"Ini, Ayah!" Serkan kembali menyerahkan benda pipih berteknologi canggih tersebut pada sang ayah.
"Sudah kau kirim pada Ozgur?" tanya Sinan.
Serkan mengangguk. "Sudah."
Mereka mulai menunggu kabar terbaru. Suasana di meja makan itu menjadi tegang. Dilara duduk bersama Serkan dengan wajah panik. Mehmet duduk dengan wajah menegang sementara Sinan mondar-mandir menghubungi orang-orang pesuruhnya.
"Di mana kau Ayaz!" Sinan bergumam dengan wajah tegang. Lantas melirik ke arah keluarganya yang duduk di kursi ruang makan.
"Kalian sebaiknya istirahat saja di kamar. Ayaz pasti akan kembali besok. Mereka sudah mengerahkan pasukan untuk mencarinya. Dan besok, kita juga sudah bisa menghubungi polisi karena sudah lewat dua puluh empat jam!" ujar Sinan pada mereka.
Dilara hanya memandangnya sesaat lantas kembali murung. Sementara Serkan dan Mehmet hanya terdiam.
Sinan mendekat. "Serkan, bawa ibumu ke kamar! Kalian harus istirahat!" perintahnya.
Serkan menoleh ke arah Dilara. "Ayo, Bu!"
Dilara hendak menolak tetapi Serkan langsung bangkit. Pria itu menggandeng tangan Dilara dan membawanya berdiri.
"Ayo, Bu! Ibu istirahat saja," kata Serkan.
"Tapi bagaimana dengan Ayaz?"
"Dilara … mereka sudah mencarinya. Sebaiknya kau istirahat saja," ujar Sinan.
Dilara mengangguk dengan wajah sayu.
Sinan beralih menatap ke arah Mehmet yang masih mematung di kursi. "Kakak, kau istirahatlah!" pintanya.
"Bagaimana aku bisa istirahat nyenyak jika putraku masih berkeliaran di luaran sana? Kau pikir aku ini ayah yang jahat?" Mehmet berkata tanpa menatap ke arah adiknya.
"Bukan begitu, Kak. Aku hanya mencemaskan kesehatanmu saja. Aku janji padamu akan mengurus semua ini dan besok Ayaz akan kembali!" ucap Sinan. Pria menyemburkan napas. "Sekarang istirahatlah!"
"Ibu, ayo!" Serkan membimbing Dilara menuju ke kamarnya.
Mehmet menatap ke arah Sinan dan berkata, "Apa yang sedang Ayaz lakukan saat ini, Sinan? Apa dia sudah makan? Apa dia sudah tidur? Atau …." Mehmet mengerjap, meloloskan bulir bening dari sudut pupilnya. Pria paruh baya itu mencoba bangkit namun sempoyongan.
Sinan bergegas menghampirinya.
"Kak Mehmet!"
"Semua ini salahku, Sinan."
"Tidak, Kak."
"Kenapa hubunganku tidak seperti kau dan Serkan? Kenapa ada dinding yang begitu tebal di antara kami? Aku ini ayahnya, dan Ayaz itu putraku, tapi kenapa kami seperti orang asing?"
"Kak Mehmet." Sinan menjadi terharu dan memeluk kakaknya tersebut, memberikan ketenangan. Ia meneguk ludah. "Semuanya akan baik-baik saja. Besok Ayaz akan kembali. Setelah kembali, Serkan akan meminta Ayaz untuk menyayangimu sebagai seorang ayah."
"Apa itu mungkin?" Mehmet menatap ke adiknya. Terlihat ketidakpastian dari matanya. "Bukankah selama ini Serkan sudah melakukan hal itu? Tapi mana? Ayaz tetap tidak mau berubah, 'kan?"
Sinan hanya terdiam. Merasa yang baru saja terlontar dari mulut kakaknya tersebut adalah sebuah kebenaran yang selama ini terjadi. Sinan tidak pernah berpikir, kalau keluarga kakaknya akan berantakan seperti itu.
Dahulu, sebelum istri kakaknya meninggal, semuanya terlihat indah. Seperti keluarga yang bahagia. Tetapi sebuah insiden mengharuskan luka datang di antara mereka.
Kini semuanya berubah.
"Waktu akan mengembalikan segalanya yang telah hilang, Kak!" kata Sinan.
"Tidak, Sinan. Lebih tepatnya, waktu akan membiasakan keadaan. Jika Ayaz memang tidak pernah menganggapku sebagai seorang ayah baginya, maka biarlah waktu membuatku menerima dengan lapang d**a akan hal itu." Mehmet menjeda sejenak. Meneguk ludah, kemudian berkata, "Sudah malam, kan? Aku akan istirahat. Sebaiknya kau juga!"
Mehmet menyingkirkan tangan adiknya dari bahunya. Kemudian ia hendak melangkah walau sedikit sempoyongan.
"Kak Mehmet, aku akan mengantarmu ke kamar," cemas Sinan.
"Aku belum cukup tua menerima semua perhatianmu itu!" katanya begitu saja lantas pergi meninggalkan Sinan.
Lelaki itu memang sangat keras kepala. Dan sikap keras kepalanya tersebut yang diturunkan kepada sang anak, Ayaz Navruz.
***
Sinar sang surya mulai membasuh bumi. Mengusir kegelapan malam dan kembali menguasai hari. Sinarnya yang begitu terik mengusik tidur seorang pria dan memaksa kedua bola cokelat terangnya terlihat.
Kali pertama yang Ayaz lihat saat kedua kelopak matanya terbelah adalah wajah seorang gadis cantik yang masih terlelap dengan polosnya. Ayaz memperhatikan wajah gadis itu secara dalam. Sedikit demi sedikit senyum mulai mengembang dari garis bibirnya.
Biasanya ia akan muak jika melihat gadis itu di depannya. Namun, kali ini ia merasa betah memandanginya. Bahkan tanpa sadar ia menggerakkan tangannya, menata rambut Sevda yang menghalangi mata. Namun sialnya hal itu malah membuat gadis cantik itu terbangun.
"Aaa!" Sevda menjerit sejadi-jadinya. Membangunkan tubuh dengan ekspresi terkejut.
"Hei, kenapa kau berteriak?!" Ayaz ikut membangunkan tubuh.
"Kau … apa yang kau lakukan?" Sevda melihat ke sekelilingnya. Hanya ada hamparan pasir putih, air laut, juga pepohonan di belakang sana. "Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya sepertinya orang kehilangan ingatan.
Ayaz mengerlingkan mata heran. "Aku yang menculikmu!" ucapnya berseloroh.
"Apa?!" Sevda mulai memukuli bahu pria itu. "Kenapa kau menculikku dan membawaku ke tempat asing ini!"
"Hentikan, jangan gila!"
"Kau yang gila!" Sevda masih saja menyerang.
Ayaz mulai membalas. Membungkam mulut gadis itu dan menindih tubuh langsingnya. Menghimpitkan punggung di hamparan pasir pantai.
"Apa otakmu itu sudah eror sehingga kau tidak bisa mengingat dengan benar?!" celetuk Ayaz ke arah gadis itu. "Apa kau lupa kalau kita sudah terjebak di sini sejak kemarin?!"
Sevda mencoba mengumpulkan ingatannya. Baru ia tersadar akan semuanya. Gadis itu meneguk ludah. Merasa malu karena telah menuduh Ayaz sembarangan.
"Kau pikir aku mau menculik gadis sepertimu! Dasar penyihir!" celetuk Ayaz. Pria itu masih menindih Sevda dan membungkam mulutnya erat.
"Emmm….!" Sevda mencoba memberontak. Namun Ayaz tak mau melepasnya begitu saja.
"Diam!"
Sevda mulai terdiam.
Sejenak pandangan mereka saling terpaku. Kedua bola hazelnut dan cokelat terang saling menumbuk. Seakan saling berkomunikasi dengan bahasa mereka yang sulit dimengerti oleh pikiran.
Namun hal itu tak berlangsung lama, lantaran Sevda tiba-tiba menggigit tangan Ayaz agar menyingkir dari mulutnya.
"Aauu!" Ayaz mengaduh dan refleks melepaskan bungkaman tangannya dari Sevda. Bahkan ia juga menggulingkan tubuh ke samping, sehingga Sevda terbebas.
"Hufft!" Sevda menyemburkan napas setelah membangkitkan tubuh.
"Apa kau sudah gila! Dasar ikan koi! Memangnya kau kira tanganku ini makanan?" Ayaz mengumpat kesal.
Sevda menoleh, memicingkan mata ke arah pria itu. "Kau yang gila! Kenapa kau membungkamku seperti itu?"
"Karena kau terlalu banyak bicara!" balas Ayaz.
Kini mereka kembali menjadi rival dan saling beradu mulut.
"Salahmu sendiri kau bilang kau menculikku. Sudah tahu aku lagi sedang berusaha mengumpulkan kesadaran dan nyawaku!" ujar Sevda kesal.
"Tidak sekalian nyawamu tidak perlu terkumpul!" timpal Ayaz.
"Kau memang benar-benar pria yang menyebalkan!" Sevda mendesis. Hendak mendirikan tubuhnya, tetapi kakinya itu tersangkut dalam pasir sehingga tubuhnya roboh dan menimpa Ayaz.
Ayaz spontan menerima tubuh gadis itu dan memeluknya. Kembali kedua mata mereka saling menumbuk. Memandang satu sama lain.
Sevda meneguk ludah. Lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ayaz yang juga sudah tersadar mulai menyingkirkan tubuh gadis itu dari atasannya dengan mendorong ke samping.
"Aaau!" Giliran Sevda yang mengaduh. "Apa kau sudah gila?!" teriaknya berwajah sungut.
"Yah, aku memang sudah gila jika terus-terusan bersamamu!" ujar Ayaz begitu saja sembari membangkitkan diri.
Kedua tangan Sevda mencengkeram pasir di bawahnya dan melemparkannya ke arah Ayaz begitu saja, sayangnya hal itu tidak mengenainya. "Dasar tidak waras!"
Ayaz mulai merenggang tangannya, otot lehernya dan juga pinggangnya. Pria itu menatap ke arah ombak pantai yang bergulir. Angin menerpa sepoi-sepoi, terasa sejuk menyentuh pori-pori kulitanya. Percikan ombak yang bergulung-gulung terpancar sinar mentari sehingga serupa kristal yang mengalir. Hal itu langsung memancing dahaga Ayaz untuk menceburkan diri ke sana dan menyegarkan tubuh.
Pria itu mulai melepas kausnya.
"Aaa!" Sevda tiba-tiba menjerit.
Ayaz menoleh ke belakang. Menatap Sevda yang memalingkan wajah ke samping sembari menutup matanya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau selalu beteriak?" tanya Ayaz dengan nada kesal.
"Apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau melepas bajumu di depanku?" sahut Sevda tanpa menatap ke arahnya.
"Terserah aku dong. Salah kau sendiri kenapa kau melihatnya?"
Ayaz bersikap bodo amat dan melanjutkan melepaskan kausnya hingga tubuh berotot pria itu terekspos. Ia menggerakkan kakinya menuju ke sebuah tombak yang tertancap di pasir, menumpangkan kausnya di sana dan kembali mulai merenggangkan otot-otot lengannya.
Sevda diam-diam melirik ke arahnya. Meneguk ludah saat melihat betapa kekarnya punggung pria itu.
Ayaz menoleh ke belakang.
Sevda buru-buru memalingkan wajah sembari menutup matanya.
"Dasar gadis gila!" cibir Ayaz pelan, lantas kembali meluruskan pandangan ke depan dan mulai melangkahkan kaki ke arah bibir pantai.
"Hi, kau mau ke mana?!" teriak Sevda. Gadis itu mulai membangkitkan diri.
"Mau mandi!" kata Ayaz sembari menoleh ke arahnya. "Kenapa? Kau mau ikut?"
"Mandi di laut?" Sevda mengernyitkan dahi.
Ayaz memutar mata malas. "Apa kau tidak pernah melihat orang berenang di laut? Oh iya, kau kan tidak bisa berenang. Dasar payah!" cela pria itu.
"Apa kau mengejekku?!" Kedua tangan Sevda mengepal dengan langkah maju ke depan.
"Memang benar kan? Kalau menurutku perkataanku itu tidak benar, coba kau buktikan!"
Sevda hanya terdiam sembari memicingkan mata ke arahnya.
Ayaz tertawa. "Ikan koi tapi tidak bisa berenang. Dasar payah!" ejeknya sekali lagi.
"Jika kau masih banyak bicara, maka aku akan melemparmu!"
Sevda mengambil kerang yang ada di sekitarnya dan melemparkannya ke arah Ayaz. Kerang tersebut mengenai d**a bidang pria itu.
"Ufff sakit sekali …," kata Ayaz bernada mengejek. Itu semakin membuat gadis bermata hazelnut itu naik pitam.
Ayaz mengais pasir pantai dan melemparkannya ke arah Sevda.
Mulut Sevda menganga saat pasir basah itu mengotori pakaiannya.
"Kau!" Gadis itu benar-benar marah.
Ayaz tetawa puas. "Kejar aku kalau kau bisa!" Usai mengatakan itu, Ayaz lantas berlari ke arah laut dan menceburkan diri.
Air laut di sana sangat jernih sekali. Bahkan karang serta ikan-ikan kecil terlihat jelas dari permukaan. Perpaduan antara cahaya mentari yang cukup terik dan air laut yang jernih benar-benar sangat menyegarkan bagi tubuh Ayaz. Pria itu bebas berenang dengan leluasa.
"Dasar pria tidak waras! Biar saja dia tenggelam di laut sana!" Sevda bergumam kesal, lantas menggerakkan kaki menuju bibir pantai. Kakinya terasa sedikit merinding saat menyentuh deburan ombak. Apalagi saat ombak menerpa dan menenggelamkan mata kakinya, itu membuatnya seperti hendak jatuh pingsan.
Namun biota laut yang terlihat dari sana seakan membuat gadis itu enggan untuk enyah dari bibir pantai. Ia mulai merendahkan tubuhnya, mengambil sedikit air dengan tangannya lalu digunakan untuk mencuci bajunya yang terkena pasir pantai. Ia juga mulai membasuh wajahnya di sana. Terasa sangat segar.
Saat Sevda mengusap air dari wajahnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja keluar dari dalam air.
Ayaz tampak keluar dari permukaan air. Tubuhnya yang atletis terlihat gagah perkasa. Tangannya mengusap wajah sampai rambutnya ke belakang, membuat air berjatuhan dan mengalir di d**a bidangnya. Pancaran sinar mentari membuat butiran air-air di kulit bersihnya tampak serupa kristal.
Sevda meneguk ludah melihatnya. Matanya tak bisa berpaling dari sosok pria itu.
"Wow!" Bahkan ia tak sadar mulutnya telah mengucap demikian.
Ayaz kembali menceburkan tubuhnya. Berenang layaknya lumba-lumba. Bebas terjun serupa itu adalah kolam pribadi miliknya.
Sevda membangkitkan tubuh. Kedua matanya terus memandangi aksi pria di sana yang memamerkan bakat berenangnya.
Ayaz memang pandai berenang. Tak kalah dengan Serkan yang juga hobi berenang.
"Hei, apa kau sedang sibuk memperhatikanku?!" teriakan Ayaz membuyarkan lamunan Sevda. Bahkan gadis itu tak sadar Ayaz sudah berdiri di antara genangan air.
Sevda meneguk ludah. Sedikit panik lantaran merasa ketahuan. Namun bukan Sevda jika tidak menyangkal hal itu.
"S-siapa bilang? Buat apa aku memperhatikanmu? Kau terlalu percaya diri!" ujar Sevda, memalingkan wajah.
"Lalu, kenapa kau terus menatap ke arahku tadi? Kau pikir aku tidak tahu?!" bantah pria itu.
"Aku… aku hanya … hanya … Hiu! Ada hiu!" Sevda berteriak saat melihat sirip hiu yang berada di dekat Ayaz.
"Ayaz, cepat pergi ada hiu!" teriaknya lagi.
"Hiu?" Ayaz mengernyitkan dahi.
Pria itu menoleh ke sekitar, melihat sirip hiu yang berkeliaran. Namun itu hanya benda yang menyerupai sirip hiu saat terlihat dari kejauhan. Ayaz pun berinisiatif untuk membohongi Sevda seolah-olah itu hiu beneran.
Pria itu mulai berakting dan berpura-pura tenggelam dimakan hiu.
"Tolong … tolong …! Tolong aku!"
Ayaz masuk ke dalam air.
Sevda menjadi panik.
"Ayaz! Ayaz! Tolong! Tolong ada pria dimakan hiu!" teriak Sevda panik.
Gadis itu hendak maju dan mendekati Ayaz tetapi ia tak berani saat melihat ombak yang menggulung.
"Ayaz ….!"
Sevda merasa khawatir sampai air matanya tak sadar keluar. Gadis itu menangis.
Tiba-tiba Ayaz keluar dari dalam air dan tertawa.
Sevda yang melihatnya merasa tercengang. Ternyata semua tadi hanya akal-akalan pria itu. Sevda benar-benar marah kali ini. Ia mengusap air matanya kasar dengan wajah berapi-api.
"Dasar pria gila!!!"
Ayaz mulai berjalan menuju permukaan pantai.
"Hei, Ikan koi! Apa kau baru saja menangis?" ledek pria itu.
"Aku akan membunuhmu, Ayaz!"
Sevda mengambil kerang-kerang di sekitar dan mulai melemparinya ke arah Ayaz. Namun Ayaz berlari menghindar. Mereka kini kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Ayaz, kemari atau kau bunuh kau!" teriak Sevda mulai mengamuk.
"Tangkap saja aku kalau kau bisa, Nona ikan koi!"
Sevda semakin geram. "Tuan beku!!!" Sevda kembali mengejarnya. Namun ia merasa kelelahan.
Ayaz masih tertawa mengejek.
Sevda melirik ke arah kaus Ayaz yang tersampir di tongkat kayu. Gadis itu menyudutkan senyumnya.
"Lihat apa yang akan aku lakukan, Tuan beku!"
Sevda bergerak cepat ke arah kaus tersebut dan mengambilnya.
"Hei, apa yang akan kau lakukan dengan kausku?" Ayaz mulai panik.
Sevda tersenyum sengir. "Aku akan membuangnya ke laut sehingga kau tidak miliki kaus dan tubuhmu akan kepanasan seperti cacing terkena garam. Haha!"
Ayaz melototkan mata. Bergerak ke arah Sevda. "Cepat kembalikan!"
Sevda membuat kaus tersebut di bawahnya. Menginjak-injaknya dan berkata, "Sekarang aku mau lihat bagaimana kau akan berpakaian setelah ini!"
Mulut Ayaz menganga. "Apa kau sudah gila?!"
"Yah, aku memang gila. Sekarang coba selamatkan kaus jelekmu ini kalau kau bisa, Tuan beku!" Sevda memungut kaus itu dan melemparkannya ke lautan.
"Hahaha!"
"Oh s**t!" Ayaz berlari mengejarnya dan kembali masuk ke dalam air.
Sevda menyaksikannya dengan terus tertawa terbahak-bahak.