"Keyrina? Keyrina?"
Suara lirih terdengar memanggil namaku. Aku menggeliat, lalu menguap, dan membuka mataku perlahan. Bayang-bayang beberapa orang yang berbeda sedikit terlihat sekarang. Aku mengucek mataku, lalu kembali melihat orang orang itu.
"Oh my god?!" Kejutku.
Papa, tante Victoria, juga Jackson ada di hadapanku sekarang. Aku segera membenarkan posisiku di atas bath up yang aku tiduri sejak semalam itu, lantas kembali menatap mereka penuh tanya.
"Hey, what are you doing here??? Are you crazy?" Tanya Jackson sedikit teriak.
Aku mengernyit. "Kamu kenapa tidur di sini, sayang?" Tanya Papa.
Aku melihat sekeliling. Oh iya, kamar mandi. Apa yang harus kukatakan kini? Aku tak mungkin jujur bahwa aku ketakutan tidur di kamar. Dan, pasti mereka semua juga takkan percaya. "Kayanya, semalem aku salah tidur deh, Pa," ujarku pada Papa.
"Salah tidur gimana? Kok bisa sampe di sini?"
"Mungkin semalem aku... ehmm... anu... ehmm... " aku tergugup.
"Okay, forget this," tante Victor mendengus, lalu menatapku. "Key, prepare yourself. You'll go to school."
Aku hanya menghela napas.
***
"Come on!"
Papa berteriak di sana. Ia sudah menunggu aku, Jackson, Daniel, dan Ellena di mobil. Pagi ini, aku berangkat sekolah bersama mereka. Seusai mandi dan sarapan tadi, aku segera memakai seragam baruku yang aku beli kemarin, dan menjadikan diriku lagi sebagai Keyrina sang trouble maker dengan gayaku yang urakan. "Be carefull on the way," ucap tante Victor pada kami, lantas mencium kening anak-anaknya satu per satu. Aku terdiam melihat Jackson, Daniel, dan Ellena dikecup keningnya oleh tante Victor. Mereka terlihat sungguh bahagia, terlebih Daniel dan Ellena yang memang masih kecil dan manja.
"Bye, mommy!" Teriak Ellena.
Ellena, Daniel, dan Jackson kini berjalan menuju mobil seraya menoleh dan melambaikan tangannya pada tante Victor. Sementara aku, masih berdiri menatap tante Victor yang membalas anak-anaknya itu. Ia kini menatapku. "Key? Kiss and hug?" Tanyanya seraya merentangkan kedua tangannya kearahku. Aku menatap sinis dirinya, lalu mendecakkan lidah, dan berjalan menuju mobil.
"I'm here!!!"
Aku menepis tangan Jackson yang memegang pintu depan mobil dan hampir masuk ke dalam. Aku segera mengambil alih dirinya dan duduk di depan, di samping Papa. Sementara dia dan kedua bocah itu duduk di belakang. Mobil mulai berjalan. Anak-anak yang duduk di belakangku itu masih saja menatap ke belakang lewat kaca jendela yang mereka buka, menatap sosok wanita tercinta mereka, yang mereka sebut Mommy. Aku menopang daguku dengan tangan, menatap tante Victor di belakang yang melambai lewat spion mobil ini.
"Hati-hati di jalan, sayang," teriak tante Victor dengan logat Amerikanya.
***
"Kakak?!!"
Aku yang baru setengah jalan memasuki area sekolah tiba-tiba mendengar suara bocah lelaki memanggil namaku. Aku menoleh kesana kemari mencari sumber suara tersebut, tapi aku tak tahu itu suara siapa.
"Kakak." Aku terhentak ketika tangan seseorang menepuk pundakku pelan.
"Vikar?" Gumamku. Ternyata dia sumber suaranya.
"Kenapa?" Tanyaku ketus. Ia tersenyum. "Kakak kemarin kemana?"
"Bukan urusan kamu!"
"Ayah sama Mama nyariin kakak."
"Terus?"
Ia terdiam. Aku mendengus kesal. "Kalo nggak penting, nggak usah ngomong sama kakak!" Ketusku.
Ia tertunduk. Tiba-tiba saja, murid-murid SMP sebaya Vikar yang berlalu lalang lewat memertawai kami. Ahh! Sepertinya tidak! Mereka menertawai Vikar.
"Vikar, lo ngapain di situ? Ngobrol sama kak Keyrina lagi?!!!" Ledek salah satu dari mereka.
"Tau lo, ngapain lo di situ?!!! Cowok cupu kayak lo berani-beraninya ngobrol sama kakak cantik," ledek salah satu dari mereka lagi.
Aku melirik mereka dan Vikar bergantian. Vikar hanya tertunduk diam tak berani berkata apapun pada orang-orang yang menghinanya itu. "Kak Keyrina mau aja ngobrol ama tuhh anak cupu??!" Tanya mereka. Aku hanya menatap mereka bingung.
"Lo mending pergi deh, Vikar! Anak cupu kayak lo ngoborolnya sama kakak cantik??! Tau diri dong lo!!!"
Vikar menatapku, lalu tersenyum simpul. "Aku pergi ya, kak," ujarnya.
Lalu, tanpa sepatah kata pun dariku, ia berjalan pergi begitu saja. Sebenarnya apa masalahnya? Hanya karena Vikar bicara dengan aku, ia dihina?
Ahh! Sudahlah! Tak penting.
Aku pun segera melangkahkan kakiku lagi dan berjalan menuju ruang kelas.
***
Aku merenung sendirian di kursiku, tak peduli dengan guru fisikaku di depan kelas yang tengah menjelaskan tentang apa yang dimaksud listrik dinamis dan bagaimana menghitungnya. Pikiranku kini hanya tertuju pada Vikar. Aku tau bahwa Vikar memanglah seorang anak penyendiri dan memiliki sedikit teman atau bahkan mungkin tidak sama sekali, tapi aku sungguh tak tau bahwa Vikar juga termasuk korban bully oleh teman-temannya. Aku dan Vikar disekolahkan di satu sekolah yang sama, meski berbeda tingkatan pelajar, namun aku tau sedikit keseharian yang Vikar jalani di sekolah. Terkadang bila aku pergi ke area SMP, tak jarang aku melihat dia tengah terduduk sendirian tanpa teman satupun di sisinya. Namun, baru kali tadi aku melihatnya dihina semacam itu. Sebagian besar warga sekolah kurang tau bahwa aku dan Vikar adalah saudara tiri, mereka hanya tau bahwa aku adalah saudara tiri dari Jackson, Daniel dan Ellena yang juga bersekolah di sekolah ini. Jackson dan Vikar, meski mereka memiliki satu tingkatan pelajar yang sama, mereka bukanlah dua sosok adik dan kakak kelas yang akrab. Jackson telah menduduki bangku kelas tiga SMP sementata Vikar baru kelas satu SMP. Bahkan mungkin, Jackson juga tak mengenal Vikar. Bisa jadi kan??
Sedangkan Daniel dan Ellena? Mereka baru menginjak bangku Taman Kanak-Kanak. Tak perlu terlalu dipusingkan.
***
"Key?"
Terdengar suara seorang wanita memanggilku. Aku menoleh ke belakang. Terlihat jelas, Melly, teman sebangku sekaligus sahabatku, tengah berlari menghampiriku. "Ngantin bareng gue nggak?" Tanyanya.
Aku menggeleng. "Nggak, Mel. Gue mau ke SMP," balasku. Melly mengernyit. "Ngapain?"
"Ada urusan lah."
Melly mendengus. "Yaudah, gue duluan ya!"
Lantas, Melly pun berjalan seorang diri menuju kantin. Sementara aku, lanjut berjalan menuju area SMP. Jam istirahat kali ini, kali pertama aku menghabiskannya di area SMP. Biasanya, jika jam istirahat aku hanya merenung di kelas atau toilet, atau terkadang pergi bersama Melly ke kantin. Niatku mengunjungi area SMP tak lebih dari sekedar mengintai Vikar. Aku ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan sekolah dirinya. Tiba di area SMP kini, aku menoleh kesana kemari mencari keberadaan adik tiriku itu. Aku sudah bertanya pada beberapa murid yang lewat, namun sebagian besar dari mereka tak tahu, bahkan ada yang tak mengenal siapa Vikar. Namun, di sana aku melihatnya. Di sebuah bangku di bawah pohon dekat lapangan. Tengah duduk sendirian sembari terlihat mengerjakan suatu hal. Aku tersenyum karena telah berhasil menemukannya. Aku pun segera berjalan menghampiri dirinya. Ketika tiba di dekatnya, tanpa seizinnya aku segera duduk tepat di sebelahnya. Di saat yang sama, ia terlihat gugup tepat ketika aku duduk di sebelahnya. Aku melirik sedikit kearahnya, terlihat jelas wajahnya seperti menahan cemas, tangannya bahkan terkepal kuat.
Apa yang salah dariku?
"Kamu kenapa sih? Kok ketakutan?" Tanyaku agak cemas. Ia menggeleng.
Aku menghela napas, lalu meraih dan menggenggam tangannya yang gemetaran.
Ketika keadaannya mulai membaik, aku kembali bertanya.
"Kamu kenapa sih, dek?"
Namun, ia masih terdiam.
Aku yang tak mengerti pun turut terdiam, lalu mengambil sebuah buku gambar yang sedari tadi ia gunakan.
Aku menatap gambar itu. "Ini siapa yang gambar?" Tanyaku ketus.
"Aku," jawabnya pelan.
Sungguh ini semua Vikar yang gambar? Aku agak sulit untuk percaya, pasalnya gambar itu benar-benar bagus. Sebuah gambar sketsa menggunakan pensil yang digores menjadi gambar seorang wanita. Dari bagian wajah, tubuh, bahkan bayangannya pun tergambar dengan jelas dan detail. Sungguh seperti lukisan sang seniman profesional.
"Serius kamu yang gambar?" Tanyaku lagi. Vikar hanya mengangguk.
"Yang kamu gambar ini siapa?"
Ia terdiam sejenak. "Bunda," lanjutnya. Aku kembali menatap gambar itu heran. Lantas, aku menatap Vikar penuh tanya, tanpa diminta, Vikar menyodorkan selembar foto seorang wanita yang persis dengan sketsa yang ia gambar.
Jadi ini Bundanya. Batinku.
Aku pun mengembalikan kedua benda itu, Vikar pun menerimanya. Namun, di saat itu juga, aku melihat telapak tangan Vikar lagi-lagi penuh oleh luka pukulan rotan. Aku meraih tangan itu, dan menatap telapaknya sejenak. "Dipukul lagi?" Tanyaku. Masih ketus.
Vikar mengangguk ragu.
"Masih sakit?"
"Enggak terlalu, kak."
Aku melepas genggamanku dari tangannya.
"Kamu nggak pergi ke kantin?" Tanyaku. Lagi-lagi masih ketus. Vikar menggeleng.
"Kenapa?"
Lagi-lagi menggeleng.
Aku terdiam sejenak. Ingin rasanya aku langsung segera bertanya tentang dirinya yang kemungkinan dibully. Tapi, aku takut jika aku akan menyinggung perasaannya.
"Kakak nggak balik ke SMA aja?" Tanya Vikar.
Dia ngusir?!. Batinku
"Kenapa emang? Kamu nggak suka kakak di sini?" Tanyaku.
Vikar menggeleng. "Nggak gitu. Kakak lebih baik balik ke SMA aja, nanti kalo kakak di sini terus, kakak dihina lagi kaya tadi pagi."
"Emangnya kenapa?"
"Aku sering jadi bahan bully-an, kalo kakak di sini terus sama aku, nanti kakak dihina. Kakak balik aja ke SMA."
Aku terdiam menatapnya.
Jadi bener selama ini Vikar itu korban bullying?. Batinku.
"Kakak nggak malu punya adik kayak aku?" Tanyanya kemudian.
***
Aku tengah berjalan pulang kini. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit siang. Sebenarnya, bel pulang sekolahku sudah berbunyi sejak jam dua belas lewat dua puluh menit tadi. Namun, karena aku memilih pulang dengan berjalan kaki, jadi waktuku agak terulur. Aku sengaja melakukan ini, karena aku sejujurnya malas berada di rumah. Aku malas bertemu Mama ataupun lelaki b******k itu, karena aku sudah memilih bahwa aku akan kembalu pulang ke rumah Mama bukan Papa. Tadi saat pulang sekolah, tante Victor sudah menjemput anak-anaknya, saat itu juga Daniel dan Ellena memintaku untuk ikut pulang bersama mereka, namun aku menolak. Aku tak ingin lagi menerima sikap tak acuh dari Papa, aku juga sedang malas bertemu lagi dengan tante Victor, Jackson, Daniel dan Ellena.
Jadi aku memilih jalanku sendiri.
Oh ya! Apa kalian bertanya-tanya tentang 'Siapa Jackson, tante Victor, Daniel, dan Ellena yang aku maksud?'
Mereka adalah bagian dari keluargaku juga. Tak beda jauh seperti Vikar. Tante Victor adalah istri baru Papa sekarang. Saat menikah dengan Papa, tante Victor sudah berstatus sebagai janda anak satu karena suaminya sudah meninggal akibat kecelakaan mobil, anaknya yaitu Jackson. Tante Victor dan Papa bertemu kala Papa tengah mengurus pekerjaannya di San Fransisco, dan karena adanya benih cinta yang tumbuh di antara mereka, mereka pun menikah. Satu tahun setelah menikah, tante Victor hamil. Kandungannya memiliki dua nyawa. Yap! Anaknya kembar. Kembar sepasang. Mereka adalah Daniel dan Ellena. Daniel dan Ellena memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang lebih baik daripada Jackson. Itu karena kedua anak kembar itu lahir dan besar di Indonesia. Sedangkan Jackson, karena ia lahir dan besar di Amerika juga karena ia malas kursus bahasa Indonesia, hasilnya pun, bahasa Indonesianya sungguh buruk.
Sekarang apa semuanya sudah jelas?
***
18.30 WIB
Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Dan apakah kau tau tentang masalah yang ada di rumahku kini??
Mama dan laki-laki b******k itu kini tengah menggerutu dan menahan amarah karena hingga saat ini Vikar belum juga pulang ke rumah. Mereka sempat bertanya padaku tentang dimana keberadaan Vikar dan mengapa hingga saat ini ia belum juga pulang sekolah. Dan aku, dengan wajah datar juga nada ketusku dengan santai menjawab "Nggak tau!" Aku yang sedari tadi berdiam diri di kamar pun merasa santai. Aku tak peduli dan tak memusingkan tentang Mama dan lelaki b******k itu yang kini tengah cemas pada Vikar. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, lalu memasang kedua earphone di telingaku. Aku hampir saja menekan tombol untuk memainkan musik, tapi tiba-tiba...
"Dari mana aja kamu?!! Jam segini baru pulang??!!" Aku mendengar lelaki b******k itu berteriak mengintrogasi.
Aku pun mengurungkan niatku untuk mendengarkan musik, aku segera melepas kedua earphone itu dari telingaku, lantas segera keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Ternyata, Vikar sudah pulang, dan lelaki b******k itu marah padanya. Aku bisa melihat jelas kini lelaki b******k itu terus memarahi Vikar. Aku berjalan kian mendekat menuju ruang tengah itu. Terlihat semakin jelas kini, Vikar seperti tidak baik-baik saja. Bajunya lusuh dan kotor, bahkan ada beberapa bagian yang robek. Wajah dan tubuhnya pun dipenuhi luka-luka. Mulai dari siku tangan yang terlihat robek, hingga sudut bibir dan mata yang terlihat seperti habis dipukul.
"Itu wajah kenapa luka-luka?! Baju kenapa robek-robek?" Bentak lelaki b******k itu lagi.
Vikar hanya tertunduk. Laki-laki b******k itu kini mengangkat dagu Vikar dan membuat Vikar menatapnya ketakutan.
"Jawab Ayah!" Bentaknya. Namun, Vikar masih terdiam.
"Kenapa tubuh kamu luka-luka?! Baju kamu robek-robek?! Pulang telat?!! Kamu berantem ya?!! Tawuran?!!!" Bentaknya lagi. Vikar masih saja terdiam.
Aku melirik Mama yang berdiri tegas di dekat sofa, ia hanya terus melihat Vikar diperlakukan seperti itu oleh suami keduanya. Mama sama sekali tak menolong Vikar atau mungkin setidaknya ikut berbicara baik-baik dan membela Vikar. "Ikut Ayah sini!" Laki-laki b******k itu menyeret Vikar begitu saja dan membawanya menuju kamar Vikar di dekat ruangan ini. Aku bisa melihat ekspresi wajah Vikar ketakutan, matanya bahkan sudah menggenang air dan tinggal ditumpahkannya.
Buk!
Laki-laki b******k itu membanting daun pintu kamar Vikar secara keras. Sudah tak terlihat lagi kini apa yang dilakukan lelaki b******k itu pada Vikar.
"Ayah ampun!"
Suara teriakan Vikar dari dalam kamarnya terdengar hingga ke telingaku. Aku semakin cemas dan penasaran dengan apa yang dilakukan lelaki b******k itu pada Vikar. Suara teriakan itu terus terdengar selama lelaki b******k itu masih berada bersama Vikar. Suara rintihan yang sungguh menggetarkan hatiku. Jika boleh jujur, aku tak tega Vikar diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya aku berlari dan mendobrak pintu itu, lantas menyelamatkan Vikar. Tapi, aku tak berani. Selain karena ada Mama di sisiku, aku juga takut karena...
Ehmm...
Aku sudah pernah bilang kan aku takut pada laki-laki.
***