erat sebagai bentuk reaksi emosi, jika saja Devan tidak memiliki rekaman aksinya mungkin Sasha akan membalas Tania.
Tidak ingin meladeni Tania karena Sasha sadar dia akan kalah telak ditambah tidak ada Nita di sisinya. Sasha memilih berbalik dan berjalan melanjutkan langkahnya menuruni tangga cepat.
Tania berusaha mengejar. "Mau kemana kamu Sa, urusan kita belum selesai!" seru Tania.
Allana dengan cepat memegang lengan Tania berusaha menghentikannya. "Tania gak perlu, jangan memperpanjang masalah," peringat Allana.
Tania menyentak tangan Allana kasar, Tania tidak bisa seperti Allana yang selalu mengalah. Dia akan tetap pada tujuannya yaitu memberi Sasha pelajaran.
"Akh, sakit," erang Tania terjatuh di tangga akibat terpleset.
"Tania," panggil Allana segera menghampiri.
"Rasain siapa suruh!" seru Sasha berhenti dan menoleh pada Tania. Sasha tertawa puas melihat kondisi Tania yang menyedihkan.
"Lain kali, gak usah sok jadi pahlawan!" ejek Sasha membuat Tania geram hendak berdiri namun sebelah kakinya terasa sangat nyeri.
"Kasihan gak bisa berdiri, selamat tinggal Tania," kata Sasha melambaikan tangannya membuat Tania memukul tangga kesal.
"Apa aku bilang, gak usah dikejar, Ta," ujar Allana.
"Aku gak terima kamu digituin Al, mau sampai kapan kamu mengalah?" tanya Tania kehabisan kesabaran. Allana bergeming.
"Tania kamu kenapa?" tanya Devan yang baru sampai di tangga setelah keluar dari toilet.
"Jatuh, kepleset, ini keseleo sedikit," sahut Tania cepat mengusap kakinya.
"Van, kamu anterin Tania pulang ya," pinta Allana.
"Kamu bawa mobil Ta?" tanya Devan.
"Mobil aku lagi di bengkel," jawab Tania.
"Terus kamu gimana, Al?" tanya Devan bingung takut jika hal tidak baik menimpa Allana.
"Udah, Van, kamu anterin Tania aja lagipula aku udah pesan taksi online bentar lagi sampai," terang Allana.
"Gak, jangan! Allana kamu jangan sendirian!" tolak Tania.
"Kalian gak usah khawatir aku langsung pulang kok," ujar Allana tersenyum.
"Aduh." Tania kembali merasakan kakinya berdenyut ngilu.
"Buruan, Van anterin Tania pulang atau ke rumah sakit," perintah Allana.
"Kalau ada apa-apa cepet hubungin aku, Al," kata Devan berjongkok lantas menggendong Tania di punggungnya.
"Kalau ada apa-apa cepet telfon aku, Al," perintah Devan.
"Kita duluan, Ingat Al, kamu harus segera pulang," peringat Tania.
"Iya, pasti," ujar Allana mengamati kepergian Devan dan Tania.
Allana akan berjalan ke depan. Namun, dua orang Siswi berlari ke arahnya.
"Allana kita boleh minta tolong gak? Soalnya kita buru-buru ada ekstra," kata Siswi itu panik dengan wajah tegang.
"Minta tolong apa?" tanya Allana.
"Tolong bawa ini ke gudang ya, soalnya sapu sama alat pel-nya udah patah disuruh taruh di gudang," jelas Siswi itu.
"Kamu tau sendiri kan, letak gudang itu di belakang dan kita berdua bisa dimarahin kalau telat datang ekstra," papar Siswi itu membuat Allana tidak tega menolaknya.
"Biar aku aja," ujar Allana menyanggupi.
"Makasih banyak, ya, Allana," ucap Siswi itu menyerahkan dua benda yang dia pegang lantas segera berjalan menjauh.
Allana membawa peralatan itu dengan kedua tangannya. Suasana sepi, rata-rata semua sudah pulang dan hanya menyisakan murid yang mengikuti jadwal ekstra tertentu. Hanya suara derap langkah sepatunya yang mengisi kekosongan suasana sekolah ini.
Allana mempercepat langkahnya. Dia akhirnya sampai di depan gudang, Allana membuka pintu lalu melangkah masuk menaruh peralatan yang rusak itu di dalam.
Tiba-tiba suara bantingan pintu terdengar menggema ketika Allana baru saja meletakan benda yang ada di tangannya. Allana menoleh melihat pintu gudang tertutup rapat, Allana dengan cepat berlari menggedor pintu itu.
"Tolong buka! Di sini ada orang!" jerit Allana dengan suara keras. Tapi tak ada sahutan dari luar.
"Apa mereka sengaja jebak aku di sini?"
Allana membuka tirai jendela mengintip dari jendala tidak ada siapa-siapa.
"Aku gak mau kekurung di sini," gumam Allana ketakutan dia lantas mencari ponselnya. Ketika ponsel itu berada di genggaman Allana, sebuah kata tertulis, baterai lemah perangkat akan mati.
"Tolong jangan mati dulu," mohon Allana dalam hitungan detik ponsel Allana mati kehabisan baterai padahal Allana sangat membutuhkanya. Entah apa yang bisa Allana lakukan sekarang selain berteriak dan berharap ada orang yang mendengar suaranya.
Meski rasanya mustahil karena gudang ini terletak paling belakang. Allana akan terus mencoba dia kembali berdiri, untuk menggedor pintu itu kuat.
"Tolong, buka pintunya!" teriak Allana. Dia mendobrak pintu dengan tubuhnya, menendang pintu itu berkali-kaki tapi sama sekali tak berpengaruh apa-apa. Pintu itu masih terkunci rapat. Wajah Allana telah dibanjiri oleh peluh keringat, tenaganya terkuras. Allana mendudukan dirinya di lantai dengan punggung bersender pada pintu.
Pandangan Allana menatap keluar jendela hari semakin petang. Matahari perlahan menenggelamkan dirinya jauh di ufuk barat. Ini artinya malam akan segera tiba.
Dengan sisa tenaga yang masih Allana miliki, dia berjalan
mencari saklar lampu di gudang yang terletak di sebelah kanan pintu. Allana menekan saklar itu.
"Kok gak nyala," keluh Allana dia terus menekan saklar itu beberapa kali dengan jari telunjuknya lagi-lagi itu tidak bekerja lampunya tetap mati.
"Kenapa harus begini," keluh Allana mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia kembali terduduk lemas, Allana letih telah mengerahkan seluruh tenaganya. Jika saja jendela itu tidak berukuran kecil mungkin Allana akan keluar melewati itu tapi sayangnya jendela itu hanya berukuran persegi kecil. Allana menghela napas lelah.
Perlahan, sorot cahaya itu memudar, ruangan gudang ini berangsur-angsur mulai diselimuti gelap.
Allana merasa sesak di dadanya. Dia kesulitan bernafas. Allana berusaha keras mengatur ritme pernapasannya namun pasokan udara yang masuk ke dalam paru-parunya menipis, Allana punya ketakutan yang mendalam dengan kegelapan semacam pobia.
"Tolong, buka pintunya," lirih Allana menggedor pintu meski pelan.
Tenggorokannya kering, napasnya seolah tercekat, tapi tangan Allana terus memukul pintu.
"Siapa-pun, to-long a-ku," lirih Allana getir dengan deru napas sesak yang semakin menghimpit dadanya kuat-kuat.