Ya, aku yakin bocah bule di sana itu adalah Jackson. Aku benar-benar mengenal dia, jadi aku tahu pasti itu Jackson adik tiriku. Namun, aku masih terdiam. Aku masih dalam posisiku yang tersembunyi dari mereka. Tapi, aku terdiam bukan berarti aku takkan melakukan apa pun. Aku mengangkat ponsel yang menghadap ke depan wajahku, lalu aku mengangkat ikon kamera, lantas memotret mereka. Cahaya kamera handphoneku membuat mereka terhentak dan menoleh kaget, dan juga membuat pemotretanku berhasil bagus, karena hasil fotonya memasang wajah-wajah mereka yang terkejut. Karena aku sudah ketahuan, aku pun beranjak dari persembunyianku di sisi tikungan, dipindahkan kembali senter handphoneku dan melihat mereka, lantas berjalan mendekat. Aku mengarahkan senter handphoneku ke wajah-wajah bocah penindas itu. Benar saja, salah satu dari mereka adalah Jackson.
"Kamu melakukan penindasan?" Tanyaku pada Jackson dengan bahasa Indonesia raw agar ia berhasil paham.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" Balasnya dengan aksen Indonesia yang sangat buruk.
Aku menyeringai. Lalu, aku menatap wajah Jackson yang silau karena senter handphoneku, lantas, aku menamparnya sekeras mungkin. Ia menatapku dengan perubahan yang terlihat kesakitan. Namun, aku tak menggubrisnya, aku lalu mengarahkan senterku kearah seseorang yang mereka tindas itu.
"Vikar?" Kejutku.
Aku segera merendahkan tubuhku menjajari posisinya, lalu menyelesaikan hukuman penuh. "Kamu nggak pa-pa?" Tanyaku. Cemas.
Ia menjawab, hanya menangis.
Aku kembali beranjak, lalu menatap tajam Jackson dan tiga ikut dengan tatapan silet khasku.
"Kenapa kalian menggertak dia?" Tanyaku sedikit berteriak.
Semua hening.
"Jawab sekarang! Kenapa kalian menggertak dia? Dan apa yang kalian mau dari dia? !!" Bentakku.
Masih tak ada yang menjawab. Jackson dan tiga diskusi hanya bisa tertunduk berbicara bentakkanku.
"Nggak mau pake cara halus ya ??!" Gumamku. Lalu, aku mengambil kayu balok di sebelah sana, dan meminta bantuan mereka.
"Jawab sekarang atau kalian kakak pukul? !!" Tanyaku lagi.
Masih terus terdiam.
"Oke fix!" Gumamku.
Aku semakin mengangkat balok kayu itu, dan hampir saja kuhentakkan ke tubuh mereka. Namun ...
"Jackson yang suruh kita untuk meminta uang ke Vikar kak!"
Aku mengurungkan niatku untuk menghentakkan balok ditanganku ini pada mereka kompilasi salah satu teman Jackson yang kesulitan berjuang membuka mulut.
"Minta uang? Maksud kalian ... malak?" Tanyaku.
Tiga perwakilan itu mengangguk.
Aku kembali menatap Jackson dengan tatapan tajam milikku. Balok kayu itu aku lempar sembarang, kurasa hanya pukulan kayu tidak cukup untuk membayar kesalahannya.
"Apa uang yang Papa kasih kurang?" Tanyaku menantang.
Ia terdiam.
"Answer me please!" Ketusku.
Masih terdiam. Aku menghela napasku dalam-dalam. Lalu, aku mengambil dompetku yang ada dalam tas, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, dan ku lemparkan tepat di wajahnya. Jackson masih saja tertunduk, namun aku melihat kedua tangannya mengepal erat. Sepertinya caraku berhasil untuk membuatnya merasa terhina dan terlihat murahan.
"Jika uangnya kurang, telpon kakak!" Ujarku ketus bermaksud menghinanya.
Aku kini membantu Vikar bangun dari posisinya. Aku lalu menuntun Vikar berjalan pergi dari area kotor itu. Tak peduli pada Jackson yang terhina, juga ketiga temannya yang kini memungut uang-uang itu. Aku menopang erat tubuh Vikar yang lemah. Sepertinya, penindasan yang Jackson lakukan sungguh kasar hingga membuat wajah dan beberapa bagian tubuh Vikar yang lain terluka, juga membuat salah satu kakinya sulit untuk berjalan.
"Kakak jangan bilang-bilang ke Ayah atau Mama ya," ujar Vikar.
"Nggak bisa gitu. Ayah sama Mama harus tau," balasku, berusaha lembut.
"Jangan kak."
"Kenapa?"
"Pokoknga jangan bilang ke mereka. Aku mohon."
Wajahnya yang memelas juga nada suaranya yang benar-benar meminta membuatku tak tega menolak permohonan ini padanya. Aku menghela napas. "Iya, kakak nggak akan bilang."
***
Clak!
Aku membuka pintu rumah ini. Aku sudah menduga sejak tadi, pasti Mama dan lelaki b******k itu menunggu di ruang tengah. Dan hal itu benar-benar terjadi.
"Pulang telat lagi??!" Ketus lelaki b******k itu.
"Tadi kamu bilang kamu nggak tau Vikar di mana, sekarang kenapa dia sama kamu?" Tanya Mama.
"Ketemu di jalan," balasku singkat.
"Terus itu kenapa baju Vikar kotor, terus luka-luka lagi? Jangan-jangan bener kamu tawuran ya Vikar? Karena itu kamu selalu pulang telat?" Timpal lelaki b******k itu.
Aku dan Vikar terdiam. Lelaki b******k itu beranjak dari posisinya, ia berjalan pergi entah kemana, lalu kembali dengan sebilah kayu rotan di tangannya.
"Kamu bener-bener keterlaluan ya Vikar!!!" ujarnya emosi. Lelaki b******k itu hampir saja memukul Vikar dengan kayu rotannya, namun aku menundanya.
"Aku yang tawuran!" Ujarku. "Aku tawuran sama murid sekolah lain tadi, dan Vikar dateng untuk tolong dan ajak aku pulang ke rumah. Dia nggak salah, jadi jangan hukum dia!" Sambungku.
Lelaki b******k itu menatapku tajam.
"Bilang sama Ayah sekarang, kamu pantas dipukul berapa kali?!!!" Bentaknya.
"Seribu kali!" Balasku.
Lelaki b******k itu mendengus kesal mendengar jawabanku. Ia hampir menghentakkan kayu rotan itu ke tubuhku. Namun, aku menggengam tangannya lebih dulu, dan menarik lelaki b******k itu ke kamarku. Setelah sampai di sana, aku dan dia masuk ke dalam, ku kunci pintu kamarku, hingga tak ada seorangpun yang boleh melihat. Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku tak melakukan apapun dengannya. Ia tetap memukul tubuhku dengan rotan. Aku bersikap seperti ini hanya karena aku tak mau adikku melihat diriku disakiti karenanya. Lagipula, lelaki b******k ini juga tak mungkin menghitung pukulannya hingga seribu kali, paling hanya hingga ratusan kali, karena hal itu pasti membuat tangannya lelah. Meski sakit, aku tetap menahannya. Aku tak sudi meneteskan sebulir air mataku di depan lelaki ini. Tak akan pernah. Aku akan menahan rasa sakit ini. Aku tak peduli jikalau mereka akan menganggapku gadis tak berguna yang berani ikut tawuran, aku lebih baik seperti itu daripada melihat Vikar lagi-lagi tersiksa. Takkan kubiarkan ia menerima luka yang baru lagi.
***
Sudah pukul setengah sembilan malam kini. Aku tengah terduduk di ranjang loteng kini. Aku tengah merenung sendirian sembari menahan sakit di tubuhku akibat pukulan rotan yang lelaki b******k itu berikan. Tak begitu sakit sebenarnya. Namun, perih. Dan akan lebih terasa perih jika terkena air atau bahkan angin. Tangan dan kakiku sudah penuh oleh garis-garis merah bekas pukulan itu, sedikit disentuh saja terasa perihnya, bagaimana jika aku melakukan hal lain? Meski begitu, tak ada yang peduli. Mama bahkan kini mungkin sudah tiba di alam mimpinya, bermimpi menjadi seorang ratu atau menjadi seorang wanita terhormat, atau apalah. Aku tak tahu pasti. Dia sama saja seperti Papa. Berubah!
She is not my Mommy anymore.
Dulu, ketika keluargaku masih 'baik-baik saja' Mama tak pernah sekalipun mengacuhkanku. Terjatuh di lantai saja ia akan sangat khawatir, membantuku untuk bangun, dan memelukku lantas bertanya "Are you okay?". Dan harusnya ia melakukan hal yang sama sekarang. Tak seharusnya aku sendirian di sini. Tak seharusnya aku hanya terdiam menatap langit malam lewat jendela loteng. Dan tak seharusnya aku menahan perih yang amat sangat ini sendirian. Seharusnya kini aku nyaman dalam dekapan Mama yang hangat, atau setidaknya tenang dengan pertanyaan Mama yang bertanya 'Apa kamu baik-baik saja?'
Nihil!
Sepertinya hanya ada kosong koma satu persen kemungkinan bahwa Mama akan melakukan hal itu. Tapi...
Tidak!
Aku tak butuh dia!
Aku mau kakak!
Kak Richard.
Air mataku mengalir deras kembali mengingat dirinya. Membayangkan kak Richard lebih perih daripada seluruh luka di tubuhku ini. Jika kak Richard di sini, mungkin hingga saat ini aku masih 'baik-baik saja'.
"Kakak?"
Aku segera menghapus air mataku sesaat setelah mendengar suaranya itu. Aku menoleh, Vikar di sini, ia berjalan mendekat padaku seraya membawa kotak obat di tangannya.
Kalian tau?
Ini pertama kalinya ada seseorang yang masuk ke kamar lotengku. Sebelum Vikar, tak ada siapaun yang pernah datang ke sini selain aku. Tak ada. Hanya dia.
"Maaf, kakak jadi dipukul sama Ayah," ujarnya. Aku terkekeh. "Kamu nggak salah. Kakak yang mau belain kamu, jadi kamu nggak perlu ngerasa bersalah."
"Tapi, kakak jadi luka-luka."
"Nggak pa-pa."
Ia membuka kotak obat itu, lalu mengambil sebuah salep dan mengoleskannya di luka-lukaku. Aku hanya bisa tersenyum melihat perhatian adikku itu.
"Kakak kenal kak Jackson?" Tanya Vikar.
Aku terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Enggak."
Hening.
"Kamu sering ditindas kayak tadi?" Tanyaku kembali memulai pmbicaraan. Ia mengangguk. "Setiap hari."
"Serius?" Ia mengangguk lagi.
"Kenapa? Kamu punya masalah sama mereka?"
Ia menggeleng. "Mereka cuma mau uang aku."
Jackson sejahat itu??!. Batinku.
"Kalo aku pulang telat, sebenernya ini alesannya. Aku selalu ditindas kayak tadi, uang sisaku diminta semua sama mereka, abis dipukul, aku harus pulang jalan kaki sampe rumah karena uang sisaku udah abis jadi nggak bisa naik kendaaraan umum," perjelas Vikar Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuannya. Ia benar-benar diperlakukan tak adil untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa nggak minta dijemput?" Tanyaku.
"Aku udah kirim SMS ke Mama, tapi Mama nggak pernah dateng jemput. Kalo aku SMS Ayah, takut ganggu karena Ayah masih kerja di kantor."
Hening sejenak.
Aku sungguh tak menyangka. Ternyata ada orang lain yang tidak lebih beruntung daripada aku. Kehidupannya sungguh tak adil jika dipikir-pikir, dan aku harusnya bersyukur karena aku tak ada di posisinya. Aku tidak pantas mengeluh seperti tadi. Key, berhenti bersikap bodoh!
"Kenapa kamu nggak pernah cerita jujur tentang ini ke Mama atau Ayah?" Tanyaku lagi.
Ia terdiam sejenak. "Mereka nggak pernah mau dengerin aku."
Hening.
"Kakak mau dengerin kamu," timpalku.
Ia mendongak menatapku sembari tersenyum girang.
"Lain kali, kalo ada masalah aku cerita ke kakak ya," ujarnya.
Aku mengangguk pasti. Vikar melanjutkan tugasnya mengolesi lukaku dengan salep. Ia begitu antusias, bahkan tak terlihat sedikitpun, wajah kesakitan darinya, padahal luka yang ia miliki lebih banyak dan mungkin lebih banyak daripada lukaku. Aku kini tak perlu membicarakan lagi tentang Mama yang tak peduli. Rasa sedih itu hilang begitu saja. Aku baru belajar lagi dari Vikar. Aku sadar sekarang, itu Tuhan tak akan membiarkan sesuatu pergi tanpa memberi penggantinya.
Ya itu benar.
***