Makiva melambaikan belatinya dalam lengkungan lebar mengitari tenda. “Jika kau bisa memilih jimat yang menjadi milikmu, kau boleh mengambilnya secara gratis.”
Mulut Zed ternganga. Dia mendongak dan memandangi lautan jimat kayu di langit-langit, semuanya tergantung di tali-tali kecil. Jumlahnya pasti ada ratusan di dalam tenda yang remang-remang ini. Mungkin lebih banyak lagi.
“Dan jika aku salah?” tanyanya dengan gugup. Dalam cerita-cerita rakyat, tantangan dari seorang penyihir selalu disertai harga yang mengerikan jika gagal.
“Oh, tidak seberapa. Hanya hal kecil, sungguh.” Suara Makiva menurun menjadi bisikan. “Kau hanya perlu... memberikan sepotong jiwamu padaku.”
Zed terkesiap, matanya kembali memandang ke arah penjual jimat itu.
Peramal itu meledak dalam tawa, meletakkan belatinya di perut—tindakan yang menurut Zed terlihat agak berbahaya.
“Kaum jelata memang mudah ditakut-takuti,” katanya. “Tidak, tidak. Jika kau salah tebak, kau hanya perlu membayar harga penuh. Satu keping perak. Tapi kau hanya punya satu kesempatan.”
Zed mengangguk, lalu tersenyum gugup. Dia kembali memandangi langit-langit untuk waktu yang cukup lama, berpikir. Ada sebanyak ini jimat seperti jumlah bintang di langit. Memilih satu saja rasanya mustahil. Akhirnya dia menunduk dan menatap Makiva.
“Itu?” katanya, menunjuk pada jimat di tangan peramal—jimat yang sedang diukirnya saat ini.
Perempuan itu menatapnya dari balik pekerjaannya, dan senyumnya melebar.
“Ya, benar,” katanya dengan lembut. Dia meletakkan jimat itu di atas meja dan mendorongnya ke arah Zed.
Zed hampir tak percaya. Itu hanyalah tebakan liar. Dia mengambil jimat itu dan mendekatkannya ke wajah. Sebuah makhluk kecil terukir dari kayu, dengan ekor lebat yang melingkari tubuhnya. Sebuah lingkaran kecil telah diukir di bagian atas jimat, tempat tali atau benang bisa dimasukkan.
“Ini disebut rubah,” kata Makiva. “Licik dan gesit, dengan bulu merah menyala. Rubah adalah makhluk yang gugup tapi juga suka bermain. Sedikit mirip denganmu, kurasa. Pada jaman dulu, orang-orang percaya mereka memiliki anugerah magis.”
Zed menatap Makiva. “Ini indah,” katanya. “Kau yakin?”
Si penjual jimat mengangguk. “Anggap saja Tuan Muda Guerra yang dermawan tadi telah membayarnya untukmu.”
Zed menyelipkan jimat itu ke dalam celananya. Wajahnya pasti sedang dipenuhi senyum lebar seperti orang t***l. “Terima kasih banyak,” katanya.
“Aku punya sesuatu lagi untukmu,” tambah Makiva, sambil merogoh sesuatu di bawah kain meja. “Hadiah tambahan untuk tebakkanmu yang cerdik tadi.” Dia mengulurkan tangannya, jari-jarinya menggenggam erat sesuatu di dalam. Perlahan, dia membuka telapak tangannya.
Di sana ada seutas rantai perak berkilauan. Bahkan dalam cahaya temaram tenda, tali itu memancarkan sinar cahayanya sendiri—lebih seperti permata daripada logam. Setiap mata rantai adalah karya seni kecil, dirangkai menjadi untaian yang indah seperti spiral mahakarya.
“Ini…” Zed mulai. Tapi menyebutnya indah rasanya tak cukup. Ada sesuatu tentang rantai itu yang berbicara kepadanya. Ia berbeda dari apa pun yang pernah dilihatnya, namun entah bagaimana mengisi hatinya dengan rasa rindu yang akrab.
Matanya beralih dari tali yang berkilauan itu ke arah Makiva. “Ini pasti sangat mahal.”
“Tak ternilai harganya, sebenarnya,” kata Makiva. “Meski aku yakin Guild Pedagang akan mencoba menakar nilainya. Kau mengingatkanku pada pemiliknya yang terakhir, Zed. Berapa lama sudah sejak para elf mengirim penjaga ke kota kita?”
“Itu… itu dua belas tahun lalu,” jawab Zed dengan lembut.
“Begitu, ya,” Makiva mengangguk dengan senyuman perlahan.
Tak ada elf di Freestone. Tak ada elf berdarah murni, setidaknya. Mereka memiliki kota mereka sendiri—Llethanyl—dengan dinding, kebiasaan, dan guild mereka sendiri, atau apa pun yang disebut elf.
Zed melirik sekali lagi ke rantai itu, tergeletak di tangan si penjual jimat seperti pantulan bulan di kolam tengah malam.
“Aku tak bisa menerima ini,” katanya. “Ini terlalu berharga.”
Makiva tersenyum tipis. “Kau adalah satu-satunya orang di kota ini yang seharusnya memilikinya, kurasa. Rantai ini terbuat dari logam bernama mithril—favorit para elf. Ini lebih kokoh dari yang terlihat, aku janji. Tapi jika itu bisa meyakinkanmu, kau bisa membayarnya suatu saat nanti. Setelah kau berhasil, kita bisa berbicara lagi.”
Zed mempertimbangkan tawaran itu. “Terima kasih,” katanya, mengambil rantai itu dari tangan Makiva yang terulur. Dia menyelipkan ujungnya melalui lingkaran pada jimat rubah, dan merasa puas melihat liontin kayu itu tampak begitu cocok dengan rantai yang indah itu.
Dari luar, lonceng pertama berbunyi dari Kuil Golden Way, menandakan pagi telah tiba.