Degg.
Jantung Marsya berdegup kencang Dengan hembusan nafasnya yang tak beraturan.
Marsya melangkah mundur dengan kedua mata melebar.
Telapak tangannya dia gunakan untuk menutup mulutnya sambil geleng-geleng kepala.
Ibuu,,<gumam Marsya. Netranya memerah. Tanpa bisa dicegah air mata mengalir deras membasahi pipinya.
(Tidak! Tidak mungkin.
Ibu harus tetap berada di samping ku.
Jika ibu tiada!
Kepada siapa aku berkeluh kesah.
Siapa yang akan menemani hari-hari ku?
Di tengah kondisi ku yang sedang mengandung.
Tuhan.. tolong lah hamba mu yang tak berdaya ini.
Apa yang harus aku lakukan ya Robb?) Ucap Marsya dalam hati, dengan perasaan sedih. Marsya pun bingung dan tak tahu!
Apakah ini adalah hukuman karena telah melakukan perbuatan terlarang bersama Rayyan hingga menghasilkan janin. Atau ini sebagian dari ujian hidupnya?
Bu Retno pun memandang sendu kearah Marsya.
Keluarga Marsya di kenal oleh para tetangga adalah. Keluarga yang baik,sopan, dan jauh dari gosip-gosip miring.
Walau kehidupan mereka serba kekurangan.
Tapi mereka mau berjuang dan berkerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari nya.
Apalagi mendiang ibu sari, yakni ibu dari Marsya. Adalah pribadi yang baik dan suka menolong.
Selagi sehat dulu. Pekerjaan nya menjadi buruh cuci. Terkadang menerima job untuk memasak di acara resmi. Seperti pernikahan, tunangan,dan lain sebagainya.
Marsya pun, walau sudah bekerja di perusahaan besar sebagai asisten pribadi.
Tak membuatnya merasa tinggi hati atau sombong. Justru tanpa malu atau minder. Marsya mau membantu pekerjaan mendiang ibu sari.
Katanya selagi halal. Terima dan jalani saja. Itupun jika dirinya mampu secara fisik dan mempunyai waktu luang untuk membantu sang ibu.
"Neng Marsya,"panggil Bu Retno, sambil mengusap lembut pundak nya.
"Hiks.., ibu, jangan pergi! Tolong kembalilah.
Apa ibu tak sayang dengan aku dan tata?"ucap Marsya, tersedu-sedu.
Ya Allah. kasihan kamu neng,<bathin Bu Retno, dengan tatapan sedih.
"Neng Marsya, sebaiknya segera ikut sama ibu, ke rumah sakit. Apa Kamu enggak mau melihat keadaan adikmu?"kata Bu Retno, memberi saran.
Tata,<gumam Marsya.
Setelahnya mengusap air mata di pipi nya.
"Iya Bu, aku mau ikut."jawab Marsya, mengangguk.
Bu Retno pun membalas anggukan kepala sambil tersenyum hangat.
"Yang sabar neng, semua makhluk akan kembali kepada sang pencipta. Berdoa saja semoga yang maha kuasa mengampuni dosa-dosa ibu kamu, dan juga memaafkan segala kesalahannya, baik yang di sengaja atau tak di sengaja."nasihat lembut Bu Retno terhadap Marsya.
"Amin, terimakasih Bu,"sanggah Marsya.
Setelahnya Marsya pergi bersama Bu Retno untuk mengurus kepulangan jenazah sang ibu, sekaligus untuk melihat keadaan adiknya.
Marsya tak menyalahkan sang adik atas kepergian sang ibu.
Mungkin sudah menjadi takdir sang ibu. Berakhir seperti itu.
Pelan-pelan dia akan mencoba untuk ikhlas dan menerima segalanya.
Walaupun dia merasa tak mempunyai semangat untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya.
Di tambah lagi ada anggota baru yang akan hadir dalam keluarganya beberapa bulan lagi.
Dia juga hendak memberitahu terkait kehamilan nya kepada sang ibu.
Namun ternyata. Sebelum dia mengutarakan nya,Tuhan lebih dulu memanggilnya.
Mungkin ibunya merindukan sang ayah.
Sebab beberapa bulan terakhir.
Ibunya selalu berkata ingin sekali berjumpa dengan ayahnya.
Katanya ingin bercerita semua yang terjadi dalam kehidupan nya.
Ayahnya adalah sosok yang baik dan bertanggung jawab.
Ayahnya juga sosok pendengar yang baik.
Dan juga penasehat yang lembut dan penyayang.
Tapi dia sedikit merasa curiga terhadap sang adik!
Ada apa dengan tata?
Kenapa dia bisa bertingkah seperti itu?
Karena Hampir beberapa tahun ini. Tata tak pernah lagi mengamuk, juga bersikap yang aneh-aneh.
Tata terkenal baik dan humoris di kalangan anak-anak kecil.
Ya, memang keseharian sang adik bergaul dengan anak-anak SD juga anak remaja.
Mereka juga suka dengan tata.
Kata mereka tata jenius.
Sebab bisa membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Marsya juga sedikit merasa aneh dengan kepribadian sang adik.
Kalau biasanya tata akan berceloteh tentang keseharian nya, terhadap dirinya. Ketika dia telah pulang dari bekerja.
Tapi sekarang tidak.
Jika dia pulang dan berpapasan dengan sang adik.
Sang adik hanya Diam seribu bahasa. Tak lagi bersikap seperti biasanya.
Dan itu berjalan sudah hampir lima bulan.
Marsya sendiri yang merasa capek dan lelah, karena banyaknya pekerjaan di kantor.
Tak terlalu memikirkan akan sikap sang adik.
Mungkin adiknya tak cocok dengan kehadiran orang baru.
Ya, sekitar empat bulan yang lalu di lingkungan tempat tinggalnya kedatangan pendatang baru. Pindahkan dari luar pulau.
Mereka adalah pasangan paruh baya yang ikut tinggal dengan anak semata wayangnya. Yang menjadi komandan TNI angkatan darat.
Karena di pindah tugas ke daerah jakarta.
Marsya beserta para tetangga pun, belum pernah melihat anak dari pasangan paruh baya tersebut.
Apa ini yang membuat sang adik terlihat berbeda?
°°°°°°°
RUMAH SAKIT MEDICAL CENTER.
"Apa! Hamil! ma-ma-maksud dokter adik saya hamil?!"Marsya terperanjat kaget.
Ketika pihak dokter mengatakan adanya janin dalam perut adiknya.
"Ya, benar nona.
Usia kandungannya tiga bulan.
Adik Anda tengah mengandung bayi kembar."ungkap sang dokter.
"Hah!" Marsya melongo bengong, kedua matanya membulat.
"Kembar. Adik saya hamil kembar."gumam Marsya. Tak percaya.
"Iya nona, namun untuk jenis kelaminnya belum terlihat jelas.
Nanti dua atau tiga bulan lagi. Akan nampak jelas, apakah dia sepasang laki-laki dan perempuan."terang dokter lugas.
Marsya terdiam membisu. Dia tak begitu tertarik dengan penjelasan dokter tentang jenis kelamin calon ponakan nya.
Marsya tengah berpikir keras tentang kehamilan sang adik.
Marsya Sungguh tak percaya. Tapi semuanya telah terjadi.
Adiknya hamil tiga bulan.
Dia sendiri pun bernasib sama seperti sang adik.
Tapi dia belum tahu berapa usia kehamilannya?
Dia tak ada niat untuk mengetahuinya.
Hanya sebuah alat tes kehamilan.
Yang membuat Marsya mengetahui mengenai kehamilannya.
Terlepas dari itu, sang ayah biologis tak mau tahu tentang keadaan nya.
Hingga Marsya pun, tak ada semangat untuk memeriksa kandungan nya.
Hhh..,
Marsya menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya.
Kedua tangannya terkepal erat dalam genggaman nya.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?<keluh Marsya, dalam hati dengan wajah terlukis kesedihan.
Sang dokter pun, mengamati Marsya dengan intens.
Dokter tersebut sangat mengerti apa yang tengah di rasakan oleh wanita muda di hadapannya.
"Ehem..,nona Marsya. Anda baik-baik saja,?"tanya sang dokter, dengan tatapan prihatin.
Namun Marsya tak menggubris ucapan sang dokter.
Masih asik dengan segala pikiran dan praduga nya. Perihal kehamilan tata.
"Nona..!"panggil nya, seraya menepuk pelan pundak nya Marsha.
"Eh eh.., kenapa dok,?"tukas Marsya, terkejut seraya memandang ke arah sang dokter.
"Apa ada yang ingin Anda tanyakan lagi? Terkait kondisi adik Anda."tukas sang dokter.
"Emm, tidak ada tapi ___?"
"Neng Marsya.., neng Marsya...,"seru Bu Retno. Dengan berteriak kencang.
Marsya menoleh ke sumber suara.
dahinya berkerut juga sorot matanya menatap Bu Retno dengan tatapan tanda tanya.
"Bu Retno, ada apa?"tanya Marsya, ingin tahu.
Begitu juga dengan sang dokter.
Memandang ingin tahu ke arah Bu Retno.
"Adikmu.??