Pintu lift terbuka perlahan. Garendra menggandeng tangan Nadila, lalu membawanya keluar menuju kamar hotel. Setelah pintu kamar tertutup, ia menurunkan Nadila perlahan merebahkan diranjang dengan tatapan penuh hasrat.
"Ah... pelan-pelan," lirih Nadila sambil menatap Garendra.
Garendra mengusap lembut pipi wanita itu, lalu menatapnya seolah memastikan keputusan yang akan mereka ambil.
"Kamu yakin tidak akan menyesalinya?" tanyanya dengan suara rendah.
Nadila menggeleng pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Tidak. Aku juga menginginkannya," bisiknya penuh godaan sambil membuka kancing kemeja Garendra satu per satu,mengecup bibir turun ke leher Garendra.
Garendra menghembuskan napas panjang. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nadila.
"Baiklah. Setelah ini, tidak ada jalan untuk berhenti,saya akan membuat kamu berteriak penuh kenikmatan dan tidak akan berhenti sampai besok pagi.Kamu tidak akan bisa berjalan." ucapnya lirih.
Ia kemudian mengecup bibir Nadila dengan lembut sebelum mengulurkan tangan mematikan lampu kamar.
Kegelapan seketika menyelimuti ruangan. Hanya siluet dua insan yang saling memadu kasih dan suara lenguhan yang memenuhi setiap sudut kamar hotel.
Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah tirai kamar hotel, menerangi ruangan yang kini dipenuhi keheningan.
Nadila perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping dan melihat Garendra masih tertidur lelap di sisinya.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada wajah pria itu. Perlahan, jemarinya menyentuh pipi Garendra.
Walaupun usiamu sudah tidak muda lagi... ternyata pesonamu luar biasa. Bahkan Edwin pun tidak pernah membuatku merasa dihargai seperti ini, batinnya.
Namun, seketika ia tersadar.
Astagaa... apa yang sedang kupikirkan? Aku tidak boleh terpesona.
Ingat tujuanmu, Nadila... balas dendam.
Belum sempat ia menarik tangannya, suara Garendra terdengar pelan.
"Sudah selesai mengagumi wajahku?" tanyanya sambil membuka mata. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Memang aku setampan itu?"
Nadila mendengus pelan.
"Percaya diri sekali."
Ia segera bangkit dari tempat tidur, lalu mulai mengenakan kembali pakaiannya yang terlipat rapi di kursi.
Setelah berpakaian, Nadila menoleh ke arah Garendra.
"Berapa tarifmu?"
Pertanyaan itu membuat Garendra mengernyit bingung.
"Apa maksudmu?"
Nadila mengangkat bahu.
"Kamu gigolo, kan?"
"Apa?" Garendra langsung duduk tegak. "Jangan sembarangan menuduh."
Ia menatap Nadila dengan heran.
"Justru aku mengira kamu wanita yang dipesan Melody untuk menemaniku."
Garendra balik bertanya dengan wajah serius.
"Kalau begitu... berapa tarifmu?"
Mata Nadila langsung membulat.
"Sembarangan! Saya bukan wanita seperti yang Anda pikirkan."
Kini keduanya saling menatap dalam diam.
Garendra masih menatap Nadila dengan wajah dipenuhi tanda tanya.
"Jadi... semalam kita sama-sama salah paham?" tanyanya pelan.
Nadila berpura-pura terkejut. Tatapannya perlahan menunduk, seolah baru menyadari apa yang telah terjadi.
"Aku dijebak teman ku semalam setelah melakukan true or dare."
Ia menggenggam ujung gaunnya dengan tangan yang sedikit gemetar, sementara dalam hatinya senyum kemenangan mulai merekah.
Bagus… Kalau dia benar-benar menganggap semua ini sebagai kesalahannya, rasa bersalah itu akan membuatnya bertanggung jawab.
Dia akan merasa bersalah dan menikahiku.
Rencanaku berjalan dengan sempurna.
Garendra mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang.
"Saya tidak pernah berniat memperlakukan seorang wanita seperti ini."
Nadila tetap diam, sengaja membiarkan keheningan memenuhi kamar.
Beberapa saat kemudian, Garendra kembali membuka suara.
"Siapa nama kamu?"
"Nadila... Nadila Veronica."
Garendra mengangguk pelan.
"Nadila, apapun yang terjadi semalam, saya tidak akan lari dari tanggung jawab."
Mendengar kalimat itu, Nadila perlahan mengangkat wajahnya. Matanya tampak berkaca-kaca, meski jauh di lubuk hatinya ia tengah menghitung setiap langkah berikutnya.
Rencana balas dendamnya baru saja dimulai.
Garendra masih menatap Nadila dengan ekspresi bingung.
"Kenapa kamu mengira aku seorang gigolo?" tanyanya. "Padahal kamu bilang dijebak oleh temanmu."
Nadila menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Karena saya benar-benar mengira Anda seorang gigolo. Jadi saya berpikir, daripada menimbulkan masalah, lebih baik saya membayar Anda."
Garendra menggeleng pelan, masih sulit mempercayai penjelasan itu.
"Tapi..." ucapnya hati-hati. "Kamu masih perawan. Dan semalam kita juga tidak menggunakan pengaman. Bagaimana kalau ternyata kamu hamil?"
Ucapan itu membuat Nadila terdiam.
Matanya membelalak, sementara pikirannya dipenuhi kebingungan.
Apa? Perawan?
Bagaimana mungkin...
Aku sudah menikah selama tiga tahun. Selama itu pula aku hidup sebagai suami istri dengan Edwin.
Lalu... bagaimana mungkin aku masih perawan?
Nadila mengingat kembali darah yang ia lihat sebelumnya.
Apa itu hanya darah akibat keguguran terakhir? Tapi aku keguguran dua minggu yang lalu, dan perdarahannya juga sudah berhenti.
Jangan-jangan... benar aku masih perawan?
Pikiran itu membuat jantung Nadila berdegup semakin kencang. Ia menatap Garendra dengan wajah yang masih dipenuhi kebingungan, berusaha mencerna kemungkinan yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.
Garendra menatap Nadila yang sejak tadi hanya terdiam. Sorot matanya penuh tanda tanya, sementara keheningan di antara mereka terasa semakin canggung.
"Kenapa diam? Kamu takut orang tuamu mengetahui semua ini?" tanya Garendra pelan.
Nadila menggeleng lirih. Senyum pahit menghiasi wajahnya sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara yang nyaris berbisik.
"Saya sudah yatim piatu... dan saya juga sudah bercerai dari suami saya."
Ucapan itu membuat Garendra terpaku. Kedua matanya membelalak tak percaya.
"Apa? Kamu seorang janda?" serunya kaget. "Bagaimana mungkin... kalau begitu kamu masih perawan?"
Nadila menundukkan kepala. Tatapannya kosong seolah kembali mengingat luka yang selama ini ia pendam.
"Saya juga tidak tahu. Padahal selama dua tahun menikah saya sudah menjalani program bayi tabung sampai lima kali. Saya sempat hamil, tetapi semuanya berakhir keguguran karena saya diberi pil aborsi."
Wajah Garendra mengeras. Rahangnya mengatup kuat menahan amarah yang mulai memuncak.
"Astaga... itu benar-benar gila." Ia menggeleng tak habis pikir. "Jadi selama tiga tahun menikah kamu tidak pernah disentuh oleh suamimu, bahkan dia juga berusaha membunuhmu?”
"Jika Anda benar-benar ingin bertanggung jawab, nikahi saya," ucap Nadila dengan tatapan mantap.
Garendra terdiam beberapa saat. "Menikah? Kamu yakin? Usia saya sudah empat puluh tiga tahun. Saya bahkan sudah memiliki seorang anak perempuan yang usianya hampir seumuran denganmu."
Nadila tersenyum tipis. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, mendekat ke arah Garendra sambil menatap pria itu lekat.
"Umur hanyalah angka. Lagi pula, semakin dewasa justru semakin menarik. Jadi, apa masalahnya?" balasnya dengan nada tenang.
Garendra mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Kamu benar. Selama ini saya hidup sendirian. Saya menduda sejak istri saya meninggal dua puluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, saya hanya fokus membesarkan anak saya. Mungkin... memang sudah saatnya saya memikirkan kebahagiaan saya sendiri."
Mendengar jawaban itu, senyum Nadila semakin lebar. Namun, di balik senyum manisnya, tersimpan niat yang sama sekali berbeda.
"Bagus. Setelah kita menikah, aku akan membuat kalian semua menderita," batin Nadila dengan sorot mata yang sulit diartikan.