Kayla terus kepikiran dengan penawaran Alan. Awalnya gadis itu menolak, tetapi Alan tetap meninggalkan nomor ponselnya. Sampai akhirnya, desakan rumah sakit semakin mengganggu pikiran dan membuat Kayla memutuskan untuk bertemu dengan Alan.
“Jadi bagaimana? Kamu setuju untuk melahirkan anak saya?” Tanya Alan saat Kayla mengajaknya bertemu di sebuah cafe.
Pria itu tidak datang sendirian. Dia bersama seorang pria yang bernama Lee, seorang pria muda yang menjadi asisten Alan sejak awal bergabung di perusahaan kakeknya.
Kayla memegangi ujung roknya di bawah meja dan terus meyakinkan diri untuk menerima tawaran Alan. Tidak ada cara lain lagi yang bisa gadis itu akukan untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat.
“Sebelumnya, aku mau tanya dulu. Apa kita akan melakukan proses bayi tabung?” Tanya Kayla dengan suara lirih sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Gadis itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan supaya Alan bisa mendengar suaranya yang lirih. Dia sendiri merasa malu kalau sampai ada orang yang mendengar kesepakatan konyol mereka.
Rupanya gerakan itu sedikit mengganggu Alan yang membuatnya berdeham dengan keras. “Tidak, Kayla. Itu terlalu berisiko,” jawab Alan.
Sekretaris Lee memahami kondisi sang atasan saat ini. Dia langsung mengambil alih obrolan supaya Alan merasa lebih nyaman.
“Nona Kayla, kalau kakek dari bos Alan tahu bos pergi ke rumah sakit untuk program ini, kakek bisa mengacaukan semuanya. Makanya, kehamilan alami adalah pilihan yang bisa di ambil. Kita juga harus memastikan apakah nona Kayla benar-benar masih perawan karena bos Alan tidak mau bekas orang lain. Jadi, kalau nona Kayla terbukti tidak perawan, nona tidak akan mendapatkan bayaran apa-apa,” kata asisten Lee dengan cukup jelas.
Sayangnya, itu belum cukup meyakinkan hati Kayla seratus persen. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita cantik itu.
“Nona Kayla bisa baca ini saja untuk lebih jelasnya!” Seru asisten Lee yang kemudian menyodorkan map berisi surat perjanjian. “Kalau nona setuju, nanti saya akan buatkan secara resmi berikut nama kalian berdua dan jelas nominalnya lima milyar.”
Kayla menatap Alan dan asisten Lee dengan teramat bingung. Dia lalu membaca poin-poin yang tertulis di kertas itu dan coba memahaminya.
“Jadi, kita akan menikah diam-diam. Lalu, setelah anak itu lahir, saya akan dianggap mati dan tidak punya hak apa-apa atas anak itu,” gumam Kayla menyimpulkan.
Asisten Lee mengangguk dengan mantap. Sepertinya Kayla tidak hanya cantik, tetapi juga lumayan cerdas. Oleh sebab itu, dia layak menjadi istri seorang Alan.
Kayla tidak punya pilihan lain sekarang. Meski terkesan menjual seorang anak, tetapi dia tidak punya jalan lain. Penyakit jantung ibunya sudah semakin parah dan biaya rumah sakit semakin membengkak.
“Baiklah saya setuju.” Ucap Kayla dengan jantung berdebar keras. Meski hatinya menentang, tetapi Kayla yakin ini akan seperti perceraian biasa yang suatu hari nanti dia bisa melihat dan bertemu dengan anaknya.
Keputusan Kayla hari itu mengantarkannya pada hubungan rahasia dengan seorang CEO yang terpandang di kota ini. Setelah melakukan ikrar pernikahan tanpa diketahui kedua pihak keluarga, Alan berhasil membuktikan keperawanan Kayla dan pagi ini wanita itu menerima cek sebesar lima ratus juta. Cek itu langsung dicairkan Kayla untuk pembayaran rumah sakit dan ganti rugi pada Nyonya sombong.
Sekarang, wanita itu baru pulang dari rumah keluarganya dan kembali dalam keadaan basah kuyup. Hal itu membuat Alan merasa geram dan mengacuhkan istrinya yang pulang terlambat.
“Tuan, apa kamu sudah makan?” Tanya Kayla yang kini sudah keluar dari kamarnya dan menghampiri Alan yang sedang melamun.
Pria itu baru saja mengingat masa lalu dan begitu tersadar, Kayla sudah berada di hadapannya.
“Sudah, kalau kamu mau makan, makan saja sendiri. Setelah ini aku ingin mendiskusikan masa subur kamu, supaya kamu segera hamil,” jawab Alan yang hanya menoleh sekilas pada Kayla dan kembali mengabaikan istrinya itu.
Kayla mengangguk dan berjalan menuju dapur yang tidak jauh dari ruang TV tempat Alan berada. Pria itu memang menempati rumah yang tidak terlalu mewah untuk kelas CEO, tetapi rumah yang saat ini mereka tinggali bersama terlihat cukup nyaman dan hangat.
Saat Kayla di dapur, seorang asisten rumah tangga menghampirinya dan memberikan makanan yang sudah siap saji untuknya.
“Ini sop ayam dan wedang jahe buat Nyonya,” kata asisten rumah tangga yang terlihat cukup berumur itu.
“Panggil Kayla aja,” sahut Kayla merasa kurang nyaman dipanggil nyonya yang membuatnya teringat dengan Nyonya Sombong yang ditemuinya tadi siang.
“Mbak Kayla,” balas wanita tua itu tersenyum. “Saya Mbok Jum, pembantu paling lama disini.” Wanita tua itu menunduk dan memperkenalkan diri. “Den Alan dari tadi nungguin mba Kayla satu-satunya perempuan yang akhirnya membuat Den Alan luluh untuk menikah.”
“Mbok Jum nggak tahu ya, status kami..” gumam Kayla sembari menghembuskan nafas dengan resah.
“Nikah kontrak kan? Saya tahu kok Mbak Kayla. Tapi tetap saja, selama ini saya kenal Den Alan. Sejak lima tahun lalu, dia nggak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Makanya, saya senang waktu Den Alan bilang kalau Mbak Kayla istrinya walaupun hanya istri kontrak, tetap saja kalian sudah menikah.”
Mbok Jum tersenyum dan memberikan secangkir wedang jahe untuk Kayla. Lalu, wanita itu pergi setelah Alan memanggilnya.
Kayla tidak mengerti maksud Mbok Jum mengatakan hal itu padanya, tetapi dia tidak mau mencari tahu. Sekarang ini, bagi Kayla yang terpenting adalah segera hamil dan mendapatkan sisa bayarannya.
Wanita itu makan dengan lahap karena perutnya benar-benar lapar. Masakan mbok Jum juga sangat enak dan sesuai dengan lidahnya, hingga membuat wanita itu menghabiskan semua makanannya tanpa tersisa.
“Kayla!” Panggil Alan dengan suara keras saat wanita itu hendak mencuci piring bekas makannya.
“Iya, sebentar!”
Kayla berjalan dengan cepat menghampiri Alan dan meninggalkan piring bekasnya yang kotor. “Iya, Tuan.”
Wanita itu duduk di sofa yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan Alan. Dia sadar diri bahwa Alan adalah bosnya yang berstatus suami karena Kayla memang dibayar untuk hamil.
“Jangan panggil Tuan, panggil Alan saja,” sahut Alan. “Kayla, bisakah kamu pergi ke dokter besok untuk memeriksa masa subur kamu? Waktu kita tidak banyak, kalau bisa kamu hamil dalam bulan-bulan ini.”
Jantung Kayla berdebar dengan sangat keras sekarang. “Begini, Tuan. Em, maksudku begini Alan. Aku sudah membeli alat untuk tes masa subur, tadi aku juga sudah mencoba dan hasilnya hari ini adalah masa suburku. Tapi aku akan tetap ke rumah sakit besok untuk periksa,” jawab Kayla dengan gugup.
Alan tersenyum puas mendengar jawaban Kayla. Rupanya, istrinya itu memang memiliki inisiatif yang tinggi dan membuatnya cukup bangga.
“Jadi, kamu sudah pastikan kalau sekarang kamu subur?” Tanya Alan sambil menggeser tempat duduknya semakin dekat dengan Kayla.
Wanita itu mengangguk dengan cepat dan seketika berdiri. “Aku akan ambilkan sesuatu.”
Kayla berlari kecil menuju kamarnya. Lalu, beberapa saat kemudian dia keluar dengan membawa alat yang mirip dengan alat tes kehamilan.
“Ini buktinya, garisnya dua. Jadi, sekarang aku sedang dalam masa subur,” kata Kayla sambil memamerkan hasil tesnya itu.
Setelah melihat alat yang di bawa Kayla, Alan langsung meraih pinggang wanita itu dan menarik wajahnya untuk dicium. Dia tidak banyak bicara dan langsung bergerak cepat seakan sedang kejar setoran untuk membuat Kayla hamil.
Namun, di sela-sela rasa nikmat bibir Kayla, tiba-tiba dia melihat wajah wanita itu merah seperti bekas pukulan. Seketika itu Alan menghentikan ciumannya dan bertanya, “Apa ini, Kayla? Kenapa dengan wajahmu?”
*****