SECARIK KERTAS IBU (1)
Malam itu suasana begitu sepi. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku baru selesai merampungkan laporan hasil liputanku dan bergegas pulang menghapus lelah.
“Apa? Kamu jam segini baru pulang? Tiap hari? Apa nggak ada pekerjaan lain, Ayu?” rapal ibuku di seberang ponsel.
Sebagai seorang jurnalis, pulang malam sudah bukan lagi hal yang mengherankan, terlebih pada detik-detik menjelang deadline.
Aku memijakkan kakiku turun dari sebuah angkutan umum 24 jam. Angkutan itulah yang senantiasa sertia mengantarkanku pulang setiap malam. Sepi. Praktis hanya aku yang berdiri di sisi jalan di depan sebuah mini market yang sudah tutup.
Kulangkahkan kakiku berjalan menyusuri jalan tak berpenghuni. Baru beberapa meter, langkahku terhenti tatkala melihat seorang wanita paruh baya dengan wajah bingung.
Wanita itu tampak membawa tas besar berjalan mondar-mandir di seberang mini market. Kudekati ia.
“Bu..” sapaku pelan.
Ibu lantas menoleh sambil melemparkan senyumnya yang manis.
Dari wajahnya Si Ibu kelihatan bingung, lelah, bajunya yang dipakainya pun basah.
“Mungkin sebab tadi sempat hujan sebentar,” batinku.
"Bu, cari siapa?" Tanyaku lagi.
"Saya cari rumah anak saya," jawab Ibu cepat.
Tidak pakai pikir panjang, aku pun lantas menawarkan bantuan padanya.
"Boleh saya bantu, Bu? Alamatnya di mana?"
Ia lantas menyodorkan padaku sebuah kertas lusuh bertuliskan nama, alamat dan nomor telepon.
Langsung kusambar ponsel yang ada di saku celana. Namun ternyata ponselku kehabisan daya.
"Bu, apa Ibu keberatan kalau saya ajak ke kosan saya? HP saya mati. Saya perlu mengisi daya baterai,” jelasku.
Ucapanku kemudian dibalasnya dengan anggukan.
Berjalanlah kami berdua menuju rumah kos tempatku beristirahat setiap harinya. Sepanjang jalan Ibu lebih banyak diam sementara aku terus mengoceh untuk menghilangkan suasana canggung.
“Bu, mari saya bantu bawakan tasnya,” tawarku.
“Tidak usah, Nak,” jawabnya singkat.
Aku tak lagi menawarkan membawakan tas itu. Padahal Si Ibu terlihat kerepotan membawa tas sebesar itu sendirian. Tampak luarnya saja kelihatan penuh dan perkiraanku tas itu pasti berat.
“Mungkin isinya penting. Aku kan orang asing,” batinku sendiri.
Lima menit berselang, kami pun sampai di pelataran rumah kos.
“Masuk, Bu!”
“Nggak usah, Nak,” jawabnya lirih.
“Ibu tunggu sebentar di sini, ya,” pintaku sambil kemudian meloyor pergi ke dalam untuk mengisi baterai HP.
Tak lama setelah ponselku nyala, aku kembali keluar untuk menemui ibu itu lagi. Namun Ibu sudah tidak ada. Ku cari ke sana-sini namun ia tetap tidak ada.
“Ah.. ke mana Si Ibu? Haduh Ayuuu Ayuu.. kelamaan sih, lo!” Gerutuku pada diri sendiri.
Sepeninggalannya, aku tetap menghubungi nomor telepon yang diberikan Si Ibu tadi. Tersambung.
"Hallo! Selamat malam. Dengan Nunik? Maaf mengganggu."
"Ya," sahut seorang wanita di telepon.
Aku pun melanjutkan pembicaraan dengan perkenalan diri.
"Saya Ayu, kebetulan saya tahu nomor telepon ini dari Ibu Nur, apa betul Mbak Nunik ini putri beliau?"
"Iya, betul saya anaknya,”jawabnya.
Ia memberi jeda sebentar lalu melanjutkan kembali, "Ada apa?"
"Tadi Ibu Nur ada di depan rumah saya. Beliau sepertinya kebingungan mencari alamat tempat tingga Mbak Nunik."
"Oh iya, Terimakasih, Mbak, boleh saya bicara dengan Ibu?" pinta Nunik.
"Maaf, Mbak, saat ini Ibu sudah pergi. Tadi saya meninggalkan beliau sebentar untuk mengisi daya ponsel saya di dalam. Nanti kalau Ibu kemari lagi, saya akan hubungi Mbak Nunik kembali, " jawabku mengakhiri telepon.
Keesokan harinya, “Bi, pergi dulu, ya,” kataku pada Bi Inah penjaga kos-kosan.
Pagi itu sangat cerah. Kunyalakan musik di ponsel dan mendengarkannya lewat earphone yang sudah menggantung di telinga.
Sedang asik menikmati musik, tiba-tiba pandanganku tersita pada kerumunan orang di depan minimarket.
Aku pun bergegas menghampiri kerumunan itu.
“Ada mayat, Mbak,” kata salah seorang penjaga minimarket.
Puluhan manusia mengerubungi sebongkah tas yang konon berisikan mayat.
“Loh, kok kayaknya aku…” ucapku dalam hati.
Sepertinya aku tak asing dengan tas itu. Tak lama setelahnya polisi mulai berdatangan satu per satu.
“Mundur! Mundur!” Pekikan suara Pak Polisi dari alat pengeras, meminta semua orang yang tak berkepentingan untuk menjauhi lokasi.
Pasukan berseragam cokelat itu kemudian memeriksa isi tas tersebut.
Aku menyelinap di antara orang-orang yang berkerumun. Secepat kilat kukalungkan identitas jurnalis dan kamera saku yang sedari tadi tergeletak di dalam tas.
“Pak, maaf saya izin,” ujarku supaya bisa mendekati TKP.
Entahlah, keyakinanku semakin kuat saat melihat corak tas itu.
Tim penyelidik mulai berdatangan. Dengan peralatan yang lengkap mereka mulai membedah isi tas tersebut. Di ujung resleting menyembul beberapa helai rambut yang dicurigai kepunyaan manusia.
“Ya ampun.. bener mayat!” Teriak seseorang di belakang.
“Wah, ibu-ibu kayaknya. Kasihan banget,” kata yang lainnya.
Betapa terkejutnya aku tatkala melihat apa yang terpampang di depan mata.
“Ibu..” satu kata yang berulang-ulang kusebut tanpa suara.
Bersamaan dengan jasad, di dalam tas itu polisi juga menemukan sebuah kartu identitas bernama Nur, usia 58 tahun, asal Sukoharjo.
Aku terkesiap.
“Bagaimana mungkin??” Batinku lagi.
Nama itu, tas itu, wajah itu, aku mengingatnya dengan sangat jelas. Kejadiannya masih lekat dalam ingatan bagaimana seorang ibu kuhampiri dengan kondisi kuyu dan setengah basah, tadi malam.
“Ya, aku kenal dia!” Teriakku spontan.
Semua mata tertuju padaku. Seketika itu juga polisi memintaku untuk memberikan keterangan lebih lanjut di kantor.
“Sumpah, Pak. Semalam saya ketemu sama ibu ini dan tasnya. Masak sih saya bohong!” jelasku berulang kali oada petugas yang mengintrogasi.
“Aduh.. nggak mungkin, Mbak. Ini mayat bukan mayat baru, sudah busuk. Mungkin sudah 3 harian,” jelas polisi. Petugas itu tak henti geleng-geleng sambil tertawa kecil selama mendengar keteranganku. Sementara itu jarinya sibuk mengetik laporan.
“Okelah, fix! Dia pasti mikir aku gila,” batinku.
Aku mulai kehabisan akal bagaimana lagi caranya supaya mereka percaya.
Tiba-tiba aku teringat akan kertas lusuh pemberian Ibu.
Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Nunik putri Ibu Nur. Kusampaikan kabar duka padanya.
“Ya Allah… Ibuuu…” Nunik menerima kabar itu dengan tangisan histeris. Awalnha ia menolak untuk percaya. Namun petugas polisi di sana membantuku untuk memberi penjelasan pada Nunik dan memintanya untuk datang ke kantor polisi.
Aku pun tak kuasa menahan tangis, seolah ikut merasakan apa yang Nunik rasakan.
Tak lama berselang, Nunik dan aku akhirnya bertemu. Polisi memintaku hadir guna meminta beberapa keterangan.
Sebuah rekaman CCTV dari minimarket diputar. CCTV itu merekam semua kejadian semalam.
“Nah, itu saya, Pak,” kataku dengan penuh keyakinan.
“Terus mana Ibu yang kamu bilang?” Tanya salah seorang polisi.
“Eh, iya.. di mana Ibu Nur?” Batinku.
Ya, benar aku di sana. Aku terlihat mondar-mandir sendirian di depan sebuah tas besar tanpa pemilik.
“Lalu, ke mana perginya Ibu Nur? Bukankah semalam aku menyapanya di sana? Aku yakin sekali bahwa dialah yang kutemui semalam. Buktinya secarik kertas ini ada padaku,” batinku bergejolak.
Rekaman CCTV kemudian diputar mundur ke belakang. Sebelum aku, terlihat dua orang dewasa mengendarai motor berhenti tepat di depan minimarket. Wajah keduanya tertutup helm. Plat nomor kendaraannya pun tidak dipasang.
Mereka datang berboncengan motor berdua dan salah satunya turun meletakkan tas tersebut di halaman minimarket.
“Kamu lihat orang ini?” Tanya Polisi.
“Nggak, Pak. Yang saya lihat semalam cuma..” belum selesai kalimatku kemudian seorang polisi yang dari tadi menginterogasiku menyambar, “Si Ibu? Mbaknya ngelindur, ya? Wong di CCTV jelas mbaknya sendirian.”
Kurasakan wajahku menghangat. Kalau ngaca pasti merah ini muka.
“Duh, malu-maluin banget,” jeritku dalam hati.
Aku sungguh tidak mengenali siapa dua orang pria yang terlihat di CCTV.
Siapakah pria yang ada di CCTV?
Mengapa mereka meletakkan tas itu di sana?
Apa benar mereka pembunuhnya?
Temukan jawabannya di part 2