"Putraku baik-baik saja, kan, Sinan? Dia tidak akan meninggalkanku dan pergi jauh menemui ibunya, kan?" Mehmet menangis sejadi-jadinya.
"Tidak, Kak Mehmet. Ayaz pasti baik-baik saja," kata Sinan ikut meneteskan air matanya.
"Bagaimana aku akan hidup jika putraku tiada?" Mehmet merasakan sakit yang teramat pedih di bagian jantungnya. Ia bahkan kesusahan untuk bernapas sembari memegang dadanya.
Sinan yang melihatnya kembali panik. "Kakak … kau baik-baik saja, kan?"
"Paman!"
"Kak Mehmet!" Dilara ikut syok.
Mehmet menarik napasnya panjang, mencoba menenangkan hati dan pikirnya. "Aku baik-baik saja." Lelaki itu meneguk ludah. "Antar aku ke rumah sakit sekarang, Sinan. Ayo kita lihat mayat siapa itu!"
"Kak Mehmet, sebaiknya kau di rumah saja dan istirahat–"
"-SINAN!" Mehmet membentak sembari mencengkeram kerah kemeja adiknya.
"ANTAR AKU SEKARANG JUGA!" perintahnya dengan suara ketus bersemu gemetar dan dengan kedua mata yang melotot sebagai tanda penekanan.
Sinan menganggukkan kepala. "Baik, Kak. Baiklah ayo…!" Ia meneguk ludah sejenak, kemudian membantu kakaknya berdiri.
Mereka mulai bersiap dan menuju keluar rumah. Menaiki mobil dan dengan cepat Sinan membawanya meninggalkan halaman rumah mewahnya.
Sinan mengambil headset bluetooth dan menautkannya pada telinga, saat Ozgur meneleponnya. Kemudian tangannya kembali fokus mengemudi.
"Halo, Ozgur! Ini aku dalam perjalanan ke sana. Baiklah sampai ketemu di sana!"
Sinan terus membawa mobilnya melaju menyusuri jalan raya Istanbul yang diapit oleh gedung-gedung pencakar langit, dan di belakangnya terdapat selat Bhosporus yang begitu luas. Namun sialnya terjadi kemacetan pada saat itu sehingga membuat pria berkemeja putih itu mengamuk.
"Ada apa dengan lalu lintas Istanbul hari ini! Kenapa harus macet di saat yang genting seperti ini!" sungut Sinan sembari memukul setir mobil.
Dering ponsel terdengar dari saku Serkan. Pria itu langsung merogoh dan mengambil benda pipih berteknologi canggih miliknya. Terlihat nama Ozan yang memanggilnya. Pria itu sudah bisa menebak, pasti temannya itu akan bertanya soal kabar Ayaz. Dan saat ini Serkan sedang cemas memikirkan hal itu. Ia memilih mengabaikan penggilan Ozan.
Namun ponsel tersebut terus berbunyi seakan tak kenal lelah.
Dilara yang duduk di sampingnya dengan cemas melirik ke arah ponsel yang digenggam putranya. Sedikit terlihat nama Ozan di layar ponsel itu. Dilara menggerakkan tangannya, mengelus bahu Serkan. Kemudian mengangguk seakan menyuruhnya untuk mengangkat teleponnya.
Serkan menyemburkan napas dengan wajah sayu. Mulai fokus pada ponselnya dan menerima panggilan Ozan. Lantas menempelkan benda pipih tersebut di daun telinga.
"Halo, Serkan? Kenapa kau lama sekali mengangkatnya?" Suara Ozan langsung terdengar memenuhi gendang telinga Serkan.
"Halo, Ozan!" sapa Serkan tak bersemangat.
"Serkan, bagaimana kabar Ayaz? Apa sudah ada perkembangan berita tentangnya? Apa Ayaz baik-baik saja?" berondong Ozan dengan berbagai pertanyaan soal kondisi Ayaz.
Serkan terdiam. Tak mampu menjawab sepatah kata. Detik berikutnya pria itu sesenggukan dan embun di matanya mulai mencair. Mulutnya ia sumpal dengan punggung jemari dan ia gigit-gigit.
Dilara menyentuh punggung pria itu dengan iba dan mengelusnya lembut.
"Serkan, kau menangis? Ada apa Serkan? Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya Ozan sedikit terkejut mendengar sesenggukan dari sahabatnya, yang selama ini ia tahu tak pernah meneteskan air mata.
"Serkan menangis?" Suara Burak ikut terdengar kaget.
"Ozan, Serkan kenapa?" Itu suara Cansu.
"Serkan … katakan, ada apa?" Ozan kembali bertanya pada Serkan.
Serkan menyesap udara dari hidung. Mengusap air matanya dengan punggung tangan. Menatap ke atas sejenak sembari menarik napas. Meneguk ludah kemudian mulai mengeluarkan ucapannya.
"Ayaz belum ada kabar sampai sekarang, Ozan. Dan katanya … katanya …."
"Katanya kenapa, Serkan?" Ozan terdengar tidak sabaran.
Serkan kembali meneguk ludah sejenak. "Mereka menemukan mayat seorang pria."
"What?!" Dari nada suaranya, bisa dipastikan kalau ekspresi Ozan saat itu sangat terkesiap. "Mayat?! Mayat siapa?!" sambungnya bertanya.
"Mayat apa, Ozan?" Terdengar suara Oyku yang panik.
Burak dan Cansu juga terdengar sedang mempertanyakan hal yang sama.
"Kami belum tahu itu mayat siapa. Mereka akan melakukan autopsi. Kami yakin itu bukan mayat Ayaz," kata Serkan.
"Tentu saja bukan, Serkan. Ayaz tidak mungkin meninggalkan kita semua!" Ozan berkata mantap penuh keyakinan.
Serkan menghela napas gusar. "Ozan, aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Baiklah. Tenangkan dirimu, dan kabari aku secepatnya."
Serkan memutus panggilannya. Menatap ke arah ibunya. Air matanya kembali bocor. Pria itu langsung menghambur di pelukan sang ibu.
Mobil kembali berjalan. Sinan terus memutar kemudi dengan cepat. Sementara Mehmet sibuk memandang ke arah kaca jendela, menyaksikan gedung-gedung dan pepohonan yang tampak berjalan dengan perasaan hampa.
***
"Mayat … mayat apa maksudnya tadi?" tanya Cansu ngotot pada Ozan.
"Kata Serkan mereka menemukan mayat dan harus diautopsi. Mereka menduga itu mayat Ayaz, tapi kita tunggu saja hasil autopsinya bagaimana," jelas Ozan pada kekasih dan dua temannya itu.
"Cansu … aku takut sekali!" Oyku merengek, memegang tangan sahabatnya erat. "Bagaimana keadaan Sevda saat ini?"
"Apa mereka sudah mengerahkan banyak tim pencarian?" Cansu kembali bertanya pada Ozan.
Burak menyahut, "Tadi malam saat aku menghubungi Serkan, katanya ayahnya sudah mengerahkan banyak tim pencarian, mulai dari detektif dan tadi beberapa polisi juga terjun ke sana."
"Burak, aku ingin ke sana mencari Ayaz dan Sevda!" Oyku kembali berdecak.
"Oyku … tidak perlu. Maksudku … kita tunggu perkembangannya," balas Burak.
"Tapi semua ini terjadi gara-gara aku. Aku tidak bisa tinggal diam! Andai aku tidak berbohong pada Sevda soal hubungan Serkan dan Hazal, pasti sekarang Sevda sudah berada bersama kita." Oyku memanyunkan bibirnya, merasa sangat bersalah.
Cansu memeluknya dengan wajah melas. "Aku juga salah satu penyebab semua ini," katanya dengan alis melengkung.
Ozan menyemburkan napas pasrah.
"Kita memang tidak bisa berdiam dan menunggu kabar begitu saja. Kita harus melakukan sesuatu!" kata Cansu lagi.
"Bagaimana kalau kita katakan saja pada keluarga Sevda, agar mereka juga mengerahkan tim untuk mencari Sevda dan Ayaz?" saran Oyku.
Cansu menatap ke arah Oyku. "Tapi, Oyku, bagaimana jika keluarganya malah tambah panik. Terutama kakeknya Sevda, beliau itu sudah tua. Bagaimana bisa kita mengatakan kalau cucunya sekarang hilang belum ada kabar. Terlebih, ayah dan ibunya Sevda tinggal di Indonesia, bukan Turki. Bayangkan betapa paniknya mereka."
"Cansu benar. Lagi pula pasti keluarga Serkan sudah mengerahkan banyak tim untuk mencarinya. Mereka itu keluarga terpandang. Semua aparat pasti langsung sigap saat diberikan perintah! Itu kan yang selalu terjadi selama ini pada orang-orang terpandang?" kata Burak sedikit menyinggung soal keadilan.
"Tapi kita tidak bisa menyembunyikan ini terlalu lama dari keluarga Sevda. Mereka berhak tahu!" asumsi Ozan.
"Aku ada ide. Bagaimana kalau kita mengabari pamannya Sevda saja. Setidaknya salah satu anggota keluarganya ada yang tahu," sahut Oyku.
"Apa kau yakin?" Cansu mempertimbangkan.
Oyku menunduk. "Sebenarnya aku tidak yakin. Tapi mau gimana lagi."
"Kalau begitu aku akan menghubungi pamannya Sevda dan mengatakannya," kata Cansu.
"Tunggu, Baby. Apa sebaiknya kalau mengatakannya secara langsung saja?" saran Ozan.
"Kalau pamannya marah dan mengamuk pada kita bagaimana?" sahut Burak.
"Paman Mustafa bukan orang seperti itu. Dia sudah mengenal aku dan Oyku," ucap Cansu.
"Tapi, Cansu … keadaannya sekarang berbeda." Oyku mengatakan dengan suara lirih.
Cansu mendesis pasrah. "Ah sudahlah. Apa pun yang terjadi nanti, kita harus menerima konsekuensinya. Karena kita yang membuat Sevda marah sehingga pergi!"
"Sebentar-sebentar, Cansu. Aku rasa lebih tepat jika aku dan Ozan tidak terlibat soal masalah Sevda." Burak tampak membenarkan ucapan Cansu.
"Apa kau bilang?!" Oyku langsung maju di hadapannya dengan wajah sungut.
Burak meneguk ludah—panik.
Ozan hendak mengatakan sesuatu tetapi Cansu langsung mengepalkan tangan ke arahnya.
"Apa kalian para pria akan menghindar dari masalah ini?! Bukankah kalian juga sama-sama menyembunyikan hubungan Serkan dan Hazal dari Sevda?!" ketus Cansu.
"Itu karena kami terpaksa. Kalian–" Ozan langsung memotong ucapannya seketika. Meneguk ludah berkali-kali saat melihat kepalan tangan Cansu yang berada tepat di depan wajahnya.
"Kau mau mengatakan apa, ha?!"
"Tidak, Sayang … kami hanya bercanda, hehe," ucap Ozan ketakutan.
"Apa kau berpikir kau juga tidak bersalah, Burak?!" Oyku meninggikan suaranya tepat di hadapan Burak.
"Oyku, Baby … bukan begitu, My dear." Burak mengambil tangan Oyku dan menciumnya. "Baiklah, kami juga salah sama seperti kalian. Iya, kan, Ozan?!"
"I-iya … of course!" Ozan mengangguk dengan terpaksa saat kedua mata Cansu menusuk tajam ke arahnya.
Cansu mendesis. "Oke. Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi pamannya Sevda," katanya.
***
"Sejak kapan kalian menikah?" Seorang wanita yang bernama Miranda itu bertanya pada Ayaz dan Sevda.
"Seminggu yang lalu!"
"Setahun yang lalu!"
Ayaz dan Sevda menjawab serempak. Namun jawaban mereka berbeda satu sama lain dan itu membuat Miranda mengerling heran.
"Mana yang benar, seminggu atau setahun?" tanya Miranda.
Sevda dan Ayaz kembali mengucap serempak, dan jawaban mereka malah kini berbalik.
"Seminggu!" jawab Sevda.
"Setahun!" jawab Ayaz.
Wanita itu semakin terheran.
"Apa kalian menikah setiap minggunya?" Sang pria yang bernama Riko itu bertanya sembari menaikkan belah alisnya.
Ayaz dan Sevda menjadi gugup.
"Iya!" Kemudian Ayaz menjawab cepat. "Sebenarnya kami menikah setahun yang lalu, tapi setiap minggunya kami merayakannya. Iya kan, Sa-yang?" Ayaz mengalungkan tangannya di punggung Sevda, mencubit lengan gadis itu sedikit agar mau membenarkan ucapannya.
Sevda mengangguk terpaksa. "Iya. Hehe."
Sungguh mereka berdua sangat gugup seperti tengah diinterogasi oleh detektif.
"Ufff … kalian memang pasangan yang romantis!" seru Miranda itu.
"Apa kalian sudah merencanakan soal bayi?" Pertanyaan sang pria membuat Ayaz dan Sevda meneguk ludah.
"Umm … yeah, of course! Kami sudah merencanakannya. Hehe," jawab Ayaz sebisanya.
"Uhuk … uhuk!" Tiba-tiba Sevda terbatuk. Perutnya mendadak sakit.
Dua pasangan itu langsung panik.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Miranda.
Sevda mengangguk. "Aku tidak apa-apa."
"Apa jangan-jangan kau sedang hamil?" sahut Riko.
"What?!" Sevda dan Ayaz mengucap serempak penuh keterkejutan. Namun kemudian mereka langsung bersikap biasa saja saat dua pasangan di depannya itu memandangnya dengan penuh keheranan.
"M-mungkin istriku sedang tidak enak badan," kata Ayaz mencoba mengalihkan perhatian.
"Kalian tadi malam berhubungan, kan? Pasti ada sesuatu di dalam perutmu. Mungkin tanda-tanda kehidupan baru," kata Riko bercanda.
"Sayang, kau membuat mereka malu." Miranda berkata dengan terkekeh.
Sevda melototkan mata. Dalam hati meraung. "TIDAK MUNGKIN! Amit-amit hamil anaknya Ayaz!"
"Maaf, aku harus ke toilet dulu!" Sevda pamit dan bergerak mencari toilet di kapal tersebut.
"Aku akan menemaninya." Ayaz bergerak membuntutinya.
"Sayang, kau tidak apa-apa? Sayang, kau di mana?" teriak Ayaz.
Sevda menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah toilet lalu mengunci pia.
"Tutup mulutmu. Rasanya jijik mendengar saat kau memanggil kata itu padaku!" sungut Sevda dengan suara berbisik.
"Kau pikir aku tidak jijik? Sungguh, rasanya mau muntah saat mengatakan itu!" jawab Ayaz suaranya sedikit keras.
Sevda langsung membungkam mulutnya sembari mendorong tubuh pria itu hingga punggungnya menempel di dinding toilet.
Sejenak kedua mata indah mereka saling menumbuk.
Ayaz tersadar dan menggigit tangan Sevda.
"Auuh!" Sevda mengaduh tetapi tak bisa mengencangkan jeritannya. "Dasar psikopat!" hardiknya.
"Diam! Kau yang memulai drama ini! Kenapa kau mengatakan pada mereka kalau kita ini pasangan suami istri?!" Ayaz mengacungkan telunjuk ke arah gadis itu.
"Dengar, ya! Aku terpaksa melakukan drama omong kosong ini agar mereka mau membantu kita!" bantah Sevda membela diri.
"Oh, ya? Bukan kah ini hanya akal-akalanmu saja. Karena kau itu suka sekali berbuat drama!" tuduh Ayaz.
Sevda menganga dengan wajah tak habis pikir. "Are you crazy?"
"Memangnya mereka tidak akan membantu kita kalau tahu sebenarnya kita ini musuh bebuyutan?!" Suara Ayaz sedikit kencang.
"Ayaz, jangan keras-keras, nanti mereka dengar!" Kedua tangan Sevda memegang lengan kekar pria itu. Mulai berbicara dengan berbisik. "Dengar, mereka tidak akan mau menolong kalau mereka tahu sebenarnya kita ini bukan pasangan suami istri. Mereka itu orang Indonesia. Aku tahu dengan pasti pandangan mereka terhadap orang yang belum menikah dan berduaan layaknya pasangan kekasih. Kau tidak ingat bagaimana keadaanmu saat mereka pertama kali melihat kita tadi?"
"Memangnya kenapa denganku?" tanya Ayaz.
Sevda menoyor kepala pria itu dengan telunjuknya. "Kau sedang tidak mengenakan kaus, Bodoh! Mereka akan berpikir yang aneh-aneh. Mereka akan merasa jijik pada kita!"
"Sebentar-sebentar, biar aku koreksi ucapanmu itu, Nona sok pintar! Mereka akan jijik kepadamu, bukan kepadaku! That's it!" ujar Ayaz.
Sevda mendekatkan wajahnya tepat di wajah Ayaz. Dengan ketus ia berkata, "Kau tahu orang paling menyebalkan di dunia ini? Kau! Dasar pria batu!"
"Menyingkirlah dariku!" Ayaz mendorong tubuh gadis itu dari hadapannya.
Sevda menyemburkan napas. Mencoba bersikap tenang. "Ayaz, aku rasa ini bukan saatnya kita berdebat. Kita harus terus berpura-pura sebagai pasangan suami istri sampai kapal ini mencapai tujuan. Untuk itu kita harus membuat kesepakatan. Jika mereka bertanya lagi tentang kita nanti, jawaban kita harus sama!"
"Menurutmu ... mereka berdua akan bertanya apa lagi?" Ayaz menaikkan sebelah alisnya.
"Umm…." Sevda tampak berpikir sembari menekan-nekan pipinya dengan telunjuk. "Aku rasa mereka bakalan bertanya soal pertama kali kita berjumpa dan jatuh cinta, misalnya kapan, di mana, dan kenapa kita saling tertarik satu sama lain."
"Aku tahu! Kita bilang saja jika kita berjumpa di dekat sungai. Saat itu aku sedang jalan-jalan di sungai, lalu ada suara yang memanggilku. Aku mencarinya tapi tidak ada. Setelah aku mengeceknya lagi ternyata ada seekor ikan koi yang berenang di sungai. Ikan koi itu sangat jelek dan ternyata ikan koi jelek itu yang memanggilku. Aku mendekati ikan koi jelek itu dan kemudian ikan itu berubah menjadi dirimu? Bagaimana? Cerita yang sangat romantis bukan?" Ayaz menaikkan kedua belah alisnya dua kali.
"Sembarangan!" Sevda langsung memukul lengan pria itu. "Kau menggambarkan ku sebagai ikan koi?!"
"Memang iya, kan? Nona ikan koi jelek!" ejek Ayaz.
Sevda merasa geram terhadapnya. "Kau benar-benar sialan, Ayaz!" Sevda menjeda sejenak. "Kita katakan saja kalau kita bertemu di sebuah pesta. Saat itu aku terlihat sangat cantik mengenakan gaun yang indah. Lalu kau yang seorang pelayan mulai tertarik padaku. Kau mendekatiku. Awalnya aku menolak, tapi kau terus memohon, menangis, dan menyentuh kakiku agar aku mau bersamamu. Atas dasar belas kasihan, akhirnya aku menerimamu."
"Wow! Cerita yang indah!" Ayaz berkata judes. "Jangan berharap aku mau menjadi seorang pelayan dan mengemis cinta pada penyihir sepertimu!" timpal pria itu tak terima.
Sevda mulai kesal karena pria di depannya itu tidak bisa diatur.
"Apa kalian baik-baik saja?" Suara Miranda terdengar dari luar, dan itu membuat mereka terkejut.
Ayaz dan Sevda kembali panik.
"Ayaz, bagaimana ini?"
"Aku tidak tahu!"
"Kita mulai berakting saja, ayo!"
"Baiklah … baiklah!"
"Tadi kita ngapain sampai masuk sini?" tanya Sevda sampai lupa lantaran mereka sering berdebat.
"Mungkin kau mau tidur!" jawab Ayaz asal.
"Yang benar saja, Ayaz. Tidur di toilet?!"
"Ya mana aku tahu! Kau terlalu banyak bicara tadi!"
"Begini saja, kau ceritanya lagi sakit perut!"
"Apa?"
"Ayaz, cepat. Tidak ada waktu!"
"Baiklah … baiklah!" Terpaksa Ayaz menyetujui.
Ayaz dan Sevda menarik napas. Salah satu dari mereka mulai membuka kenop pintu dan keluar dari toilet. Ayaz berakting sakit perut sementara Sevda menggandengnya seperti pasangan yang romantis.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Miranda sedikit cemas melihat Ayaz.
"Tidak apa-apa, mungkin dia hanya sakit perut biasa," jawab Sevda.
"Sebentar, bukannya kau yang tadi batuk-batuk dan mau muntah?" tanya Riko pada Sevda.
Sevda meneguk saliva. Bagaimana ia bisa tidak sadar akan hal itu, dan malah menyuruh Ayaz yang berakting sakit.
"A-aku sudah sembuh. Yeah, lihat! Wajahku ceria, 'kan?" Sevda memamerkan senyum yang dibuat-buatnya.
Pria itu tersenyum.
Ayaz menegakkan tubuhnya. "Sekarang aku juga sudah merasa lebih baik," kata Ayaz.
"Syukurlah!" Kedua pasangan itu terlihat senang.
"Sekarang ayo tanyakan pada kami. Kami siap menjawabnya dan kali ini dipastikan jawaban kami akan sama!" Dengan lugunya Ayaz mengucap demikian ke arah Miranda dan Riko.
Kedua pasangan itu saling menatap heran.
Sevda langsung menyembunyikan wajahnya karena malu. "Lihatlah si bodoh ini. Kenapa dia malah memancing mereka untuk bertanya lagi," gumam Sevda dalam hati sembari menggaruk pelipisnya.