Melody yang berdiri di sampingnya melirik sekilas lalu tersenyum kecil.
"Pak."
Garendra masih belum mengalihkan pandangannya dari Nadila.
"Iya?"
"Pengantinnya sudah datang."
Barulah Garendra tersadar dari lamunannya.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu melangkah turun dari altar.
Dengan langkah mantap, ia berjalan menghampiri Nadila.
Begitu berada tepat di hadapan wanita itu, Garendra mengulurkan tangan kanannya.
"Boleh saya?"
Nadila menatap pria itu beberapa saat.
Entah mengapa, sorot mata Garendra kali ini terasa begitu tulus hingga membuatnya sedikit gugup.
Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Garendra.
Garendra menggenggamnya dengan lembut.
"Kamu sangat cantik."
Nadila sedikit terkejut mendengar pujian itu.
"Terima kasih."
Senyum tipis terukir di bibir Garendra.
"Ayo."
Keduanya kemudian berjalan berdampingan menuju altar.
Suasana gereja terasa begitu tenang dan sakral.
Alunan musik organ mengiringi langkah mereka hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan pendeta yang telah menunggu.
Pendeta tersenyum hangat.
"Selamat datang."
Garendra dan Nadila menganggukkan kepala dengan hormat.
Pendeta membuka Alkitab yang berada di atas mimbar, lalu memandang keduanya secara bergantian.
"Saudara Garendra Abraham dan Saudari Nadila Veronica."
"Hari ini kalian datang ke hadapan Tuhan dengan kehendak sendiri untuk mengikat janji pernikahan yang kudus."
Garendra dan Nadila kembali mengangguk.
Pendeta melanjutkan dengan suara tenang.
"Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kesetiaan, pengorbanan, dan kasih sampai maut memisahkan."
Suasana gereja kembali hening.
Pendeta kemudian menoleh kepada Garendra.
"Saudara Garendra Abraham."
"Apakah Saudara bersedia menerima Nadila Veronica sebagai istri Saudara, mengasihinya, menghormatinya, melindunginya, tetap setia kepadanya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sepanjang hidup Saudara?"
Garendra menoleh ke arah Nadila.
Tatapan mereka bertemu.
Dengan suara mantap, ia menjawab,
"Saya bersedia."
Pendeta lalu mengalihkan pandangannya kepada Nadila.
"Saudari Nadila Veronica."
"Apakah Saudari bersedia menerima Garendra Abraham sebagai suami Saudari, menghormatinya, mendampinginya, tetap setia kepadanya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sepanjang hidup Saudari?"
Nadila terdiam beberapa saat.
Ia memandang wajah Garendra.
Meski hatinya masih dipenuhi rencana balas dendam, pria yang kini berdiri di hadapannya tidak pernah sekalipun menyakitinya.
Perlahan, ia menganggukkan kepala.
"Saya bersedia."
Senyum hangat menghiasi wajah pendeta.
"Kalau begitu, berdasarkan firman Tuhan dan wewenang yang dipercayakan kepada saya, saya menyatakan Saudara Garendra Abraham dan Saudari Nadila Veronica telah sah menjadi suami istri."
Pendeta mengangkat kedua tangannya.
"Kiranya Tuhan senantiasa memberkati rumah tangga kalian, memberikan kasih, hikmat, kesabaran, serta damai sejahtera sepanjang hidup kalian."
"Amin."
Pendeta kembali tersenyum.
"Saudara Garendra..."
Beliau memandang keduanya secara bergantian.
"Silakan mencium istri Anda."
Garendra menatap Nadila dengan lembut.
Perlahan ia mengangkat veil yang menutupi wajah Nadila.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Maaf," bisiknya lirih.
Nadila hanya membalas dengan senyum kecil.
Garendra mengangkat kedua tangannya, lalu membingkai lembut wajah Nadila.
Ia lebih dulu mengecup kening wanita itu dengan penuh hormat.
Setelah itu, ia menundukkan wajahnya sedikit dan mengecup bibir Nadila dengan lembut sebagai wedding kiss.
"Mmmhh..."
Kecupan itu berlangsung singkat, namun cukup membuat pipi Nadila memerah.
Garendra perlahan menjauh, tetapi tatapannya tetap tertuju pada wajah istrinya.
Senyum tipis menghiasi bibir keduanya.
Tepuk tangan hangat pun memenuhi seluruh ruangan gereja.
Pendeta, Melody, Olivia, serta beberapa petugas gereja yang menjadi saksi pemberkatan tersenyum bahagia menyaksikan keduanya resmi menjadi pasangan suami istri.
Tepuk tangan hangat masih memenuhi ruangan gereja.
Pendeta menghampiri pasangan pengantin baru itu sambil tersenyum.
"Selamat menempuh hidup baru. Semoga Tuhan selalu memberkati rumah tangga kalian."
"Terima kasih, Romo," ucap Garendra dan Nadila hampir bersamaan.
Setelah berpamitan dengan pendeta, Garendra menoleh ke arah seorang wanita yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
"Nadila, perkenalkan. Ini Melody, sekretaris saya di kantor."
Nadila menoleh ke arah Melody.
Ia berpura-pura menampilkan ekspresi baru pertama kali bertemu.
"Nadila."
Melody pun langsung mengikuti sandiwara itu.
"Melody."
Keduanya saling menjabat tangan sambil tersenyum tipis.
Garendra memperhatikan mereka bergantian.
"Mungkin kalian pernah bertemu, tapi tidak saling kenal."
Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan.
"Dia satu kampus dengan kamu."
Ucapan itu membuat Nadila langsung mengernyitkan dahi.
"Kamu tahu dari mana aku satu kampus dengan Melody?" tanyanya heran.
"Perasaan aku belum pernah memberikan data diriku."
Seketika senyum di wajah Garendra sedikit membeku.
Astaga...ku Kenapa aku bisa keceplosan begitu?
Dalam hati Garendra langsung mengumpat dirinya sendiri.
Kalau Nadila sampai curiga, dia bisa tahu kalau aku sebenarnya sudah mengenalnya sejak lama.
Padahal selama ini aku hanya melihatnya dari jauh saat menjadi donatur terbesar kampus itu.
Aku harus mencari alasan yang masuk akal.
Garendra berdeham pelan sebelum tersenyum santai.
"Waktu itu saya pernah melihat profil singkatmu di berkas administrasi pernikahan kita. Di sana tertulis riwayat pendidikanmu."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang.
"Kebetulan saya juga tahu Melody lulusan Kampus Cakra Buana. Jadi saya hanya menebak kalian mungkin berasal dari kampus yang sama."
Nadila menatap Garendra beberapa detik.
"Oh... begitu."
Garendra mengembuskan napas lega dalam hati.
Untung saja dia percaya.
Melody yang mengetahui kebohongan kecil atasannya hanya menundukkan kepala agar tidak sampai tertawa.
Suasana kembali mencair.
Garendra menggenggam lembut tangan Nadila.
"Ayo, Nyonya Abraham."
"Kita pulang ke rumah. Aku akan memperkenalkanmu dengan putriku dan calon menantuku."
Nadila mengangguk pelan.
"Baik."
Namun, di balik senyum tenangnya, sorot matanya berubah dingin.
Pevita... Edwin... Kita akan bertemu lagi.
Kali ini statusku bukan lagi mantan istri Edwin.
Melainkan ibu tiri Pevita... Nyonya Abraham yang baru. Selamat datang di awal penderitaan kalian. batin Nadila.
Mereka berjalan keluar dari gereja.
Di halaman, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam telah menunggu.
Sang sopir segera berlari kecil menghampiri.
"Selamat, Pak."
"Terima kasih."
Sopir kemudian membukakan pintu belakang.
"Silakan, Pak. Silakan, Bu."
Garendra lebih dulu mempersilakan Nadila masuk.
"Silakan."
"Terima kasih."
Nadila masuk ke dalam mobil.
Garendra menyusul duduk di sampingnya.
Sementara Melody memilih duduk di kursi depan.
Tak lama kemudian, mobil pun melaju meninggalkan gereja menuju kediaman keluarga Abraham.
Di tengah perjalanan, Garendra mengeluarkan ponselnya.
Ia mencari nama putrinya, lalu menekan tombol panggil.
Beberapa saat kemudian, sambungan telepon tersambung.
"Halo, Pevita."
"Iya, Pah."
"Kamu di mana sekarang?"
"Aku di hotel, Pah."
Garendra langsung mengernyit.
"Kalian belum menikah. Kenapa sudah ke hotel lagi?"
Nada suaranya berubah tegas.
"Kamu juga sedang hamil. Jangan sampai terjadi apa-apa hanya karena menuruti nafsu."
Di seberang sana, Pevita langsung mengembuskan napas pelan.
"Iya, Pah. Ini sudah selesai kok. Tadi cuma pengin aja."
Garendra menggeleng pelan.
"Pulang sekarang."
"Ada yang ingin Papa kenalkan kepada kalian."
Pevita tampak penasaran.
"Siapa? Tante Diana?"
"Kan aku sudah kenal."
"Bukan."
Garendra menjawab singkat.
"Istri baru Papa."
Ucapan itu membuat Pevita langsung terdiam.
Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar meninggi.
"Istri baru?"
"Papa nikah lagi?"
"Kenapa Papa tidak memberi tahu aku?"
"Papa bahkan tidak meminta pendapat dan restuku!"
Garendra menarik napas panjang.
"Kamu sendiri berpacaran lagi, hamil duluan dengan anak Edwin, tanpa pernah meminta restu Papa."
"Jadi kenapa Papa harus meminta izin kepadamu?"
"Pah... tapi ini beda."
"Tidak ada bedanya."
Suara Garendra terdengar tenang, tetapi tegas.
"Pulang sekarang juga.Dan sambut kedatangan mama barumu dengan baik."
Pevita langsung membantah.
"Aku maunya Papa menikah sama Tante Diana."
Garendra tersenyum tipis.
"Itu hanya maumu. Ini hidup Papa, bukan hidupmu."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Garendra mengakhiri panggilan telepon. Ia kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Di sampingnya, Nadila hanya menatap ke luar jendela mobil. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Sebentar lagi... Kejutan terbesar dalam hidup kalian akan dimulai.