Tubuh Serkan menegang kala sang paman mempertanyakan soal putranya yang sama sekali tidak terlihat.
"Umm … umm …." Serkan benar-benar kesusahan untuk mengeluarkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa panas.
"Ayaz mungkin lagi istirahat di kamarnya, Kak." Sinan menyahut ke arah kakaknya, Mehmet. "Sudahlah, biar kan dia istirahat. Kasihan … pasti dia capek," sambungnya. Dia memang tidak pernah membedakan antara Serkan atau pun Ayaz. Mereka berdua adalah kesayangannya.
Mehmet menghela napas.
"Oke … bagaimana kalau kita makan malam saja?" Dilara menyahut, mengurangi ketegangan yang hampir tercipta di ruang tamu mereka. Wanita baya yang rambutnya sebahu dengan ujung yang ditata ikal itu menoleh ke arah sang putra. "Serkan, apa kau sudah makan malam?" tanyanya.
"Umm … belum, Bu. Tapi, tadi Bibi Emma sudah menyiapkan makan malam di kamarku," jawab Serkan sedikit gugup.
"Mau makan malam bersama? Sambil nunggu Ayaz kalau sudah istirahat," tawar Dilara.
Serkan hanya mengangguk. Ia bahkan belum punya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Dilara tersenyum, lantas memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
"Emma!"
Sesaat kemudian, wanita paruh baya berseragam putih bawahan hitam langsung menghadap sembari menundukkan kepala.
"Iya, Nyonya Dilara?"
"Emma, tolong siapkan makan malam ini kami ya?" pinta Dilara ramah.
"Baik, Nyonya!" Emma mengangguk setuju.
"Oh iya, apa Bibi Zeynap ada di dapur? Kemana dia? Kenapa tidak kelihatan?" Dilara mempertanyakan perihal juru masaknya yang tidak terlihat.
"Umm … sebenarnya, Nyonya, Bu Zeynap sedang tidak enak badan," jawab Emma.
"Apa?" Dilara sedikit terkejut. "Sudah periksa ke dokter?" tanyanya dengan raut wajah kekhawatiran.
Keluarga Basaglu memang sangat memperhatikan semua para pekerjanya, sehingga para pekerjanya pun betah mengais nafkah di rumah besar itu.
"Tadi aku sudah memberikannya obat. Mungkin sekarang dia sedang tidur di kamarnya," kata Emma lagi.
"Ya sudah, tolong kau siapkan makan malam, ya? Sudah ada menunya kan?"
"Iya, Nyonya Dilara. Sudah ada menu dan saya akan menghangatkannya segera!" seru Emma mantap.
"Oke!"
Emma pun lantas sigap bergerak ke arah dapur berniat mempersiapkan makan malam untuk anggota keluarga majikannya.
Dilara melihat ke arah sang putra yang wajahnya sedikit pucat. "Serkan, kau tidak apa-apa, kan? Apa kau sakit?" tanyanya.
"Ah, tidak, Bu! Aku baik-baik saja! Hehe," Serkan menjawab cepat sembari menggeleng dan terkekeh.
"Oke. Kalau begitu Ibu ke kamar dulu. Kau bersiaplah dan kalau bisa ajak Ayaz turun untuk makan malam. Oke?"
Wajah Serkan langsung menegang kala mendengar nama Ayaz.
"Serkan?" Dilara merasa aneh dengan raut wajah sang putra. Ia mengelus pipinya, membuat Serkan buyar akan lamunannya. "Serkan, kau yakin kau baik-baik saja? Kalau kau sakit ibu akan panggilkan dokter."
"Tidak, Bu. Tidak perlu. Hanya … kecapekan saja. Yeah." Sebisa mungkin Serkan menyembunyikan raut wajah tegang sekaligus kecemasannya.
"Ya sudah, ibu ke kamar dulu!" Dilara mengelus lembut pipi putra semata wayangnya tersebut dan mulai beranjak dari sana.
Sinan bergerak ke arah Serkan dan menepuk kecil bahu pria itu seraya melemparkan senyuman. Lantas mulai mengikuti istrinya naik ke atas. Sementara Mehmet menoleh ke arah Serkan sejenak, tersenyum tipis lantas beranjak naik.
Serkan mengerjap. Entah ia harus bersyukur karena mereka tidak tahu soal keberadaan Ayaz sebenarnya, atau dia malah semakin panik dan bersalah karena telah menyembunyikan masalah sebesar itu.
"Ufff!" Pria itu mendesis sembari menepuk keningnya.
"Serkan!" Suara Dilara kembali mengagetkannya.
Serkan langsung meneguk ludah dengan kedua mata membola. Lantas menatap ke arah sang ibu yang berada di atas tangga sana.
"Nanti kau bawa makanan mu yang dikamar ke bawah ya? Atau biar ibu suruh Emma saja nanti yang membawanya," kata Dilara.
"Tidak, Bu. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Serkan sedikit tegang.
"Oke! Ya sudah kalau begitu." Dilara kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Setelah tangga itu kosong, Serkan pun mulai bergerak menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Sepuluh menit berlalu dan pria itu hanya mondar-mandir di dalam kamarnya. Kebingungan benar-benar memenuhi ruang kamarnya. Khawatirannya hanya satu, yaitu apa yang akan terjadi jika keluarganya tahu kalau Ayaz tidak pulang bersamanya dan bahkan sampai sekarang belum ada kabar.
"Sial!" Serkan membanting ponselnya kembali ke arah spring bed usai mencoba menghubungi sepupunya tersebut yang tak kunjung mendapat jawaban.
"Ke mana kau, Ayaz?!"
Pria itu mengusap wajah dengan kedua tangan, menatap ke atas dan menyemburkan napas. Setidaknya berikutnya, ponsel berdering dan itu sedikit membuatnya terkejut.
Serkan spontan meraih ponselnya di atas kasur tersebut. Berpikir bahwa Ayaz yang menghubungi, tetapi ternyata Burak.
Telepon tersambung.
"Halo, Serkan … bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kabar terbaru dari mereka?" tanya Burak dari seberang telepon sana.
Serkan mengerjap, kemudian menggelengkan kepala. "Belum. Aku panik sekali, Burak. Orang tuaku dan Paman Mehmet sudah kembali dari Ankara, dan mereka belum tahu soal Ayaz. Tapi … aku takut, aku bingung bagaimana cara mengatakan pada mereka kalau Ayaz hilang!"
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari luar kamar. Dan itu membuat detak jantung Serkan kembali terpaku.
Spontan kedua mata cokelat terang itu langsung terarah pada persegi panjang di sudut ruangan. Melihat dan mendengar akan ketukan yang berulang.
"Tuan Serkan!" Itu suara Emma.
"Huff…!" Serkan menghela napas sejenak. Setidaknya itu bukan ibunya.
"Burak, nanti aku telepon lagi." Pria itu mematikan panggilannya dan melempar gawainya begitu saja ke atas ranjang. Lantas kakinya mulai bergerak ke arah pintu, memegang tuas dengan ragu, sebelum akhirnya ia membuka daun pintu tersebut.
"Tuan Serkan, Nyonya Dilara menyuruhku untuk memanggilmu. Makan malam sudah siap," kata asisten rumah tangga tersebut.
"Oke. Aku akan ke sana segera!" ujar Serkan. Lantas hendak menutup kembali pintu kamarnya.
"Tuan …!" Wanita itu menghentikannya. "Umm … sebenarnya, tadi aku sudah ke kamar Tuan Ayaz, tapi dia tidak ada di dalam. Apa Tuan Ayaz belum juga kembali?"
Serkan meneguk ludah panik. Mengerjap sejenak dan menarik napas. "Sebenarnya … Ayaz belum kembali sampai sekarang."
"Apa Tuan Ayaz baik-baik saja?" tanya Emma lagi.
"Semoga saja. Aku juga tidak tahu keberadaannya sekarang. Kami tadi tidak pulang bersama."
"Astaga!" Wanita itu menutup mulutnya terkejut. "Lalu bagaimana sekarang?"
"Bibi Emma tenang dulu, oke? Dan jangan katakan apa pun pada Ibu, Ayah, ataupun Paman Mehmet. Biar aku saja yang mengatakannya sendiri nanti!" pinta Serkan dengan setengah berbisik, takut jika ada orang lain yang mendengarnya. "Kau tidak perlu cemas. Ayaz pasti akan baik-baik saja."
Wanita paruh baya itu mengangguk dua kali.
"Bibi boleh turun dulu. Aku akan turun sebentar lagi," sambung Serkan.
"Iya." Emma mengangguk kemudian bergegas pergi dari sana.
Serkan membalikkan tubuh. Mengambil senampan makanannya yang ada di atas meja, berniat untuk dibawa ke lantai bawah. Pria itu mengerjap sejenak, menarik napas dan memantapkan hati. Lantas, mulai menggerakkan kakinya keluar kamar.
Di ruang makan, Emma tampak menyiapkan makanan dengan gugup. Bahkan ia sampai menumpahkan sedikit sup saat menuangkannya di mangkuk kecil.
"Maaf, Nyonya! Saya tidak sengaja," kata Emma sedikit panik.
"Emma, kau kenapa? Kenapa gemetar gitu?" Dilara bertanya sembari memperhatikannya.
"Tidak apa-apa, Nyonya Dilara."
"Kalau kau capek, sudah istirahat saja. Kami bisa menyajikannya sendiri." Sinan yang duduk di kursi seberang membuka suara.
"Tidak, Tuan Sinan. Saya baik-baik saja, kok!" Wanita itu membantah.
"Kau sudah memanggil Serkan?" Mehmet bertanya setelah meneguk air dari gelasnya.
Emma mengangguk. "Sudah, Tuan Mehmet."
"Kalau Ayaz?" tanya Sinan.
Emma kembali gemetar. Wajahnya pucat dan mulutnya membisu. Tak tahu harus menjawab apa.
"Emma, semua baik-baik saja, kan?" tanya Dilara lagi.
Asisten rumah tangga itu semakin panik. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi Serkan tiba-tiba datang.
"Tuan Serkan?" Emma menatap ke arah Serkan.
Kini sorot mata mereka juga terpaku padanya.
"Bibi Emma, kau boleh ke dapur lagi," kata Serkan.
"Baik. Permisi!" Emma menundukkan kepala pada mereka lantas bergegas dari sana.
"Serkan, kau datang sendiri? Di mana Ayaz?" tanya Dilara.
"Anak itu pasti di kamarnya. Sudahlah, kalau memang dia tidak mau makan malam bersama kita biarkan saja!" Mehmet angkat bicara. "Sebaiknya kita segera makan saja, nanti keburu dingin," sambungnya lagi. Seperti tak peduli tentang sang putra.
Pria paruh baya itu mengambil pisau dan garpu, lantas mulai mengiris steak daging di depannya dan mulai memakannya.
"Serkan, ayo duduk!" Dilara menyuruh sang putra untuk duduk di sampingnya.
Serkan mengerakkan kaki, menaruh senampan berisi makanannya di atas meja lantas mendudukkan pantatnya di kursi. Detak jantungnya masih berantakan.
"Kakak, kau terlalu keras pada Ayaz. Biarkan saja dia. Anak muda memang seperti itu." Sinan tampak menasihati kakaknya, Mehmet.
"Tidak. Anak muda tidak semuanya seperti itu. Kau lihat Serkan, dia bisa bertanggung jawab dengan semua urusannya," kata Mehmet. "Sedangkan Ayaz, dia itu tidak pernah menuruti perintahku."
"Serkan pasti akan menasihatinya. Kau tidak perlu keras pada Ayaz." Dilara ikut angkat suara.
"Ayaz akan semakin membencimu jika kau terus menuntutnya, Kak!" sahut Sinan.
"Sebaiknya kalian habiskan makan malamnya dan istirahatlah. Kalian pasti capek kan setelah bepergian," kata Mehmet begitu saja.
Mereka menghela napas dan mulai menyantap makan malam.
Usai makan malam, Mehmet hendak meninggalkan meja makan. Tetapi Serkan tiba-tiba menghentikannya.
"Paman, tunggu!" kata Serkan mencegah pamannya pergi. "Jangan pergi dulu, ada yang ingin Serkan sampaikan pada kalian," sambungnya.
Pria itu sengaja menunggu sampai makan malam selesai agar saat mendengar kabar buruk, setidaknya perut mereka sudah terisi dan tidak menurunkan energi fisiknya.
"Iya, Nak? Ada apa?" Mehmet menatap ke arah keponakannya. Menaikan sebelah alisnya.
Serkan menjadi gugup. Jakunnya naik turun, meneguk ludah berkali-kali.
"Sayang, ada apa?" Dilara yang di sampingnya ikut bertanya.
"Sebenarnya …." Rasanya susah sekali keluar dari mulut Serkan.
"Katakan saja, Serkan. Ada apa? Semuanya baik-baik saja, kan?" Di seberang sana Sinan menggertaknya, namun dengan nada pelan.
Serkan menggelengkan kepala. "Tidak, Ayah. Semuanya tidak baik-baik saja." Pria itu memberi jeda sejenak. "Sebenarnya Ayaz belum pulang sampai sekarang."
"Apa?!" Mereka mengucap serempak. Keningnya mulai berlapis.
"Iya, Paman. Ayaz belum pulang dan aku tidak tahu di mana di sekarang. Kami berpisah. Aku kira dia sudah pulang duluan, tapi ternyata sampai sekarang belum sampai rumah juga," beber Serkan dengan nada panik sekaligus merasa bersalah.
"Kau sudah menghubunginya?" Dilara bertanya sembari mengelus bahu sang putra.
"Itu masalahnya, Ibu. Sampai detik ini aku tidak mengetahui kabar dari Ayaz."
"Apa dia bersama teman-temannya?" Sinan menyahut bertanya.
Serkan menggeleng cepat. "Tidak, Pa. Kami semua pulang bersama. Hanya Ayaz dan satu teman kami yang belum pulang. Papa … aku takut, aku takut terjadi sesuatu pada Ayaz."
Brug!
Mehmet dengan spontan merobohkan pantatnya di kursi kembali. Wajahnya menegang.
Sinan bangkit dari duduknya dan langsung bergerak ke arahnya.
"Kak, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Mehmet mengangkat tangan bermaksud memberi tanda kalau tidak perlu cemas.
"Papa … lakukan sesuatu. Tolong beritahu polisi atau siapa pun, dan kirim mereka ke sana untuk mencari Ayaz!" pinta Serkan cemas.
"Oke. Semuanya tenang dulu. Kita harus yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Ayaz. Aku akan segera meminta tim untuk mencarinya!" ujar Sinan tegas.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa bisa Ayaz tidak bersama kalian?" Dilara masih saja panik.
"Aku minta maaf, Ibu. Paman Mehmet, sungguh, aku tidak mengira ini akan terjadi. Aku berpikir Ayaz sudah pulang duluan." Serkan berusaha menjelaskan.
Sinan mulai tidak bisa menguasai diri. Ia mulai panik dan menggaruk rambutnya ke belakang.
"Di mana ponselku?" Pria itu merogoh-rogoh sakunya tetapi tak menemukan benda pipih yang ia cari.
"Emma!" teriaknya memanggil asisten rumah tangganya.
Detik berikutnya Emma langsung menghadap dengan raut wajah dan gestur kepanikan.
"I-iya … Tuan Sinan?"
"Tolong ambilkan ponselku di atas, cepat!"
"B-baik … Tuan!"
Gegas wanita itu beranjak pergi tergesa-gesa.
Mehmet Mengerjap. Mencoba menepis semua pikiran negatifnya.
Sinan mengambil segelas air dan menyodorkannya pada sang kakak. Menyuruh Mehmet untuk meneguknya guna mengurangi ketegangan.
"Kakak, minumlah dulu! Ayaz tidak akan kenapa-napa. Dia sudah besar dan bisa menjaga diri. Aku yakin itu!" kata Sinan menghibur kakaknya.
Mehmet mulai meneguk segelas air tersebut hingga tandas, dengan tangan yang gemetar.
"Kenapa Emma lama sekali?!" Sinan mendesis.
Dilara mulai membangkitkan diri. Hendak menyusul, tetapi asisten rumah tangganya tersebut tiba-tiba datang membawa benda pipih berteknologi canggih.
Sinan bergerak cepat menghampirinya.
"I-ini, Tuan!" Emma menyerahkan ponsel tersebut dengan gugup.
Sinan mengambilnya cepat. Segeralah mengoperasikan ponselnya tersebut. Menekan nomor-nomor penting lantas menempelkan benda pipih itu ke daun telinga.
Pria paruh baya itu mondar-mandir menunggu respon dari orang yang ia hubungi.
Tersambung!
"Halo, Ozgur! Tolong kau kirim tim penyelamat, detektif atau siapa pun untuk mencari Ayaz. Ayaz hilang dan tidak pulang sampai sekarang. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Aku ingin malam ini juga mereka langsung turun tangan, Oke! Cepat hubungi aku kalau menerima kabar apa pun!" Sinan tampak menyuruh orang kepercayaannya tersebut.
Sinan menyemburkan napas setelah memutuskan panggilannya. Menatap ke arah keluarganya yang cemas.
"Timku sudah bergerak mencari Ayaz. Jadi, aku minta kalian tenangkan diri," pinta Sinan pada mereka.
"Serkan, tolong kirimkan lokasinya ke w******p Ozgur!" Sinan menyerahkan ponselnya pada sang putra.
Serkan mengangguk setuju. Menerima ponsel tersebut dan mulai mengoperasikannya.