Garendra bangkit dari ranjang, lalu mengenakan kembali kemeja yang semalam tergeletak di lantai. Setelah merapikan pakaiannya, ia menoleh ke arah Nadila yang masih berdiri di dekat jendela.
"Aku tidak akan menarik ucapanku," katanya tegas. "Kalau kamu benar-benar bersedia, aku akan menikahimu."
Nadila menatapnya beberapa saat, seolah memastikan bahwa pria itu tidak sedang bercanda.
"Anda serius?"
Garendra mengangguk mantap.
"Saya tidak pernah bermain-main dengan urusan seperti ini."
Nadila menarik napas panjang sebelum mengulurkan tangan.
"Kalau begitu... kita sepakat."
Garendra menyambut uluran tangan itu.
"Kita sepakat."
Sesaat kemudian, ponsel Garendra berdering. Nama Melody muncul di layar.
Garendra mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Pak, maaf mengganggu. Rapat dengan para direksi dimajukan satu jam. Semua sudah menunggu Bapak."
"Saya akan segera ke kantor."
Panggilan berakhir.
Garendra memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu menatap Nadila.
"Aku harus ke kantor sekarang. Tapi sore nanti aku akan menjemputmu."
Nadila mengangguk pelan.
"Untuk apa?"
"Kita akan menemui pendeta dan menikahi mu. Setelah itu aku juga ingin bertemu keluargamu."
Wajah Nadila seketika berubah muram.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa."
Garendra terdiam beberapa saat.
"Kalau begitu, mulai hari ini kamu tidak sendiri lagi.Saya adalah keluarga mu. "
Ucapan itu membuat Nadila menundukkan kepala. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi jauh di dalam hatinya muncul suara yang bertolak belakang.
Maaf, Pak Garendra… Semua ini memang yang kuinginkan. Aku akan menjadi bagian dari keluargamu, lalu membalas semua penderitaan yang pernah kurasakan.
Garendra mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada Nadila.
"Ini nomor pribadiku. Kalau ada apa-apa, hubungi aku kapan saja."
Nadila menerima kartu itu.
"Baik."
Garendra melangkah keluar dari kamar hotel. Begitu pintu tertutup, senyum lembut di wajah Nadila perlahan memudar, berganti dengan tatapan dingin.
"Akhirnya..." bisiknya pelan. "Langkah pertama sudah berhasil."
Ia menggenggam erat kartu nama Garendra.
"Sekarang tinggal menunggu waktu sampai seluruh keluarga itu merasakan sakit yang pernah mereka berikan kepadaku.”
Begitu pintu kamar hotel tertutup, Nadila kembali melangkah menuju ranjang. Tatapannya tertuju pada sprei putih yang masih memperlihatkan bercak merah.
Ia terdiam cukup lama.
"Jadi... aku benar-benar masih perawan," gumamnya lirih.
Nafasnya terasa berat.
"Selama ini... Edwin memang tidak pernah benar-benar menyentuhku."
Belum sempat ia larut dalam pikirannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Melody muncul di layar.
Nadila segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Mel."
"Gimana? Berhasil?" tanya Melody tanpa basa-basi.
Nadila tersenyum tipis.
"Berhasil, dong. Nanti sore aku akan di kawinin sama Garendra Abraham."
Di seberang sana, Melody langsung terkekeh.
"Kawin apa nikah? Kan semalam kalian sudah kawin."
"Sttt... jangan keras-keras," bisik Nadila refleks sambil menoleh ke arah pintu kamar.
Melody kembali tertawa.
"Terus, rencana lo selanjutnya apa?"
Nadila menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
"Kita lihat saja nanti malam. Saat gue datang ke rumah keluarga Abraham, aku ingin melihat bagaimana tercengangnya Pevita dan Edwin ketika tahu aku sudah menjadi istri ayahnya."
Melody menggeleng sambil tertawa tak percaya.
"Gue benar-benar nggak kebayang. Mantan istri ternyata malah jadi calon mertua."
Nadila tersenyum tipis, tetapi sorot matanya berubah dingin.
"Itu belum seberapa dibanding sakit hati yang selama ini gue rasakan."
Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Lo tahu nggak? Ternyata gue masih perawan."
Ucapan itu membuat Melody terdiam beberapa detik.
"Hah? Bagaimana bisa? Lo kan sudah menikah tiga tahun, bahkan sempat hamil lima kali."
Nadila memejamkan mata, berusaha mengingat kembali setiap kejadian yang selama ini terasa janggal.
"Sekarang gue baru ingat. Setiap Edwin bilang mau menyentuh gue, dia selalu menyuruh gue minum segelas air putih."
Ia mengepalkan tangannya erat.
"Setelah itu gue selalu tertidur. Begitu bangun, pakaian gue udah gak ada. Selama ini gue pikir kami memang sudah berhubungan, ternyata... kemungkinan besar minuman itu sudah dicampur obat tidur."
Melody terdengar menghembuskan napas kasar.
"Gila... berarti Edwin benar-benar melakukan kejahatan."
Nadila mengangguk pelan meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.
"Kalau dipikir-pikir, semuanya masuk akal."
Melody masih terdengar geram.
"Obat tidur, pil aborsi... benar-benar keterlaluan. Orang seperti Edwin pantas dipenjara."
Nadila menggenggam ponselnya semakin erat.
"Kali ini... dia tidak akan bisa lolos begitu saja.”
Ponsel Nadila kembali berdering. Nama Melody muncul di layar.
Nadila segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Eh, bentar ya. Pak Garendra sudah datang. Dia nyuruh gue nyiapin semua berkas pernikahan kalian di gereja nanti sore," ujar Melody.
"Oke."
Setelah itu, sambungan telepon pun terputus.
Nadila menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Sebentar lagi... aku benar-benar akan menjadi Nyonya Abraham."
Ia kemudian melangkah masuk ke kamar mandi hotel. Berdiri di depan cermin besar melepaskan pakaiannya, pandangannya perlahan menyapu seluruh tubuhnya.
Beberapa bekas gigitan dan ciuman menghiasi kulit putihnya.
"Dia benar-benar menandai setiap bagian tubuhku," gumamnya pelan.
Sudut bibir Nadila kembali terangkat membentuk senyum tipis.
"Tidak ada ruginya menikahi Garendra Abraham. Selain mendapatkan kepuasan batin aku juga bisa membalas dendam dan merebut kembali warisan yang seharusnya menjadi milikku."
Tatapannya di cermin berubah semakin tajam.
"Permainan ini baru saja dimulai.”
Nadila selesai mandi. Setelah mengeringkan tubuhnya, ia mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam. Ia tidak memiliki pakaian ganti, sehingga hanya itulah yang bisa dikenakan.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Nadila keluar dari kamar hotel. Ia memasuki lift dan turun menuju lobi. Namun, baru saja melangkah keluar, langkahnya langsung terhenti.
Di hadapannya berdiri Edwin bersama Pevita yang sedang bergelayut manja di lengan pria itu.
"Nadila? Kamu ngapain di hotel mewah seperti ini?" tanya Edwin dengan tatapan penuh keheranan.
Pevita menatap Nadila dari ujung kepala hingga kaki sebelum tersenyum sinis.
"Jadi ini mantan istrimu, Sayang?" katanya sambil semakin mengeratkan pelukannya di lengan Edwin.
Kenapa harus ketemu mereka, sih? batin Nadila kesal.
Pevita menyeringai mengejek.
"Dia mungkin lagi menjual diri, Sayang. Bukannya sekarang dia sudah nggak punya tempat tinggal setelah kamu ceraikan?"
Edwin ikut tertawa kecil.
"Tapi janda jelek dan kurus kering kayak dia mana ada yang mau jadi LC atau simpanan? Orang juga pasti pilih-pilih,aku dikasih gratis pun ogah."
Tatapan Nadila berubah dingin.
"Yang penting aku nggak hidup dari hasil mencuri milik orang lain, apalagi sampai membunuh anaknya sendiri."
Wajah Pevita seketika menegang.
Edwin mendengus sinis.
"Kamu sudah miskin, jangan belagu. Lihat Pevita, cantik, seksi, berpendidikan, kaya, dan sepadan denganku. Sekarang lihat dirimu. Miskin, dekil, kusut. Mana mungkin ada laki-laki yang tergoda melihatmu."
Nadila tersenyum tipis, sama sekali tidak terlihat terluka oleh hinaan itu.
"Aku juga dulu kaya. Kamu lupa harta siapa yang sekarang sedang kamu nikmati?" ucapnya tenang.
Ia kemudian mendekat ke arah Pevita dan berbisik pelan agar hanya wanita itu yang mendengar.
"Kamu perempuan berpendidikan, tapi rela check-in dengan suami orang tanpa status dan memberikan tubuhmu secara cuma-cuma. p*****r saja masih dibayar, sedangkan kamu... gratisan."
Wajah Pevita langsung memerah karena menahan amarah.
Sementara itu, Nadila berbalik tanpa menunggu balasan. Dengan langkah mantap dan kepala tegak, ia meninggalkan Edwin dan Pevita yang masih berdiri membeku di lobi hotel.