Alan merasa sangat yakin dengan kecurigaannya kalau Kayla memang mendapat penyiksaan dari keluarganya. Memar yang ada dalam tubuh Kayla bukanlah sesuatu yang bisa di remehkan, dan penyiksaan terhadap istrinya itu tidak akan bisa Alan terima.
“Ini bukan masalah besar, Alan. Ayah tidak sengaja melakukannya. Lagi pula, aku nasib baik baik saja,” kata Kayla sembari menampilkan senyum palsu seakan dia memang baik baik saja.
Namun, Alan membaca ekspresi wajah Kayla saat ini dan semakin meragukan cerita istrinya itu.
“Kalau enggak sengaja, mana mungkin kamu sampai mimisan kayak gini. Kayla, kamu jangan bohong! Kalau kamu nggak mau cerita yang sejujurnya, aku bisa cari tahu sendiri kebenarannya. Kalau keluarga kamu terbukti menyiksa kamu aku tidak akan tinggal diam.” Kata Alan yang kemudian beranjak dari tempat tidur Kayla.
Sorot mata Alan tampaknya begitu serius. Kayla yakin, suaminya itu bersungguh sungguh akan mencari tahu apa yang ternjadi padanya.
“Alan!”
Tangan Kayla menahan tangan Alan supaya tidak pergi. “Tidak bisakah kita menjalani kehidupan kita masing-masing. Kita bukan suami istri sungguhan, Alan. Kita hanya menikah demi anak. Jadi, untuk apa kamu mengotori tangan untuk mengurusku. Itu akan bikin pernikahan kita terungkap, dan aku nggak mau kalau nantinya akan mengganggu kontrak pernikahan ini.”
Kayla tampak begitu memohon pada Alan agar pria itu tidak mencampuri urusannya. Bagi Kayla, keluarganya itu hanya akan menjadi pengacau dan Kayla tidak rela kalau uangnya melayang begitu saja.
Wanita itu masih membutuhkan biaya yang cukup besar kalau seandainya nanti ada orang yang bersedia mendonorkan jantungnya untuk sang Ibu. Kalau saja Kayla bisa melakukannya, mungkin sudah lama dia akan mendonorkan jantungnya. Sayangnya orang yang masih hidup tidak boleh mendonorkan jantungnya.
“Kay, kamu istriku. Dokumen pernikahan juga sudah di urus jadi aku ini tetap suami kamu terlepas dari perjanjian itu,” kata Alan yang kini kembali duduk di tepi ranjang sambil menatap Kayla dengan tegang. “Kamu juga harus ingat, aku nggak mau mengambil resiko. Kalau keluarga kamu masih bersikap kasar, bisa bisa mereka akan mencelakakan anakku, dan aku tidak akan membiarkan hal itu.”
Kayla mendesahkan napas dengan kasar. “Oke, kamu benar, alan. Papa dan kakak tiriku menindasku. Tapi, aku juga nggak mau kalau mereka sampai tahu pernikahan kita dan menghancurkan rencana kita. Tolong biarkan saja mereka, aku akan urus supaya mereka tidak mengganggu ku lagi.”
Genggaman tangan Kayla terasa hangat. Sama seperti tutur katanya yang membuat Alan akhirnya mau mengalah.
“Oke, tapi ingat aku nggak mau mereka menyiksa kamu,” kata Alan.
Kayla mengangguk dan memberanikan diri memeluk tubuh Alan. “Aku akan bayarkan uangku untuk utang mereka. Mungkin dengan begitu mereka tidak akan menggangguku lagi.”
Alan merasa kasihan dengan Kayla. Dia tahu kalau ibunya Kayla sakit dan butuh banyak biaya. Namun, dia masih tidak menyangka kalau Kayla juga harus menanggung hutang yang dimiliki oleh ayah tirinya.
“Baiklah, kamu harus istirahat sekarang! Aku akan kembali ke kamarku,” kata Alan yang kemudian membantu Kayla untuk rebahan lagi dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Selamat malam,” kata Kayla yang hanya dibalas anggukan oleh Alan.
***
***
Kayla bangun lebih pagi dan membantu Mbok Jim menyiapkan sarapan. Beberapa saat berikutnya, Alan keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan siap untuk bekerja.
“Selamat pagi,” sapa Kayla menyuguhkan secangkir kopi untuk Alan.
Pria itu menatap Kayla dan kembali mengangguk. “Jangan lupa ke rumah sakit, Kayla. Kalau bisa sekalian kamu datang ke dokter kandungan dan tanyakan bagaimana caranya biar cepat hamil!”
Suara Alan terdengar seperti perintah raja yang harus di taati. Mau tidak mau memang itulah faktanya, Alan hanya bersikap hangat dan manis saat di atas tempat tidur saja. Di luar itu, hubungan mereka lebih mirip bos dan anak buahnya.
“Aku nanti harus jenguk Mama, aku juga harus urus deposit untuk pembayaran beberapa bulan ke depan. Setelah itu, aku akan temui dokter Tristan, dan lanjut ke bank. Mungkin besok aku baru bisa ke dokter kandungan,” kata Kayla yang dengan rinci melaporkan kegiatannya.
“Setelah dari bank kamu bisa pergi lagi ke dokter kandungan,” sahut Alan.
Lagi lagi Kayla menghela nafas dengan berat. Pasalnya Alan tidak memberimu waktu untuk istirahat. “Alan, aku punya beberapa pekerjaan yang satu per satu harus aku urus untuk berhenti. Besok siang aku usahakan ke dokter kandungan ya, tolong ya!”
Alan meletakkan sendok dan garpu yang tadinya dipakai untuk sarapan. Sebenarnya dia tidak suka dibantah, tetapi melihat ekspresi Kayla yang tampak memohon, membuat pria itu tak bisa semena Mena.
“Terserah kamu!”
***
***
Kayla pergi kerumah sakit dan menemui ibunya. Dia senang karena kondisi tubuh ibunya sekarang sudah jauh lebih baik berkat perawatan di rumah sakit yang lebih baik daripada tinggal di rumah dan bolak balik ke rumah sakit.
“Mama, mama pasti kesepian ya. Kay sekarang jarang jenguk mama,” kata Kayla yang merasa bersalah karena tidak bisa menemani ibunya terus.
“Enggak apa apa, Kay. Mama tahu kok kamu kerja keras buat Mama. Bahkan di saat ayah kamu nggak peduli sama Mama lagi, kamu harus mengorbankan kehidupan kamu demi Mama,” balas mama Kayla sembari mengusap kepala putrinya itu dengan rasa bersalah.
“Ayah juga lagi sibuk, Ma. Ada masalah sama perusahaan, makanya Ayah nggak bisa jenguk mama. Tapi, mama nggak usah khawatir, kami akan mengupayakan yang terbaik buat mama.”
“Kay, gimana kalau Mama berhenti aja. Biayanya terlalu mahal.”
Sebenarnya mereka memiliki asuransi kesehatan, tetapi sayangnya uang premi yang mereka bayarkan tiap bulan itu ternyata tidak masuk ke dana perusahaan dan bahkan nama mereka tidak terdaftar. Semua ini karena Dimas Antony yang mudah termakan rayuan gadis cantik hingga mereka pun akhirnya tertipu.
Sekarang, Kayla harus kerja keras untuk biaya pengobatan ibunya.
“Jangan Ma. Mama tenang aja, Kayla udah dapat jaminan kok buat bayar pengobatan Mama. Yang penting, Mama harus selalu semangat untuk sembuh.”
Kayla menggenggam tangan sang Ibu dan meyakinkan semua akan baik baik saja. Padahal, dalam hati ia merasa khawatir kalau dirinya tak kunjung hamil dan mendapatkan uang kedua.
***
***
Kayla telah menyelesaikan pemeriksaan kesehatan dengan Dokter Tristan. Wanita itu terlihat buru buru datang ke bank setelah pemeriksaan itu. Padahal, dokter Tristan masih sangat penasaran dengan hubungan Kayla dan Alan.
Wanita itu menemui teller bank dan meminta pemisahan dana. Dia harus menyisihkan uang untuk pengobatan sang Ibu setidaknya selama enam bulan ke depan.
Setelah berhasil memisahkan dana untuk pengobatan ibunya, Kayla keluar dari bank dan menunggu sang ayah di luar bank.
Dari kejauhan, Della dan Dimas Antony muncul dan berjalan ke arahnya.
“Ayah, aku ada uang untuk membayar utang ayah meski pun tidak sampai lunas,” kata Kayla saat sang ayah tiri sudah berada di depan matanya.
“Wah, banyak duit kamu, Kay. Dapat dari mana? Jadi sugar baby ya?” Tanya Della sengaja mengejek adik tirinya itu.
Untungnya, Kayla tidak mau meladeni kata kata yang dilontarkan oleh Della. Dia hanya fokus pada tujuannya datang ke bank saat ini demi mengakhiri penyiksaan keluarganya yang tidak punya hati.
“Aku ada dua ratus juta, tapi ayah dan Della harus janji satu hal,” kata Kayla sambil menatap kedua orang yang telah menindasnya itu.
Di saat yang sama, mobil Alan berhenti di depan pintu dan pria itu turun dari mobil bersama Asisten Lee.
“Dua ratus juta? Jangan membual kamu, Kayla!” Ejek Della kian menjadi jadi. Ia bahkan menertawakan Kayla dengan sangat keras tanpa menyadari kalau di belakangnya ada Alan.
“Sudahlah Dell. Kita sedang berada di bank. Kalau anak ini hanya bercanda saja, kita antarkan langsung pada Thomas Winata untuk dinikahi,” sahut Dimas Antony ikut meremehkan Kayla.
“Setidaknya aku punya uang itu, Della. Aku akan kasihkan uang itu ke kalian, asal kalian berhenti menyiksaku secara fisik dan mental. Dua ratus juta itu lumayan untuk bayar hutang ayah.”
Alan mendengar dan menyaksikan keberanian Kayla pada ayah dan kakak tirinya yang kejam. Wanita itu benar benar tahu caranya menjauhkan diri dari penyiksaan meski harus kehilangan uang yang jumlah nya tidak sedikit baginya.
*****