Keluarga Basaglu sudah mencapai rumah sakit terbesar di kota Istanbul. Mereka bergerak cepat menuju ruang resepsionis. Namun tiba-tiba pria dengan jas hitam mendekatinya.
"Tuan Sinan!" panggil pria itu.
Sinan menoleh, menyadari Ozgur yang memanggilnya.
"Ozgur, bagaimana?" tanyanya tergesa-gesa.
Ozgur memandangi Mehmet yang berada di belakang Sinan.
"Tuan Sinan, kau–"
"Mayat itu bukan mayat putraku, kan?" Mehmet maju selangkah, demi memposisikan dirinya di samping Sinan. Bertanya pada Ozgur dengan wajah serius.
Ozgur meneguk ludah sejenak. "Tuan Mehmet, Tuan Sinan, mayatnya tadi sudah tiba di sini sepuluh menit yang lalu. Dan sekarang mereka sedang melakukan autopsi. Kata ahli forensik hasilnya akan keluar satu atau dua jam lagi. Jadi, aku mohon kalian bersabarlah!" jelas Ozgur.
Mehmet mendesis.
Sinan menoleh ke arah kakaknya dan mengelus bahunya. "Kita akan tahu kalau itu bukan Ayaz."
Beberapa jam kemudian, dokter ahli forensik menghampiri mereka. Mereka mengatakan kalau identitas dari mayat pria tersebut bukan milik Ayaz. Kabar itu tentu langsung membuat mereka lega.
"Terima kasih, Tuhan!" Mehmet mengucap syukur dengan mendongak.
Sinan memeluknya. Ikut merasa lega.
Serkan dan Dilara juga saling berpelukan.
Sinan kembali menghadap ke arah Ozgur. "Bagaimana kabar terbaru dari tim pencarian?" tanya Sinan sembari menghapus sudut matanya yang berair dengan ujung jari telunjuknya.
"Sampai saat ini masih belum ada kabar, Tuan Sinan," kata Ozgur.
"Bagaimana ini bisa!" Mehmet mulai meninggikan suaranya. "Kami membayar mereka bukan untuk main-main. Ini sudah lebih dari dua puluh empat jam dan mereka belum menemukan apa pun?!" teriak Mehmet, membuat para pekerja dan pengunjung rumah sakit menoleh ke arahnya.
"Kakak, tenanglah! Ini di rumah sakit," kata Sinan pelan mencoba menenangkan kakaknya yang mengamuk.
"Ya sudah, Ozgur. Kami akan kembali ke rumah. Kabari aku secepatnya jika mereka menemukan sesuatu!" pinta Sinan.
"Baik, Tuan Sinan!" Pria berjas hitam itu mengangguk.
"Ayo kita pulang!" ajak Sinan pada anggota keluarganya. Ia menuntun Mehmet berjalan keluar. Sementara Dilara berjalan di belakangnya dengan Serkan. Mereka langsung keluar tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menyorot ke arahnya.
***
"Suasananya indah sekali, ya?" Miranda berkata pada Ayaz dan Sevda sembari pandangan memandang ke arah hamparan Bhosporus.
Saat ini mereka tengah duduk dan tengah menyantap makanan. Menikmati makan siang di atas Yacth pribadi, dengan suguhan pemandangan lautan Bhosporus yang begitu indah. Burung-burung camar beterbangan di atas sana. Dataran Eropa dan Asia terlihat di kanan kiri. Bangunan arsitektural timur tengah dan Eropa tampak membaur. Juga tampak jembatan gantung yang tampak pudar akan kabut.
"Turki memang indah. Ada begitu banyak tempat wisata dan bangunan sejarah di Turki. Aku rasa kalian harus mengunjunginya sebelum meninggalkan negara ini," kata Ayaz mempromosikan negaranya.
"Indonesia juga tak kalah indah!" Sevda menyahut. "Ada banyak budaya dan bangunan sejarah. Candi, gunung, lautan, semua kami punya, iya kan, Miss Miranda?" kata Sevda meminta pendapat Miranda.
"Yeah, Of course!" Miranda mengangguk setuju.
Sevda tersenyum mengejek ke arah Ayaz. Sementara Ayaz memutar mata bosan.
"Apa kalian menetap di Turki atau memiliki rumah di Indonesia juga?" Riko bertanya pada mereka. "Kalian suami istri yang berbeda negara, bagaimana cara kalian mengatasi perbedaan kultur dan budaya?" sambungnya.
Ayaz dan Sevda langsung tersedak..
"Minum dulu. Jangan tergesa-gesa kalau makan," kata Miranda.
Ayaz meraih segelas air perasan lemon dan meneguknya.
"Sebenarnya kami sudah saling kenal sejak kuliah. Jadi kami sudah terbiasa. Lagi pula, kakekku juga asli Turki," kata Sevda.
"Dasar drama queen!" Ayaz mengucap dalam hati.
"Ayaz, kau pernah mengunjungi suatu tempat di Indonesia?" tanya Riko lagi.
"Umm… dulu pernah saat aku kecil. Ke Bali!" jawab Ayaz.
Riko dan Miranda mengangguk-angguk.
"Banyak orang luar negara Indonesia yang selalu mengatakan Bali jika ditanya Indonesia. Tapi asal kau tahu, di Indonesia tidak hanya Bali sebagai tempat terindah. Masih ada banyak lagi. Misalnya Sumba, Lombok, dan lainnya. Daerah-daerah itu juga memiliki panorama alam yang indah dan tradisi budaya yang unik. Lain kali kau harus mengunjunginya!" seru Riko.
"Sure!"
"Kami setelah ini rencananya mau ke Cappadocia. Menaiki balon udara, itu sesuatu yang romantis, bukan? Kau tahu, banyak orang Indonesia yang pengen ke Cappadocia, menjajal balon udara sembari melihat sejarah konstantinopel." Riko ikut berkomentar.
"Tentu saja. Kalian tidak akan menyesal pergi ke sana," kata Ayaz.
"Cappadocia adalah tempat favoritku di Turki!" sahut Sevda. "Aku suka sekali ke sana saat musim semi, hehe."
"Oh ya? Bagaimana kalau kalian bareng kami saja nanti ke sana?" tawar Miranda.
"Oh tidak perlu. Aku akan membawa istriku lain kali saja. Hehe," ucap Ayaz cepat.
"Baiklah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong, apa kesibukanmu?" Riko bertanya pada Ayaz.
"Kuliah," jawab Ayaz tanpa sadar.
Miranda dan Riko mengerling heran. Sementara Sevda langsung menginjak kaki Ayaz.
Ayaz menatap ke arah mereka. "Maksudku … setelah kuliah aku bekerja di perusahaan keluargaku."
"Wow, kau seorang businessman ternyata." Riko terkagum.
"Riko tidak pernah menyukai bisnis. Dia memilih berkutik di rumah sakit," sahut Miranda.
"Kau seorang dokter?" Sevda bertanya ke arah Riko.
"Ehm. Sebenarnya aku dokter spesialis jantung," jawab Riko.
"Karena itu dia berhasil merebut jantung hatiku! Haha!" sahut Miranda.
"Haha!" Sevda ikut tertawa.
Ayaz hanya memandang aneh ke arah mereka. Mulai muak saat membicarakan soal percintaan. Pria itu memang alergi dengan sesuatu yang berhubungan 'Percintaan'.
"Bagaimana kalian bertemu dan jatuh cinta?" Sevda bertanya pada mereka.
"Gadis ini terlalu banyak bicara! Bagaimana jika mereka nanti bertanya balik. Dasar Bodoh!" gumam Ayaz dalam hati.
"Waktu itu aku sebagai pasien Riko. Dia sangat memperhatikanku. Dan kami jatuh cinta satu sama lain. Benarkan, Sayang?" Miranda menoleh ke arah suaminya, meminta pembenaran.
"Ehm. Kalian tahu, hanya dia pasien tercantik waktu itu. Makanya aku selalu memperhatikannya. Haha!" decak Riko.
Mereka tertawa dan saling bercanda. Sementara Ayaz hanya terdiam dengan wajah jenuh.
"Aku akan menceritakan sebuah rahasia dokter jantung pada kalian!" Riko berseru. "Kalian tahu, sebenarnya jantung itu bisa mengutarakan isi hati. Jantung itu sebenarnya memiliki bahasa dan pemikiran sendiri. Jantung tidak hanya sekedar pompa, tetapi suatu organ yang sangat cerdas, dengan sistem sarafnya sendiri, memiliki kekuatan untuk memutuskan, dan berhubungan dengan otak. Jantung itu bisa berkomunikasi. Saat dua pasangan yang saling mencintai tengah bertemu satu sama lain, maka jantung akan bekerja lebih cepat dari biasanya. Getaran cinta yang menjalar dan membuat perasaan seseorang merasa aneh. Getaran itu yang disebut denyut jantung. Heartbeat!" Riko menjelaskan pada mereka dengan bahasa percintaan.
"Saat dua pasang kekasih bertemu, mulut mereka terkunci, dan saling merasakan satu sama lain, maka saat itu denyut jantung berbicara. Kalian bisa mendengar dan merasakan apa yang pasangan kalian katakan dalam hati."
Ayaz tertawa kecil. Bersikap acuh dan tampak tak peduli. "Dokter Riko, apa kau sedang menceritakan kami sebuah adegan film?" selorohnya.
"Tidak, Ayaz. Aku berkata serius. Ini yang tidak orang ketahui. Kau membuktikannya?"
"Bagaimana caranya?" tanya Sevda antusias.
Riko memajukan tubuh. Mulai menjelaskan pada mereka dengan lebih dekat.
"Saat kau memegang dadda Ayaz dan Ayaz memegang dadamu, mulut kalian terkunci, lalu mata kalian terpejam, saling merasakan satu sama lain, dan pada saat itu, kalian fokus dan mencoba berbicara lewat jantung kalian masing-masing. Getarannya, denyutnya, kalian akan merasakannya satu sama lain."
"Sorry, but I think it's bulshit, right?" Ayaz memotong perkataan Riko. Sama sekali tak tertarik dengan ucapannya.
"Sevda, apa suamimu selalu seperti ini? Kenapa dia tidak pernah bersikap romantis padamu?" sahut Miranda.
"Dia memang manusia aneh. Saat kuliah, orang-orang menyebutnya pria batu. Dia jarang tersenyum pada orang dan selalu sombong. Tapi mau bagaimana lagi, kami sekarang sudah menikah dan aku harus menerimanya apa adanya," ujar Sevda menyindir Ayaz.
Ayaz memicingkan mata ke arahnya. Dalam hati ia bergumam, "Dia selalu mencari kesempatan untuk mengejekku! Menyebalkan!"
Miranda dan Riko tertawa melihat mereka.
"Begini saja, coba kalian praktekkan saja!" Riko bangkit dari tempat duduknya. Mendekat ke arah Ayaz dan Sevda.
"Praktek?" Ayaz menetap Riko dengan kedua alis terangkat.
"Coba pinjam tanganmu!" Lelaki itu mengambil tangan Ayaz. "Sevda, boleh pinjam tanganmu?" tanya Riko ke arah Sevda.
Sevda mengangguk ragu. Namun ia mengulurkan tangannya.
"Begini!" Riko memposisikan tangan Ayaz menyentuh dadaa Sevda bagian jantung sementara tangan Sedva menyentuh dadaa bidang Ayaz. "Sekarang pejamkan mata kalian!"
"Hah?" Ayaz melotot ke arah Riko.
"Pejamkan, Ayaz. Bukan malah melotot!" kata Riko.
Miranda yang melihatnya tertawa.
Ayaz dan Sevda mulai menurut. Mereka mulai memejamkan mata masing-masing.
"Saat mulut kalian terkunci, dan mata kalian terpejam, ambil napas dalam. Lalu fokus pada getaran tangan kalian. Rasakan detak jantung pasangan kalian masing-masing. Dengarkan dengan hati kalian. Kalian akan merasakan sesuatu yang berdenyut dan seolah semua alam senyap. Hanya denyut jantung kalian yang berbicara."
Sevda dan Ayaz mulai fokus. Mendengarkan setiap denyut jantung yang berdetak.
Ayaz berkata dalam hati, "Bagaimana pria sialan ini bisa membuatku melakukan omong kosong ini pada gadis ikan koi di depanku!"
"Ayaz, apa kau sedang mengejekku?" Sevda berkata dalam hatinya.
Dan anehnya kata-kata dalam hati mereka bisa terdengar satu sama lain.
"Bagaimana gadis ini tahu isi hatiku saat ini?"
"Sebentar-sebentar… kenapa aku bisa mendengar suara hatimu dan kenapa kau bisa mendengar suara hatiku?"
"Ini pasti tipu muslihat pria dokter itu. Dia pasti sudah memainkan sihir gelap. Sebaiknya hentikan saja omong kosong ini!"
"Yah, kau benar!"
Ayaz dan Sevda langsung membuka mata dan membuyarkan konsentrasinya. Menarik tangannya masing-masing.
"Bagaimana, apa kalian sudah bisa merasakan satu sama lain?" tanya Riko.
Ayaz dan Sevda mendadak pucat.
"T-tidak … aku tidak mendengar apa pun!" Ayaz menggeleng cepat, berbohong pada Riko dan Miranda.
"Yah, aku juga tidak mendengar apa pun!" sahut Sevda juga berbohong.
"Yakin?" Miranda bertanya sembari memajukan kepala lebih dekat ke arah mereka.
"Yeah, tentu saja! Aku tidak mendengar apa pun kecuali radio rusak!" timpal Ayaz.
"Apa kau sedang mengejekku, Ayaz?" Sevda memicingkan mata dengan mulut ketus-ketus.
"Memang denyut jantungmu seperti radio rusak, kan?"
"Sembarangan!" Sevda mengambil buntelan tisu dan melemparkannya ke arah Ayaz. "Detak jantungmu juga seperti suara mesin kehabisan bensin!"
Kini mereka mulai berdebat.
Riko dan Miranda terheran melihatnya.
"Diamlah, Ikan koi!"
"Kau yang diam, Bongkahan Gletser!"
"Stop!" Miranda sedikit berteriak.
Ayaz dan Sevda langsung mengunci mulut.
"Nah, begini baru bagus. Kalian ini pasangan suami istri tapi kenapa berantem? Kalian tidak boleh seperti itu!" tutur Miranda. "Begini saja, daripada kalian berantem. Bagaimana kalau kalian berdansa?"
"Kedengarannya itu ide yang bagus!" Riko menyahut.
"Ayo! Ayo!" Miranda menarik tangan Ayaz dan Sevda untuk bangkit dari kursinya. Lantas menoleh ke arah Riko. "Sayang, tolong putarkan lagu yang romantis untuk mereka!" pintanya.
"Oke!" Riko bergerak ke arah radio yang ada di kapal tersebut. Kemudian memutar lagu romantis berjudul "Pillow Talk" milik Zayn Malik.
"Sekarang ayo berdansa lah!" Miranda menyuruh Ayaz dan Sevda untuk berdansa.
Ayaz dan Sevda tak punya pilihan lain selain menurut. Mereka mulai berdansa. Seiiring berputarnya lagu, mereka tanpa sadar menikmati dansa tersebut. Dan itu mengingatkannya di mana momen mereka berdansa bersama untuk pertama kalinya saat festival dansa kemarin.
"Lihatlah, betapa romantisnya mereka!" Riko berbisik tepat di telinga Miranda.
"Ehm. So romantic!" sahut Miranda.
"Apa kau tidak ingin seperti mereka?" bisik Riko lagi. Lantas mulai mengulurkan tangan ke arah istrinya.
Dengan senang hati Miranda menerima tangan itu dan mereka mulai berdansa.