Alan menyentuh wajah Kayla yang memar bekas tamparan sang kakak tiri. Namun, wanita itu malah tersenyum dan menyingkirkan tangan Alan dari wajahnya.
“Tadi motor aku kempes, terus ke bengkel dan disana aku kepleset. Jadi memar ya? Aku pikir nggak separah itu,” jawab Kayla berbohong.
Dia tidak mau mengadukan nasib buruknya memiliki ayah dan saudara tiri yang kejam. Bagi Kayla, Alan adalah suami sementara yang tidak perlu tahu masalah hidupnya. Urusan mereka hanya sebatas memiliki anak dan Kayla akan mendapatkan bayarannya.
“Masa sih, kepleset sampai kena wajah gini? Tangan sama kaki kamu kena juga nggak?”
Alan hendak memeriksa tangan dan kaki Kayla, tetapi wanita itu kembali mencegahnya. “Aku nggak kenapa-napa, Alan. Ini cuma luka kecil kok,” balas Kayla sambil membelai tangan Alan yang sedang menyentuh pipinya.
Wanita itu menatap Alan dengan manj dan harus fokus pada tujuan mereka. Sesegera mungkin dia harus hamil supaya urusan mereka segera selesai.
“Lupakan masalah kecil ini, bukankah kita harus melakukan sesuatu yang lebih penting dari ini?” Tanya Kayla yang kemudian bergerak naik ke atas pangkuan Alan.
Wanita itu dengan agresif memainkan jemari tangannya di d**a Alan, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Alan yang sedikit terbuka. Pertemuan dua bibir itu pun menciptakan sebuah ciuman yang tidak terelakkan lagi.
Alan membalas ciuman Kayla dengan tidak kalah ganas. Tangan pria itu bergerak di belakang tubuh Kayla dan mendarat dengan selamat di gumpalan kenyal yang kini berada tepat di atas paha Alan. Dia bermain sebentar disana dan membuat Kayla semakin bergerak tidak karuan.
“Kayla, you are so beautiful!” Bisik Alan sebelum akhirnya menggendong tubuh Kayla dan membawanya menuju kamar wanita itu.
Mereka terus berciuman, sampai-sampai tidak menyadari kalau Mbok Jum tidak sengaja memperhatikan mereka. Wanita tua itu diam-diam tersenyum karena Alan akhirnya menjalin hubungan dengan wanita, dan Mbok Jum juga berharap Kayla bisa memenangkan hati Alan sebelum kontrak mereka berakhir.
Alan menutup pintu kamar Kayla dengan satu kaki, sementara bibir dan tangannya tetap bekerja membangunkan hasratnya. Lalu, pria tampan yang memiliki trauma dengan pernikahan itu, membaringkan tubuh Kayla ke atas kasur dan langsung melepaskan pakaiannya.
Kayla sudah berhasil menyeret Alan ke kamar dan mengalihkan perhatian suaminya itu dengan percintaan mereka di atas kasur. Dia tidak mau Alan berurusan dengan keluarganya yang nantinya malah mengacaukan kesepakatan mereka.
Dua insan yang tengah meneguk kenikmatan dunia itu akhirnya berakhir dengan penutupan yang sempurna. Seperti sebelumnya, Alan kembali meletakkan bantah di bawah pinggul Kayla sesuai dengan keyakinannya.
“Kamu yakin alat itu benar-benar berfungsi?” Tanya Alan yang kini memperhatikan tubuh sensitif Kayla dan mengamati hasil percintaan mereka.
Kayla sudah tidak punya privasi lagi karena Alan adalah suaminya. Mau di apakan saja dia akan menerima dengan ikhlas.
“Ya gunanya ya. Kata artikel di internet disarankan begitu. Aku juga mulai minum vitamin dan asam folat buat persiapan hamil,” jawab Kayla.
Alan manggut-manggut dan memakai celananya kembali. Dia lalu lanjut ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sementara itu, Kayla merasakan kepalanya terasa nyeri. Dia hendak bangun, tapi sadar kalau tubuhnya masih di ganjal bantal sama Alan tadi. Hal itu membuat Kayla tidak leluasa bergerak dan memutuskan untuk kembali tiduran.
Beberapa saat kemudian, Alan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat lebih segar. Saat itulah, Kayla bangun hendak bergantian ke kamar mandi. Namun, saat dia berjalan semakin dekat dengan Alan, kepalanya terasa semakin pusing.
Alan melihat darah mengalir dari lubang hidung Kayla dan seketika membuat pria itu panik. “Kayla, hidung kamu kenapa?”
Kayla menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Kepalanya memang terasa pusing, tetapi dia tidak menyangka akan mengalami mimisan juga.
“Aku nggak apa-apa, Alan. Aku cuma pusing saja,” jawab Kayla yang tetap berjalan ke kamar mandi.
Alan jadi semakin khawatir pada istrinya itu. Dia takut kalau Kayla di lukai seseorang karena di tubuhnya juga terdapat memar, atau lebih parahnya Kayla memang wanita penyakitan.
Alan membiarkan Kayla di kamar mandi saat mendengar suara gemericik air. Dia lalu keluar dari kamar Kayla untuk mengambil ponselnya.
Sebuah pesan muncul di ponselnya. Itu dari kakek yang kembali mengingatkan untuk mencari istri dan segera memberinya cucu.
Tidak peduli dengan pesan yang dikirimkan sang kakek, Alan mengetikkan sesuatu di kontaknya dan langsung menelepon seseorang.
“Cepat kesini, aku butuh bantuan!”
Suara dengan nada perintah itu mengisyaratkan kekhawatiran di hati Alan. Dia yakin Kayla tidak akan bersedia dibawa ke dokter. Jadi, Alan berinisiatif menelepon sepupu sekaligus sahabatmu yang juga seorang dokter.
“Butuh bantuan? Kamu sakit, Alan?” Pria yang di telepon Alan itu bertanya balik.
“Udah, jangan banyak tanya. Cepat kesini, ke rumahku!”
Alan langsung mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja. Dia lalu kembali ke kamar Kayla untuk memeriksa keadaannya.
Sayangnya, Kayla masih di kamar mandi, dan itu membuat Alan tidak bisa berhenti khawatir. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Alan langsung menghampirinya.
“Kamu masih disini?” Tanya Kayla merasa bingung. Seharusnya, Alan tidur di kamarnya seperti yang sudah pria itu jelaskan bahwa mereka berpisah tempat kamar.
“Aku mau cek keadaan kamu. Kamu sampai mimisan dan pusing, pasti ada sesuatu yang nggak beres,” jawab Alan dengan wajah serius.
Pria itu menuntun Kayla ke tempat tidur yang sedikit berantakan karena pertempuran mereka.
“Aku nggak apa-apa. Mungkin karena tadi aku kehujanan aja,” jawab Kayla sambil tersenyum menutupi rasa sakit di kepalanya.
Alan sudah menduga jawaban Kayla. Oleh sebab itu, dia memanggil sahabatnya untuk datang.
“Begitu ya. Kamu yakin nggak ada yang mau kamu ceritakan ke aku, Kay? Walau bagaimana pun, kita sudah menikah. Kamu bisa cerita kalau kamu ada masalah,” kata Alan.
Pria itu duduk di samping Kayla dan memandanginya dengan mimik serius. Dia masih curiga sesuatu karena sebelum Kayla pulang tadi, Alan mendapat informasi dari Sekretaris Lee tentang keluarga Kayla.
“Nggak ada kok. aku cuma kecapean aja. Aku akan izin sama bos kalau aku nggak kerja hari ini,” balas Kayla.
Ia lalu mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada temannya kalau dia tidak masuk. Meski sudah menikah, nyatanya Kayla masih belum keluar juga dari club itu.
“Kamu mendingan keluar, Kayla. Aku nggak mau akan biarkan kamu di luar rumah saat malam-malam.”
Melihat wajah Alan yang tampak serius, Kayla pun hanya bisa mendesahkan napas kasar dan pasrah dengan keinginan suaminya itu.
“Ya, besok aku akan mengundurkan diri,” kata wanita itu.
Alan merasa senang karena Kayla mau menurutinya. Pria itu lalu menyuruh Kayla untuk berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
“Kamu ke kamar kamu aja, aku bisa istirahat sendiri kok!” Usir Kayla dengan nada bicara yang lembut di telinga Alan.
Alan tidak menjawab, tetapi dia juga tidak beranjak dari posisinya. Tiba-tiba suara seseorang terdengar memanggil nama Alan.
“Alan, aku sampai nih. Kamu di mana?”
“Kayla, bentar ya!” Alan langsung keluar dari kamar Kayla untuk menemui sahabatnya itu.
Tak lama, Alan kembali ke kamar Kayla bersama dengan dokter yang menjadi sahabatnya.
“Astaga!” Teriak dokter muda itu saat melihat Kayla ada di kamar di dalam rumah Alan.
Yang pria itu tahu, Alan sangat sulit didekati wanita, makanya sangat mengejutkan saat melihat Kayla ada disana.
“Tolong periksa dia. Tadi, dia mimisan dan katanya kepalanya pusing,” kata Alan yang kemudian menyeret temannya itu mendekati Kayla.
Kaya la yang tadinya sudah memejamkan mata, terpaksa kembali bangun saat mendengar suara dua pria memasuki kamarnya.
“Dia siapa, Alan?” Tanya sang dokter yang masih merasa penasaran.
“Kayla, ini Tristan. Dia temanku sekaligus dokter di rumah sakit Harapan Sehat. Biarkan dia periksa keadaan kamu!” Kata Alan mengabaikan pertanyaan Tristan.
Kayla jadi merasa canggung, tetapi Alan terus memaksa Tristan untuk segera memeriksa dirinya. Hal itu membuat Kayla menurut dan membiarkan Tristan melakukan tugasnya.
Dokter Tristan mengajukan beberapa pertanyaan dan memeriksa tekanan darah Kayla. Setelah itu, diapun mengambil kesimpulan.
“Kepala kamu ada luka yang cukup serius, hidung kamu juga terkena benturan dan itu yang bikin kamu mimisan. Tapi, untuk memastikan apakah cedera kepala ini punya efek serius, kita harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Besok kamu bisa datang untuk memastikannya.”
“Artinya, luka seperti ini nggak mungkin karena kepleset, ‘kan?” Tanya Alan yang kemudian melirik Kayla.
“Aku yakin bukan. Kemungkinan jatuh, terbentur tembok, atau mungkin benda keras lainnya,” jawab dokter Tristan. “Tapi, ngomong-ngomong dia siapa sih? Kok bisa ada di kamar ini?” Tanya pria itu yang tidak bisa menahan lagi rasa penadah.
“Sudahkan, kasih dia obat, dan jangan banyak tanya!” Balas Alan sambil melotot.
Dokter Tristan mencebik dan mengeluarkan obat dari tasnya. “Kamu bisa minum ini untuk meredakan sakit kepalanya. Besok, jangan lupa datang ke rumah sakit ya, Cantik!” Kata pria itu sambil senyum menggoda Kayla.
“Terima kasih, Dok.”
Alan segera mengantarkan sahabatnya itu keluar. Dia tidak mau cerita dulu dengan Dokter Tristan sebelum Kayla hamil.
Setelah mengantarkan Dokter Tristan, Alan kembali menemui kayla di kamar wanita itu. Dia membawakan segelas air supaya Kayla bisa segera meminum obatnya.
“Minum dulu, Kay!” Kata Alan sambil mengulurkan segelas air yang dibawanya pada Kayla.
“Makasih, Alan,” kata wanita itu yang kemudian meminum obatnya dengan patuh.
“Dimas Antony itu ayah kamu, kan?” Tanya Alan sambil mengambil kembali gelas air dari tangan Kayla.
Mata Kayla membulat sempurna dan wanita itu menatap Alan dengan ekspresi terkejutnya. “Ka-kamu tahu dari mana?”
“Sekretaris Lee itu bisa dapat informasi seseorang dalam sekejap mata, dan itu adalah kelebihannya. Kayla, walaupun kita hanya menikah sesuai kontrak, tapi kita akan punya anak bersama. Jadi, katakan saja apa yang terjadi sama kamu? Kenapa sampai ada banyak luka di tubuh kamu, Kayla?”
Kayla merasa bingung harus bagaimana menjelaskan pada Alan tentang keluarganya. Akan tetapi, melihat wajah Alan yang tampak tulus, Kayla akhirnya sedikit membagi ceritanya.
“Dia ayah tiri aku, Alan. Dia yang bersedia menikahi ibuku dalam keadaan hamil anak pria lain. Tadinya, dia paksa aku buat menikah sama Thomas Winata, tapi aku menolak dan ayahku marah. Secara nggak sengaja, dia bikin aku jatuh karena kemarahannya itu,” jawab Kayla yang kemudian menundukkan kepala.
Alan sangat kaget mendengarnya. Kalau memang itu ketidaksengajaan, lalu kenapa ada luka lain yang dia lihat tadi malam?
“Kay, apa dia sudah lama menyiksa kamu? Tadi malam aku lihat luka di punggung kamu. Apa itu luka dari ayah kamu juga?”
*****