Setelah pulang kerja tadi, Alan tidak keluar dari kamarnya. Meski jam makan malam sudah lewat, pria itu tak kunjung keluar kamar membuat Kayla menunggunya dalam keadaan lapar.
“Mbok Jum, kok dia belum keluar dari tadi. Kira-kira kenapa ya?” Tanya Kayla padan asisten rumah tangga yang tengah mencuci peralatan masak itu.
Mbok Jum menatap kamar alam dengan khawatir dan mendesahkan napas kasar. “Mungkin Den Alan lagi kecapean karena banyak pekerjaan di kantor. Pulangnya tadi juga terlambat kan,” jawab Mbok Jum berusaha menenangkan hati Kayla.
Wanita itu memanyunkan bibir. Dia tidak berani makan kalau Alan belum makan, sementara dia harus pergi ke club malam tempatnya bekerja untuk mengundurkan diri.
“Mbak Kayla ketuk aja pintunya, siapa tahu nanti Den Alan mau keluar kamar,” kata Mbok Jum menyarankan.
Kayla mengerutkan kening dan berpikir mungkin itu satu-satunya cara supaya dia bisa makan malam ini. Akhirnya, Kayla pun datang ke kamar Alan dan mengetuk pintu kamar itu.
“Alan, kamu di dalam?” Tanya Kayla sambil mengetuk pintu kamar suaminya.
Dalam beberapa detik setelah tangan Kayla berhenti mengetuk, pintu kamar itu terbuka dan Alan muncul dengan wajah datarnya.
Secara refleks Kayla memundurkan langkah begitu mendapat tatapan Alan. “Ka-kamu mau pergi ya?” Tanya Kayla. “A-aku aku belum makan.”
Ekor mata Alan melirik ke arah meja makan yang memang masih utuh belum tersentuh. Sayangnya, dia tidak akan makan di rumah karena pria itu harus segera pergi.
“Kamu makan sendiri aja! Aku ada urusan,” kata Alan yang kemudian keluar dan menutup pintu kamarnya.
Kayla memandangi punggung Alan yang tampak kini berjalan meninggalkannya. Wanita itu teringat kalau dirinya harus pergi ke club malam untuk bekerja.
“Hari ini aku ke club, aku usahakan si bos kasih izin buat keluar sekalian aku ambil gaji,” kata Kayla setengah berteriak.
Alan tidak merespon tetapi telinganya mendengar dengan jelas. Dia tetap melangkah ke luar dari rumah dan mengabaikan Kayla.
“Dia kenapa, marah ya?” Gumam Kayla sembari berjalan lesu ke arah meja makan.
Wanita itu akhirnya menikmati makan malamnya sendirian. Sebelum menjadi istri rahasia Alan, dia tinggal sendirian di tempat kost sehingga makan sendiri seperti ini bukan hal yang aneh untuknya.
Usai menghabiskan makanannya, Kayla langsung meninggalkan rumah dan pergi ke tempatnya bekerja. Sebuah club malam yang juga menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan Alan.
Sementara itu, Alan melajukan mobilnya ke arah rumah sang kakek. Dia baru saja mendapat informasi kalau penyakit kakeknya kambuh dan kini dia pergi untuk mencari tahu keadaannya.
Begitu sampai di rumah sang kakek, Alan langsung mencari keberadaan kakeknya dan kebetulan ayahnya Tristan yang juga seorang dokter ada di sana.
Alan berdiri di ambang pintu kamar sang kakek. Melihat wajah tegang dokter itu, hatinya terasa berat dan penuh dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Wajah tua kakek yang biasanya penuh semangat itu tampak pucat dan lesu.
Hati Alan terasa nyeri seakan ada belati tajam yang menembus dadanya. Dia berjalan mendekati tempat tidur itu dan memegang tangan sang kakek yang tampak keriput.
“Kek, kakek ini Alan.”
Setelah orang tuanya bercerai, Alan menjadi sangat dekat dengan kakeknya. Terlebih lagi setelah ayahnya menikah lagi dan memberinya seorang Ibu tiri yang tidak ia sukai.
Sayangnya, tuntutan sang kakek untuk menimang cucu membuat hubungan mereka menjadi renggang akhir-akhir ini. Namun, Alan tetap mengusahakan yang terbaik untuk mewujudkan keinginan kakeknya itu.
“Kamu pulang juga. Apa sudah ada calon istri yang bisa kamu bawa pulang?” Tanya sang kakek dengan suara yang terdengar lemah.
Pria tua itu masih saja membahas hal yang menciptakan keributan antara dirinya dan sang cucu. Sebenarnya semua itu kakek lakukan demi kebaikan Alan juga.
“Belum ada. Udah keliling mall belum ketemu,” jawab Alan.
“Alan, bisa kita bicara sebentar?” Tanya dokter yang masih menjadi kerabat Alan itu.
Alan lalu mengajak ayah Tristan itu keluar dari kamar kakek dan membawanya ke ruang kerja yang tidak jauh dari kamar itu.
“Ada apa, Om?”
“Begini, Alan. Tekanan darah kakek kamu ini sangat tinggi. Beruntung di angka segitu tidak ada kejadian yang fatal. Om sarankan, kakek kamu jangan terlalu stress karena kalau kondisinya terus seperti ini, bisa-bisa akan menyebabkan komplikasi serius serangan jantung, atau mungkin stroke. Kamu mengerti maksud saya, kan?”
Alan tampak mengangguk pelan. “Dia ingin cucu dan aku masih belum bisa mengabulkannya. Mungkin itu juga yang bikin kakek jadi stress.”
“Om yakin, kamu lebih padahan apa yang harus kamu lakukan, Alan.”
*****
Kayla tiba di tempat kerjanya. Langit yang gelap berbanding terbalik dengan suasana club malam ini.
Lampu neon berkedip-kedip dengan suara musik yang menggema di seluruh ruangan. Club malam itu baru dibuka, tetapi pengunjung sudah banyak mengantri di depannya.
Kayla langsung masuk karena sebenarnya dia sudah terlambat ketika musik dimainkan. Buru-buru Kayla mengganti seragamnya dan mengambil peralatan kerja.
“Dari mana saja kamu baru muncul sekarang?”
Suara gertakan itu membuat Kayla yang tengah bersih-bersih, terpaksa menoleh ke arah sumber suara. Jelas sekali itu adalah suara bosnya yang kini berpenampilan layaknya koboi.
“Maaf saya terlambat, Pak. Kemarin saya sakit,” jawab Kayla sembari memegang gagang sapu di tangannya.
“Oh ya? Terus gimana kelanjutan pinjaman uang kamu itu? Sudah ada yang kasih pinjaman?” Tanya bos Kayla yang kini berjalan mendekat ke arah Kayla dengan tatapan m***m.
Pegangan tangan Kayla pada gagang sapu di tangannya jadi kian erat. Dia sudah bersiap untuk memukul bosnya itu kalau-kalau berbuat jahat padanya.
“Sudah kok, Pak. Sekarang saya sudah tidak perlu uang itu,” jawab Kayla berusaha terlihat kuat dan tidak mudah ditindas.
“Apa ada yang membeli keperawananmu dengan lebih mahal dari yang saya tawarkan?”
Kayla mengingat-ingat selembar cek yang diberikan oleh Alan. Kalau di pikir-pikir. Alan memang menghargai keperawanannya lebih tinggi dari bosnya itu, tetapi intinya sama saja Kayla menjual keperawanannya pada Alan ditambah lagi dia menyewakan tubuhnya untuk pria itu.
“Nona, untuk apa bekerja lagi? Bukankah Tuan sudah menyuruh Nona untuk keluar dari pekerjaan ini?” Tanya Sekretaris Lee yang tiba-tiba muncul tanpa Kayla sadari.
Dahi si bos mengernyit begitu menyadari bahawa ada orang yang tiba-tiba masuk sebelum pintu club dibuka. “Kamu siapa?” Tanya si bos yang memang tidak pernah bertemu dengan Sekretaris Lee.
“Saya ditugaskan untuk menjemput Nona Kayla yang akan mengundurkan diri. Saya juga sudah periksa seharusnya hari ini Nona gajian. Jadi, segera bayarkan gaji Nona Kayla dan biarkan dia pergi!”
Suara Sekretaris Lee yang tegas dan keras membuat si bos merasa ngeri. Akan tetapi, seketika dia sadar kalau ini adalah tempatnya dan dia punya banyak bodyguard yang akan menjaga dan melindunginya.
“Siapa kamu nyuruh-nyuruh saya? Kamu pikir saya takut?” Pria itu menjentikkan jari dan beberapa orang bertubuh kekar mendekat ke arahnya. “Kalian tahu ini apa? Aku adalah Jackson.”
Hanya dengan mengatakan dua kalimat dan menujukkan sebuah kartu, akhirnya pria bertubuh kekar itu mundur dan meminta maaf pada sekretaris Lee. Rupanya sekretaris Lee begitu disegani oleh mereka.
“Kenapa kalian takut dengannya?” Tanya bos Kayla itu dengan wajah panik.
“Maaf, Bos. Tapi kami tidak berani melawan dia,” jawab seorang yang mewakili para bodyguard itu.
Bos Kayla akhirnya paham kalau Sekretaris Lee memang bukan orang sembarangan. Dia tidak mau mencari gara-gara dan langsung membayarkan gaji Kayla.
“Kenal di mana sih kamu sama dia, Kay?”
Kayla tidak mau menjelaskan jawaban dari pertanyaan bosnya itu. Wanita itu segera mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan di club malam ini.
Kayla beruntung karena akan mengirimkan Sekretaris Lee untuk menjaganya.
Setelah keluar dan mengambil barang-barangnya, Kayla diajak Sekretaris Lee untuk segera masuk ke mobil.
“Kamu ada disini disuruh sama bos kamu ya? Nggak mungkin doang kamu tahu aku kerja disini kalau bukan dari Alan.”
“Itu sangat jelas Nona Kayla. Dia adalah bos saya dan dia juga yang membayar saya,” balas Sekretaris Lee.
Sepanjang perjalanan dari club menuju rumah, Kayla dan sekretaris Lee saling diam di mobil. Tugas sekretaris Lee adalah mengantarkan Kayla sampai di rumah dengan baik, sedangkan wanita itu menggerutu sendiri.
Begitu tiba di rumah Alan, sekretaris Lee langsung menghentikan mobil dan membantu Kayla turun. “Nona, jangan lupa besok pagi harus kerja di kantor,” kata Sekretaris Lee mengingatkan.
“Iya, aku tahu. Itu sebabnya Alan ngirim kamu jemput aku,” balas Kayla.
Wanita itu mengamati sekeliling dan tidak ada tanda kalau suaminya sudah pulang. “Kamu tahu nggak hari ini dia pulang atau nggak?” Tanya Kayla sebelum Sekretaris Lee kembali masuk ke mobilnya.
“Nona, Anda tidak perlu menunggunya seperti istri sungguhan. Pulang atau tidak, Anda tidak perlu tahu. Itu yang tadi Tuan sampaikan kalau Nona bertanya.”
*****