Kayla masuk ke rumah dengan perasaan jengkel. Meski diucapkan oleh Sekretaris Lee, tetap saja intonasinya sama seperti yang diucapkan Alan.
“Siapa juga yang mau nungguin dia. Cuma tanya kapan pulang aja, emang salah ya?”
Kayla menggerutu sambil memasuki kamarnya. Sekarang, dia tidak lagi bekerja di tempat hiburan malam, tetapi malah jadi tidur lebih awal karena harus bekerja di perusahaan suaminya, Alan.
Kini, wanita itu membuka lemari yang isinya pakaian pribadinya yang tidak bisa dibilang banyak. Sepertinya tidak ada yang cocok dipakai untuk bekerja.
“Kerja di kantoran pakai baju apa sih?”
Wanita itu menutup pintu lemari dan berjalan dengan langkah gontai menuju kasur. Dia berteriak di balik bantal dan beberapa kali memukul kasur untuk meluapkan kekesalannya.
“Kenapa juga harus kerja mulai besok? Apa dia pikir aku ini tidak butuh persiapan?”
Kayla terus melampiaskan kekesalannya pada kasur empuk yang sama sekali tidak bersalah. Dia yang kesal dengan Alan, tetapi malah kasur yang menjadi korbannya.
Setelah tenaganya habis terkuras, tiba-tiba rasa kantuk pun mulai menyerang dan Kayla tertidur tanpa menyiapkan apapun.
***
Matahari sudah mulai terbit saat Kayla membuka jendela kamarnya. Pemandangan belakang rumah yang disulap sebagai taman kecil itu menjadi pemandangan terindah yang bisa Kayla nikmati setiap kali membuka kaca jendelanya.
Aroma udara yang segar mulai terhirup. Kayla menghembuskan napas pelan dan mulai menyemangati diri sendiri.
“Kamu pasti bisa, Kay!”
Beberapa waktu berlalu, Kayla sudah selesai mandi dan keluar untuk sarapan. Rupanya, Mbok Jum sudah membuatkannya nasi goreng udang yang sudah siap di meja makan.
“Mbak Kayla, mau kemana? Kok sudah rapi sekali?” Tanya Mbok Jum yang kini membawakan segelas s**u hangat untuknya.
Itu adalah s**u untuk program hamil yang Kayla beli untuk persiapan kehamilan. Dia sangat sadar kalau akan memberinya waktu enam bulan untuk bisa hamil, kalau tidak kesempatan untuk mendapatkan lima ratus juga yang kedua akan menghilang.
“Hari ini aku mau kerja, Mbok. Alan bilang, aku harus kerja di kantornya supaya lebih mudah mengawasi ku,” jawab Kayla.
Wanita itu menarik kursi untuk duduk dan mulai menikmati sarapannya.
“Wah, Den Alan benar-benar banyak kemajuan sekarang. Sepertinya, Mbak Kayla memang pilihan hatinya Den Alan,” sahut Mbok Jum yang entah mengapa memiliki pemikiran tersendiri tentang Alan.
“Pilihan hati apanya sih, Mbok. Pilihan terpaksa yang benar itu. Dia butuh aku buat nitipin benih aja. Sama sekali nggak ada hubungannya sama hati,” balas Kayla.
Meski pemikiran Kayla dan Mbok Jum berbeda, dua wanita itu sama sekali tidak memaksakan pendapatnya untuk di benarkan.
Kayla bisa sarapan dengan tenang dan akhirnya pergi ke kantor untuk mulai bekerja. Dia pergi dengan motornya yang belum lunas itu.
Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah tiba di kantor tempat Alan bekerja. Kantor itu juga yang menjadi salah satu alasan Alan menikahi dirinya.
Kayla harus menunggu kedatangan Sekretaris Lee karena ia tidak tahu harus menemui siapa di sana.
“Kira-kira Sekretaris Lee kapan datang ya, Mbak?” Tanya Kayla pada resepsionis.
“Tidak tentu. Bisa pagi, bisa siang. Bisa tidak datang juga. Lagi pula Sekretaris Lee itu bukan pegawai HRD. Lebih baik tunggu saja dengan tenang, sama seperti peserta wawancara yang lain.”
Jawaban sinis dari pegawai resepsionis itu membuat Kayla menghembuskan napas kasar. Andai mereka tahu siapa Kayla yang sesungguhnya. Walau menikah secara diam-diam, tetapi Alan sudah mendaftarkan pernikahannya dan status hukumnya adalah istri sah Alan.
“Oh, ya udah kalau gitu,” balas Kayla yang kini terpaksa harus bergabung dengan para pelamar kerja di perusahaan itu.
Tahun lalu, Kayla pernah mendaftar kerja di tempat ini juga. Sayangnya, dia tidak lolos karena berbagai tes dan persyaratan yang menurutnya tidak masuk akal.
Walaupun Kayla memiliki ijazah sarjana, sayangnya mencari pekerjaan yang cocok juga ternyata tidak mudah. Dia beberapa kali ditolak pekerjaan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil pekerjaan yang tidak semua orang mau mengerjakannya.
Sekretaris Lee datang bersama Alan yang tampak sedang buru-buru. Kedatangan itu membuat para pegawai termasuk pelamar kerja berdiri menyambut mereka.
Alan jelas melihat istrinya di antara para pelamar pekerjaan itu. Namun, dia tidak mau menyapa Kayla karena ini adalah tempat kerja yang tidak ada orang tahu tentang hubungan mereka kecuali Sekretaris Lee.
Tadinya, Kayla mau memanggil sekretaris Lee, tetapi baru saja membuka mulut, pegawai bagian resepsionis langsung memberinya kode untuk diam.
Kayla menundukkan kepala dan melirik suaminya dalam posisi itu. Dia merasa sedih karena Alan sama sekali tidak meliriknya dan terus berjalan menuju lift dengan langkah cepat.
‘Dia tidak bisa melihatku atau memang tidak mau melihatku? Masa lirik dikit aja nggak bisa? Kayak nggak pernah mengerang di atas tubuhku aja,’ batin Kayla merasa geram.
Wanita itu sibuk mengomel dalam hati, tanpa menyadari bahwa para manusia di samping kiri kanannya sudah kembali duduk. Saat itulah, Alan melihat Kayla dari dalam lift dan menyuruh Sekretaris Lee untuk memanggilnya.
“Nona Kayla, kemarilah cepat!” Perintah Sekretaris Lee yang kini masih berada di luar lift.
Begitu Kayla menoleh, pria itu langsung menyusul bosnya memasuki lift dan membuat Kayla berlari ke arahnya.
Kayla tidak mau ketinggalan naik lift yang pintunya mulai menutup. Namun, sebelum menutup sempurna, wanita itu berhasil mencegahnya dengan tangan.
Napas Kayla tersengal-sengal, membuat Alan teringat adegan mereka di atas tempat tidur. Pria itu berusaha membuang pikirannya dan dengan tegas berkata, “cepat masuk!”
Kali Kayla langsung melangkah ke dalam lift sambil mengatur pernapasannya. “Kalian lama sekali,” kata wanita itu.
“Jangan lupa kita ada di kantor!” Kata Alan memperingatkan.
“Iya, iya, aku tahu.”
“Sudah ke dokter kandungan?” Tanya Alan.
Kayla sudah janji untuk mendatangi rumah sakit memeriksakan diri hari ini. Namun, karena ide Sekretaris Lee untuk membawa Kayla ke kantor, wanita itu tidak jadi pergi ke dokter kandungan.
“Tuan Alan Devara. Mana mungkin saya bisa ke dokter kandungan kalau saya aja ada disini,” jawab Kayla.
“Kamu gimana sih? Kamu kan udah janji mau pergi hari ini. Kamu itu harus cepat hamil, Kayla!”
Alan tampak kecewa bercampur marah. Namun, Kayla sama sekali tidak menunjukkan wajah merasa bersalah.
“Jangan lupa juga, Tuan Alan. Saya dipaksa datang ke kantor sama Sekretaris Lee mulai hari ini. Mana mungkin saya datang terlambat di hari pertama saya bekerja,” balas Kayla dengan nada bicara yang mulai naik.
Dia merasa kesal karena akan bersikap semena-mena dengannya. Padahal, pria itu sendiri yang membuatnya berada dalam kesulitan ini.
“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan. Masalah mau periksa kehamilan ini saya juga tidak tahu menahu,” sahut Sekretaris Lee yang dijadikan kambing hitam oleh pasangan suami istri itu.
“Ah, sudahlah. Nanti sepulang kerja, kamu periksa dan atur program supaya bisa hamil bulan ini.”
Pikiran Alan tertuju pada sang kakek yang sedang sakit keras. Satu-satunya keinginannya adalah cucu dan Kayla adalah harapan Alan untuk mewujudkan keinginan kakeknya.
“Oke, baiklah. Tuan suami rahasia,” balas Kayla.
Pintu lift pun terbuka, Alan dan Sekretaris Lee keluar dari ruangan sempit itu. Begitu juga dengan Kayla yang mengekor di belakang Alan bersama sekretaris Lee.
“Loh, kok kamu ikut kesini?” Tanya Alan sambil mengawasi sekitar, takut ada yang melihat dirinya bersama Kayla.
“Lah, tadi kan Anda sendiri yang nyuruh saya masuk, Tuan Alan yang terhormat. Kenapa sekarang bingung begitu? Terus jadinya saya kerja di bagian apa?”
*****