Dengan seragam sekolah yang sudah berantakkan dan kusut, aku berjalan santai menuju gerbang rumah besar itu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan aku masih saja berjalan santai untuk menghampiri rumah itu. Sepulang sekolah siang tadi, aku tak pulang ke rumah, aku dan beberapa temanku memilih pergi jalan-jalan ke mall. Aku bahkan belum mandi dan belum mengganti seragam sekolah yang lusuh ini. Tapi, biarlah lagipula aku sudah membeli seragam baru di mall tadi.
Ting... Tong...
Aku memencet bel rumah ini. Rumah mewah dengan halaman yang luas. Rumah yang indah dan megah. Rumah yang terhias oleh berbagai macam bunga di halamannya.
Rumah Papa.
Clak!
Pintu rumah ini terbuka, seorang wanita berambut pirang panjang dengan mata biru menawan segera menyambutku. "Key? Long time no see. How are you?" Tanyanya. Aku memutar kedua bola mataku, lalu menepis tubuh langsingnya dengan tanganku, lantas segera menerobos masuk ke dalam tanpa izin. Aku berjalan sesuka hati menuju lantai dua di rumah ini. Sesampainya di sana, aku segera membuka sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih bersih.
"Papa?" Gumamku ketika tiba di dalam.
Terlihat jelas kini, Papa tengah duduk di kursi kerjanya seraya menatap laptop dan sesekali mengetiknya. Ia kini menatapku, lalu tersenyum. Aku pun berjalan mendekatinya, dan menatapnya sejenak. Lelaki yang tadi siang datang ke ruang BP dan mengaku sebagai orang tua dari Jackson, dia Papa kandungku. "Kamu tumben kemari? Kenapa, sayang?" Tanya Papa.
"Pa, hari ini aku mau tidur di rumah ini, boleh?"
Papa tersenyum. "Of course. Why not?"
Tanpa sepatah kata lagi, Papa segera kembali fokus pada pekerjannya di laptop, dan tanpa sadar, ia sudah mengacuhkanku.
***
Aku terduduk di atas ranjang tidur kamar tamu kini, merenung sendirian tanpa tujuan apapun. Rambutku masih agak sedikit basah karena aku keramas tadi dan tak mengeringkannya dengan hair dryer. Aku kini memakai t-shirt biru dan celana jeans pendek selutut yang aku beli tadi di mall. Aku melirik jam dinding di dalam kamar ini. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit malam. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Handphoneku rusak jadi aku tak bisa mendengar musik, bermain media sosial, atau hanya sekedar bermain game.
Ahh, bosan!
Aku mendengus kesal. Lalu, dibenakku terpikir akan suatu hal, sebaiknya aku mendatangi Papa. Ya, sebaiknya aku melakukan hal itu.
Clak!
Terlihat jelas, Papa masih fokus pada laptopnya. Tak ada hal lain yang ia lakukan selain menatap dan mengetik laptop itu. Aku bahkan tak mengerti dengan apa yang ia kerjakan. Namun, untuk mempercepat waktu aku pun segera menghampirinya. "Pa... " lirihku.
"Hmm?" Gumam Papa, masih fokus pada laptopnya.
"Look at me, please!"
Papa segera mendongak menatapku. "Why?"
Aku berjalan dan duduk di sebuah sofa dalam ruang kerja Papa itu. "Tadi di sekolah kenapa sikap Papa kayak gitu?" Tanyaku.
"Gitu gimana?"
"Papa bersikap seakan aku bukan siapa-siapa. Papa cuma fokus ke Jackson, bahkan Papa sama sekali nggak mau liat aku."
Papa tak menjawab.
"Papa udah lupa sama aku, ya?"
Papa menghela napas. "Nggak mungkin dong Papa lupa sama kamu. Kamu anak Papa, sayang."
Aku terdiam. Untuk beberapa saat, ruang ini hening sejenak. Aku dan Papa sama-sama terdiam, namun Papa kini lagi-lagi fokus pada laptopnya. Aku benar-benar merasa diacuhkan. Tak sedikitpun dipedulikan.
He is not my daddy anymore.
Aku memejamkan mataku sejenak, lalu aku beranjak berdiri dan perlahan melangkah menuju pintu keluar ruang ini. Aku sengaja memperlambat langkahku, aku berharap agar Papa sadar dan meraih tanganku lantas mengajakku bicara baik-baik. Namun, setiap aku menoleh ke belakang, Papa masih saja fokus pada laptopnya, bahkan mungkin ia sebenarnya sadar bahwa aku akan pergi keluar, namun sikapnya benar-benar terlihat tak peduli.
"Dad?" Gumamku memanggilnya.
"Hmm?" Balasnya.
"Did you know what?"
Papa mengernyit menatapku.
"You're changed."
Tanpa sepatah kata lagi, aku segera berjalan keluar dan menutup pintu ruang ini. Lantas, membiarkan Papa lagi-lagi fokus pada laptopnya.
"Kakak, ayo sini makan es krim," suara anak kecil itu menghentikan langkahku.
Aku pun menoleh kearah sana, ruang keluarga yang letaknya tak jauh dari ruang kerja Papa yang barusan aku keluari. Aku bisa melihat jelas di sana, Daniel, Ellena, Jackson, dan tante Victoria tengah terduduk di sofa seraya memakan es krim juga menonton acara televisi. Mereka kini tersenyum padaku, aku pun membalasnya, tapi senyumanku hanya teruntuk Daniel dan Ellena. Aku menggeleng menandakan tidak ingin makan es krim bersama untuk saat ini. Aku pun lanjut berjalan dan menuju kamar tamu, lantas kembali merenung di atas ranjang. Aku kini memeluk sebuah guling. Tanpa terasa, setetes demi setetes cairan bening telah tumpah dari mataku. Aku menangis. Tak ada hal lain lagi yang ingin kulakukan kini selain menangis. Aku menangis karena Papa. Ia benar-benar berubah. Dia bukan lagi Papa yang aku kenal. Bukan!
Dahulu, ketika aku kecil dan belum mengerti tentang cinta, tapi aku bisa menyukai seseorang. Dia cinta pertamaku. Lelaki tampan yang tegas, bijaksana, baik, dan penyayang. Dia benar-benar cinta pertama yang aku miliki sebelum laki-laki lain mulai masuk dalam hidupku.
Dan cinta pertamaku itu aku sebut Papa.
Dia adalah lelaki pertama di dunia ini yang aku kenal. Lelaki pertama yang aku sayangi dan cintai. Lelaki pertama yang senantiasa memelukku kala sedih. Lelaki pertama yang sejak dulu enggan membuatku menangis. Dia Papa. Namun kini, sadar atau tidaknya, cinta pertamaku telah kandas. Seluruh sikapnya yang membuatku mencintainya kini telah hilang termakan waktu. Dia bukan lagi Papaku. Harusnya aku sadar, kini Papa telah memiliki orang lain. Aku sudah bukan satu-satunya gadis yang harus ia cintai.
Cintaku telah terbagi.
Apa kini aku boleh menceritakan sesuatu padamu?
Sejujurnya, aku takut dengan laki-laki. Seluruh laki-laki di dunia ini kecuali kakak pertamaku. Bahkan kini aku takut pada Papa. Aku tak peduli siapapun lelaki itu, aku pasti akan takut padanya. Meski aku bisa dibilang trouble maker, namun jika saja kau tahu aku belum pernah sekalipun berpacaran. Aku tak seperti gadis nakal diluar sana yang mungkin sudah berkali-kali gonta-ganti pacar. Kau tau apa alasannya?
Aku takut.
Hanya itu. Ketakutan mendalam di jiwaku tak pernah bisa membuatku berani menjalin suatu hubungan dengan lelaki. Sekarang coba kalian pikir. Jika Papa kandungku saja berani membuatku menangis dan kecewa, bagaimana laki-laki lain di luar sana yang sebelumnya tidak kukenal bisa mencintaiku dengan tulus? Yang aku takutkan hanyalah k*******n, kesedihan, dan tindakkan buruk lainnya yang mungkin akan dilakukan seorang lelaki bila aku pacaran atau menikah. Aku tak mau menangis hanya karena hal bodoh. Aku lebih memilih menjadi perawan tua daripada harus menikah dengan lelaki semacam Papa. Aku lebih memilih hidup sendiri selamanya daripada harus memiliki pasangan semacam itu.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan kini.
Tanpa sadar, air mataku sudah kian menderas. Wajah dan pipiku sudah basah dan licin karena air mata. Aku pun merebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu menenggelamkan wajahku di atas bantal. Lantas, terus menangis.
***
Mataku terbuka. Gelap. Aku pun bangun dari tidurku dan melihat sekitar. Lampu kamar tamu ini sudah dimatikan entah oleh siapa. Aku menyalakan lampunya, dan kembali duduk di atas ranjang. Aku memeluk lutut, lalu melihat jam dinding. Pukul sebelas malam. Tubuhku sudah basah karena keringat. Tangan dan kakiku gemetaran, napasku pun sulit teratur. Aku takut. Tidak! Aku bukan takut akan adanya hantu yang mungkin mendatangiku. Aku hanya tak tenang karena aku tak tidur di loteng. Di rumah Papa ini, meskipun megah, tetapi loteng rumah ini tak berguna dan tak nyaman. Loteng rumah ini juga sudah digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah tak terpakai, jadi tak bisa kugunakan untuk tidur. Aku sudah bilang kan bahwa aku tak akan bisa tidur jika tidak di loteng. Akibatnya akan seperti ini, membuatku justru merasa semakin tak nyaman. Aku pun beranjak berdiri, membawa bantal juga selimutku, lalu menuju kamar mandi di luar kamar. Karena di kamar tamu tak tersedia kamar mandi pribadi.
Clak!
Aku membuka pintu kamar mandi yang terletak di dekat dapur ini. Syukurlah, di sini ada bath up. Aku pun berjalan dan perlahan merebahkan tubuhku di atas bath up ini. Dan tanpa kusadari lagi, keringat dan gemetaran tubuhku sudah hilang sesaat setelah aku sampai di sini. Aku merasa tenang. Aku pun memejamkan mataku, lantas perlahan semuanya mulai gelap.
***