“Jual diri di mana dapat banyak uang? Aku dengar, biaya pengobatan Ibu kamu juga sudah dilunasi. Hebat sekali kamu, Kayla!’
Suara tawa Della terdengar menggelegar. Beberapa orang yang ada di bank itu mendengar pembicaraan Della yang menuduh Kayla jual diri.
“Aku nggak jual diri. Tapi, yang jelas aku punya niat untuk bantu bayar utang ayah. Memangnya kamu udah bantu berapa?” Balas Kayla dengan mata membulat sempurna.
Alan Devara masih mendengar dan menyaksikan langsung perdebatan Kayla dan Della. Meski diremehkan oleh kakak tirinya, tetapi nyatanya Kayla berani melawan.
“Sudahlah, ayo cepat buktikan kalau memang kamu punya uang!” Kata ayah Kayla berusaha menengahi pertengkaran dua putrinya.
Kayla melihat ekspresi datar Alan yang sengaja menguping pembicaraannya. Dalam suasana seperti ini, tidak mungkin Kayla menegur suaminya itu. Wanita itu lalu berbalik badan dan kembali menemui teler bank.
“Selamat siang, Tuan Devara,” sapa pegawai bank yang sengaja menjemput Alan untuk dibawa ke ruangan khusus.
Sontak saja Della langsung menoleh ke belakang saat mendengar nama Devara disebut. Wajahnya seketika berbinar kala menyadari bahwa Alan ada di tempat yang sama dengannya.
“Alan Devara,” panggil Della dengan suara lantang.
Mendengar nama suaminya disebut oleh kakak tirinya, Kayla ikut menoleh memperhatikan Alan. Dia melihat Alan dan sekretaris Lee menghentikan langkah dan menatap Della dengan tatapan curiga.
“Anda siapa?” Tanya sekretaris Lee seraya berusaha menghalangi Della supaya tidak mendekati bosnya.
“Saya Della Anthony, putrinya Dimas Anthony,” jawab Della sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Maaf, Nona. Kami tidak mengenal Anda dan kami tidak ada urusan dengan Anda. Jadi, tolong jangan mengganggu waktu kami,” kata sekretaris Lee dengan tegas.
Alan melirik istrinya yang masih mengantri untuk bertemu dengan Customer Service bank. Dia lalu berbalik badan mengikuti pegawai yang menyapanya tadi. Lalu, sekretarisnya pun mengikuti Alan dan meninggalkan Della sendirian.
‘Jadi beneran, Della lagi ngincar Alan? Kalau nanti aku hamil anaknya Alan dan dia tahu, apa dia akan diam saja?’
Setelah Alan pergi, Della kembali duduk di samping ayahnya untuk mengantri. Wanita itu lalu mengambil bedak dari tasnya dan mulai memperbaiki riasannya.
“Aku harus membuat Alan Devara terkesan dengan kecantikanku. Ayah, aku udah keliatan cantik, kan?” Tanya Della setelah selesai dengan riasannya.
“Sangat sempurna. Anak ayah selalu cantik.”
Dua manusia yang sama-sama memiliki sifat serakah dan keji itu saling tertawa. Mereka pikir, Alan Devara mudah didekati dan mimpi mereka menjadi orang terkaya di kota ini akan menjadi nyata. Padahal, pada kenyataannya Alan begitu sulit membuka hati untuk wanita manapun.
Kayla menunggu dengan bosan, sampai akhirnya namanya dipanggil.
“Bu Kayla, jadi sisa saldonya masih dua ratus juta, ini mau dibayarkan untuk hutang Pak Dimas Anthony?” Tanya Customer Service bank yang tengah melayani Kayla.
“Iya, saldo saya masih dua ratus juta kan?” Tanya Kayla memastikan.
Della mendekati Kayla dan meminta pegawai bank itu untuk memeriksa kembali dengan lebih jelas. Mau diperiksa berapa kalipun saldo Kayla tidak akan berubah karena uang sebanyak itu memang Kayla terima dari Alan.
“Wah beneran banyak ya ternyata,” kata Della yang tampak takjub dengan uang yang dimiliki Kayla.
“Sekarang bagaimana? Aku akan serahkan uang ini ke kalian, asal kalian berhenti bersikap kasar denganku.”
Della dan ayahnya saling menatap. Mereka tidak punya pilihan lain sekarang ini. Lebih baik memang mengalah pada Kayla.
Pada akhirnya, Kayla berhasil membuat perjanjian dengan Della dan ayahnya bahwa mereka tidak akan mengganggu Kayla lagi. Lalu, uang dua ratus juta itu berhasil dipindahkan untuk membayar hutang Dimas Anthony.
“Darimana kamu dapat uang sebanyak itu? Jujur sama ayah, Kayla!” Sergah ayah Kayla saat mereka bersama-sama keluar dari bank.
Jantung Kayla seketika berpacu dengan cepat. Dia memejamkan mata sebentar untuk mengambil napas dalam-dalam. Kalau bilang utang bosnya di club malam, ayahnya pasti tidak akan percaya.
“Aku dapat dari—“
“Nona Kayla.”
Suara sekretaris Lee membuat ucapan Kayla terhenti. Sontak saja Della dan ayahnya ikut menoleh ke arah sekretaris Lee yang muncul bersama dengan Alan.
Perasaan Kayla mulai tidak enak. Pikirannya menjadi tidak karuan dan debaran jantung itu semakin berdetak cepat. Apa mungkin Alan akan ikut campur tentang keluarganya seperti yang ia bilang tadi malam?
“I-iya!”
“Bukankah seharusnya Nona Kayla sekarang di kantor? Saya sudah meminjamkan uang dan kamu harus segera membayarnya Nona Kayla!” Seru sekretaris Lee.
Kayla tidak mengerti apa yang sekretaris pribadi suaminya itu katakan. Dia tidak merasa sekretaris Lee meminjamkan uang padanya, lalu sebenarnya uang apa yang dimaksud?
“I-itu..”
“Oh, jadi kamu pinjamkan uang untuk gadis ini? Kamu bilang dia akan mulai kerja hari ini, kenapa dia malah berkeliaran disini?” Sahut Alan sambil memainkan ponselnya, memberi kode pada Kayla untuk membuka pesannya.
Kayla paham dengan kode yang diberikan Alan. Dia langsung membuka layar ponselnya dan terpampang pesan dari suaminya itu.
“Kamu bilang saja kerja di kantor, kenal lama sama sekretaris Lee,” tulis Alan dalam pesan singkatnya.
Kayla langsung menutup kembali ponselnya dan paham harus bagaimana. “Aku sedang menggunakan uang yang aku pinjam kemarin untuk bayar utang,” jelas Kayla setelah membaca pesan dari Alan.
“Kay, kamu kenal sama mereka?” Tanya Della yang kini mulai pura-pura baik pada Kayla karena memiliki tujuan lain. Dia bahkan sengaja bergeser tempat untuk bisa lebih dekat dengan Alan.
Menyadari kalau Della sedang mengincarnya, Alan langsung berjalan ke arah mobil yang sudah siap dengan sopirnya. “Kamu urus dulu dia! Jangan lupa, suruh kerja yang benar!”
Kayla semakin tidak mengerti, apa tujuan Alan yang sebenarnya? Kenapa dia harus membuat cerita seolah-olah Kayla bekerja di perusahaannya?
“Nona Kayla, tolong bekerja dengan baik dan lakukan tugasmu, meskipun kita kenal dekat!” Sekretaris Lee menyusul Alan yang sudah lebih dulu ke mobil untuk menghindari Della.
Sementara itu, Della dan ayahnya malah semakin merasa aneh mengetahui Kayla mengenal sekretaris Lee dan Alan.
“Jadi, kamu kenal sama mereka? Uang ini dari sekretarisnya Alan Devara?” Tanya Della yang sedari tadi gagal mendekati Alan.
“Nggak penting uang ini dari mana, yang penting mulai sekarang, kalian nggak bisa semena-mena denganku,” jawab Kayla yang kemudian meninggalkan Della dan ayahnya.
“Sombong sekali dia,” balas Della. Wanita itu bersedekap d**a dan menatap kepergian Kayla dengan sinis.
“Kamu bisa manfaatkan Kayla untuk mendekati Alan Devara, Della.”
Dua orang ayah dan anak itu tampaknya memiliki rencana licik untuk mencapai tujuan mereka mendekati Alan.
Sementara itu, Kayla mengirimkan banyak pesan pada Alan untuk mempertanyakan tujuan pria itu membuat cerita tentang pekerjaannya di kantor. Sayangnya, pria itu terlalu sibuk bekerja dan mengabaikan pesan-pesan Kayla, sehingga wanita itu harus mengubur rasa penasarannya sampai Alan pulang.
Kayla menunggu Alan pulang dari kantor. Begitu suara mobilnya terdengar, Kayla langsung berlari keluar dan membukakan pintu untuk pria itu.
“Alan, jawab chat aku. Kamu belum jelasin apa-apa sama aku loh!” Cerca Kayla yang sejak tadi tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Aku cuma menyelamatkan kamu dengan membuat alasan masuk akal. Bukannya waktu itu kamu memang pinjam uang sama bos kamu?” Balas Alan.
“Tapi kamu bukan bos aku, kan? Aku masih harus kerja di restoran bubur dan sekarang aku harus siap-siap ke club untuk mengundurkan diri. Mana mungkin Della percaya kalau aku kerja di tempat kamu dan dapat pinjaman sebanyak itu, Alan?”
“Kalau gitu kamu kerja di perusahaan ku saja sekalian. Kamu lulusan sarjana, kan? Kenapa kerjaan kamu nggak jelas? Lagian aku nggak suka dengar saudara kamu yang bilang kamu menjual diri. Ingat, Kayla. Kamu itu calon Ibu dari anak aku. Aku nggak mau kesan buruk terus melekat di pikiran orang-orang tentang kamu.”
Alan langsung berjalan menuju kamarnya meninggalkan Kayla bersama Sekretaris Lee yang datang mengantarkan Alan pulang.
“Dia nggak tahu ya kalau cari kerja itu susah? Dulu aku pernah melamar kerja di perusahaan kalian tapi ditolak setelah wawancara,” gerutu Kayla dengan wajah sinis.
“Besok saya akan urus, Nona Kayla. Kirimkan saja dokumennya ke nomor saya,” balas Sekretaris Lee dengan tenang.
Pria tampan berkacamata itu masih bisa memasang wajah ramah pada Kayla. Tidak seperti Alan yang hanya bersikap manis saat di atas ranjang saja.
“Hah? Bisa gitu ya? Saya nanti langsung kerja di perusahaan kalian?” Tanya Kayla yang masih sangat syok dengan wewenang dan kekuasaan suaminya.
“Kalau Nona bekerja di perusahaan, Tuan akan lebih mudah mengawasi gerak-gerik Nona Kayla. Tapi, begitu hamil, kamu akan langsung dipecat dari kantor dan fokus dengan kehamilan di rumah. Pekerjaan ini hanya alibi supaya Nona Kayla tidak dipandang sebelah mata lagi.”
*****