Tatapan tajam Alan tertuju pada Sekretaris Lee yang kurang tanggap terhadap perintahnya. Seharusnya, Sekretaris Lee mengurus pekerjaan Kayla juga tanpa harus diperintahkan dengan rinci.
“Urus begini saja tidak becus!” Omel Alan pada Sekretaris Lee.
Sekretaris pribadi Alan itu menundukkan kepala dan diam mendengar omelan Alan daripada mendapat amukan.
Sambil memperbaiki jas dan terus mengawasi sekeliling. Alan menatap istrinya yang memakai pakaian atasan putih dan rok hitam. “Kamu ngelamar kerja nggak bawa apa-apa? Nggak ada ijazah sama CV?”
“Kan udah aku serahkan sama Sekretaris Lee. Aku kesini cuma bawa diri aja, karena aku pikir aku pasti diterima, buat apa bawa-bawa map lagi,” jawab Kayla.
Perhatian Alan kembali tertuju pada Sekretaris Lee. Dengan tatapan kesal, pria itu kembali mengomel, “kamu gimana sih, masa gitu aja nggak becus! Bawa dia pergi sekarang. Terserah mau di tempatkan di bagian mana, asal jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh dengan ruanganku!”
Alan meninggalkan Kayla bersama Sekretaris Lee dan segera masuk ke ruangannya. Sementara Kayla dan Sekretaris Lee saling menatap. Mereka berdua menjadi korban kekesalan Alan.
“Baik, Tuan,” jawab Sekretaris Lee dengan suara lirih, walaupun ia tahu akan tidak akan mendengar suaranya itu.
Sekretaris Lee akhirnya membawa Kayla ke ruang HRD. Dia harus mendapatkan tempat yang cocok untuk Kayla yang sama sekali tidak memiliki pengalaman kerja di dunia perkantoran.
“Kita mau kemana?” Tanya Kayla yang kembali mengekori Sekretaris Lee yang kembali masuk lift.
“Ruang HRD. Daripada saya yang pusing cari posisi yang pas buat Nona, lebih baik biar HRD saja yang bekerja,” jawab Sekretaris Lee.
Kali ini Kayla tampak patuh dan tidak banyak bertanya lagi. Dia. Isa memahami bahwa menjadi Sekretaris Lee juga bukan pekerjaan yang mudah.
Begitu tiba di ruang HRD, Sekretaris Lee disambut dengan hormat oleh para staff di sana. Mereka tentu akan memperlakukan sekretaris pemilik perusahaan dengan berbeda.
“Sekretaris Lee, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang wanita yang tampak tidak muda lagi, dengan penampilan yang cukup berisi.
“Tolong carikan pekerjaan yang cocok untuk dia,” kata Sekretaris Lee yang kemudian memberikan data diri Kayla.
Wanita berisi itu lalu melirik Kayla dan Sekretaris Lee secara bergantian. “Ini titipan?” Tanya wanita itu.
Sekretaris Lee mengangguk supaya wanita itu segera memproses Kayla. “Hari ini dia mulai kerja, tidak usah ada wawancara. Yang jelas, buat ruangannya lebih dekat dengan ruangan saya. Bisa kan, Bu Melda?” Jawab Sekretaris Lee.
Jelas saja hal itu menimbulkan kecurigaan dalam pikiran Bu Melda yang menjadi Manager HRD itu. Dia kira, Kayla adalah pacarnya Sekretaris Lee, karena kalau keluarga pasti Bu Melda sudah lumayan tahu.
“Baiklah. Sepertinya bagian pemasaran lebih cocok. Kebetulan tim pemasaran ada satu yang mengundurkan diri,” jelas Bu Melda sembari tersenyum pada Sekretaris Lee.
“Oke. Kamu, ikuti arahan Bu Melda ya. Aku harus kembali bekerja,” kata Sekretaris Lee yang tidak berani memanggil Kayla seperti biasanya karena mereka berada di lingkungan perusahaan.
“Makasih, Sekretaris Lee,” ucap Kayla.
Pria itu lalu mengangguk, dan meninggalkan Kayla bersama Bu Melda. Sementara Bu Melda mengawasi penampilan Kayla dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
‘Aku pikir Sekretaris Lee itu nggak doyan perempuan karena terlalu lengket dengan Pak Alan. Ternyata, dia bisa pacaran juga,’ batin Bu Melda sambil senyum-senyum menatap Kayla.
“Ayo, saya antar ke divisi pemasaran!” Ajak Bu Melda.
Kayla mengikuti Bu Melda dan mendapatkan kartu khusus pegawai. “Ini ID card kamu. Jangan sampai hilang ya!” Kata Bu Melda saat menyerahkan kartu khusus itu pada Kayla.
Kayla mengangguk dan langsung memakai kartu yang dilengkapi dengan tali panjang itu.
“Perusahaan ini memproduksi makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, dan sebagainya. Kamu pasti tahu produk-produk kita kan?” Tanya Bu Melda saat berada di lift mengantarkan Kayla.
“Iya, saya tahu.”
Sebenarnya Kayla juga baru tahu hari ini kalau suaminya adalah pemilik perusahaan bonafit yang produknya selalu ditemui dimana-mana.
Pantas saja Alan dengan enteng menawarkan uang sebanyak itu untuk mengandung anaknya, ternyata uang segitu setara dengan pendapatan bersih perusahaan setiap harinya.
Bayangkan saja berapa besar keuntungan perusahaan ini dan berapa besar kekayaan alam. Sungguh fantastis. Namun, pria itu tinggal bersama Kayla di rumah yang bisa dibilang sederhana untuk orang sekelas Alan. Ya, meski sebenarnya tidak sederhana di mata Kayla.
Pintu lift terbuka, Bu Melda menyapa beberapa pegawai yang di kenal ya. Sementara Kayla tampak mengagumi suasana kantor yang tampak seperti berada di mall.
“Kayla, ini Pak Saddam, Manager pemasaran yang akan jadi atasan kamu. Selanjutnya, kamu bisa tanya langsung sama beliau untuk pekerjaan kamu ya, saya harus kembali,” kata Bu Melda.
Kayla mengangguk. “Terima kasih, Bu Melda.”
“Titipan sekretaris Lee,” kata Bu Melda sembari menepuk bahu Pak Saddam yang sebenarnya masih sangat muda.
“Saddam. Manager pemasaran di perusahaan AS ini.” Pak Saddam mengurkan tangan untuk berkenalan dengan Kayla.
Tentu saja Kayla membalasnya dengan senang hati. Ternyata, atasannya tidak seseram yang dia bayangkan sebelumnya.
“Kamu pacarnya Sekretaris Lee?” Tanya Pak Saddam yang sepertinya tertarik dengan Kayla, hanya saja karena Sekretaris Lee lebih tinggi jabatannya, Saddam tidak akan berani mendekat.
“Bukan, Pak. Hanya saudara jauh,” jawab Kayla berbohong.
Kalau bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini, mana rela Kayla melepaskannya. Dia mulai berencana untuk tetap bekerja di perusahaan itu meskipun nantinya dia hamil. Toh, yang penting tidak ketahuan.
“Baguslah!” Saddam senyum-senyum mendengar jawaban Kayla.
Dia lalu mengajak Kayla kek mejanya dan mulai memberi tahu tentang pekerjaannya. Padahal, seharusnya hal itu bisa dilakukan pegawai lainnya.
“Oke, kamu pahamkan, Kayla? Kalau kurang jelas atau masih bingung nanti kamu kasih tahu saya lewat sini!”
Saddam juga mengajarkan pada Kayla cara berkomunikasi dengan dekritnya atau dengan karyawan lain di ruangan itu.
Melihat hal yang menurutnya keren itu, Kayla tampak kagum sampai tidak bisa berkata-kata. Ternyata, dunia kerja semenyenangkan ini. Padahal, dia baru beberapa menit saja mendapatkan meja kerjanya sendiri.
Perhatian Saddam pada Kayla, rupanya membuat seorang wanita merasa kesal. Tidak biasanya Saddam bersikap manis dengan karyawan baru, tetapi dengan Kayla kenapa berbeda?
Sementara itu, Kayla kini sudah memulai mempelajari tugas-tugasnya. Berjam-jam dia lewati dengan bahagia sampai tidak tahu kalau akan mengirimkan pesan singkat padanya.
Saat ini Alan sedang menatap layar ponselnya. Beberapa pesan dia kirim untuk Kayla tetapi diabaikan.
“Dia di bagian mana sih? Jangan-jangan diintimidasi sama karyawan lain? Bisa beradaptasi nggak ya dia?” Pria itu mencoba menelepon istrinya, tetapi tidak diangkat juga.
Alan yang sangat penasaran akhirnya keluar dari ruangannya untuk melihat langsung Kayla.
“Mau ketemu Nona?” Tebak Sekretaris Lee saat Alan keluar dari ruangannya.
“Siapa bilang? Aku cuma mau jalan-jalan. Bosan kerja terus,” balas Alan berbohong.
Sekretaris Lee langsung mendekatkan wajahnya pada Alan dan memperhatikan atasannya itu baik-baik.
“Seorang Tuan Alan bisa bosan kerja? Wah, ini akan menjadi headline News yang menggemparkan,” cibir Sekretaris Lee.
“Apanya yang aneh. Nggak usah pasang muka menyebalkan gitu!”
Alan lalu berjalan memasuki lift dan Sekretaris Lee mengekor di belakangnya. Dia langsung memencet angka lima dan pintu lift tertutup.
“Kita mau apa di lantai lima?” Tanya Alan merasa heran dengan sekretarisnya itu.
“Nona Kayla ada di lantai lima, di divisi pemasaran dan di bawah pimpinan Pak Saddam,” jelas Sekretaris Lee.
Seketika itu Alan langsung membuang muka, “Siapa yang nyari Kayla.”
Meskipun Alan mengomel panjang lebar karena menuduhnya mencari Kayla, tetapi Sekretaris Lee hanya diam dan mendengarkan tanpa menbantah. Sampai akhirnya mereka berada di divisi pemasaran dan Alan langsung menutup mulutnya saat melihat Kayla.
“Oh, ternyata dia disini,” gumam Alan yang kemudian mengambil foto Kayla diam-diam dan mengirimkannya pada wanita itu.
“Saya selalu berusaha memahami apa yang Tuan inginkan,” balas Sekretaris Lee.
Namun, kehadiran Alan di ruangan itu disadari oleh Saddam. Dia langsung menghampiri Alan dan mengajaknya untuk masuk lebih dalam.
“Pak Alan. Kenapa berdiri saja di situ?”
*****