Keyrina, Papa sayang kamu nak.
Bayang-bayang ucapan Papa kemarin sore masih terngiang. Entah mengapa, sulit untuk lupa. Bahkan kini, ketika matahari pagi kembali menyapa, kalimat itu masih saja tetap terulangi.
Aku menghela napas, lalu bangkit dari tidurku. Memandang ke arah jendela sejenak, lalu bangun, beranjak berjalan, dan menghampiri kaca datar yang bersih itu. Aku membukanya, membiarkan sinar mentari masuk lewat celah, menghirup sejenak udara segar dan membiarkan paru-paruku menikmati asupan udara pagi.
Masih tak disangka, halaman rumah yang kini aku lihat itu, akan menjadi kenangan belaka. Kenangan masa kecil akan indahnya permainan dan berlatih sepeda. Aku ingat aku pernah jatuh di sana, pernah juga tertawa, dan tentu saja menangis.
Aku kembali menghela napas