Pagi itu di rumah mewah keluarga Basaglu sedang tidak baik-baik saja. Semuanya panik dan sedih lantaran salah satu anggota keluarganya belum juga pulang sampai sekarang dan bahkan belum adanya kabar terbaru tentang keadaannya. Meskipun tim detektif suruhan Sinan Basaglu sudah mencari ke segala tempat tetapi Ayaz masih belum juga ditemukan.
"Bagaimana sekarang ini, Sinan?" Dilara berkata lirih pada sang suami yang sibuk mondar-mandir dengan ponsel di telinganya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ayaz?"
"Ibu …." Serkan menyentuh bahu Dilara dan memeluknya dari belakang. "Semua ini salahku, haruskan aku tidak pernah meninggalkan Ayaz. Harusnya aku memastikan apakah Ayaz sudah pulang atau belum. Maafkan aku, Ibu!" lirih Serkan penuh sesal.
"Halo, Ozgur! Bagaimana? Kenapa mereka belum juga memberi kabar? Aku membayar mereka bukan untuk bermain-main! Aku tidak mau tahu Ayaz harus ditemukan segera! Bagaimana kau bisa menyuruhku tenang? Kami semua panik di sini!" Sinan tampak marah-marah pada managernya.
Sementara Mehmet hanya duduk merenung dengan pandangan kosong. Menatap kepulan asap kopi dari cangkir yang belum tersentuh oleh tangannya.
"Papa, bagaimana kalau kita menghubungi polisi sekarang? Ini sudah dua puluh empat jam, kan?" saran Serkan.
Sinan menatap ke arah Serkan dan berkata, "Sudah, Serkan. Tadi ayah sudah meminta Ozgur ke kantor polisi melaporkan terkait orang hilang. Sebentar, coba aku hubungi Ozgur lagi."
Pria baya dengan kemeja putih itu kembali mengoperasikan ponselnya.
"Halo, Ozgur! Bagaimana soal polisi? Apa ada perkembangan?"
"Sampai saat ini masih belum ada, Tuan Sinan."
Sinan menyemburkan napas emosi saat mendengar respon dari pria di seberang telepon. "Ya sudah, pokoknya hubungi mereka terus dan tanya perkembangannya. Lalu beritahu aku kabar apa pun!"
Sinan kembali menutup panggilannya. Mendesah pasrah.
Wajah Dilara dan Serkan kembali sayu.
Sinan bergerak ke arahnya. Mengelus bahu sang istri dan berkata, "Kalian tidak perlu cemas. Aku yakin pasti Ayaz baik-baik saja. Dia akan pulang secepat-cepatnya. Kalau perlu aku akan meminta semua detektif di kota ini dan aparat kepolisian untuk mencarinya sampai ketemu!" kata Sinan menyakinkan mereka.
"Percuma kau melakukan itu, Sinan!" Suara serak basah terdengar menyahut ucapan Sinan.
Sorot mata mereka langsung tertuju pada pria paruh baya yang duduk lemas di atas sofa.
"Kak Mehmet, kenapa kau berbicara seperti itu?" Sinan bertanya dengan heran.
Mehmet meneguk ludah. Mengarahkan pandangannya pada Sinan. "Karena Ayaz mungkin sengaja ingin pergi dari kita. Dia ingin pergi jauh dariku."
Sinan bergerak ke arahnya. "Jangan berpikir seperti itu, Kak."
"Kalian tahu, kemarin aku menelpon Ayaz. Kami berbicara. Dan dia marah-marah. Dia meluapkan amarahnya dan kekesalannya padaku. Dia membenciku, Sinan." Mehmet berkata dengan bibir gemetar. Tangannya menyentuh bahu adiknya yang kini sudah duduk di sampingnya. Meneguk ludah dan melanjutkan, "Dia bilang aku ayah yang buruk. Dia bilang ayahnya sudah mati. Dia tidak memiliki ayah. Setelah itu dia mematikan panggilannya. Dia sangat marah padaku, Sinan." Kepala Mehmet kini jatuh di pelukan adiknya.
Sinan menjadi terharu. Ia mengusap bahu sang kakak dan mencoba menenangkannya.
"Ayaz sangat membenciku, Sinan. Apa aku memang ayah yang buruk?"
Sinan bisa merasakan kemejanya itu basah akan air mata kakaknya dan merembes mengenai kulit dadanya.
"Jangan berkata seperti itu, Kak. Mungkin Ayaz hanya marah sejenak. Dia–"
"Tapi dia sekarang benar-benar meninggalkan kita. Meninggalkanku sendirian."
Serkan dan Dilara merasa iba melihat Mehmet seperti itu.
"Paman …." Serkan bergerak mendekat, duduk di sebelah kiri Mehmet. Ikut menenangkan sang paman.
Mehmet mengangkat kepalanya. Mengusap air mata yang berlinang di pupil tuanya. Menoleh ke samping, menatap ke arah Serkan. "Apa aku terlihat sangat membenci Ayaz? Apa aku terlihat hanya menyayangimu saja, Serkan?" tanya Mehmet dengan suara lirih.
Serkan menggelengkan kepala. Matanya mengembun.
"Ayaz pasti sering cerita padamu kalau aku ini ayah yang buruk, kan? Dia pasti berpikir kalau aku tidak menyayanginya, kan?"
"Kak Mehmet … Ayaz hanya salah paham saja." Sinan kembali bersuara.
"Jangan mencoba menghiburku, Sinan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya seorang anak membencimu," kata Mehmet. Memang benar, dibanding dengannya, Ayaz lebih sayang terhadap adiknya tersebut.
Nada dering ponsel tiba-tiba terdengar dari genggaman Sinan. Pria itu menoleh, melihat nama Ozgur yang menghiasi layar ponselnya.
Sinan langsung menggeser tombol hijau ke atas sebagai tanda menerima panggilan.
"Halo, Ozgur! Bagaimana? Ada kabar terbaru?" Sinan bertanya sembari membangkitkan tubuhnya.
"Tuan Sinan, mereka menemukan–"
"–mereka sudah menemukan Ayaz?!" tanya Sinan tidak sabaran.
Mehmet, Dilara, dan Serkan langsung menoleh ke arahnya. Memasang wajah antusias.
"Tuan Sinan, sebenarnya …."
"Ada apa, Ozgur! Katakan yang jelas!" bentak Sinan tidak sabaran.
"Mereka menemukan mayat. Mayat seorang laki-laki."
"Apa?!" Kedua mata Sinan membola. Tangannya gemetar sampai tak sadar ponselnya meluncur dari genggamannya dan jatuh. Untungnya tidak pecah.
Dilara dan Serkan langsung bergegas mendekatinya.
"Papa, ada apa?" tanya Serkan panik.
Sinan menggeleng. Kedua matanya menatap ke arah Mehmet yang juga menatapnya penuh arti.
Serkan merendahkan tubuh, memungut ponsel ayahnya yang jatuh.
"Halo, Tuan Sinan!" Ozgur dari seberang sana memanggil Sinan.
"Paman Ozgur, halo!" Serkan yang mengambil alih ponsel tersebut.
"Halo, Serkan. Apa ayahmu baik-baik saja?"
"Ada apa sebenarnya?" Serkan balik bertanya.
"Serkan, berikan ponselnya pada ayahmu!" pinta Ozgur.
"Katakan saja ada apa sebenarnya?!" Serkan yang panik langsung membentak.
Sinan meneguk meneguk ludah. Mencoba menguasai dirinya yang dilanda gemetaran. Ia mengambil ponselnya kembali dari Serkan. Lantas menempelkannya di daun telinga.
"H-halo … Ozgur! A-apa yang kau katakan tadi?" Suara Sinan masih gemetar.
Dilara di sampingnya terus mengelus punggungnya dengan ekspresi cemas.
"Tuan Sinan, mereka menemukan mayat. Tapi belum bisa dipastikan apakah itu mayatnya Ayaz atau bukan. Mereka harus melakukan autopsi terlebih dahulu. Mayat itu ditemukan tenggelam di laut dengan wajah yang hancur. Aku sendiri belum melihatnya. Tapi katanya mereka akan membawanya langsung ke rumah sakit Istanbul saat ini. Kau harus ke sana juga mengidentifikasi apakah itu beneran Ayaz atau bukan," jelas Ozgur panjang lebar.
Setidaknya penjelasan itu membuat Sinan sedikit tenang. Namun tetap saja tak bisa menghilangkan rasa kecemasan juga kepanikannya.
"Tuan Sinan, sebaiknya kau datang sendiri saja ke rumah sakit. Aku takut, kalau Tuan Mehmet ikut, dia bisa merasa sedih dan terpukul."
"Iya, Ozgur. Nanti hubungi aku lagi." Sinan memutus panggilan tanpa melihat ponselnya dan kedua matanya itu malah menatap tegang ke arah kakaknya.
"Sinan, ada apa?" Akhirnya suara itu muncul dari kerongkongan Mehmet.
"Tidak ada apa-apa, Kak." Sinan mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Aku harus pergi sekarang!"
Sinan menoleh ke arah Serkan. "Serkan, kau harus di rumah jaga ibu dan juga pamanmu," perintahnya.
"Tapi Papa mau pergi ke mana?" tanya Serkan.
"Aku akan pergi bersama Ozgur."
"Apa kau akan pergi ke pulau itu?" sahut Mehmet bertanya.
"Tidak, Kak. Aku … aku …."
"Katakan dengan jelas Sinan kau mau pergi ke mana?!" Dilara bertanya dengan nada penuh penghakiman. "Aku yakin pasti ada yang kau sembunyikan dari kami!"
"Ada apa sebenarnya, Pa? Ayaz baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja, Nak! Sepupumu itu pasti baik-baik saja. Tuhan tidak akan mengambilnya secepat itu dari kami," lirih Sinan, mulai meneteskan air mata dan memeluknya putranya.
Tentu saja kalimat terakhir yang diucapkannya itu membuat mereka mengerutkan dahi keheranan.
"Apa maksud perkataan, Papa?" tanya Serkan.
Sinan meneguk ludah dan menggeleng. "Tidak ada, Nak!" Serkan merenggangkan pelukannya. Menyesap air hidungnya dan mengusap air matanya.
"Jawab pertanyaan Serkan, Sinan! Apa maksud kalimat terakhir yang kau ucapkan tadi?! Kenapa kau bilang Tuhan tidak akan mengambilnya secepat itu?!" Suara Mehmet terdengar meninggi. Kedua matanya juga menjadi sebesar piring.
"Sinan, katakan ada apa sebenarnya?!" Dilara ikut bertanya dengan menarik kerah suaminya.
Sinan menunduk sedih. Dadanya terasa sesak sekali untuk mengatakan sesuatu yang akan membuat mereka panik.
"Sinan, ada apa?" tanya Dilara lagi dengan suara memelas.
"SINAN! CEPAT KATAKAN ADA APA DENGAN PUTRAKU!" Suara Mehmet menggelegar, merambat ke dinding-dinding ruangan.
Sinan kembali meneteskan air mata. "K-kata Ozgur … mereka menemukan mayat seorang pria."
"Apa?!" Mulut Dilara dan Serkan menganga.
Setelah itu terdengar suara benda jatuh di lantai. Mereka bertiga menoleh, melihat tubuh Mehmet yang tersimpuh di lantai. Gegas langsung menghampirinya.
"Kak Mehmet!" Sinan membantunya berdiri.
Mehmet menatap Sinan dengan gemetar. "Katakan kalau itu bukan Ayaz! Itu bukan mayat Ayaz, kan?" Suara Mehmet terdengar iba.
Sinan menggeleng. "Mereka belum mengklarifikasi identitas mayat itu. Mereka akan membawanya ke rumah sakit dan mengautopsinya. Setelah itu baru bisa diidentifikasi siapa sebenarnya mayat itu," ujar Sinan dengan suara sendu.
Dilara dan Serkan saling memeluk dan menangis.