Marsya mendongak kan kepala keatas, dia membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang putih pucat.
Di tengah derasnya hujan, tanpa tahu jika Marsya sedang menangis tersedu-sedu.
Marsya sungguh menyesal atas apa yang sudah terjadi bersama Rayyan.
Sehingga makhluk kecil bernama janin tengah bersemayam dalam perut nya.
Apa yang harus Dia lakukan!?
Apa dia turuti saja keinginan Rayyan untuk menggugurkan nya!
Tapi, bukankah itu akan menambah daftar dosa-dosa yang telah dia lakukan.
Namun jika dia bersikukuh ingin mempertahankan nya,
Pastinya Ada kendala, juga rintangan.
serta rasa takut untuk memberikan kehidupan yang terbaik untuk calon anak nya.
Apakah dia bisa dan sanggup?!
Sedangkan sang ayah biologis pun, tak mau tahu tentang nya.
Marsya menghela nafas berat, kedua tangannya terkepal erat.
Matanya terpejam. Setelahnya Marsya membuka matanya dan kembali melanjutkan perjalanan nya, untuk pulang ke rumah.
Banyak pengorbanan yang telah dia lakukan untuk Rayyan Mahardika.
Tetapi semua itu tak membuat Rayyan membalas perasaan nya.
Lagi pun, dia juga tahu dan mengerti akan status kedudukannya, yang sangat jauh
Jika dibandingkan dengan keluarga Mahardika.
Rayyan juga menyepelekan harga dirinya yang bisa tukar dengan beberapa rupiah.
Dia bisa apa?
Hanya bisa terdiam membisu.
Menerima konsekuensi nya. Dengan apa yang telah terjadi.
Salah satunya, Rayyan meminta dirinya untuk segera mengurus surat pengunduran diri sebagai asisten pribadi dalam perusahaan Mahardika group.
Tega sekali Rayyan.
Tak memikirkan. Bahwa pekerjaan tersebutlah. Yang selama Ini membantu keuangan keluarga nya, yang serba kekurangan.
Ibunya yang saat ini sakit-sakitan.
Membutuhkan banyak uang untuk berobat.
Di tambah lagi adik semata wayangnya.
Memiliki penyakit autisme.
Akan menjerit histeris. Jika berjumpa dengan orang-orang tak di kenal nya.
Kemudian sekujur tubuhnya bergetar takut.
Seperti seorang yang tengah di serang rasa gelisah yang berlebihan.
Dan itu juga membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan sang adik.
Kata temen sekolahnya dulu.
Adik nya masih bisa disembuhkan. Dengan mengikuti terapi serta arahan dari dokter yang ahli dalam bidang tersebut.
Sebab kondisi sang adik masih di kategorikan Ringan.
Belum sampai ke tahap.
dimana sang adik tak bisa di ajak berkomunikasi. Dan juga takut dengan warna-warna tertentu.
Adiknya tidak mengalami hal seperti itu.
Gruk gruk..
Bunyi perut Marsya berbarengan dengan suara guntur yang menggelegar.
Marsya mengusap perutnya yang masih rata.
Sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Membiarkan air hujan melewati tenggorokan nya, Yang terasa kering.
"Maafkan bunda nak, kamu pasti laper.
Tetap bertahan yah, yang kuat sayang,
Bunda berjanji! Akan berusaha semampu dan sekuat tenaga bunda, untuk memberikan kebahagiaan untuk kamu.
Hanya ada aku dan kamu.
Kita tidak butuh ayah. untuk melindungi juga menyayangi.
Tenang nak, bunda akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk kamu REIN SENJANA.
Ya bunda akan memberikan nama itu untuk kamu.
Kelak kamu akan menjadi anak yang memberikan banyak manfaat untuk mereka yang membutuhkan.
Juga menjadi anak yang berguna bagi bangsa,agama dan negara.
Amin.<doa Marsya bersungguh-sungguh.
Krett.
Marsya mendorong pintu usang kontrakan nya.
Ketika telah sampai di kediaman nya yang sederhana.
Suasana nya gelap gulita, seperti nya tempat dimana dia tinggal tengah terjadi pemadaman listrik.
Mungkin karena guntur yang bergemuruh kencang. Hingga membuat beberapa kabel terkena konslet.
"Ibu.., tata..,"Marsya memanggil ibu juga sang adik.
Namun sekian menit memanggil tak ada jawaban dari sang empu.
Apa mereka sudah tidur?<gumam Marsya, menghela nafas panjang.
Kalau ibunya, memang lebih suka dengan nuansa gelap ketika tidur.
Tapi adiknya??
"Tata.. tata.., ibu..bu..,"dengan cahaya lampu senter yang berasal dari handphone nya.
Marsya mencari keberadaan ibu serta adik nya.
Membuka satu-satu pintu kamar nya.
Kamar di kediaman Marsya hanya terdapat dua.
Satu untuk nya. Dan satu nya lagi untuk ibu dan adiknya.
Sang adik walau usianya mendekati angka dua puluh tahun.
Lebih suka tidur bersama sang ibu. Dari pada tidur sendirian. Beda dengan nya.
Lebih suka tidur sendirian dengan lampu mati.
Namun sang adik, tidak bisa tidur jika lampunya mati atau suasana nya gelap. tanpa ada cahaya.
"Kemana mereka?!"ucap Marsya seorang diri. Setelah mencari ke segala ruangan. Hingga ke belakang rumah.
Namun adik dan ibunya tak nampak dimana-mana.
Marsya meraup wajahnya sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Seraya mengeram. Marsya memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tok..tok.., neng Marsya, neng Marsya. Kamu sudah pulang?" Panggil suara dari luar rumah kontrakan nya.
"Siapa?"cicit Marsya dengan alis terangkat.
Gegas Marsya berjalan ke arah pintu untuk membuka dan ingin mengetahui siapa gerangan yang datang.
"Bu Retno."sapa Marsya, tersenyum lembut.
"Kamu baru pulang? Atau sedari tadi?"tukas Bu Retno.
"Saya baru pulang Bu, sebenarnya sudah dari sore. Tapi saya mampir ke tempat teman. Sambil nunggu hujan reda."katanya berbohong.
Bu Retno yang menjadi istri dari ketua RT dimana Marsya tinggal. Menghela nafas berat kemudian berkata dengan hati-hati.
"Ya saya mengerti, ibu hanya ingin memberitahu jika ibu dan adikmu sekarang berada dirumah sakit."terang Bu Retno.
Degg.
"R-r-rumah sakit, ada apa dengan ibu dan adikku Bu,?"katanya terbata-bata. Dengan perasaan takut dan cemas.
"Untuk lebih jelasnya ibu juga kurang tahu sya, tetapi Mpok oda berkata.
Jika tata mengamuk dengan membabi buta.
Semua barang-barang Dia lemparkan. Tanpa tahu apa penyebabnya!
Bukankah
selama ini tata dalam keadaan baik-baik.
Bahkan sudah sangat lama tata tak pernah beraksi seperti itu.
Dan miris nya sya __?
Bu Retno terdiam sejenak. Lalu kembali melanjutkan ucapannya.
Adikmu melakukan percobaan bunuh diri.
Dengan mengarahkan sebilah pisau tepat di area perutnya.
Ibu mu, yang melihat tingkah tata tak seperti biasanya.
Perlahan-lahan turun dari atas pembaringan untuk menghalau tata yang ingin menyakiti dirinya.
Ibu kamu juga berteriak kencang meminta tolong.
Tapi kamu tahu sendiri sya, ibu kamu juga dalam keadaan tak sehat. Tenaga nya lemas.
Dan untuk mencegah apa yang di lakukan oleh tata.
Justru malah membahayakan dirinya sendiri.
Ibu kamu __"
"Kenapa dengan ibu saya,? Bu Retno."desak Marsya tak sabar. Kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Sekujur tubuhnya pun bergetar.
"Ketika ibu kamu tengah memegang kedua kakinya tata.
Mungkin tujuan Bu sari. Guna menyadarkan adikmu.
Tapi naas,
Adikmu dengan brutal. Menusuk perut ibu sari berkali-kali hingga tak sadarkan diri.
Hingga kehabisan banyak darah.
Setelah itu kami para tetangga dengan bergerak cepat membawa ibu sari ke rumah sakit.
Tetapi sayangnya, nyawa ibu kamu tak tertolong. Beliau menghembus kan nafas terakhir saat dalam perjalanan.
Dan saya ke sini untuk memberitahu perihal jenazah Bu sari yang akan segera di bawa pulang.
Sebab pihak rumah sakit lepas tangan.
Di karenakan kondisi ibu kamu yang telah berpulang ke Rahmatullah.
Pihak rumah sakit hanya memberi tahu penyebab ibu kamu meregang nyawa.
Di samping kehilangan banyak darah. Ternyata ibu sari Juga mengalami keretakan tulang pada salah satu kakinya.
Mungkin ibu kamu menahan rasa sakit di kakinya. Dan juga memaksa turun dari atas pembaringan.
Guna mencegah tata agar tak menyakiti dirinya sendiri.
Yah, seperti itulah."jelas Bu Retno panjang lebar.
Degg.