Nadila melangkah keluar dari hotel tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Senyum sinis di wajahnya perlahan memudar.
Meski berhasil membalas hinaan Edwin dan Pevita dengan kata-kata, dadanya tetap terasa sesak.
Ia mengangkat wajah, menatap langit yang mulai mendung.
"Ini baru permulaan," gumamnya lirih. "Aku belum mengambil kembali semua yang menjadi milikku."
Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan hotel.
Nadila masuk ke dalam mobil.
"Ke Gereja Santo Mikael, Pak."
"Baik, Bu."
Mobil pun melaju meninggalkan hotel.
Di sisi lain... Edwin masih menatap ke arah pintu keluar hotel tempat Nadila menghilang.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya.
"Sayang."
Suara Pevita membuyarkan lamunannya.
"Kamu ngapain ngelihatin dia terus?"
Edwin menggeleng pelan.
"Nggak tahu. Perasaanku nggak enak."
Pevita langsung mencibir.
"Perasaanmu aja. Mana mungkin perempuan miskin seperti dia bisa masuk hotel semewah ini tanpa menjual diri?"
Edwin berusaha mengusir pikirannya.
"Iya juga."
Mereka kemudian berjalan menuju mobil Garendra yang telah menunggu.
Di perjalanan menuju gereja, Nadila menggenggam kartu nama Garendra erat-erat.
Di dalam hatinya masih tersimpan niat balas dendam.
Namun entah mengapa, ucapan Garendra terus terngiang di telinganya.
"Mulai hari ini kamu tidak sendiri lagi. Saya adalah keluargamu."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadila merasakan kehangatan dari seseorang yang bukan karena menginginkan hartanya.
Ia segera menggeleng pelan.
"Jangan lemah, Nadila."
"Ingat tujuanmu."
Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, sebuah perasaan asing mulai tumbuh tanpa ia sadari.
Taksi yang ditumpangi Nadila akhirnya berhenti di halaman sebuah gereja tua yang berdiri megah di tengah kota.
Ia membayar ongkos perjalanan, lalu turun perlahan.
Begitu melangkahkan kaki memasuki area gereja, pandangannya langsung tertuju pada deretan bunga putih yang menghiasi pintu masuk.
Suasana tampak tenang dan khidmat.
Belum sempat Nadila melangkah lebih jauh, seorang wanita berpakaian rapi menghampirinya dengan senyum ramah.
"Permisi, apakah Anda Ibu Nadila Veronica?"
Nadila mengangguk pelan.
"Iya, saya."
Wanita itu langsung tersenyum hangat.
"Perkenalkan, saya Olivia, wedding organizer yang ditunjuk Pak Garendra Abraham."
Nadila sedikit terkejut.
"Pak Garendra?"
"Iya, Bu. Beliau meminta kami mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."
Olivia kemudian mempersilakan Nadila mengikutinya.
"Mari, Bu. Tim penata rias sudah menunggu."
Nadila hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti Olivia menuju sebuah ruang khusus yang telah disiapkan.
Begitu pintu dibuka, beberapa penata rias langsung berdiri menyambutnya.
"Selamat siang, Bu Nadila."
"Silakan duduk."
Nadila duduk di depan cermin besar.
Salah seorang makeup artist mulai merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan, sementara yang lain menyiapkan perlengkapan rias.
"Wajah Ibu sebenarnya sudah sangat cantik," ucap sang penata rias sambil tersenyum. "Kami hanya akan mempertegas kecantikan alami Ibu."
Nadila membalas dengan senyum tipis.
Beberapa saat kemudian, kuas demi kuas mulai menyentuh wajahnya.
Riasan dibuat lembut dan elegan.
Rambut panjangnya ditata menjadi gelombang anggun yang dibiarkan tergerai di kedua bahunya.
Tak lama kemudian, gaun pengantin berwarna putih gading dibawa masuk ke ruangan.
Gaun itu tampak sederhana, tetapi sangat mewah dengan hiasan renda halus di bagian lengan dan ekor gaun yang menjuntai indah.
"Silakan dicoba, Bu."
Setelah berganti pakaian, Nadila kembali duduk di depan cermin.
Semua orang di ruangan itu tampak terpukau.
Salah seorang penata rias tersenyum kagum.
"Anda sangat cantik, Bu."
Ia merapikan sedikit helaian rambut Nadila yang jatuh di sisi wajah.
"Saya yakin Pak Garendra akan sangat menyukai penampilan Anda."
Nadila menatap pantulan dirinya di cermin.
Untuk beberapa saat, ia bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Wanita yang beberapa hari lalu terbaring lemah di rumah sakit kini tampak begitu anggun dalam balutan gaun pengantin.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Terima kasih."
Di balik senyum itu, pikirannya kembali dipenuhi berbagai pertanyaan.
Apakah pernikahan ini benar-benar hanya bagian dari balas dendam... atau justru akan mengubah seluruh jalan hidupku?
---
Sementara itu, di Abraham Group.
Garendra baru saja menyelesaikan rapat bersama para direksi.
"Kalau tidak ada hal lain, rapat kita akhiri sampai di sini."
"Baik, Pak."
Seluruh direksi berdiri dan meninggalkan ruang rapat.
Melody tetap berada di dalam ruangan sambil membawa sebuah map berisi dokumen.
"Pak."
Garendra menatap sekretarisnya.
"Semua berkas yang Bapak minta sudah saya siapkan."
Garendra membuka map itu satu per satu.
Surat-surat administrasi untuk pernikahan sudah lengkap.
"Bagus."
Ia menutup map tersebut.
"Sore ini saya tidak menerima tamu."
Melody mengangguk.
"Baik, Pak."
Garendra berdiri sambil mengambil jasnya.
Melody memandang atasannya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan.
"Pak... Bapak benar-benar yakin ingin menikahi Bu Nadila?"
Garendra terdiam sesaat.
Tatapannya berubah serius.
"Saya tidak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan."
"Tapi Bapak baru mengenalnya."
Garendra menghela napas panjang.
"Memang."
"Tetapi saya sudah mengambil kehormatannya."
"Sebagai laki-laki, saya harus bertanggung jawab."
Melody mengangguk pelan.
"Semoga keputusan Bapak tidak salah."
Garendra tersenyum tipis.
"Saya juga berharap begitu. "
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Garendra berdiri dari kursi direktur utama, mengambil jas hitam yang tergantung di sandaran kursi, lalu memakainya dengan rapi.
Melody yang sejak tadi menunggu di depan meja kerja segera menghampiri sambil membawa sebuah map berisi dokumen.
"Pak, semua berkas untuk pemberkatan pernikahan sudah lengkap."
Garendra menerima map itu, lalu membukanya sekilas.
Akta kelahiran, identitas, surat keterangan belum menikah atas nama dirinya, serta seluruh dokumen yang dibutuhkan telah tersusun rapi.
"Bagus."
Ia menutup map tersebut.
"Pendeta sudah diberi tahu?"
"Sudah, Pak. Beliau sudah menunggu di gereja."
Garendra mengangguk pelan.
"Ayo berangkat."
"Baik, Pak."
Keduanya berjalan keluar dari ruang direktur.
Begitu Garendra melintas, para karyawan langsung berdiri.
"Selamat siang, Pak."
Garendra hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum terus melangkah menuju lift pribadi.
Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai dasar.
Seorang sopir telah membukakan pintu mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan lobi.
"Selamat siang, Pak."
"Ke Gereja Santo Mikael," perintah Garendra singkat.
"Baik, Pak."
Mobil pun melaju meninggalkan Abraham Group.
Di dalam perjalanan, suasana mobil terasa hening.
Melody yang duduk di kursi depan beberapa kali melirik ke arah Garendra melalui kaca spion.
"Pak..."
"Hm?"
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
Garendra mengangguk.
"Silakan."
Melody menarik napas pelan.
"Bapak benar-benar tidak menyesal mengambil keputusan ini?"
Garendra menatap keluar jendela.
"Pernikahan bukan permainan."
"Saya tahu."
"Tapi Bapak baru mengenal Bu Nadila."
Garendra tersenyum tipis.
"Kadang seseorang tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengetahui mana yang benar."
Melody terdiam.
Garendra kembali melanjutkan.
"Saya memang baru mengenalnya."
"Tapi saya melihat seorang wanita yang sedang hancur."
"Saya tidak ingin menambah luka dalam hidupnya."
Melody tersenyum tipis.
"Kalau boleh jujur..."
"Saya merasa Bu Nadila wanita yang baik."
Garendra mengangguk pelan.
"Saya juga memiliki firasat yang sama."
Mobil terus melaju membelah jalanan kota.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, kendaraan itu memasuki halaman Gereja Santo Mikael.
Sopir menghentikan mobil dengan perlahan.
"Pak, kita sudah sampai."
Garendra mengembuskan napas panjang sebelum membuka pintu mobil.
Ia melangkah turun dengan tenang.
Melody mengikuti dari belakang sambil membawa map berisi seluruh dokumen pernikahan. Tatapan Garendra langsung tertuju ke arah pintu gereja.
Pintu ruang rias perlahan terbuka.
Olivia, selaku wedding organizer, tersenyum hangat.
"Bu Nadila, semuanya sudah siap. Pengantinnya sudah datang."
Nadila menarik napas panjang.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Baik."
Ia berdiri perlahan. Ekor gaun pengantin putih gading menjuntai anggun di belakangnya.
Seorang petugas membantu merapikan veil yang menutupi sebagian rambutnya.
"Silakan, Bu."
Nadila melangkah keluar menuju pintu utama gereja.
Di dalam gereja... Garendra telah berdiri rapi di depan altar mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna perak.
Di sampingnya berdiri Melody yang membawa map berisi dokumen pernikahan.
Suasana gereja terasa hening.
Alunan musik organ mulai terdengar memenuhi ruangan.
Perlahan... Pintu gereja terbuka.Semua orang spontan menoleh ke arah pintu masuk.
Garendra ikut mengangkat kepalanya. Saat melihat sosok yang berdiri di sana, napasnya seakan tertahan.
Nadila melangkah masuk dengan gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya dengan anggun.
Riasan wajahnya tampak lembut. Rambut panjangnya tergerai indah di balik veil tipis.
Langkahnya pelan, tetapi penuh wibawa.
Tatapan Garendra tidak mampu berpaling sedikit pun.
Ya Tuhan... Dia begitu cantik...
Bahkan jauh lebih cantik dibanding saat pertama kali ia melihat Nadila di hotel.
Tanpa sadar, Garendra menelan ludahnya sendiri. Dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya.