Hari kembali terasa berjalan amat cepat. Hanya tinggal menghitung waktu, Rolfie sudah bisa pulang dari rumah sakit. Hari-hari lalu, aku berharap ia bisa cepat-cepat sembuh dan keluar dari gedung berbau obat itu, namun kini, entah mengapa aku justru berharap bahwa Rolfie tidak akan pernah keluar dari gedung rumah sakit itu.
Karena satu hal,
Aku masih tetap belum siap.
Bahkan pagi ini, pagi dimana matahari bersinar begitu hangat dan deringan alarm menyadarkanku dari indahnya mimpi, cinta itu belum juga hadir.
Aku hanya takut salah mengambil keputusan.
Selepas membuka mata, aku bahkan enggan untuk bangkit. Bukan, bukan karena masih nyaman akan empuknya kasur. Melainkan merasa gundah akan semua keputusan yang secara tiba-tiba aku ambil.
Aku diam sejenak. Seakan-akan semu