SECARIK KERTAS IBU (2)
Kutapaki kakiku di atas lantai beraroma karbol. Aku dan Nunik menyambangi tempat ini untuk menjemput jenazah Ibu.
“Bu.. Inikah tas yang kau bawa semalam bu?”
“Bu.. Di dalam tas inikah kau mengembuskan nafas terakhir?”
“Secarik kertas inikah yang ingin kau sampaikan pada putrimu? Secarik kertas yang masih kusimpan sampai sekarang.”
Jutaan kalimat bersarang di kepala. Ribuan pertanyaan menyesakkan d**a. Teringat jelas raut wajah Ibu Nur tadi malam. Wajah letih itu, baju basah itu, ah.. rasanya tak sanggup kutanggung beban ini sendirian.
“Mbak Ayu, terima kasih sudah hadir sebagai penyelamat. Tanpa Mbak saya nggak akan tahu kondisi Ibu,” ucap Nunik sambil terisak.
Dadaku semakin sesak.
“Tidak! Aku bukan penyelamat. Ibu tidak selamat, pembunuhnya bahkan belum ditangkap!” Batinku.
Aku berjalan pulang ke rumah kos dengan langkah gontai.
Sesampainya di rumah, Bi Inah menyambut di teras sambil berkata, “Mbak Ayu, tadi ada orang nyariin Mbak.”
“Siapa, Bi?”
“Nggak tahu, Mbak. Saya suruh nunggu tapi ibunya nggak mau,” jawab Bi Inah.
“Ibu?”
“Ibu??”
“Iya, Mbak,” jawab Bi Inah.
“Ibu, Bi? Dia ibu-ibu?” Tanyaku penasaran.
Tubuh yang sudah lelah ini tiba-tiba kembali bersemangat.
“Orangnya kayak gimana? Pakai baju apa? Rambutnya?” Cecarku pada Bi Inah.
Raut wajah Bi Inah mulai ketakutan. Ia belum pernah melihatku sepanik ini.
Bi Inah menjelaskan detail sosok Ibu yang mencariku hari ini. Mendengar ucapannya, tak sadar air mataku deras mengalir membasahi pipi.
“Ibu.. kenapa, Bu? Ada apa? Aku janji akan bantu Ibu semampuku,” batinku.
Hari mulai malam. Teleponku sedari tadi tak henti-hentinya berdering. Tertulis nama: My Mom, di layar ponsel.
“Kamu kenapa? Kenapa telepon Mama nggak kamu angkat? Kata Si Mbok tadi kamu tadi masuk TV, kasus pembunuhan? Betul itu, Ayu? Aduh kamu jangan buat Mama khawatir! Pulang sudah ke Bandung! Jantungan Mama, Nak!”
Suara Mama berhasil memekakkan telingaku sepanjang hari. Ia begitu khawatir putri satu-satunya ini terjerat masalah di Jakarta.
“Iya, Ma. Ayu janji pulang setelah ini selesai, ya,” janjiku.
“Nggak bisa sekarang? Mama gak tenang mikirin kamu. Udah deh kerja di Bandung aja, nggak usah jauh-jauh. Mama khawatir banget,” rapalnya lagi.
“Iya, Ma. Ayu nggak kenapa-kenapa. Ayu cuma saksi karena ada di TKP. Mama nggak usah khawatir, ya. Ayu janji pulang setelah kasus ini selesai,” ucapku di akhir percakapan.
Sudah semakin larut. Mataku mulai lelah. Kutatap layar ponselku, berselancar di sosial media, demi mencari kantuk.
Namun tiba-tiba di antara sadar atau tidak aku mendengar suara pintu kamarku dibuka. Seorang perempuan berdiri di sana.
“Nak, ikut Ibu!” Katanya sebelum aku terlelap.
Di dalam mimpi, kulihat Ibu tengah bertandang ke sebuah rumah. Rumah sederhana bercat biru dan tanpa pagar. Sesampainya di sana Ibu disambut oleh sepasang suami istri. Salah satunya berwajah mirip sekali dengan Ibu. Kutebak perempuan itu mungkin adik Ibu karena usianya yang tampak lebih muda.
Aku terus berada di belakang Ibu. Sebuah percakapan terjadi membicarakan soal utang dan warisan. Pembicaraan yang awalnya manis lama-kelamaan menjadi panas.
Terjadi cekcok mulut antara Ibu dan perempuan satunya. Lalu seorang pria lain merangsek masuk ke dalam rumah dan memukul kepala Ibu dengan sebilah kayu besar.
Tubuh Ibu ambruk. Si Perempuan mengecek nadi di pergelangan tangan Ibu, lalu menggeleng.
“Mati, Mas! Gimana ini??” Tanya Si Perempuan panik.
“Kamu, sih!” Tuduh suaminya.
“Sudah nggak usah ribut! Bagus kan kalau mati hartanya buat kita,” sahut pria lainnya.
Di tengah kepanikan, tiga orang manusia dewasa itu akhirnya sepakat untuk membuang jasad Ibu. Mereka memasukkannya ke dalam tas travel besar dan membuangnya di pelataran minimarket.
Paginya aku terbangun di lantai kamar dengan secarik kertas lain bertuliskan nama Wati lengkap dengan alamat dan nomor telepon.
Kuperhatikan alamat ini masih di Jakarta bahkan tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Tanpa pikir panjang kuputuskan bagaimana pun caranya aku harus sampai ke rumah itu.
“Mas numpang tanya. Kalau rumahnya Ibu Wati di mana, ya?” Tanyaku pada tukang ojek yang mangkal di dekat alamat yang kutuju sambil menyodorkan alamat di kertas.
“Oh, itu, Mbak. Kelihatan kok dari sini, itu rumah yang cat biru, nggak ada pagarnya.”
Mendengar penjelasan Tukang Ojek itu, aku tak lantas pergi ke rumah tersebut melainkan ke kantor polisi tempatku diinterogasi tempo hari.
“Mbak Nunik, saya sudah tahu siapa pelakunya. Saya tunggu di kantor polisi, ya,” kataku pada Nunik sebelum berangkat ke kantor polisi.
Di kantor polisi, kami berdua memberikan keterangan masing-masing.
“Ya, saya kenal alamat ini,” jawab Nunik mantap.
Berdasarkan keteranganku yang dicocokkan dengan keterangan Nunik, polisi sepakat untuk melakukan penangkapan terduga pelaku pembunuhan Ibu di rumahnya. Alamat rumah yang tertera di secarik kertas.
Sesampainya di lokasi, polisi dengan sigap langsung mengepung rumah itu.
“Angkat tangan, dan jalan perlahan ke luar! Kalian sudah dikepung!” teriak salah seorang polisi.
Suasana yang semula damai seketika ramai. Dua orang di (pria dan wanita) ditangkap. Satu eksekutor pria lainnya juga ditangkap di dekat lokasi. Yang ternyata juga masih ada hubungan saudara dengan korban.
Arwah Ibu kini sudah tenang. Para pembunuhnya yang tak lain adalah adik, adik iparnya, dan sepupunya sudah tertangkap. Seorang adik yang amat ia sayangi justru tega menghilangkan nyawanya dengan keji hanya demi warisan.
“Selamat beristirahat, Bu. Semoga kau tenang di pembaringan Tuhan,” ucapku sambil melipat kertas pemberiannya.