“Udahlah, Bund. Kenapa nggak sama Cintya aja. Aku udah sreg sama dia. Atau Kamila juga boleh, senyumnya itu mirip banget sama Angela." Ujar Eric berusaha meyakinkan Aida.
"Nggak, Ric. Bunda kurang suka sama mereka berdua. Sikap manis Cintya itu kelihatan banget kalau dibuat-buat. Kamila juga Bunda rasa kurang sopan sama orang tua. Kalau Bunda sih lebih setuju kamu sama Rosa. Meskipun dia sudah janda dengan anak satu, tapi dia tetap jaga penampilan. Sama Bunda juga dia santun." Aida juga berusaha meyakinkan Eric mengenai wanita calon istri putranya itu.
Tiga minggu ini Aida sudah berusaha mengenalkan beberapa orang wanita single yang sesuai kriteria Eric. Dalam setiap pertemuan itu dia juga pasti hadir untuk ikut menilai wanita yang dia kenalkan kepada Eric karena Aida sendiri belum terlalu mengenal semua wanita itu. Sebagian dari wanita itu memang dia sendiri sudah mengenal, akan tetapi sebagian lain adalah rekomendasi teman-temannya.
"Nggak lah, Bund. Kalau dibandingkan sama Bunda memang Rosa kelihatan lebih terjaga penampilannya. Tapi kalau dibandingkan Angela? Jauh banget lah, Bund. Dia lebih kayak Mama mertuaku." Cibir Eric.
"Hehhh, nggak tahu lah, Ric. Kamu ini kayaknya memang nggak ada niat untuk cari calon istri." Kata Aida mulai kesal.
"Kok aku sih, Bund. Tadi kan aku udah ada yang cocok, tapi Bunda yang nggak suka. Ada yang Bunda suka tapi sama sekali nggak menarik buatku. Jadi Bunda nggak bisa nuduh aku nggak ada niat dong." Kata Eric membela diri.
"Eh, udah udah. Ini kenapa kalian jadi berdebat sih? Anak-anak bisa bangun kalau suara kalian semakin meninggi." Kata Zain berusaha menengahi. Sejak tadi dia hanya memperhatikan anak dan istrinya yang beradu pendapat.
"Ini nih, Yang, si Eric. Masa nggak bisa bedakan mana wanita yang benar-benar tulus sama yang dibuat-buat." Kata Aida.
"Bukan gitu, Yah. Bunda aja yang belum bisa lihat gimana baiknya mereka." Kata Eric tidak mau disalahkan.
"Udah-udah. Kok masih lanjut aja. Lagian bukannya kalian setelah ini masih ada janji lagi sama orang." Kata Zain mengingatkan.
"Astaghfirullah, iya ya, Yang. Kok bisa lupa aku ya. Kamu juga kenapa nggak ngingetin sih, Ric." Kata Aida kembali menyalahkan putranya.
"Aku juga lupa, Bund. Bunda sih ngajakin berdebat dari tadi." Protes Eric.
"Ya Allah, kalian berdua ini memang ya." Kata Zain mulai ikut kesal.
"Kalau kalian nggak mau berangkat biar Ayah aja yang pergi sama anak-anak." Lanjut Zain. Pria itu pun kemudian berdiri meninggalkan Aida dan Eric yang hanya melongo melihatnya dan menuju ke tempat dua cucunya berada.
"Ayo, Ric. Cepetan nyusul ayah kamu. Bisa-bisa kita ditinggalin beneran ini." Kata Aida yang gegas berdiri juga sambil menggandeng tangan Eric.
"Iya, Bund." Kata Eric ikut panik.
Pukul sembilan malam Eric beserta orang tua dan kedua anaknya baru pulang dari pertemuan dengan seorang wanita. Wajah Eric dan Aida lesu sedangkan Kenzie terlihat kesal. Apalagi Ammara yang wajahnya masih merah dan masih terlihat sisa tangisan di mata sembabnya. Gadis berusia sembilan bulan itu melingkarkan tangannya dengan erat di leher sang ayah.
"Padahal menurut Bunda, Fania itu gadis yang baik loh." Kata Aida saat mereka berlima sudah duduk di ruang keluarga.
"Iya, Bund. Aku juga nyaman waktu ngobrol sama dia." Sahut Eric. Kali ini ibu dan anak itu terlihat akur dan sependapat. Zain lagi-lagi hanya bertindak sebagai pemerhati. Pria paruh baya itu baru akan bersuara jika kondisi mulai tidak kondusif.
"Kamu bener, Ric. Sama Ayah dan Bunda dia juga sopan banget." Kata Aida. Eric mengangguk lemah menyetujui penilaian ibunya.
"Kakak kenapa tadi marah-marah waktu main sama Tante Fania? Adek juga kenapa nangis waktu digendong?" Tanya Eric pada kedua anaknya.
Kenzie yang ditanya bukannya langsung menjawab tapi justru memalingkan wajah. Sedangkan Ammara jelas hanya diam memandang wajah Eric karena belum mengerti maksud ayahnya.
"Iya, Kak. Tante Fania kan baik sama kalian. Cantik juga kan kayak Mama. Kenapa Kak Ken nggak suka?" Ganti Aida yang sekarang bertanya. Sebelumnya dia mengangkat Kenzie dan membawanya dalam pangkuan. Dengan cara seperti ini Aida berharap bisa membuat Kenzie lebih nyaman dan mau jujur menjawab pertanyaan darinya.
Kenzie yang awalnya masih bungkam akhirnya bersedia membuka suara setelah Aida mengusap lembut rambutnya.
"Aku nggak suka sama Tante Fania itu, Nek. Masa aku nggak boleh ngapa-ngapain. Mau ayunan nggak boleh, mau perosotan nggak boleh. Katanya nanti aku bisa jatuh." Jawab Kenzie dengan bibir terus mengerucut.
"Aku nggak suka, Nek, kalau cuma disuruh duduk diam di sebelah tante itu. Tantenya juga nggak bisa gendong Ara. Tadi aja Ara udah hampir jatuh karena pingin turun. Tapi tantenya terus aja maksa gendong Ara." Kata Kenzie melanjutkan ceritanya.
Aida dan Eric menghela nafas hampir bersamaan. Tiga orang dewasa yang disana saling bergantian memandang satu sama lain. Zain pun hanya mengangkat bahu singkat mendengar kejujuran cucu pertamanya itu.
"Yah, mungkin memang belum jodoh kamu, Ric." Kata Zain kemudian.
"Entahlah, Yah. Lama-lama aku juga capek. Kalau aku suka, Bunda yang nggak suka. Kalau ada wanita yang Bunda suka, aku yang nggak tertarik. Sekarang giliran aku dan Bunda sama-sama suka, anak-anak yang nggak mau." Kata Eric terdengar putus asa.
"Mungkin memang belum waktunya aku menikah lagi, Yah, Bund." Lanjut Eric sambil memandang Aida dan Zain bergantian. Pandangannya lalu beralih kepada Ammara yang berada di pelukannya.
"Kamu jangan putus asa gitu dong, Ric. Namanya juga kita kan sedang usaha cari wanita yang terbaik untuk menjadi pendampingmu dan ibu untuk anak-anak kamu. Jadi wajar kalau ada banyak tantangan yang perlu kita lalui." Kata Aida tidak ingin Eric berhenti berusaha. Karena jika Eric tidak mau melanjutkan pencarian, anak-anaknya lah yang akan ikut jadi korban.
"Gimana aku nggak putus asa, Bund. Kita udah beberapa minggu berusaha. Wanita yang aku temui juga nggak cuma satu dua. Tapi kenyataannya nggak mudah cari wanita yang bisa cocok sama kita semua." Kata Eric.
"Iya, Ric. Bunda tahu, Bunda juga paham gimana capeknya. Tapi Bunda rasa belum saatnya kita berhenti." Kata Aida memberi semangat kepada Eric.
"Sampai kapan, Bund? Harus berapa banyak wanita lagi yang harus kita temui? Waktu dan energiku rasanya sudah banyak terkuras hanya untuk ini." Kata Eric frustasi.
"Sabar, Ric. Kalau kamu mulai capek, kita bisa istirahat sebentar. Hanya sebentar sebelum kita mulai berusaha lagi. Ingat anak-anak kamu, Ric. Mereka masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu." Kata Aida. Suaranya yang tadi sempat meninggi kini sudah kembali lembut. Dia juga mengusap pelan punggung Eric untuk memberikan ketenangan dan kekuatan.
"Bunda masih ada beberapa calon lagi, Ric. Salah satunya ada putri sahabat Bunda. Kebetulan dua hari yang lalu gadis itu baru pulang dari menyelesaikan studi S2 nya di luar kota. Sebaiknya kita datang ke rumahnya minggu depan. Selain untuk mengenalkan kalian berdua juga untuk untuk memberi selamat atas penyelesaian program pasca sarjananya. Kalau sama anak sahabat Bunda ini masih belum cocok juga, kita janjian bertemu dengan anak sahabat Bunda yang lain." Kata Aida.
"Nggak, Bund. Cukup, Bund. Aku mohon jangan terlalu memaksakan. Aku tahu anak-anak butuh ibu, tapi aku juga nggak bisa kalau terburu-buru. Jadi aku mohon Bunda beri aku waktu untuk menemukan calon istriku sendiri." Kata Eric.
"Sampai kapan, Ric?" Tanya Aida.
"Aku juga nggak tahu, Bund." Jawan Eric.
"Terus anak-anak kamu gimana?" Tanya Aida lagi.
"Mereka… "
"Gini aja, Ric. Kamu ikuti aja permintaan Bunda kamu lagi. Coba satu kali lagi, Ric. Kalau kali ini masih belum berhasil juga. Kami akan beri waktu untuk kamu mencari pendampingmu sendiri." Kata Zain.
"Tapi, Yang… " Aida hendak protes namun urung karena Zain mengangkat tangan ke arahnya. Eric memandang bergantian ayah dan bundanya sambil memikirkan ucapan Zain.
"Baiklah, Yah. Satu kali ini lagi ya, Bund. Kalau kali ini masih belum berhasil juga, aku mohon kasih aku waktu. Aku juga mohon untuk sementara waktu Kenzie dan Ammara tetap disini sama ayah dan bunda sampai aku menemukan wanita yang tepat. Kalau perlu nanti biar Mila juga ikut tinggal disini untuk bantu beres-beres rumah." Kata Eric akhirnya. "Gimana, Bund?"
Aida memandang bergantian dua pria yang saat ini sama-sama fokus kepadanya. Meskipun ada rasa kecewa tapi sepertinya tidak ada pilihan baginya selain menerima.
"Iya, oke. Bunda setuju." Kata Aida. Dengan wajah muram wanita itu kemudian berdiri sambil menuntun Kenzie untuk mengantarnya ke kamar tidur.
"Nenek kenapa?" Tanya Kenzie yang menyadari tidak ada senyum di wajah neneknya. Saat ini mereka berdua sudah berada di kamar yang biasa ditempati Kenzie dan Ammara di rumah ini. Aida memaksakan senyuman untuk cucunya itu.
"Nenek nggak apa-apa. Kak Ken tidur dulu ya." Kata Aida sambil membaringkan tubuh mereka berdua saling bersisian.
"Ara gimana, Nek?" Tanya Kenzie karena sang adik masih dalam gendongan ayahnya.
"Biar ditidurin dulu sama Papa kamu. Adeknya masih sedih kan tadi."
"Iya sih, Nek. Gara-gara tante yang tadi itu sih, Ara jadi rewel." Kata Kenzie kembali mengungkapkan rasa kesalnya.
"Iya udah. Kita tidur aja ya. Tante yang tadi dilupakan aja." Kata Aida. Sejujurnya dia masih penasaran dengan apa yang terjadi saat Kenzie dan Ammara mereka biarkan bermain bersama Fania. Akan tetapi, karena hal itu tidak lagi terlalu berarti membuat Aida meredam rasa penasarannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Eric masuk ke kamar Kenzie sambil menggendong Ammara yang sudah terlelap. Pria itu berjalan sangat pelan karena khawatir membangunkan Kenzie dan Aida. Dengan perlahan juga dia membaringkan Ammara di samping kakaknya.
"Astaghfirullah! Kaget aku, Bund. Aku kira Bunda udah tidur." Kata Eric karena mata Aida yang tiba-tiba terbuka saat baru selesai meletakkan Ammara.
"Ssttt! Jangan keras-keras. Bisa-bisa mereka bangun lagi." Bisik Aida sambil melotot. Eric beringsut sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Maaf, Bund." Eric ikut berbisik ambil nyengir. "Aku pulang dulu ya, Bund. Insya Allah besok atau lusa aku kesini lagi."
"Hmmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Aida. Eric lalu mendekati ibunya untuk mencium tangannya. Dia tahu ibunya masih kesal sehingga dia memilih untuk tidak banyak bicara dan segera keluar dari kamar.
Aida menghela nafas lelah setelah pintu kamar ditutup dari luar oleh Eric. Dia kemudian memperhatikan kedua cucunya dengan lekat. Air matanya hampir menetes mengingat betapa malang nasib Kenzie dan Ammara yang sudah kehilangan ibunya. Dia sendiri juga merasa bersalah karena Eric, ayah kedua balita yang juga putra sulungnya itu teramat sangat kurang perhatian pada mereka. Aida bergantian mengelus lembut puncak kepala Kenzie dan Ammara. Dalam hati dia berdoa agar Eric bisa segera bertemu pendamping hidup yang bisa tulus menyayangi dan mencintai kedua cucunya itu.
"Mereka udah tidur, Ai?" Tanya Zain yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aida. Entah kapan pria itu masuk sehingga Aida tidak menyadarinya.
"Udah." Jawab Aida singkat. Terdengar ada sedikit nada ketus dari suaranya.
"Ya udah. Kita pindah ke kamar yuk." Ajak Zain.
"Kamu tidur sendiri aja malam ini. Aku mau tidur disini sama mereka." Kata Aida tanpa menoleh.
"Tapi, Ai- Emmm, masa iya aku tidur sendirian. Aku kan nggak bisa tidur kalau nggak meluk kamu." Rayu Zain.
"Aku masih kesel sama kamu, Yang. Ngapain tadi pakai ngomong gitu ke Eric. Kalau sampai pertemuan minggu depan nggak berhasil lagi gimana, Yang? Kita mau nunggu sampai kapan?"
"Loh, Ai. Aku kan tadi bantuin kamu. Kalau aku nggak ngomong kayak gitu ke Eric, bisa jadi dia benar-benar menyerah." Kata Zain. Dia jadi bingung karena tujuannya membantu sang istri malah dianggap kesalahan.
"Kamu kan bisa bilang untuk ketemu dengan beberapa wanita lagi. Bukannya cuma satu." Kata Aida.
"Tapi, Ai-"
"Udahlah, kamu tidur aja sana. Anak-anak bisa kebangun kalau kamu disini terus." Kata Aida. Kali ini dia berbicara sambil duduk dan menatap tajam Zain. Pria itu hanya bisa menghela nafas lalu kemudian keluar dari kamar cucunya dengan lemas.