Home.
Sial, kata itu masih saja menghantui otakku. Aneh rasanya mengucap kata itu di bibirku, seperti ada keluan, atau apapun itu yang membuatku sejujurnya enggan berucap demikian.
Aku tidak benar-benar pulang. Jam setengah delapan malam aku kembali dari rumah Albert tadi, bukan berarti ucapanku tentang rumah kepada ibu Albert adalah benar.
Bohong.
Bohong besar.
Karena setelah keluar dari kawasan rumahnya, aku pergi ke restoran, mengisi perut sejenak, lalu kembali berfoya di dalam mall. Lantas setelah itu, aku datang ke sebuah night club. Biasa saja, hanya merokok, minum alkohol, berdansa, dan mungkin satu dua hal hal terlarang lainnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Dan aku tengah berada di belakang setir kini. Hanya gadis malam cemen yang pulang dari k