Clak!
Aku membuka pintu kamar Vikar. Aku diam-diam melakukan hal ini, karena Mama dan lelaki b******k itu sudah terlelap dalam tidurnya. Aku kini melihat jelas Vikar tengah merebahkan tubuhnya dan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun, dari sana aku bisa mendengar jelas suara tangis darinya. Aku menarik dan membuka selimut itu, dan di saat yang sama Vikar terkaget dan segera beranjak duduk dari posisinya. Ia segera menghapus air matanya ketika melihatku. Sepertinya, ia benar-benar ketakutan.
Aku duduk di sisinya di atas ranjang. Dan menatapnya sejenak. Ia menunduk ketika kumenatapnya. "Tadi diapain sama Ayah?" Tanyaku, agak ketus. Ia terdiam.
"Vikar?! Kakak tanya sama kamu?!" Tanyaku lagi sedikit berteriak. Ia masih terdiam.
Aku mendengus. "Bisa ngomong nggak sih?!!!" Ia kini menatapku. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi ia terus menyekanya.
Hening. Aku melirik dirinya. Yang kulihat kini bukan lagi luka di telapak tangan namun juga luka diseluruh pergelangan tangannya. Aku perlahan menyentuh luka itu. Sungguh perlahan. Ia terhentak. Terlihat dari ekspresinya ia benar-benar kesakitan. Ia kini menggenggam pergelangan tangannya itu, dan terlihat seperti menjauh dariku. "Jujur sama kakak, diapain sama Ayah?" Tanyaku, kini dengan nada suara halus.
Ia menatapku. "Dipukul kak," balasnya lirih.
Aku mendekat ke dirinya yang tadi sudah bergeser menjauh. Ia hanya menunduk ketakutan, dan perlahan aku mengelus rambutnya. Terlihat lagi luka yang baru, di sudut pelipis, luka yang terlihat seperti luka pukulan atau goresan. "Terus ini wajah kamu kenapa luka-luka?" Tanyaku, kembali pada nada suara awal. Ia terdiam.
"Heh?! Jawab?!"
Masih terdiam. Aku mendengus kesal, lalu pergi dari kamarnya. Aku menuju dapur, mengambil kotak obat yang berada di dekat sana. Lantas setelahnya, kembali lagi ke kamar Vikar.
"Sini kakak obatin!" Ujarku ketus.
Aku lantas berjalan mendekatinya yang menunduk ketakutan, lantas aku membersihkan luka-lukanya yang berada di wajah terlebih dahulu. "Kamu sebenernya kenapa sih bisa sampe kayak gini?" Ketusku. Untuk kesekian kalinya, ia hanya terdiam.
Aku menghela napas. "Vikar," aku melembutkan suaraku seraya menatap matanya lekat. "Bilang kakak, kamu kenapa bisa sampe kayak gini? Kamu beneran tawuran sampe pulang telat kayak tadi?" Lanjutku, dengan suara lembut. Ia membalas tatapanku. "Enggak kak, tadi aku... itu... tadi... " ia terbata-bata.
Aku memutar bola mataku dan mendengus kesal. "Kamu... " aku memotong pembicaraanku sesaat setelah membentaknya itu. Aku menghela napas. "Kamu ngomong aja, kenapa?" Tanyaku lembut.
Ia menggeleng. "Enggak pa-pa kak," ujarnya.
"Ngomong aja? Kenapa? Kakak janji nggak akan bilang ke siapa-siapa kok."
"Enggak kak, aku nggak pa-pa."
Hening sejenak. Aku membiarkan Vikar yang masih tak mau menjawab pertanyaanku. Aku terus membersihkan luka-lukanya itu lalu mengolesinya dengan obat oles khusu untuk luka semacam itu
"Berhenti bersikap seolah-olah kamu ini pengecut!" Ujarku tiba-tiba padanya. Ia menatapku bingung, dan aku balik menatapnya.
"Kalo ada orang lain yang nindas kamu, lawan mereka!"
"Tapi, kak...
"Nggak ada tapi-tapian!" Aku mulai lagi kembali pada nada bentakku. "Kamu laki-laki Vikar! Kalo sikap kamu terus-terusan kayak gini, kamu nggak akan pernah berhasil!" Sindirku.
Aku merapikan obat-obatan yang telah kugunakan dan kumasukan kembali ke kotak obat, lalu mulai melangakah. "Kakak," ia memanggil, membuatku menoleh.
"Makasih udah diobatin," lanjutnya.
Aku tersenyum hangat padanya. "Iya sama-sama. Tapi inget!" Aku mengambil jeda. "Kakak lakuin semua ini, bukan berarti kakak sayang sama kamu!" Sambungku dengan nada suara lembut namun menyakitkan.
***
Aku telah berbaring nyaman di loteng kini. Namun, pikiranku masih melayang jauh mengenai Vikar. Aku masih bingung dengan dirinya. Ia sungguh tertutup dan sungguh terlihat senantiasa ketakutan. Namun, aku sudah menemukan sedikit cara kini untuk bisa membuatnya lebih terbuka padaku. Dari sikapku tadi, aku belajar mengenai hal baru tentang Vikar. Sadarkah kalian? Vikar hanya menjawab pertanyaanku jika aku bicara padanya dengan lembut. Namun, haruskah aku terus bersikap seperti itu padanya? Lagipula, aku jarang berbicara dengan nada lembut, bicara pada Mama saja aku ketus, apalagi kini dengan orang lain.
"Oh my godness!" keluhku.
***
Hari ini, pada jam istirahat, aku kembali datang ke area SMP, mencoba menyelam lebih dalam tentang kehidupan sosial adikku, mencoba mengetahui tentang masalah apa yang ia miliki, dan mencoba membuat semuanya menjadi lebih baik. Dia di sana, di tempat yang sama seperti pada saat aku menemuinya. Di sebuah bangku di bawah pohon. Ia juga masih seperti kemarin. Sendirian. Tak ada satupun orang yang duduk atau bahkan setidaknya hadir di dekatnya. "Nih," aku yang mengambil alih duduk disampingnya pun segera menyodorkan sebotol air mineral padanya.
Ia menoleh kearahku. "Kakak kok kesini lagi?"
"Emang kenapa? Kakak nggak masalah kok kalopun kakak bakal dihina."
Ia tersenyum girang, lalu menerima air mineral itu. "Hari ini kakak pulang ke rumah kan?" Tanya Vikar.
"Mungkin. Emang kenapa?"
"Nanti pulang bareng bisa nggak kak?"
Aku mengangguk.
***
"Yang lain pada kemana?" Tanyaku pada Arin.
"Lagi ke perpus, ambil buku," balasnya.
"Bangunin gue kalo udah pada kumpul," perintahku.
"Iya. Gue mau ke toilet dulu ya!"
Aku tak menggubrisnya. Aku hanya asik mendengarkan musik lewat handphoneku yang sudah dipinjamkan Mama kemarin, Mama punya dua handphone dengan merk yang sama seperti handphoneku yang dirusaknya, dan ia meminjamkan salah satunya padaku sebagai bentuk permohonan maaf. Aku kini hanya perlu menunggu Arin juga beberapa temanku yang lainnya untuk bisa mengerjakan tugas sains kami di sini. Sesaat setelah bel pulang sekolah tadi, anggota kelompokku tetap tinggal di kelas hingga sepi untuk mengerjakan tugas membosankan ini bersama. Sejujurnya, aku sungguh malas. Mengerjakan tugas ini bersama rasanya hanya membuang-buang waktuku. Jika tugas ini tak ada, aku mungkin sudah terlelap di loteng menikmati tidur siang juga perawatan kecantikanku. Tapi, biarlah! Aku juga malas bertemu Mama dan si b******k itu di rumah. Ya ampun! Tak adakah suatu tempat yang membuatku nyaman?
Pesan masuk!
Suara konyol itu membuatku terbangun dari tidurku. Aku menyalakan handphoneku dan menatapnya sejenak.
13.00
Vikar
Kakak jadi kan pulang bareng aku? Aku dah di depan gerbang sekolah.
Seperti itu pesan singkat yang menghiasi layar handphoneku kini. Aku menepuk dahiku dengan telapak tangan. Sungguh lupa bahwa aku memiliki janji untuk pulang bersamanya.
13.02
Key
Maaf dek, kakak ada tugas kelompok, kamu pulanh duluan aja, gak jadi bareng.
13.05
Vikar
Tapi kakak udah janji.
13.07
Key
Sorry, kakak gak bisa. Kamu duluan aja, kakak bakalan lama.
Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak lagi berbunyi suara konyol yang memang aku atur sebagai nada SMS itu. Vikar tak membalas. Mungkinkah dia marah?
Tidak!
Tapi, bisa jadi.
Lagipula apa salahnya jika ia pulang sendiri ke rumah? Ia juga bisa minta Mama menjemputnya, atau masih banyak cara lain, kenapa sepertinya ia benar-benar mengharapkanku?
"Ayo mulai!" Suara lantang Arin mengagetkanku. Ia tiba-tiba datang bersama beberapa temanku seraya membawa buku dan barang-barang lainnya.
Tugas sains yang diberikan guruku sebenarnya cukup mudah dilakukan. Hanya tugas untuk membuat susunan tata surya dengan barang-barang bekas. Jika saja anggota kelompokku niat mengerjakannya, pasti sudah selesai dari hari-hari sebelumnya. Anggota kelompokku terdiri dari aku, Arin, Melly, Dinda, dan Gita. Dan seluruh anggota kelompok kami adalah anak-anak yang malas. Dan perlu diketahui, bahwa aku adalah anggota bahkan murid termalas. Karena itulah, tugas ini tak selesai. Tugas ini diberikan satu minggu lalu, namun tak ada satupun anggota kelompokku yang niat untuk mengerjakan, dan karena jam istirahat tadi ketua kelas mengingatkan bahwa tugas ini harus dikumpulkan besok, kami pun mengerjakannya secara dadakan, dan harus selesai hari ini.
***
Pukul enam lewat lima belas menit sore kini. Aku dan teman-temanku baru saja selesai mengerjakan tugas sains itu dan baru saja keluar area sekolah. Kau tahu? Lelah rasanya. Pikiranku kini hanya tertuju pada aku yang tengah tertidur nyenyak berbalut selimut hangat di loteng rumah. Ya, aku tengah membayangkan diriku istirahat. Saking lelah dan pegalnya, aku ingin segera berbaring di jalanan.
Ngunggg....
Handphone yang kugenggam di tangan kiriku bergetar bertanda ada satu panggilan belum terjawab. Aku mengangkat tanganku tepat di depan wajah, dan menatapnya sejenak.
Incoming call
Mom
Begitu tulisan yang tertera di layar handphoneku. Aku mendengus kesal melihatnya, dan dengan sedikit paksaan hati, aku menerima panggilannya.
- Ya?
- Key? Vikar sama kamu?
- Nggak
- Dia belum pulang lagi
- Ohh.
- Tolong ca...
Tut... Tut... Tut...
Aku segera menyudahi panggilan itu. Tak peduli pada Mama yang belum selesai bicara, mencoba bersikap acuh pada orang yang senantiasa mengacuhkanku. Aku berjalan santai. Tambah ingin tak berada di rumah setelah mengetahui bahwa Vikar lagi-lagi pulang telat. Sebenarnya, hal ini sudah yang ke-puluhan kalinya Vikar pulang telat. Aku, Mama, bahkan lelaki b******k itu tak tahu pasti apa alasan Vikar terus seperti ini. Malas rasanya mendengar si b******k itu mengoceh tak karuan hingga membuat seisi rumah tegang. Aku berjalan melewati tempat sepi ini. Sebuah jalanan yang satu-satunya menghubungkan sekolahku dengan jalan raya. Jarak sekolahku dan jalan raya cukup jauh, dan hanya ada satu jalan yang bisa dilewati untuk sampai di jalan raya dan menemukan kendaraan umum. Namun, jalanan ini selalu sepi. Murid-murid di sekolahku jarang bahkan tak pernah kulihat lewat di jalan sunyi ini. Mereka semua sudah memiliki supir atau ada seseorang lain yang menjemput mereka dengan mobil pribadi milik mereka masing-masing. Sebenarnya, aku bisa saja seperti mereka. Jika dipikir-pikir, hal seperti itu bisa dibilang murah oleh keluargaku. Lelaki b******k itu adalah seorang Presiden Direktur disebuah perusahaan besar dan ternama, sementara Mama adalah seorang pengusaha butik yang telah memiliki lebih dari empat puluh cabang di Indonesia, apa yang tidak bisa dilakukan mereka dengan uang? Hanya untuk menyewa supir? Hal kecil untuk mereka. Namun, aku tak mau seperti itu. Terlalu malas bersikap seolah aku ini adalah gadis terhormat.
Tap... Tap... Tap...
Hanya suara tapakan sepatuku yang terdengar kini. Benar-benar sepi tempatku berada sekarang, ditambah lagi suasana semakin malam dan udara malamnya yang dingin berhasil membuat jalanan ini tampak menyeramkan.
"Hey, can you talk?! Hah?!"
Di saat yang sama, aku mendengar suara bentakan anak lelaki. Terdengar juga sepertinya suara itu tak bersumber dari satu orang saja, namun beberapa.
"Hey? You can talk or not? Hah? Or you don't understand what i'm saying??"
"Stupid boy!!!"
Lagi-lagi bentakkan itu terdengar. Bahkan kini suara tawa yang terdengar, suara tawa yang sepertinya terdengar mengolok-olok. Aku makin melangkahkan kakiku ke depan, mencoba mencari sumber suara itu meski sedikit sulit karena tempat ini selain sunyi juga gelap. Benar-benar menghalangiku. Aku mengambil handphoneku di saku seragam sekolah, lalu secepatnya menyalakan senter kecil yang terdapat di sana. Syukurlah, senter itu cukup terang dan berhasil membantuku. Aku mempercepat langkahku, menoleh kesana kemari untuk mencari dimana sumber suara bocah-bocah lelaki itu. And then...
Mataku terbelalak lebar menyaksikan apa yang kulihat kini. Aku segera mematikan senter handphoneku, dan mengintip ke sana, berusaha membuat suasana setenang mungkin. Di sudut tikungan jalan yang kutapaki ini, tikungan jalan yang buntu dan bau, tempat dimana berkumpulnya tong sampah dan hal-hal jorok lainnya. Sumber suara yang kudengar tadi di sana. Sekumpulan bocah lelaki berseragam putih biru, sekitar empat orang dengan satu orang yang terlihat seperti orang asing. Aku kini hanya bisa mengintip lewat sisi tikungan jalan ini. Mencoba mengetahui lebih lanjut tentang apa yang mereka lakukan.
"Hey, stupid boy!!?"
Bocah bule itu menghina seseorang yang terlihat duduk tak berdaya di bawah mereka yang berdiri. Bocah itu kini mengangkat dagu seseorang tadi dengan kaki kanannya. Aku memicingkan mataku, mencoba melihat jelas siapa orang-orang itu.
"Jackson?" Gumamku.
***