"Kami berdiri saling berhadapan dengan kedua tangan saling berpegangan. Dia memberikan senyum tercantiknya kepadaku yang aku balas dengan hal yang sama dan penuh rasa bahagia. Angela kemudian menuntunku ke tempat Kenzie dan Ammara berada. Dari tempat kami berada, aku bisa melihat mereka sedang bermain riang bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Namun aku bisa melihat kalau wanita itu tertawa bahagia bersama anak-anak. Sambil terus berjalan aku terus memperhatikan ketiga orang itu hingga tanpa sadar aku dan Angela sudah duduk bersama mereka. Angela kemudian melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mundur semakin menjauhi kami dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Hingga pada suatu titik dia berhenti dan melambaikan tangannya kemudian menghilang. Seperti itu, Bund. Menurut Bunda gimana?” Tanya Eric setelah menceritakan mimpinya semalam. Dia tadinya memang ragu untuk menceritakan hal ini kepada Aida sehingga memilih melajukan mobil kembali saat sampai di depan rumah orang tuanya. Namun ketika melewati kedai bubur ayam kesukaan Angela dia menjadi bimbang lagi. Eric kemudian berhenti dan membeli empat bungkus bubur ayam untuk dibawa ke rumah orang tuanya.
“Entahlah, Ric. Tapi kalau menurut Bunda itu bisa jadi isyarat dari Angela kalau dia mengizinkan kamu menikah lagi dan mencari ibu sambung untuk anak-anak kalian. Apalagi kalau dari cerita kamu tadi, Angela terus tersenyum hingga dia hilang dari penglihatan kamu.” Kata Aida mengungkapkan pendapatnya. “Kalau menurut kamu gimana, Yang?” Tanya Aida kepada Zain yang duduk di sampingnya.
“Aku sih sependapat sama kamu, Ai. Bagaimanapun juga Angela itu seorang ibu yang pasti akan sangat mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya. Jadi ada baiknya memang kamu mengikuti saran Bunda kamu, Ric. Anak-anak kamu butuh sosok seorang ibu. Kami sebagai kakek dan neneknya belum tentu bisa mengisi tempat itu sepenuhnya bagi mereka. Apalagi di usia kami yang sudah tidak muda lagi seperti ini sering tidak bisa mengimbangi tingkah mereka yang kadang luar biasa aktifnya.” Kata Zain.
“Maafkan aku jadi merepotkan Ayah sama Bunda.” Kata Eric. Dia baru menyadari jika menitipkan Kenzie dan Ammara kepada orang tuanya bisa menambah beban mereka berdua. Beban yang seharusnya dia dan Angela tanggung.
“Sama sekali tidak merepotkan, Ric, hanya saja ya itu, di usia kami ini sudah banyak hal yang dikurangi. Apalagi tujuannya kalau bukan agar kami lebih mendekat lagi kepadaNya hingga saatnya kami harus benar-benar menghadapNya.” Kata Zain.
“Yah, kenapa Ayah jadi bicara ke arah sana? Aku baru saja kehilangan Angela, Yah. Tolong jangan membicarakan tentang kematian lagi.” Kata Eric dengan penuh permohonan. Dari ekspresinya dia juga terlihat cukup frustasi.
“Ayah kamu benar Eric, umur ngga ada yang tahu. Hanya soal waktu. Kepergian Angela sebagai bukti kalau kita bisa dipanggil olehNya kapan saja. Oleh sebab itu Bunda rasa ngga harus menunggu lanjut usia untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri sama Yang Maha Kuasa. Jangan terlalu sibuk urusan dunia sampai lalai dengan kewajiban beribadah kepadaNya. Termasuk melalaikan tugas kamu sebagai orang tua.” Apa yang diucapkan Aida bukan sekedar dukungan untuk Zain tapi sekaligus sindiran untuk Eric.
“Iya Bunda.” Kata Eric sambil menunduk. Meskipun ada rasa sedikit kesal namun dia tidak ingin mengajukan protes karena Aida mengatakan yang sebenarnya. Dia memang masih sering lalai dalam ibadahnya.
“Jadi gimana, Ric? Apa kamu memilih mengikuti saran Bunda dan isyarat dalam mimpi kamu itu atau bagaimana?” Tanya Zain mencoba mengembalikan topik pembicaraan. Eric kembali mendongakkan kepala. Dia menghela nafas berat.
“Sepertinya begitu, Yah. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mencari ibu yang tepat untuk anak-anak karena jujur, Yah, Bund, aku belum bisa mencintai wanita lain seperti cintaku ke Angela.”
“Bunda paham itu, Ric. Sekarang yang penting adalah ibu untuk anak-anak kamu, masalah hati nanti bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi Bunda yakin, jika nanti ada wanita yang bisa membuat anak-anak kamu nyaman pasti dia juga bisa membuat kamu jatuh hati.” Kata Aida.
“Entahlah, Bund.” Kata Eric tidak bersemangat. Dia tidak bisa membayangkan jika suatu hari harus tinggal satu atap dengan wanita asing yang sama sekali tidak dia cintai.
“Kamu jangan khawatir, nanti Bunda yang bantu kamu carikan calon istri. Bunda akan berusaha mencari yang sesuai kriteria kamu. Cantik, ramping, tinggi, kulit putih dan berambut panjang. Seperti itu kan yang kamu suka?” Tanya Aida memastikan.
“Kamu ngerti banget sih, Ai, seleranya Eric?” Tanya Zain takjub mendengar kriteria yang Aida sebutkan.
“Ya iyalah, Yang, sejak Eric belum pacaran sama Angela dia sudah sering membicarakannya sama aku. Eric bisa jatuh cinta setengah mati sama Angela alasannya juga karena dia memiliki fisik nyaris sempurna seperti itu. Untungnya Angela juga mau sama Eric yang kayak gini.” Kata Aida sambil melirik Eric dan menahan tawanya.
Eric melongo dan memandang Aida tidak percaya, “Maksud Bunda gimana ya? Memangnya aku kayak gimana?” Tanya Eric.
“Tanya aja sama ayah kamu.” Kata Aida yang kemudian beranjak dari duduk meninggalkan Zain dan Eric berdua saja. Zain ikut melongo dengan ucapan istrinya. Dia sampai mengikuti arah gerak Aida. Namun hingga menghilang di balik pintu kamar yang ditempati Kenzie dan Ammara sama sekali Aida tidak menoleh kepadanya.
Zain dan Eric saling berpandangan. “Yah, memangnya aku kayak gimana?” Tanya Eric serius kepada Zain. Namun pria paruh baya itu tidak bisa menjawab karena juga tidak paham apa yang dimaksud sang istri. Akhirnya dia hanya bisa mengangkat bahu sekilas sebelum memberikan jawaban.
“Coba kamu bercermin, Ric. Ayah yakin kamu akan menemukan jawabannya.” Kata Zain kemudian meninggalkan tempat itu juga untuk menyusul sang istri. Lagi-lagi Eric dibuat melongo dengan jawaban orang tuanya. Dengan rasa penasaran dia pun berdiri juga menuju cermin terbesar di rumah ini. Dia memindai penampilan depan dari atas ke bawah kemudian memutar tubuh dan juga melakukan hal yang sama. Kembali dia menghadap ke depan sambil berpikir.
“Aku kayak gimana sih sebenarnya?” Tanya Eric kepada diri sendiri. “Maksud bunda apa bilang kayak tadi?” Dia terus berpikir keras tanpa tahu kedua orang tuanya sedang menertawakan dirinya.
“Ai, maksud kamu apa sih bilang kayak tadi?” Tanya Zain saat sudah berada di ruangan yang sama dengan Aida.
“Ngga ada maksud apa-apa sih, Yang.” Jawab Aida sambil menahan tawa karena khawatir Kenzie dan Ammara terbangun.
“Hehhh, kamu tuh. Kenapa juga melibatkanku dalam keisengan kamu.” Gerutu Zain.
“Hi hi hi. Iya, Yang, maaf. Habisnya gemes banget aku sama anak itu, susah banget kalau dikasih saran yang bener.” Kata Aida.
“Huss, ngga boleh gitu. Kamu itu ibunya, kata-kata kamu buat anak-anak pasti diijabah. Kalau Eric sampai kayak gitu bisa jadi karena ucapan kamu yang jadi doa buat dia.” Kata Zain memperingatkan.
“Astaghfirullah!” Kata Aida menyadari kesalahannya. “Iya ya, Yang, Ya Allah ampuni hambaMu ini.”
Hingga malam hari Eric masih berada di rumah orang tuanya. Padahal sebelum-sebelumnya saat mengunjungi Kenzie dan Ammara dia hanya akan bertahan paling lama tiga jam di rumah ini. Bisa dibilang ini juga kali pertama dia bermain dalam durasi yang lama dengan kedua anaknya karena selama ini dia sangat percaya kepada Angela hingga hampir tidak pernah campur tangan dalam urusan anak-anak. Saat bermain ke taman bermain atau ke tempat rekreasi pun dia lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu sambil menyelesaikan pekerjaan yang bisa dia lakukan menggunakan ponsel. Dia merasa, sebagai kepala keluarga, tugasnya hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Ric, kenapa kamu cuma diam di situ. Mendekatlah dan ikut bermain bersama mereka." Kata Zain menepuk pundak Eric. Pria itu hanya duduk termenung di sofa sambil melihat kedua anaknya yang sedang bermain di atas karpet.
"Tapi, Yah-" Kata Eric bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang dia pikirkan.
"Kenapa? Kamu ngga mau? Atau ngga biasa?" Tanya Zain.
"Aku ngga bisa. Aku ngga tahu harus gimana." Jawab Eric sambil menengadahkan kedua tangan ke samping.
"Apa maksud kamu ngga bisa? Jangan bilang kalau kamu ngga pernah main bersama mereka?" Tanya Zain curiga. Eric menggeleng lemah. "Keterlaluan kamu, Ric. Padahal ayah dulu paling menantikan momen bermain sama kamu dan adik kamu."
"Ya gimana ya, Yah, Angela dulu udah telaten dan sabar banget ngurus anak-anak. Dia juga ngga pernah meminta bantuanku untuk menjaga mereka, jadi aku pikir dia sanggup melakukannya sendiri." Kata Eric.
"Istri kamu ngga meminta bantuan bukan berarti dia ngga butuh. Bisa jadi dia kasihan sama kamu yang udah kerja seharian atau dia sebenarnya nunggu perasaan kamu tergerak untuk membantunya." Kata Aida yang baru muncul dari dapur membawa satu poci teh hangat dan biskuit. "Menurut Bunda, Angela adalah tipe yang kedua. Sepertinya dia juga sudah lelah meminta sama kamu iya kan?"
Eric menghela nafas, "Iya, Bund. Sebenarnya bukan aku ngga mau, tapi ngga ada waktu, Bund."
"Ngga ada waktu atau ngga mau meluangkan waktu?" Tanya Aida. "Ayah kamu juga kerja loh, Ric, bahkan sering keluar kota. Tapi ketika di rumah juga selalu menyempatkan waktu buat kalian kan?"
"Iya, Bund." Eric menunduk tidak bisa menyanggah.
"Hehh, Bunda bisa bayangkan gimana lelahnya Angela lahir dan batin." Kata Aida menggelengkan kepala. Dia terlihat sangat kecewa dengan Eric.
"Emmm, Bund." Panggil Eric karena teringat sesuatu.
"Kenapa?"
"Yang tadi pagi, kata Bunda." Kata Eric.
"Yang mana?"
"Yang tentang aku."
"Tentang kamu yang mana?" Tanya Aida benar-benar tidak mengerti maksud Eric.
"Yang tadi kata Bunda, untung Angela bisa menerima aku yang kayak gini. Memangnya aku kayak gimana sih, Bund?" Tanya Eric mengulangi pertanyaannya tadi pagi. Aida melongo mendengar Eric menanyakan hal itu lagi. Dia tidak menyangka putranya itu menanggapi dengan serius hal yang sebenarnya hanya candaan.
"Kan Bunda suruh tanya ayah kamu." Kata Aida sambil menoleh kepada Zain. Pria itu pun terkejut untuk hal yang sama kedua kalinya. Dia sudah akan mengatakan sesuatu namun Eric mendahului.
"Sudah, Bund. Tapi sama ayah disuruh bercermin." Kata Eric.
"Lalu, apa sudah kamu lakukan?" Tanya Aida.
"Sudah, Bund." Jawab Eric.
"Sudah ketemu jawabannya?" Tanya Aida lagi. Eric menggeleng.
"Aku mana bisa menilai diriku sendiri, Bund." Kata Eric.
"Nah, ya seperti itulah kamu." Kata Aida.
"Maksud Bunda?"
"Kamu ngga pernah berusaha menilai atau introspeksi diri. Makanya kamu ngga tau apakah kamu sudah menjadi kepala keluarga yang benar untuk keluarga kamu atau tidak." Kata Aida kemudian meninggalkan Eric dan Zain untuk bermain bersama kedua cucunya. Lagi-lagi Eric hanya bisa melongo mendengar ucapan ibunya. Sedangkan Zain kali ini memandang istrinya dengan bangga.